Cinta yang Tak Terlukis
Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Pusat), Fotografer : Lea Ang (He Qi Utara)|
|
| ||
Sesudah itu para relawan segera menuju ke arah Jelambar untuk menjemput Yek Ciau Shijie. Dari sana, rombongan langsung menuju Jelambar Aladin RT 004/RW 006 No. 28, kamar kontrakan oma Lian Nio (62). Oma ini menderita stroke. Tubuh yang kecil, kaki dan tangan yang lemah mengecil, membuatnya ia susah untuk bergerak. Sesampai di kontrakan, oma sedang berbaring lemah. Oma menyambut kami dengan gembira, ia bercerita bahwa ia baru saja mengonsumsi obat dokter, dan merasa mengantuk. Yek Ciau Shijie memberikan sekantong kecil buah-buah segar ke oma. Relawan datang berkunjung untuk menggunting rambut oma, yang sudah hampir setengah tahun tidak digunting. Oma harus melakukan gerakan telungkup pelan agar bisa bangun dari tempat tidurnya. Kemudian relawan mulai membantunya agar bisa duduk di kursi roda, mendorongnya keluar dari kamar kontrakan, membantunya duduk tegak dan memberikan bangku kecil sebagai sandaran kakinya agar tidak menggantung di kursi roda. Mimi Shijie, relawan bertanya pada oma, model rambut yang disukai oma seperti apa. Sambil menggunting rambut, Yek Ciau Shijie membujuk oma, agar tinggal di Panti Jompo. Tiba-tiba oma menangis, memanggil ibunya yang sudah almarhum. Ia bercerita kalau ia takut tinggal di Panti Jompo. Para relawan menghibur sambil mengusap tangan oma agar jangan menangis dan tidak usah takut. Di sana pasti banyak teman bisa diajak bicara, nonton bersama, makan bersama dan melakukan kegiatan bersama dengan suka cita. Tanpa terasa rambut telah selesai digunting. Kini muka oma terlihat bulat berisi, lebih segar daripada model rambut sebelumnya, yang panjang tidak terurus, dan menutupi mata dan mukanya. “Oma, kita bantu oma mandi ya,” bujuk Yek Ciau Shijie. “Malu, di belakang masih ada orang yang lagi masak,” jelas Oma. Relawan mendorong oma ke arah tempat tidurnya. Tiba-tiba oma berkata, “Saya takut, di sana tidurnya rame-rame. Dulu saya lihat ada orang sedang memukul pundak temannya.” Dulu oma memang pernah tinggal di Panti, namun tidak lama.
Keterangan :
Bagai Sebuah Keluarga Dulu oma mempunyai salon, selalu gunting rambut sendiri, pernah membuka usaha kecil. “Saya pintar buat bakcang, dagingnya harus dicampur dengan bawang goreng, agar harum dan enak. Tetangga selalu minta lagi setelah makan kue bakcang saya,” cerita oma. Waktu muda, oma selalu berkeliling dunia. Suatu hari, temannya menipu uangnya sehingga ia stress dan mengalami stroke. Suaminya mengalami gangguan jiwa. Tetapi saat kita berkunjung, suaminya telah mengalami kemajuannya. Untuk kebutuhna hidup oma dapatkan dari menjual kardus-kardus bekas yang didapat dari lingkungan rumahnya. Sambil bercanda, saya melakukan terapi kecil, mencoba membuka jari-jari tangan kanan oma. “Oma, sakit ngak, kuku tangannya panjang sekali, saya bantu gunting ya, biar tidak melukai kulit oma nantinya.” “Nggak sakit, nggak mau digunting, nanti susah garuk kalau gatal,” bantah oma. Saya menceritakan dan menunjukkan kuku panjang oma ke Yek Ciau Shijie. Shijie langsung menghampiri suami untuk meminjam gunting kuku. Saya mulai menggunting kuku dan membersihkan kuku oma dengan cinta kasih dan hati-hati agar tidak melukai kulit kuku. Saat menggunting kuku oma, saya teringat pada mama, dulu pernah mencatkan kuku kaki mama sehari sebelum hari raya Imlek. Tak henti-hentinya, saya menasehati oma agar tiap hari melakukan gerakan kecil pada tangan kanan dan jari-jari tangan kanan. Sambil melakukan terapi, suaminya mulai bercanda dengan memasukan botol balsem ke tangan kanan oma. Walau oma sakit, oma selalu tersenyum, mukanya sangat cerah. Selama kunjungan ini, oma berbahasa Hokkien dan suaminya berbahasa Mandarin, saya berbalas dengan bahasa hokkien sehingga suasana jadi hidup dan cair penuh canda. Jam telah menunjukkan pukul 12.00 kurang, saatnya relawan pamitan pada oma. Saya melambaikan tangan pada oma and opa. “Kam sia, kam sia,” kata oma sambil melambaikan tangannya. Sepanjang perjalanan pulang, saya merasakan oma seperti keluarga sendiri yang sudah lama tidak bertemu. | |||
Artikel Terkait
Perhatian untuk Warga Terdampak Kabut Asap
23 September 2019Relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun membagikan masker kepada para pengendara motor dan warga yang melintas di jalan-jalan di Tanjung Balai Karimun. Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan berdampak pula terhadap warga di Provinsi Riau ini.
Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026: Memperkuat Tekad dan Semangat Sebagai Fondasi Dalam Menebar Kebajikan
11 April 2026Tzu Chi Indonesia mengadakan Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 Sesi 1 yang digelar dua hari pada 11-12 April 2026 di Tzu Chi Center.
TK Tzu Chi School Wakili DKI Jakarta dalam Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional
07 Agustus 2019TK Tzu Chi Indonesia atau TK Tzu Chi School mewakili Provinsi DKI Jakarta dalam Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional kategori TK/RA. TK Tzu Chi menjadi satu di antara 25 sekolah di 25 provinsi lainnya yang ikut dalam perlombaan. Berbagai kriteria tersemat dalam perlombaan yang penilaiannya didasarkan pada acuan strata Paripurna ini.








Sitemap