DAAI Impact Forum 2026: Tebarkan Benih Kebajikan, Bergerak, dan Berdampak Untuk Sesama

Jurnalis : Nur Al Fajar Rumsari, Fotografer : Arimami Suryo A

Sesi diskusi DAAI Impact Forum yang diadakan DAAI TV Indonesia mengajak masyarakat untuk bergerak dan berdampak bagi masyarakat sekitar.

Setelah berdiskusi membahas tentang AI dan media pada sesi pertama, memasuki sesi kedua DAAI Impact Forum 2026 tak hanya membahas berfokus pada perkembangan teknologi, tetapi juga pada bagaimana manusia dapat mengambil peran, bergerak bersama, dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat di sekitarnya.

Diskusi kali ini mengangkat tema bergerak dan berdampak dalam pentingnya bersinergi dan kerja sama lintas sektor dalam menjawab berbagai persoalan sosial. Sebagai media yang tidak hanya menyampaikan informasi, DAAI TV juga berupaya menghadirkan berbagai program yang memberikan inspirasi, menggerakan kepedulian, serta mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dalam aksi kebaikan.

Bemula pada program tayangan yang berjudul Mimpi Jadi Nyata. Sesuai dengan namanya, program ini tidak hanya mengangkat mimpi seseorang, tetapi juga berupaya menghadirkan wujud nyata dari mimpi tersebut. Dari sinilah terjalin kolaborasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).  Melalui kerja sama tersebut, produser DAAI TV, Bernadeta Santi, mulai melakukan penelusuran dan riset. Dari informasi yang diperoleh, ia menemukan sejumlah local heroes atau sosok inspiratif di daerah yang memiliki kisah perjuangan serta mimpi yang layak untuk diwujudkan.

Produser DAAI TV Indonesia, Bernadeta Santi, berbagi cerita tentang program Mimpi Jadi Nyata yang mempertemukannya dengan berbagai pihak untuk berkolaborasi mewujudkan impian masyarakat Sumba melalui pembangunan jembatan cinta kasih.

Bernadeta kemudian mulai menelusuri kisah para sosok tersebut dengan mendengarkan pengalaman hidup serta mimpi-mimpi yang mereka miliki. Dari beberapa kisah yang ia dengarkan, salah satu sosok yang terpilih adalah Mariana. “Kami mendapatkan informasi mengenai beliau melalui Prof Ali dan Ibu Karolina. Setelah itu, ia menjalin komunikasi dengan Mariana melalui sambungan telepon seluler,” ungkapnya.

Berasal dari Desa Bondobela yang berada di wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Mariana merupakan sarjana perempuan pertama di desanya. Dahulu untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi Mariana harus melewati berbagai tantangan dan mengorbankan banyak hal untuk berjuang melanjutkan pendidikan ke SMP, SMA, hingga akhirnya menempuh bangku kuliah dan meraih gelar sarjana. Keberhasilannya menjadi langkah penting bagi perempuan di desanya.

Setelah lulus, ia mulai bekerja di sebuah yayasan kemanusiaan di Bali. Saat bekerja, ia terpaksa harus kembali ke kampung halamannya karena ayahnya jatuh sakit. Saat akan dibawa ke Puskesmas terdekat, perjalanan terhambat oleh jembatan yang rusak parah. Ketika sampai di ujung jembatan, disitulah ayah Mariana menghembuskan nafas terakhirnya.

Saat menyimak kisah tersebut, Bernadeta merasa bahwa mimpi Mariana untuk menghadirkan sebuah jembatan penghubung antar desa layak untuk di perjuangkan. “Dalam program mimpi jadi nyata juga terdapat beberapa kurator yang turut menilai dan menentukan kisah-kisah yang layak untuk diwujudkan. Ketika para juri menyaksikan perjuangan Mariana, mereka sepakat bahwa sudah saatnya mimpi tersebut diwujudkan,” ucap Bernadeta.

Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. M. Alie Humaedi, M.Ag., M.Hum., menyampaikan bahwa sinergi dan kolaborasi yang terjalin dengan baik dapat memberikan manfaat yang nyata bagi kehidupan masyarakat khususnya di Sumba.

Dalam hal ini, DAAI TV berdiskusi bersama Prof. Dr. M. Alie Humaedi, M.Ag., M.Hum., salah satu etnografer dari BRIN yang telah melakukan penelitian di Sumba selama tiga tahun. Dalam diskusi itu, Prof. Alie Humaedi mengungkapkan bahwa ada dua hal utama yang menarik perhatiannya selama melakukan penelitian di Sumba. Yang pertama adalah keterbatasan konektivitas dan aksesibilitas persoalan kemiskinan yang begitu nyata dalam kehidupan masyarakat. Salah satunya akses jembatan dan sarana penyeberangan yang belum memadai.

