Bapak Faruk selaku ketua pengurus Panti Lansia, menyambut baik kunjungan relawan dan melakukan serah terima bingkisan untuk Panti Lansia Al Maa-uun.
“Bersatu hati berbuat baik. Bersumbangsih dengan ramah, saling mengasihi dan mengagumi, mengulurkan tangan saling membantu.”
Kata Perenungan Master Cheng Yen
Hidup di perantauan dan tinggal jauh dari orang tua, sudah menjadi keseharian relawan Tzu Chi Sinar Mas yang bekerja di perkebunan. Rasa rindu itulah yang relawan obati melalui kunjungan kasih ke Panti Lansia Al Maa-uun Desa Perawas, Kecamatan Tanjung Pandan, Belitung pada Rabu (3/12/25). Kunjungan ini seolah menjenguk orang tua sendiri.
Panti Lansia ini berdiri sejak tahun 2001. Dihuni 9 orang Lansia, terdiri dari 4 laki-laki dan 5 perempuan. Keseharian mereka dibantu 5 pengurus panti. Bangunan panti seperti rumah pada umumnya, tidak ada yang istimewa apalagi berlebihan. Satu kamar bisa diisi dua sampai tiga orang Lansia. Keseharian mereka pun sama seperti orang tua pada umumnya, bangun pagi, olahraga ringan, bersih-bersih, berkumpul dan ngobrol dengan teman sesama penghuni. Obrolannya juga sering mengulang cerita yang sama, pengalaman yang berkesan dalam hidup mereka.

Nova (kiri) dan Yan iko (kanan) menyerahkan bingkisan untuk oma-oma penghuni panti.
Kedatangan relawan disambut hangat oleh Faruk, ketua pengurus panti. Ia menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan silaturahmi yang terjalin. “Terima kasih atas kunjungannya, semoga Bapak dan Ibu ini mendapat rahmat dari Allah SWT, dipermudah semua urusannya dan dilancarkan rezekinya. Begitu pun kami semua di sini, semoga kami juga selalu sehat,” ujar Faruk.
Dalam kunjungan ini relawan membawa bingkisan berupa 76 kg beras, 20 kg detergen, dan paket kebutuhan pribadi Lansia berisi sabun mandi, sampo, minyak kayu putih, minyak urut, sikat dan pasta gigi.
Relawan berharap bantuan ini bisa membantu kebutuhan operasional panti serta memberi kehangatan untuk penghuninya. “Oma, ini kami bawakan minyak kayu putih dan minyak tawon yang Oma biasa pakai kalau lagi gak enak badan. Kalau Oma pakai ini, ingat kami dan doakan kami ya Oma,” ucap Yan Iko seraya menunjukkan isi tas biru bingkisan untuk Oma Rumini yang sudah 6 tahun menghuni panti ini.

Selesai foto bersama, Riezka dan Yan iko membantu oma kembali ke tempat duduknya.
Satu orang Opa sudah tidak bisa pindah dari kasurnya. Penglihatannya kabur karena glukoma dan dua orang Opa lainnya sedang berjalan pagi. “Gak ada tujuan yang penting jalan aja mereka. Pernah jalan kejauhan lupa pulang, lalu diantar sama warga karena warga sudah tahu mereka ini orang panti ini lah,” cerita Arifin, salah satu pengurus panti menceritakan dua orang opa penghuni panti yang suka berjalan-jalan keluar panti.
Hampir tiga jam relawan berbincang dengan oma dan opa. Banyak cerita yang dibagi juga meninggalkan kesan mendalam. Seperti yang dirasakan Oma Aloy (70). “Melihat kamu membuat saya teringat dengan anak saya yang ada di Bangka. Makasih ya, Nak. Biar saya antar kalian ya,” ucap Oma Aloy sambil berjalan menggandeng Iswan, hendak mengantar kepergian relawan sampai ke pintu depan bangunan panti.
Riezka memberi semangat kepada oma Aloy yang mengantar sampai ke pintu.
Relawan berharap kunjungan ini bisa menghangatkan hati oma dan opa, memberikan kenyamanan di masa tuanya dengan mendengarkan cerita merka serta mengobati rindu keluarga yang jauh atau mungkin sudah berpulang lebih dulu.
“Kami, relawan di Belitung ini umumnya perantau. Menjemput rezeki sampai ke sini jauh dari keluarga. Dengan menjenguk oma opa yang ada di sini, mendengarkan cerita mereka seperti ada ruang kecil di hati saya yang terasa hangat,” ujar Nova menahan haru. Ternyata bukan hanya oma opa saja yang senang mendapat kunjungan, tetapi relawan juga seperti mendapat tambahan energi dan semangat untuk menjalani hari-hari ke depan menjemput rezeki.
Editor: Metta Wulandari