Dari Hampir Menyerah, Bayu Kembali Bangkit untuk Membahagiakan Mama

Jurnalis : Anand Yahya, Fotografer : Anand Yahya

Andre Tanvis, Ai Fen Shi Jie, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Tangerang, datang mengunjungi Bayu Aldrian, seorang penyintas tumor nasofaring, yang proses pengobatannya sejak tahun 2023 dibantu oleh Yayasan Buddha Tzu Chi.

Pukul 05.30 pagi, ketika sebagian orang masih menikmati sisa dinginnya malam, Bayu Aldrian (28) sudah menyalakan sepeda motornya. Ia mulai menyusuri jalanan Jakarta, mencari penumpang, mengantar makanan, atau membawa barang sebagai pengemudi ojek daring.

Sekitar pukul 08.00 atau 09.00, Bayu biasanya pulang sebentar untuk mengambil makanan yang telah disiapkan ibunya. Setelah itu, ia kembali bekerja.

Rutinitas sederhana tersebut memiliki arti yang sangat besar bagi Bayu. Sebab, beberapa tahun lalu, ia bahkan tidak yakin mampu kembali menjalani kehidupan seperti sekarang.

Bayu pernah didiagnosis mengidap tumor nasofaring. Sejak 2023 hingga 2024, hari-harinya dipenuhi perjalanan ke rumah sakit, kemoterapi, penyinaran, pemeriksaan, serta masa pemulihan yang tidak mudah.

Di tengah perjuangan tersebut, ada satu sosok yang tidak pernah meninggalkannya, yaitu sang ibu, Helma Mardiana (56).

“Bayu pengen nyenengin Mama. Waktu Bayu sakit, Mama terus mendampingi Bayu. Di rumah sakit, Bayu drop; Mama yang selalu menemani dan merawat. Bayu ingin membalas kebaikan Mama, ingin membuat Mama bahagia,” tutur Bayu.

Ketika Sakit Mengubah Kehidupan
Perjalanan sakit Bayu bermula pada 2018. Saat bekerja di tempat pencucian kendaraan bermotor, ia mulai merasakan benjolan di leher, disertai demam dan sakit kepala. Awalnya Bayu mengira sakit tersebut hanya demam biasa dan mengonsumsi obat yang dibeli di warung.

Namun, kondisinya semakin memburuk. Ia mulai sering tidak masuk kerja hingga akhirnya tidak lagi bekerja. Kehidupan pribadinya pun ikut berubah. Istri dan anak perempuannya meninggalkan Bayu.

“Bayu sangat terpukul saat ditinggal  istri dan anaknya. Sakitnya semakin parah. Bayu sering ingin bertemu dengan anaknya. Demamnya makin sering,” tutur Helma.

Setelah menjalani pemeriksaan di RS Aminah, Bayu kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Kanker Dharmais. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tumor. Dokter kemudian merencanakan enam kali kemoterapi dan 35 kali penyinaran.

Andre Tanvis, Ai Fen Shi Jie, datang berkunjung membawa paket sembako untuk keluarga Helma Mardiana dan Bayu di Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Jalan panjang menuju kesembuhan pun dimulai.
Namun, pengobatan tersebut tidak mudah. Tubuh Bayu melemah. Ketika memasuki kemoterapi keempat, masalah lain muncul. Jaminan kesehatan Bayu mengalami tunggakan selama dua bulan. Kondisi ekonomi keluarga semakin sulit, sementara motor yang sebelumnya digunakan untuk bekerja telah terjual.

Bayu akhirnya terpaksa menghentikan pengobatan.

Helma, yang tidak memiliki cukup biaya untuk melanjutkan pengobatan, kemudian mendapat saran dari tetangganya, Ibu Mar, untuk mengajukan bantuan kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Saran tersebut menjadi pintu harapan bagi Helma dan Bayu.

Setelah mengajukan bantuan, Tzu Chi membantu biaya hidup keluarga, transportasi untuk berobat, serta pembayaran tunggakan BPJS. Bayu pun kembali memiliki kesempatan untuk melanjutkan pengobatan.

“Saya sangat bersyukur sekali kepada Allah. Masih ada yang sangat peduli sama Bayu dan saya. Terima kasih kepada Yayasan Tzu Chi yang sudah membantu. Biar anak saya sehat lagi,” ungkap Helma.

Saat Bayu Hampir Menyerah
Selain bantuan, kehadiran relawan menjadi bagian penting dalam perjalanan Bayu.

Andre Tanvis, Ronald August, Ai Fen, Vivi, Anisa, dan relawan dari He Qi Tangerang lainnya mendampingi Bayu dan Helma selama menjalani pengobatan di rumah sakit dan di Rusun Cinta Kasih Cengkareng.

Bayu Aldrian, menceritakan kondisinya yang sudah sehat kepada relawan pendamping Andre Tanvis, Ai Fen Shi Jie. Saat ini sudah bekerja lagi sebagai pengemudi ojek daring.

Pada awal pendampingan, Bayu masih sangat lemah dan lebih banyak berbaring. Relawan tidak hanya hadir untuk membantu kebutuhan pengobatan, tetapi juga memberikan semangat.

Namun, perjalanan Bayu tetap penuh tantangan. Saat memasuki kemoterapi ketiga, ia sempat merasa tidak sanggup lagi. “Sempat mau menyerah, tidak mau kemo lagi. Waktu masuk kemo ketiga itu, sempat putus asa. Rasanya berat sekali. Saya berpikir, kok begini banget pengobatannya?” kenang Bayu.

Di saat itulah dukungan relawan kembali menjadi kekuatan. Andre dan Pak Suhada mengingatkan Bayu bahwa perjuangannya sudah berada di tengah jalan.

“Om Andre bilang, ‘Ini sudah setengah jalan pengobatan kemoterapinya. Sedikit lagi, Bayu sudah mau mencapai goal (selesai kemoterapi) . Tanggung perjuangan Bayu.’ Mereka juga mengingatkan bahwa Mama masih membutuhkan Bayu dan ada anak perempuan Bayu yang harus didampingi,” cerita Bayu.

Kata-kata tersebut membuat Bayu kembali menguatkan diri.

Seperti Dipeluk Banyak Orang
Bagi Bayu, pendampingan Tzu Chi bukan hanya tentang bantuan biaya. Perhatian kecil dari para relawan justru menjadi kenangan yang paling membekas.

Ketika Bayu tidak mampu makan, Andre pernah datang ke rumah sakit dan menyuapinya. Ibu Rita membantu Helma mengurus BPJS dan administrasi rumah sakit ketika mengalami kendala. Ada pula relawan yang mendampingi Bayu selama menjalani penyinaran.

Bayu setiap pagi mohon doa kepada ibunya saat berangkat mencari penumpang, mengantar makanan, atau membawa barang.

Selama pengobatan, Bayu sempat tinggal di Rusun Cengkareng. Di sana, relawan terus memberikan perhatian dan semangat.

Bahkan saat ulang tahunnya yang ke-27, para relawan membuat kejutan berupa video khusus untuknya.

“Waktu Bayu ulang tahun ke-27, dirayakan sama relawan-relawan. Ada Om Andre. Dibikinin video. Rasanya seperti dipeluk banget oleh semua relawan Tzu Chi. Bahagia sekali. Lagi sakit-sakitnya, tapi mendapat dukungan seperti itu,” ujar Bayu.

Ia menggambarkan pendampingan tersebut sebagai pelukan yang membuatnya mampu bangkit. “Semua relawan Tzu Chi yang membantu Bayu seperti memeluk Bayu. Benar-benar Bayu merasa dipeluk dan didukung sampai akhirnya bisa bangkit,” katanya bersemangat.

Kembali Menata Kehidupan
Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan kabar baik. Bayu menyelesaikan kemoterapi pada 2 Februari 2024, kemudian menjalani terapi penyinaran. Hasil pemeriksaan MRI terakhir menunjukkan kondisi yang baik dan dokter menyampaikan bahwa bagian nasofaringnya sudah bersih.

Kondisi Bayu pada 2023 saat menjalani kemoterapi. Kondisi leher Bayu masih besar dan kondisi fisiknya masih sangat lemah. Andre Tanvis dan relawan He Qi Tangerang lainnya datang memberi semangat kepada Bayu.

Kini pengobatan aktif telah selesai. Bayu hanya perlu menjalani kontrol secara berkala.

Meski demikian, tubuhnya masih membutuhkan waktu untuk pulih. Dokter mengingatkan Bayu agar tidak terlalu lelah, menjaga pola makan, banyak minum air putih, serta menjaga kebersihan hidung. Efek penyinaran juga masih dirasakan, salah satunya adalah mulut yang cenderung kering sehingga ia harus banyak minum ketika makan.

Karena itu, meski sudah kembali bekerja sebagai pengemudi ojek daring, Bayu tetap berusaha menjaga kondisi tubuhnya.

Bagi relawan yang mengikuti perjalanan Bayu sejak awal, perubahan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri.

“Sekarang sudah luar biasa kondisi Bayu. Sudah bisa mandiri dan punya keinginan untuk membahagiakan ibunya. Kalau dulu jauh berbeda sekali. Sekarang dia sudah bisa ngojek,” ujar Ai Fen.

Bayu juga masih berkomunikasi dengan relawan Tzu Chi, terutama dengan Andre Tanvis dan Ai Fen Shi Jie. Ketika order sedang ramai, ia bercerita. Saat sepi penumpang, ia pun menjadikan relawan sebagai tempat berbagi cerita.

Pendampingan itu masih terus berlangsung hingga kini.

Satu Impian untuk Mama
Hari ini, Bayu kembali memiliki kesempatan untuk bekerja, menemani ibunya, dan menata masa depan.

Namun, ada satu impian yang ingin diwujudkannya: membelikan rumah untuk sang Mama.

“Semoga Bayu bisa sehat terus, lancar, dan bisa membuat Mama bahagia. Bayu ingin sekali bisa membelikan rumah untuk Mama. Sekarang masih kontrak, capek pindah-pindah. Bayu ingin punya rumah sendiri untuk Mama,” ucapnya.

Impian itu mungkin belum terwujud sekarang. Tetapi Bayu sudah kembali melangkah untuk mengejarnya.

Andre Tanvis, Ai Fen Shi Jie datang kembali berkunjung ke rumah kontrakan Helma dan Bayu yang baru di wilayah Pondok Karya, Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Dulu ia pernah terbaring lemah, tidak mampu makan, tidak bisa bekerja, bahkan hampir menyerah menjalani pengobatan. Kini ia kembali mengendarai sepeda motor setiap pagi untuk mencari nafkah.

Di sepanjang perjalanan itu, ada seorang ibu yang tidak pernah meninggalkannya dan ada para relawan Tzu Chi yang terus hadir ketika Bayu membutuhkan kekuatan.

Bagi Bayu, kesembuhan bukan sekadar terbebas dari penyakit. Kesembuhan berarti mendapatkan kembali kesempatan untuk hidup, bekerja, dan membahagiakan orang yang paling berjasa dalam hidupnya.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Depok: Menghidupkan Kembali Harapan Keluarga Hariyanto

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Depok: Menghidupkan Kembali Harapan Keluarga Hariyanto

04 Juni 2026
Jauh dari kata layak, rumah Nursanah dulu sering bocor dan sebagian dindingnya ditutupi potongan bambu. Secercah harapan hadir berkat bantuan renovasi rumah dari Tzu Chi Indonesia. 
Dari Cemas Menjadi Syukur, Perjalanan Slamet Pulih dari Katarak

Dari Cemas Menjadi Syukur, Perjalanan Slamet Pulih dari Katarak

20 Agustus 2025

Relawan Tzu Chi Surabaya melakukan kunjungan kasih ke rumah Slamet Budiono, salah satu pasien operasi katarak pada Baksos Kesehatan Tzu Chi Ke-149 Juli lalu. Kunjungan ini sebagai bentuk pendampingan kepada pasien pascaoperasi.

Kesembuhan Abidzar Menjadi Semangat Ibu dan Ayah

Kesembuhan Abidzar Menjadi Semangat Ibu dan Ayah

15 Agustus 2024

Pendampingan terus dilakukan relawan Tzu Chi Medan untuk keluarga Abidzar, seorang anak penderita kelainan genetik yang menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang dan struktur wajah.

Mendedikasikan jiwa, waktu, tenaga, dan kebijaksanaan semuanya disebut berdana.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -