Para relawan mulai menyalin Sutra Bakti Seorang Anak dengan penuh konsentrasi. Setiap goresan aksara dilakukan perlahan sebagai latihan ketenangan, kesabaran, sekaligus kesempatan untuk menghayati makna yang terkandung dalam setiap kata.
Di tengah kesibukan kehidupan, ada kalanya manusia perlu berhenti sejenak untuk kembali mengingat orang-orang yang senantiasa memberikan kasih tanpa mengharapkan balasan. Orang tua adalah sosok yang sejak awal kehidupan menemani setiap langkah, merawat dengan penuh perhatian, dan menjadi tempat untuk kembali. Namun, karena kasih itu hadir setiap hari, terkadang kebaikan mereka justru luput disadari.
Menyadari hal tersebut, Relawan Komunitas He Qi Jakarta Barat 3 mengadakan Kelas Menyalin Sutra (Sutra Bakti Seorang Anak) di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Kebon Jeruk, Jl. Karmel Raya No. 8, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kegiatan yang terbuka bagi relawan dan masyarakat umum ini berlangsung dalam dua sesi, yaitu Minggu, 16 Agustus 2026 dan Minggu, 23 Agustus 2026.
Tidak sekadar menyalin aksara, peserta diajak menenangkan hati, memahami makna Sutra, bernyanyi bersama, menyalin dengan penuh perhatian, serta sharing bersama. Pada sesi pertama, peserta mendalami Bab 6 – Qin Qing (Cinta Kasih Orang Tua) dan Bab 7 – Zi Guo (Kesalahan Anak).
Kegiatan diawali dengan menenangkan hati, kemudian peserta menyaksikan video mengenai makna Bulan 7 Penuh Berkah. Budiman selaku PIC Utama kegiatan memimpin sesi pertama sekaligus menyampaikan materi mengenai latar belakang dan makna Sutra Bakti Seorang Anak.
Melalui pemaparan tersebut, peserta diajak menyadari bahwa kasih orang tua sering kali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Perhatian yang berulang, pertanyaan yang terus diberikan, hingga kekhawatiran yang terkadang dianggap mengganggu, sesungguhnya merupakan ungkapan kasih yang tidak ternilai.
Hun Hun (duduk di paling depan bagian tengah) dan para relawan menyimak tayangan video mengenai Makna Bulan 7 Penuh Berkah. Tayangan ini menjadi pengantar bagi peserta untuk menenangkan hati dan merenungkan kembali hubungan kasih antara orang tua dan anak.
Seorang relawan menyalin aksara Mandarin dalam buku Sutra Bakti Seorang Anak dengan penuh perhatian. Melalui setiap goresan, peserta melatih ketenangan batin sambil memahami pesan luhur mengenai kasih dan bakti kepada orang tua.
Kegiatan dilanjutkan melalui lagu Qin Qing (Cinta Kasih Orang Tua) dan Zi Guo (Kesalahan Anak). Alunan lagu membawa peserta kembali mengingat sosok orang tua dan melihat ke dalam diri: sudahkah kasih yang diterima selama ini dibalas dengan sikap yang baik?
Bagi Hun Hun, kegiatan ini menjadi sebuah kesadaran yang sangat pribadi. Selama ini, ia lebih sering memikirkan bagaimana mengajarkan bakti kepada anaknya, namun lupa bahwa dirinya sendiri juga masih memiliki orang tua yang perlu dihargai dan disayangi.
“Setelah mengikuti kegiatan ini, saya baru merasa bahwa bukan anak saya saja yang punya orang tua, tetapi saya juga punya orang tua. Saya merasa beruntung karena Mama masih ada. Ternyata kekuatan saya selama ini mungkin karena masih ada orang tua yang selalu ada untuk saya, ketika saya salah atau menghadapi apa pun, saya masih bisa pulang kepada mereka,” ungkap Hun Hun.
Ia teringat ketika sedang kurang sehat dan merasa terganggu karena sang ibu terus bertanya tentang kondisinya. Namun, setelah mengikuti kegiatan ini, perhatian tersebut dipandang dari sudut yang berbeda.
“Bakti itu sebenarnya tidak sesulit yang saya bayangkan. Menjawab tutur kata orang tua dengan baik, memahami rasa sayang dan kecemasan mereka, itu juga sudah merupakan bakti. Kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar. Yang penting kita menyadari kebaikan mereka, berterima kasih, dan tidak menjawab kekhawatiran mereka dengan ketus,” tuturnya.
Seorang ibu bersama anaknya yang merupakan peserta Kelas Budi Pekerti turut mengikuti Kelas Menyalin Sutra. Kebersamaan ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan dan menghayati nilai bakti kepada orang tua bersama-sama.
Kesadaran serupa tumbuh dalam diri Sak Ho. Ia mengikuti kegiatan ini dengan niat untuk belajar berbakti kepada orang tua karena selama ini belum memahami secara utuh bagaimana seorang anak seharusnya membalas kasih yang diterimanya. “Saya dulu tahunya berbakti itu hanya memberi orang tua makan. Ternyata masih banyak hal lain yang belum saya lakukan. Dengan mengikuti kegiatan ini, pengetahuan saya bertambah tentang bagaimana menjadi anak yang lebih baik dan bijaksana,” ujar Sak Ho.
Baginya, menjadi anak yang lebih baik bukan hanya tentang melakukan sesuatu untuk orang tua, tetapi juga terus memperbaiki diri agar dapat membawa manfaat bagi banyak orang. Ia pun berharap kebajikan dari kegiatan menyalin Sutra ini dapat dilimpahkan kepada para leluhur, sanak saudara, serta kedua orang tuanya yang telah berpulang.
Sementara itu, bagi Haryogi, kegiatan menyalin Sutra menjadi kesempatan untuk mengisi waktu dengan sesuatu yang membawa manfaat sekaligus mengingat kembali kewajiban seorang anak kepada orang tua. “Kebaikan itu jangan hanya dilakukan sekali, tetapi terus dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Jadikan kebaikan sebagai pelatihan diri,” katanya.
Kedua orang tua Haryogi telah berpulang. Karena itu, Bulan 7 Penuh Berkah menjadi momentum baginya untuk kembali mengenang budi orang tua sekaligus menyadari bahwa masih ada hal-hal yang belum maksimal ia lakukan semasa mereka masih ada. “Saya merasa belum maksimal dalam membalas budi orang tua. Karena itu, saya ingin terus melakukan kebaikan dan melimpahkan jasa agar kedua orang tua dapat terlahir di alam yang lebih baik. Saya juga berharap semua makhluk dapat hidup berbahagia dan dunia terbebas dari bencana,” ungkapnya.
Adi, relawan Komite, berbagi pengalaman setelah mengikuti Kelas Menyalin Sutra. Sesi sharing menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan kesan dan kesadaran yang diperoleh, sekaligus menguatkan tekad untuk menerapkan nilai bakti dalam kehidupan sehari-hari.
Pada sesi kedua, Minggu, 23 Agustus 2026, peserta melanjutkan perjalanan perenungan melalui Bab 8 – bao en (Membalas Budi Orang Tua). Lagu Qin Qing, Zi Guo, dan Bao En kembali dinyanyikan sebelum peserta menyalin Sutra dan berbagi pengalaman.
Dua sesi ini menjadi perjalanan sederhana untuk kembali mengenali cinta kasih, menyadari kesalahan, dan memahami makna membalas budi. Melalui setiap goresan aksara, peserta diingatkan bahwa bakti tidak harus menunggu kesempatan besar. Selagi orang tua masih ada, perhatian kecil, tutur kata yang lembut, dan kesediaan memahami mereka dapat menjadi wujud kasih yang paling bermakna. Sebab, nilai yang dituliskan di atas kertas akan menjadi lebih berarti ketika mampu tumbuh menjadi kebajikan yang hidup di dalam hati dan diwujudkan melalui tindakan nyata.
Editor: Metta Wulandari