“Selama tiga tahun di Sumba, saya menyaksikan secara langsung bagaimana kemiskinan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ada beberapa desa di Sumba Barat Daya yang paling membekas dalam ingatan saya, salah satunya Desa Matakapore yang memiliki keterbatasan akses, terutama untuk menjangkau pusat pemerintahan maupun ibu kota kabupaten. Untuk menuju ke sana harus menggunakan mobil pick-up karena kondisi jalan yang sulit dilalui,” tutur Prof. Alie Humaedi.

Berbagai kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan di wilayah Sumba perlu mendapat perhatian lebih luas agar dapat mendorong hadirnya solusi nyata yang dijawab melalui pembangunan jembatan, agar masyarakat dapat menjangkau berbagai kebutuhan dengan lebih mudah dan aman. Berangkat dari temuan itulah Prof. Alie Humaedi kemudian menjalin komunikasi dengan DAAI TV, Vertical Rescue Indonesia, serta para donatur untuk bersama-sama mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Wujudkan Mimpi Masyarakat Sumba
Untuk mewujudkan mimpi Mariana membangun jembatan di desanya, sebuah jalinan jodoh baik pun mempertemukan Bernadeta dengan salah satu donatur, Rachmansyah Cong. Saat itu Rachmansyah telah memiliki niat untuk membantu pembangunan sebuah jembatan bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Sebelumnya, saya pernah diajak Berna ke DAAI TV untuk menjadi salah satu juri dalam program Mimpi Jadi Nyata. Namun, bukan di episode Mariana. Saya bilang ke Berna, ‘Kalau ada yang membutuhkan jembatan, saya mau menyumbang untuk pembangunannya,” ucap Rachmansyah Cong, yang akrab disapa Koh Acong.

Salah satu donatur program Mimpi Jadi Nyata, Rachmansyah Cong, turut berbagi pengalaman saat mengunjungi Sumba dalam mendukung proses pembangunan jembatan.

Kebiasaan berbuat kebajikan yang ditanamkan sang ayah sejak kecil menginspirasi Koh Acong untuk meneruskan jejak kebaikan tersebut dengan membantu sesama. Cinta kasih yang dicontohkan ayahnya telah menumbuhkan belas kasih dalam dirinya.

“Bapak saya suka membantu orang. Meskipun beliau sudah tiada, saya ingin namanya dikenang sepanjang masa. Salah satu cara saya meneruskan kebaikan itu adalah dengan membangun jembatan agar bisa membantu banyak orang,” ungkap Koh Acong.

Jalinan kasih yang mempertemukan mereka hingga akhirnya dapat berdiskusi langsung bersama Mariana mengenai pembangunan jembatan di Desa Matakapore. Setelah melalui berbagai upaya, jembatan cinta kasih itu pun selesai dibangun.

Selama proses pembangunan jembatan berlangsung, Koh Acong juga mendapatkan pengalaman berkesan ketika berada di Sumba. Ia mengungkapkan kebahagiaannya saat melihat langsung senyum warga desa setelah jembatan tersebut selesai dibangun.

“Selama saya di sana, saya melihat warga desa tersenyum bahagia ketika jembatan itu sudah selesai dibangun. Dalam hati saya berkata, ‘Haha, I did it!’ Saya merasa sangat senang karena bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan,” ungkap Koh Acong dengan penuh sukacita.

Hadirnya Jembatan Cinta Kasih
Setelah berjodoh baik dengan Koh Acong, langkah pembangunan jembatan ini kembali dipertemukan dengan Vertical Rescue Indonesia (VRI). Organisasi yang memiliki salah satu visi untuk membangun seribu jembatan di berbagai pelosok Indonesia, terutama di wilayah terpencil yang sulit dijangkau dan belum memiliki akses infrastruktur memadai.

Lebih lanjut, Bernadeta menceritakan awal mula terjalinnya kerja sama dengan pihak VRI. Ia mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut menjadi titik awal terwujudnya pembangunan jembatan di Sumba.

“Jalinan jodohnya terbentuk lagi. Waktu itu, kami bertemu dengan tim VRI, salah satunya Kang Adian. Kemudian, kami mengadakan pertemuan pertama dan terbentuklah kerja sama ini yang dapat terwujud berkat dukungan tim VRI.  Mereka yang membantu merealisasikan pembangunan jembatan di Sumba,” ungkap Bernadeta dalam sesi diskusi DAAI Impact Forum 2026.

Komandan VRI, Tedi Ixdiana, yang hadir dalam diskusi ini menceritakan proses pembuatan jembatan cinta kasih yang dibangunnya di beberapa wilayah di Indonesia salah satunya di Sumba.

Komandan Vertical Rescue Indonesia (VRI), Tedi Ixdiana atau yang akrab disapa Kang Adian juga hadir dalam diskusi tersebut. Ia pun menceritakan bahwa pembangunan jembatan pertamanya yang dilakukan bersama timnya bermula pada 2015 di Papua. Saat itu, jembatan dibangun untuk membantu para pendaki menyeberangi jurang. Namun, seiring waktu, masyarakat di berbagai daerah mulai meminta VRI membangun jembatan di kampung mereka agar akses antar wilayah menjadi lebih mudah.

“Awalnya, kami membuat jembatan di Papua untuk para pendaki. Kemudian masyarakat meminta VRI membangun jembatan di kampung dan wilayah mereka. Dari situlah kami mulai mengupayakan pembangunan jembatan di Sumba untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hingga sekarang, sudah ada 273 jembatan yang kami bangun. Semuanya dilakukan secara gotong royong. Jadi, salah satu syaratnya adalah masyarakat bersedia bergotong royong,” ucap Komandan VRI, Tedi Ixdiana.

Kepala Desa Matakapore, Okta Halato, yang hadir dalam sesi diskusi itu melalui aplikasi Zoom juga menceritakan kebahagiaan yang dirasakan warganya.

Manfaat kehadiran jembatan cinta kasih kini dirasakan secara langsung oleh masyarakat Desa Matakapore. Kepala Desa Matakapore, Okta Halato, yang turut hadir melalui sambungan aplikasi Zoom dalam diskusi tersebut, membagikan kebahagiaan warga atas perubahan yang dihadirkan jembatan itu dalam kehidupan sehari-hari. Akses yang sebelumnya sulit dilalui kini menjadi lebih mudah, terutama dalam mendukung aktivitas berkebun dan mengangkut hasil panen masyarakat.

“Sekarang ada jembatan itu, mereka bangun kebisaan gotong royong mengangkut hasil panen dengan sepeda motor. Dulu, mereka selalu merasa waswas dan khawatir saat bekerja di kebun. Apalagi ketika musim penghujan, semua orang itu akan cepat bergegas pulang sehingga pekerjaan hari itu tidak dapat diselesaikan secara efektif. Kehadiran jembatan ini benar-benar memberikan dampak yang sangat besar. Bahkan, ada warga yang dahulu tidak mau bekerja di kebun sebelah timur sungai karena tidak ada akses kesana dan sulit dijangkau. Kini, mereka bisa lebih mudah menuju ke sana,” ungkap Okta Halato.

Selain itu, ia mewakili warga Desa Matakopore juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan jembatan tersebut. Kehadiran jembatan ini membawa manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Kini, para perlajar serta warga yang membutuhkan layanan kesehatan juga memiliki akses yang lebih mudah untuk mereka bersekolah dan mendapatkan pertolongan medis.

Dosen Universitas Mercu Buana, Melly Ridaryanthi (kanan) sebagai peserta dalam DAAI Impact Forum 2026 juga merasakan menemukan isnpirasi yang positif untuk mengaplikasikannya dalam dunia pendidikan.

Salah satu dosen Universitas Mercu Buana, Melly Ridaryanthi, mengaku terharu setelah menyimak pemaparan pada sesi kedua. Menurutnya, diskusi tersebut tidak hanya memberikan inspirasi, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

“Sesi kedua ini sungguh menyentuh hati. Kami pun mendapatkan ide untuk membuat program pengabdian kepada masyarakat yang lebih berdampak serta mempererat kembali kerja sama dengan DAAI TV agar dapat terjun langsung ke lapangan. Apa yang disampaikan dalam forum ini luar biasa dan memberikan banyak wawasan bagi kami sebagai akademisi. Hal ini menjadi inspirasi untuk mengembangkan kegiatan sekaligus membuka ruang interaksi dan kolaborasi yang lebih erat dengan media serta berbagai pihak lainnya untuk membangun negeri,” ucap Melly.

Editor: Arimami Suryo A

Artikel Terkait

DAAI Impact Forum 2026: Tebarkan Benih Kebajikan, Bergerak, dan Berdampak Untuk Sesama

DAAI Impact Forum 2026: Tebarkan Benih Kebajikan, Bergerak, dan Berdampak Untuk Sesama

02 November 2026

Melalui DAAI Impact Forum 2026, DAAI TV Indonesia menghadirkan diskusi yang memperkuat peran media berkolaborasi dengan pihak lain untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat.

DAAI Impact Forum 2026: Memanfaatkan AI Tanpa Kehilangan Nilai Kemanusiaan

DAAI Impact Forum 2026: Memanfaatkan AI Tanpa Kehilangan Nilai Kemanusiaan

30 Oktober 2026

DAAI TV Indonesia mengadakan DAAI Impact Forum 2026 yang mengajak masyarakat memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara bijaksana tanpa kehilangan nilai kemanusiaan, kesadaran diri, dan kreativitas.

Sikap mulia yang paling sulit ditemukan pada seseorang adalah kesediaan memikul semua tanggung jawab dengan kekuatan yang ada.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -