Ibu Tumi Kembali Mampu Melihat Dunia, Sekaligus Mampu Melihat Cinta Kasih yang Nyata

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta Wulandari, Yekti Utami (TIMA)

Wajah sumringah Ibu Tumi saat kontrol pascaoperasi pemasangan lensa. Dokter Gladys menjelaskan kondisi matanya yang menunjukkan hasil pemulihan yang baik.

Banyak kisah hangat yang terjadi di dunia Tzu Chi, yang kadang oleh sebagian orang dianggap hanya rekayasa belaka. Kisah-kisah yang membuat orang bertanya-tanya, “Emang ada orang kayak gitu?” atau berujar sambil setengah bercanda, “Masa sih? Ceritanya ngarang kali…”.

Padahal, cerita-cerita ini lahir dari kepedulian yang tumbuh dari kepekaan juga simpati, lalu tangan mereka terulur tanpa diminta, dan hati yang langsung tergerak, merasa terpanggil. Namanya berempati. Kisah-kisah ini rasanya sederhana, namun justru di sanalah kehangatannya amat terasa.

Seperti hangatnya melihat Ibu Tumi yang wajahnya sumringah, badannya tegap, jalannya pun lancar tanpa dituntun lagi. Senyumnya juga nampak berbeda dari masa terakhir kali ia datang ke Tzu Chi Hospital. “Suenengggg poll…...!” katanya sambil mengacungkan dua jempolnya karena mata kanannya kini bisa melihat lagi.

Pascaoperasi pemasangan lensa, Ibu Tumi kembali mandiri. Ia sudah mampu berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan, hal yang membuatnya merasa lebih bahagia dan percaya diri.

“Dari pemasangan lensa, sampai sekarang, sudah enak. Ngregesnya hilang. Semua rasa sakitnya hilang. Nggak ada nyut-nyut. Hari Sabtu minggu lalu kan pulang kontrol, wah saya langsung seger. Pokoknya girang banget,” tambahnya tak henti tersenyum.

Ibu Tumi bahkan kini sudah bisa melihat wajah dua cucunya dengan jelas. Dimana sebelumnya tak nampak sama sekali. “Jangankan lihat depan, buat ngelirik kanan kiri tuh enteng. Tadinya kan berat, apalagi pas belum pakai lensa. Berat mata, kepala pusing. Pundak juga rasanya ikut enggak enak bawaannya.”

Ceritanya pun membuat semua yang mendengar ikut merasakan sukacita dan turut bahagia.

Operasi Gratis tapi Diperlakukan Bak Ratu
Operasi pemasangan lensa Bu Tumi berlangsung Jumat, 30 Januari 2026 lalu, pukul 19.00 WIB. Di momen itu, sempat ada rasa takut darinya, darahnya sempat tinggi, tapi tim dokter dan perawat dengan cekatan membantu menenangkannya.

“Ibu tenang aja ya… Ibu kedinginan? Lapar ya? Saya bukakan roti ya Bu... Ibu makan dulu,” cerita Bu Tumi mengingat perlakuan dokter padanya. “Mana ada sih, Bu, saya operasi ini gratis tapi kok semuanya pada baik. Itu saya nggak bisa makan pedas, dokter carikan saya roti, ambilkan minum. Baik semuanya. Saya terharu sekali,” katanya full senyum.

Operasi pemasangan lensa mata Ibu Tumi dilakukan pada 31 Januari 2026 oleh Dokter Mathilda dan Dokter Gladys bersama tim medis Tzu Chi Hospital.

Sebelum ceritanya menjadi panjang. Kita kenalan dulu dengan Ibu Tumi…

Ibu Tumi adalah lansia berusia 70 tahun, yang merupakan pasien baksos operasi Katarak Tzu Chi ke-153 di Tzu Chi Hospital, akhir tahun 2025 lalu. Di usianya yang sudah lanjut, kondisi dua mata Ibu Tumi sudah mengalami katarak. Katanya sudah lebih dari 10 tahun, sejak anak pertamanya, Weni Asih Saparyani menikah di tahun 2013 lalu.

Lalu singkat cerita, Ibu Tumi berjodoh dengan baksos katarak Tzu Chi. Dia sudah menjalani operasi, tapi kondisi “pengait” lensa matanya sudah lemah. Dokter akhirnya hanya mengoperasi kataraknya dan belum bisa memasang lensa baru pada matanya. “Saat itu lensanya ini tidak bisa pakai lensa yang kami sediakan di baksos. Untuk kasus Bu Tumi harus lensa khusus diukur sesuai dengan mata ibu,” kata Suster Weni Yunita, tim Tzu Chi International Medical Assosiation (TIMA).

Dokter Gladys, dokter spesialis mata di Tzu Chi Hospital yang mengoperasi Bu Tumi bertanya pada Weni kala itu. “Ini Ibu Tumi nggak dipasang lensa, gimana ya Mbak Weni? Hasil operasinya bagus.”

Staf Tzu Chi Hospital menunjukkan semangat kebersamaan dengan turut membantu dan berdonasi bagi Ibu Tumi.

Suster Weni pun menjelaskan, biasanya dari hasil operasi itu, TIMA akan menyarankan pasiennya untuk melanjutkan pengobatan via BPJS dan penangannya memang ditanggung oleh BPJS. Nah posisinya, Ibu Tumi ini adalah warga Wonosobo, Jawa Tengah. Jadi dia belum bisa pulang kampung untuk melakukan tindakan.

“Seandainya saya mau bantu operasi, mau tolong bantu pasangkan lensa, nggak usah hitung fee. Boleh ta Mbak Wen?” kata Dokter Gladys ke Suster Weni.

Wah... mata Suster Weni langsung berbinar. Ia menjawab dengan lantang. “Tentu saja boleh Dok, tapi saya tanyakan dulu ke Yayasan. Apakah lensanya ini ditanggung nggak sama yayasan atau TIMA.”

Tak berhenti, Dokter Gladys menambah daftar pertanyaannya: “Mbak Weni seandainya yayasan atau TIMA tidak tanggung. Boleh nggak saya beliin lensanya?”

Suster Weni makin kaget, ternyata dr. Gladys dan tim dokter lain hadir dan tulus ingin membantu seluruhnya. “Aduh Dok, dengan dokter mau operasi saja. Kami sudah gan en banget. Nanti saya tanyakan dulu.”

Weni Asih Saparyani (anak Ibu Tumi – kanan) tampak terharu atas cinta kasih dan kepedulian yang diberikan oleh Suster Weni serta para relawan dan staf Tzu Chi Hospital.

Merasakan Kehangatan di Tengah Himpitan
Pada saat yang sama, Suster Weni memberi saran kepada Ibu Tumi dan keluarganya yang saat ini tinggal di tempat sederhana di Petojo, Jakarta Pusat. “Mau nggak lanjut pengobatan di RSCM aja? Yang lebih dekat dari rumah. Ongkosnya nggak terlalu mahal seperti kalau Ibu kontrol ke PIK.”

Anak Bu Tumi, yang namanya mirip dengan suster Weni, yakni Weni Asih Saparyani menjawab dengan risau. “Ibu saya ini orangnya khawatirnya tinggi. Ke rumah sakit tuh pokoknya tinggi banget kekhawatirannya. Nah selama dia ke sini, dia tuh tenang, nyaman, merasa enak. Boleh nggak di sini saja jangan pindahin ke RSCM?”

Rasanya berat di ongkos. Tapi Weni dan suaminya berusaha mengusahakan untuk bisa memenuhinya. “Suami saya bilang, nggak usah pikirin ongkos. Pokoknya kamu bawa saja Ibu ke rumah sakit Tzu Chi, nanti saya yang nyari (uang).”

Ibu Tumi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tim dokter dan perawat yang dengan sabar memberikan pelayanan penuh perhatian selama proses pengobatan.

Suami Weni bekerja sebagai tim produksi untuk instalasi event. Kalau ada pameran-pameran di mall atau pusat perbelanjaan, dia salah satu orang yang menyiapkan stan-stannya. Biasa bekerja kalau mall sudah tutup jam operasional. Sementara Weni punya warung kecil di depan rumah. Ada jual kopi dan camilan anak-anak.

Rumah yang saat ini mereka tinggali adalah ruko yang dipinjamkan oleh bos Weni (mantan bos) yang juga menjadi informan terkait adanya Baksos Tzu Chi. Ruko tersebut sudah terjual dan pada bulan Februari dan mereka harus mencari tempat tinggal lain nantinya. Keluarga ini sempat berharap bisa mendapatkan kontrakan sekitar tujuh ratus ribu rupiah untuk berlima. Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda. Ruang tidur pun tak cukup. Pindah lebih jauh pun bukan perkara mudah, karena anak-anak sudah sekolah di lingkungan tersebut

Titik-Titik Cinta Kasih yang Berharga
Seperti biasa, Suster Weni selalu mengingatkan jadwal kontrol pasien di H-1 dan ia menelepon Weni. Namun di ujung telepon itu, ada suara kerisauan dan keraguan. “Ibu saya sedang sakit, Sus. Sudah 10 hari.” Suaranya lalu sedikit tercekat… “Iya nanti dibawa berobat, Sus…” kata Weni.

Di pikiran Suster Weni, mereka pasti kekurangan biaya untuk pesan mobil online. Simalakama, kalau uangnya dipakai berobat, mereka tidak punya uang untuk transport. Dan begitu sebaliknya.

“Saya kemudian galang dana ke karyawan-karyawan TCH. Di momen Ceramah Master Cheng Yen yang setiap pagi kami ikuti, saya umumin. Tapi saya batasin 25 ribu per orang. Karena saya berpikir hanya untuk bantu transport dan saya pun belum tahu bagaimana ekonomi keluarga ini, karena belum melakukan survei. Cuma, kondisi awal mereka memang kesulitan transport. Dana itu akhirnya terkumpul 2,6 juta. Hasil sumbangsih dari teman-teman staf dan relawan,” cerita Suster Weni.

Anak kedua Weni menerima boneka dari relawan yang kemudian dinamai Markonah. Tak lama berselang, sang kakak juga menerima boneka yang dinamai Blekedet. Kedua boneka tersebut kini menjadi teman bermain dan kesayangan mereka.

Di hari itu juga, Suster Weni dan Tami, meminjam mobil relawan. Berbekal share lokasi yang diberikan Weni, mereka datang bermaksud memberikan dana.

Sesampainya di lokasi, Suster Weni dan Tami sempat mengira tempat tinggal keluarga Ibu Tumi adalah ruko. Namun begitu masuk, barulah terlihat bahwa bangunan itu lebih menyerupai gudang. Mereka duduk bersama, berbincang pelan. Suster Weni memeriksa tensi Ibu Tumi, sementara Tami berusaha mengambil gambar. Kondisi rumah itu sederhana, bahkan cenderung minim penerangan. Gelap. Tidak ada lampu yang cukup. Penerangan seadanya. Atapnya juga bocor di beberapa bagian. Bukan tidak layak huni sama sekali, tapi jelas jauh dari kata nyaman. Terlihat pula betapa repotnya Weni Asih harus mengurus ibunya yang sakit sambil tetap memperhatikan dua anaknya.

Dalam obrolan itu, Ibu Tumi perlahan menyampaikan keluh kesahnya. Setelah suasana sedikit tenang, Suster Weni menyerahkan amplop bantuan yang telah dikumpulkan.

“Ini untuk bantu berobat, Bu,” ucapnya lembut sambil menyerahkan amplop kepada Ibu Tumi.

Seketika, suasana berubah. Weni, yang duduk berhadapan dengan Suster Weni, menangis terisak. Tangisnya keras, penuh emosi yang selama ini tertahan.

Suster Weni refleks menenangkannya. “Jangan nangis kenceng-kenceng, Ibunya kaget,” ujarnya, khawatir melihat Ibu Tumi yang juga hendak bangkit dari tempat duduknya.

Shijie Moni mewakili para relawan menyerahkan bantuan kasur busa untuk Ibu Tumi sebagai bentuk perhatian terhadap kenyamanan beristirahatnya.

Saat Suster Weni hendak pamit, Weni berdiri mendekat dan berkata lirih, “Ibu dokter (ia memanggil Suster Weni), saya boleh nangis nggak?” Suster Weni terdiam sejenak. Ia baru menyadari, sebelumnya ia sempat meminta Weni menahan tangisnya demi Ibu Tumi.

“Boleh dong. Kenapa nggak boleh?” jawabnya pelan. Lalu keluarlah kalimat yang begitu menyesakkan dada. “Saya ini sudah sebulan, kalau mau nangis harus masuk kamar mandi. Tapi saya nggak boleh bersuara.”

Di sanalah semua bendungan emosi itu runtuh. Weni memeluk Suster Weni dan menangis sejadi-jadinya. “Saya lihat ibu saya berbaring. Nggak bisa bawa ke dokter. Mau pakai uang ini, Uang ini sudah ada peruntukannya. Sampai saya bingung. Saya lihat mama saya cuma dikasih obat warung. Tiap malam panasnya tinggi, menggigil. Saya cuman berdoa. Sementara suami saya juga bingung mau cari pinjaman, udah nggak ada lagi,” isak Weni di pelukan Suster Weni.

Lingkaran Cinta Kasih Tak Berhenti di Tengah Jalan
Dari kunjungan dan survei itu, Suster Weni merasa bantuan tidak boleh berhenti begitu saja di sana. Ia pun kembali menggalang dana, kali ini untuk membantu biaya kontrakan keluarga Ibu Tumi, setidaknya untuk satu hingga dua bulan sampai mereka menemukan kontrakan yang sesuai. Harapannya agar mereka bisa bernapas lebih lega, tidak terus-menerus dihantui kecemasan soal tempat tinggal. Agar sang menantu bisa bekerja dengan tenang. Agar tidak ada lagi anggota keluarga yang harus tidur terpisah karena sempitnya ruang.

Selain dana, banyak relawan lainnya yang juga memberikan perhatian dan hal-hal yang dibutuhkan oleh keluarga kecil ini. Seperti boneka untuk kedua anak Weni yang kemudian diberi nama: Markonah dan Blekedet. Ada juga kasur busa baru untuk Ibu Tumi. Semua turut berbahagia.

Para relawan menyerahkan donasi hasil galang dana kedua untuk membantu Ibu Tumi dan keluarganya dalam mencari tempat kontrakan yang lebih layak.

Ke depannya, Suster Weni juga merencanakan kunjungan lanjutan, membawa sembako, dan menutup kasus ini dengan tuntas. Inilah yang ia sebut sebagai bantuan yang tidak putus di tengah jalan. Bantuan yang berkembang, berangkat dari kepedulian, diperkuat oleh survei, dan diwujudkan lewat empati yang nyata. Karena dari sanalah kebutuhan yang sesungguhnya bisa terlihat, dan dari sanalah kehangatan itu terus berlanjut.

Kini, Ibu Tumi kembali menjalani hari-harinya dengan senyum yang lepas. Matanya yang kembali terang membuatnya bisa melihat wajah anak dan cucunya dengan jelas, berjalan lebih percaya diri, dan menikmati hal-hal kecil yang dulu terlewatkan. Keluarganya pun perlahan bisa bernapas lebih lega, melangkah dengan hati yang lebih tenang. Dari kisah ini, kebahagiaan hadir bukan karena segalanya tiba-tiba menjadi mudah, tetapi karena mereka tahu ada banyak tangan yang tulus membantu, dan banyak hati yang peduli.

“Terima kasih semuanya, Dokter Gladys, Dokter Mathilda, tim dokter, para perawat, ibu-ibu relawan, Suster Weni, dan Tzu Chi Hospital yang sudah membuat masa tua ibu saya jadi berharga dan beliau bisa kembali berdaya,” tutup Weni bahagia.

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel Terkait

Menjadi Pengajar Kelas Keterampilan Tzu Chi, Nizmah Tak Pelit Bagikan Ilmunya

Menjadi Pengajar Kelas Keterampilan Tzu Chi, Nizmah Tak Pelit Bagikan Ilmunya

08 Agustus 2025

Nizmah mengajar kelas keterampilan di Rumah Singgah Tzu Chi. Kelas ini diadakan oleh tim Bakti Amal untuk mendukung pasien dan keluarga agar memiliki keterampilan yang bermanfaat.

Sahabat Jiwa Bagi Oma Siana

Sahabat Jiwa Bagi Oma Siana

15 Juli 2020

Oma Siana Loande (78) beranjak dari kursinya dengan tertatih-tatih ketika Rita Malia, dan Wey Alam relawan Tzu Chi dari He Qi Tangerang tiba di depan rumahnya. Saking bahaginya menyambut mereka, hampir saja ia lupa kalau kakinya bengkak akibat infeksi di jari kaki. 

Ketegaran Seorang Ibu

Ketegaran Seorang Ibu

04 Februari 2016
Tan Kwie Hwa (55) harus berjuang menghadapi ujian hidup. Suaminya terkena stroke, sementara kedua anaknya menderita talasemia (kelainan darah) sejak kecil. Cobaan semakin berat ketika Tan Kwie Hwa divonis terkena kanker ovarium. Semangatnya tumbuh tatkala ada banyak orang-orang yang mendukungnya.
Hanya dengan mengenal puas dan tahu bersyukur, kehidupan manusia akan bisa berbahagia.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -