Dari Air Mata Maria, Tumbuh Cahaya untuk Masa Depan

Jurnalis : Anand Yahya, Fotografer : Anand Yahya

Maria (tengah) sangat bersyukur dan gembira ketika dikunjungi oleh Denasari, relawan yang selalu mendampinginya. Denasari mendampingi Maria semenjak Cahaya Putri berumur 2 tahun, dan saat ini putri telah berusia 17 tahun dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Bandung.

Malam itu, kabar bahagia justru membuat Maria dan putrinya, Cahaya, menangis berdua. Cahaya baru saja diterima di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Sebuah pintu masa depan terbuka, tetapi pertanyaan segera muncul: bagaimana membiayai hidup Cahaya selama kuliah?

Maria memikirkan biaya kos, makan, perlengkapan kuliah, buku, tugas, dan kebutuhan sehari-hari. Penghasilan keluarga selama ini berasal dari kerja kerasnya sebagai seorang pekerja di sebuah pabrik di Bekasi.

“Langsung kita nangis berdua. Nangis, pikiran, gimana biar hidup kamu di sana?” kenang Maria.

Cahaya sempat membayangkan UKT mencapai Rp7 juta. Namun, saat pengumuman keluar, ia mendapat biaya kuliah Rp1 juta. Kekhawatiran perlahan berubah menjadi rasa syukur.

Memahami Perjuangan Bunda
Kini berusia 17 tahun, Cahaya mulai memahami hal-hal yang dulu membingungkan. Ketika kecil, ia sering bertanya mengapa harus dititipkan kepada orang lain saat ibunya bekerja. “Sebenarnya dulu suka bingung kenapa saya harus dititipkan ke orang. Tapi Bunda lagi kerja,” ujar Cahaya.

Cahaya sedang mencoba laptop yang baru diberikan oleh relawan Tzu Chi sebagai bekal untuk melanjutkan kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kota Bandung.

Kini ia mengerti. Maria bekerja dan tidak selalu dapat membawa anak-anak ke tempat kerja. Bahkan ketika kakaknya mengalami kecelakaan, Cahaya kembali dititipkan kepada teman sekolah.

“Dari perjuangan Bunda, yang bisa aku ambil pelajarannya itu, Bunda orangnya kerja keras banget. Walaupun sakit, tetap maksain buat kerja,” katanya.

Dari sana tumbuh tekad untuk menjadi sarjana pertama di keluarga.

“Aku punya tekad kalau aku pengen banget jadi sarjana yang pertama di keluarga aku. Makanya aku belajar, belajar terus biar bisa dapat perguruan tinggi negeri.”

Saat Maria Harus Memilih
Jauh sebelum Cahaya berdiri di ambang perguruan tinggi, Maria pernah berada pada titik yang sangat sulit. Kondisi ekonomi membuatnya harus menghadapi pilihan berat: menyerahkan Cahaya kepada keluarga lain yang ingin mengadopsinya.

Akhirnya, Dika, sang kakak yang mengalah, harus dititipkan di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) 1 Klender, asalkan Cahaya tidak diberikan kepada keluarga lain yang ingin mengadopsinya. Maria dan Cahaya tetap mengunjungi Dika di panti setiap Minggu.

Di tempat itulah jalan Maria bersama Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mulai terbuka. Saat mengunjungi Dika, Maria melihat relawan Tzu Chi datang. Dari pertemuan itu, ia mengenal Tzu Chi dan mengajukan bantuan untuk kebutuhan hidup keluarga.

“Kondisi ekonomi saya benar-benar di bawah sekali. Untuk bayar kontrakan juga susah. Ya, biaya hidup, susu anak saya, waktu itu Cahaya masih umur satu tahun,” tuturnya.

Relawan melakukan survei dan mendampingi proses pengajuan bantuan. Maria masih mengingat Yeni, relawan yang pertama kali melihat kondisi keluarganya. Pendampingan kemudian berlanjut bersama Denasari, Handi, dan Endang, relawan Tzu Chi Kota Bekasi.

“Saya sangat berterima kasih kepada relawan Tzu Chi. Dari pertama kali disurvei sampai sekarang, mereka selalu mendampingi saya,” ungkap Maria.

Denasari, relawan dari komunitas Kota Bekasi, memberi nasihat kepada Cahaya untuk selalu belajar dengan rajin dan jujur, serta berbakti kepada orang tua dan kakaknya, Dika yang telah rela tinggal di panti asuhan agar Cahaya tidak diberikan kepada keluarga lain.

Pendidikan yang Menjadi Harapan
Ketika Cahaya memasuki SMA, persoalan biaya kembali muncul. Maria menghubungi Denasari dan mengajukan bantuan pendidikan kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Relawan Tzu Chi Kota Bekasi, Handi dan Endang, melakukan survei. Bantuan diberikan sehingga administrasi sekolah Cahaya Putri dapat diselesaikan.

“Jadi saya bersyukur sekali waktu itu, nggak khawatir lagi. Pihak sekolah pun nggak nagih-nagih saya lagi,” ujar Maria.

Bantuan mendampingi Cahaya hingga kelas 12. Setelah sekolah negeri di Jawa Barat mendapatkan kebijakan gratis, Maria meminta agar bantuan beasiswa ditutup. Namun, hubungan mereka dengan Tzu Chi tidak berhenti. Maria dan Cahaya tetap hadir dalam gathering Gan En Hu.

“Walaupun sudah tidak ada (menerima) bantuan, mereka tetap datang ke acara gathering, tetap masih anak asuh Tzu Chi, tetap hadir. Malah kan jadi kita bisa pantau,” tutur Denasari.

Dari Belajar hingga Tengah Malam
Setelah lulus SMA, Cahaya mengikuti UTBK dan memilih UPI Bandung. Untuk menghadapi ujian, ia belajar sungguh-sungguh, bahkan hingga pukul satu dini hari.

“Yang penting kamu belajar,” kata Maria.

Cahaya akhirnya diterima. Kabar itu membawa kebahagiaan sekaligus kekhawatiran. Jarak Bandung dan Bekasi berarti kebutuhan biaya baru, sementara usia Maria terus bertambah.

Malam itu mereka menangis. Namun, Maria akhirnya menguatkan putrinya.

Bismillah, jangan keluar. Yang penting kamu di sana belajar sungguh-sungguh. Jangan pikirkan Bunda.”

“Usia ibu kamu makin bertambah. Takutnya usia 60 tahun masih bisa bekerja atau enggak. Sekarang saja, mumpung ibu kamu masih kerja, masih ada pemasukan. Kamu lanjutin aja,” pesannya.

Barang-barang persiapan Cahaya untuk berangkat ke Kota Bandung. Barang-barang ini diberikan oleh relawan Tzu Chi mulai dari baju kemeja, laptop, pemasak nasi, setrika, hingga kebutuhan lainnya.

Membuktikan Perjuangan Bunda
Bagi Cahaya, kuliah bukan hanya tentang masa depannya. Ia ingin membuktikan bahwa perjuangan Maria tidak sia-sia. “Aku mau buktiin sama orang-orang yang udah ngerendahin Bunda, kalau Bunda tuh bisa ngedidik anaknya sampai sarjana, sampai sukses.”

Cahaya ingin menjadi sarjana pertama di keluarganya. Setelah lulus, ia bercita-cita bekerja di BUMN bidang kesehatan. Jika memiliki kesempatan, ia ingin melanjutkan pendidikan hingga S2.

Cahaya Melangkah
Menjelang keberangkatan ke Bandung, kebutuhan kuliah Cahaya mulai dipersiapkan. Buku dikumpulkan dan laptop untuk menunjang perkuliahan juga telah diberikan oleh relawan Tzu Chi.

Kini Cahaya memahami sesuatu yang dahulu tidak ia mengerti. Ketika kecil, ia hanya tahu dirinya dititipkan karena Bunda bekerja. Kini ia tahu, di balik hari-hari ketika Maria tidak selalu berada di sampingnya, ada perjuangan panjang untuk memastikan dirinya memiliki masa depan.

Bagi Maria, semua itu sangat disyukuri. “Dengan adanya Yayasan Buddha Tzu Chi, hidup saya terbantu. Anak saya bisa sekolah kembali.”

Keceriaan wajah Maria dan Cahaya dikunjungi oleh relawan Tzu Chi. Maria dan Cahaya kini sudah tidak khawatir lagi memikirkan kebutuhan untuk kuliah dan tinggal di Kota Bandung.

Kini Cahaya melangkah menuju Bandung. Maria tetap di Bekasi, bekerja dan menjaga roda kehidupan tetap berputar. Cahaya membawa buku, cita-cita, dan harapan keluarganya.

Dulu, ia hanya tahu bahwa dirinya adalah “titipan”. Kini ia memahami bahwa di balik titipan itu ada cinta seorang ibu yang sedang berjuang.

Cahaya ingin menjadi sarjana pertama di keluarganya bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk Bunda, untuk kakaknya, dan untuk membuktikan bahwa perjuangan panjang mereka tidak pernah sia-sia.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Dari Air Mata Maria, Tumbuh Cahaya untuk Masa Depan

Dari Air Mata Maria, Tumbuh Cahaya untuk Masa Depan

11 Agustus 2026

Perjuangan Maria untuk membesarkan Cahaya di tengah keterbatasan ekonomi mengantarkan sang anak meraih cita-cita menjadi sarjana. Dukungan Tzu Chi dan pendampingan relawan menguatkan langkah mereka menuju masa depan.

Ketegaran Seorang Ibu

Ketegaran Seorang Ibu

04 Februari 2016
Tan Kwie Hwa (55) harus berjuang menghadapi ujian hidup. Suaminya terkena stroke, sementara kedua anaknya menderita talasemia (kelainan darah) sejak kecil. Cobaan semakin berat ketika Tan Kwie Hwa divonis terkena kanker ovarium. Semangatnya tumbuh tatkala ada banyak orang-orang yang mendukungnya.
Ibu Tumi Kembali Mampu Melihat Dunia, Sekaligus Mampu Melihat Cinta Kasih yang Nyata

Ibu Tumi Kembali Mampu Melihat Dunia, Sekaligus Mampu Melihat Cinta Kasih yang Nyata

09 Februari 2026

Kisah Ibu Tumi, pasien operasi katarak Tzu Chi, yang kembali melihat dan merasakan nyata cinta kasih dari kesatuan hati banyak orang melalui kepedulian yang tulus.

Kehidupan masa lampau seseorang tidak perlu dipermasalahkan, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalankan kehidupannya saat ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -