Dari Mata Turun ke Hati, Melihat Kembali dengan Cinta Kasih

Jurnalis : Noni Syahdini (Tzu Chi Sinar Mas), Fotografer : Noni Syahdini (Tzu Chi Sinar Mas)

Salah satu relawan Tzu Chi, Mohammad Arfan mengantarkan pasien kembali ke penginapan setelah menjalani operasi.


Alhamdulillah, tadi baca Bismillah sampai 3 kali. Nenek jadi enjoy aja selama operasi, sekarang udah bisa lihat lebih terang lagi,” ucap Sumiati dengan perasaan bahagia pasca operasi.

 
Itulah kegembiraan yang disampaikan Sumiati (58). Ia menjadi bagian dari 13 orang pasien yang dibantu operasi katarak pada 6-9 April 2026 di Rumah Sakit Meloy, Sangatta, Kalimantan Timur. Kegiatan ini merupakan kolaborasi relawan dari Tzu Chi Tzu Chi Sinar Mas komunitas Xie Li Kalimantan Timur 1, Kalimantan Timur 2 Rantau Panjang, dan Kalimantan Timur 2 Jak Luay.
 
Pada, Senin 6 Maret 2026, relawan memberangkatkan 13 orang pasien secara bersamaan. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 5 jam, tidak menyurutkan semangat pasien untuk tetap memantapkan niat mereka untuk bisa melihat dengan terang kembali.
 
“Pasien kita kali ini berasal dari 9 desa berbeda. Ini merupakan hasil screening yang kami dapatkan saat melakukan baksos kesehatan umum pada Oktober 2025 lalu. Kami berharap melalui bantuan ini, masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis dan memadai untuk penglihatan yang lebih baik,” ungkap Mohammad Arfan, salah satu relawan yang mendampingi.
 
Salah satu relawan Tzu Chi, Mohammad Arfan berinteraksi dengan calon pasien selama menunggu proses screening awal.

Enam orang relawan, dua orang dokter kebun, dua orang tenaga medis, serta para pasien berangkat dari sekitar pukul 9 pagi dan tiba di rumah sakit di jam 1 siang. Setibanya di rumah sakit, pasien dibantu relawan melakukan pendaftaran sebelum melakukan screening awal. Dari proses screening didapatkan hasil sembilan orang tindak lanjut operasi, tiga orang direkomendasikan kacamata, dan satu orang mengalami kelainan genetik (Retinitis pigmentosa (RP).
 
Retinitis pigmentosa (RP) adalah kelompok penyakit genetik langka yang menyebabkan kerusakan retina secara progresif, ditandai dengan penurunan kemampuan sel fotoreseptor (batang dan kerucut). Gejala utamanya meliputi rabun senja dan penyempitan lapang pandang (tunnel vision). Penyakit ini seringkali diturunkan dan dapat menyebabkan kebutaan permanen. Diketahui penyakit ini belum ditemukan obat yang mampu menyembuhkan RP sepenuhnya.
 
“Saya mau ikut yasinan atau baca Al-Quran itu susah, gak keliatan tulisannya,” ujar Ariono (46), peserta screnning yang tinggal Desa Long Buluh, Kutai Timur.
 
Dokter Monalisa Silaen dan Dokter Alboin Carlo Senduk mendampingi proses screening salah satu calon pasien, Ariono.

Dokter Alboin Carlo Senduk yang mendampingi pasien memaparkan dugaan awalnya adalah katarak, namun setelah screening ternyata pasien mengalami kelainan genetik langka.
 
“Untuk saat ini belum ada penanganan yang bisa dilakukan untuk mengatasi RP ini, terutama di Kalimantan Timur0. Bisa dilakukan terapi gen dan pemberian obat untuk memperlambat kerusakan retina, tapi itu juga di Jakarta,” ungkap dr. Siti Chadijah., Sp.M, dokter dari RS Meloy Sangatta yang menangani operasi katarak kali ini.
 
Di sisi lain, dr. Monalisa (dokter kebun Region Kalimantan Timur 1) menyampaikan seharusnya ada 2 pasien lain yang ikut dalam baksos kali ini. Namun, pada saat hari penjemputan, pasien dan keluarga mengaku takut untuk operasi.
 
“Sudah kami bujuk untuk tetap ikut, karena memang kataraknya sudah cukup parah, namun saat mobil penjemputan sudah datang, tiba-tiba berubah pikiran, dan membatalkannya karena takut. Sedih juga karena sudah kami upayakan maksimal untuk bisa operasi,” tambahnya.
 
Nenek Sumiati, salah satu pasien yang ikut baksos kali ini mengungkapkan dirinya sangat senang bisa mendapatkan operasi gratis. “Mata saya ini sering kena percikan minyak panas, karena saya berjualan. Sudah cukup lama saya tahan sakitnya. Alhamdulillah berkat bantuan bapak ibu semuanya, saya bisa ikut operasi gratis,” ujarnya.
 
Setelah menjalani operasi, salah satu relawan Tzu Chi, Muhammad Ridlo mendampingi pasien melakukan kontrol dan pemeriksaan selanjutnya.

Dokter Siti Chadijah., Sp.M mengungkapkan harapannya agar masyarakat sekitar bisa lebih peka dan sadar lebih awal dengan kesehatan mata. Ia juga sangat mengapresiasi upaya relawan membawa pasien hingga Sangatta, terlebih memerlukan perjalanan yang cukup lama.
 
“Terima kasih saya ucapkan kepada Tzu Chi Sinar Mas. Ini adalah suatu program yang sangat baik, karena biasanya pasien itu kesulitan mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai kerena jauh dari tempat tinggal. Semoga dengan adanya program kerjasama ini semakin banyak lagi pasien yang bisa kita bantu agar mendapatkan penglihatan yang lebih baik lagi,” pungkasnya.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Semangat Kepedulian Menjalankan Hidup Sehat di Usia Senja

Semangat Kepedulian Menjalankan Hidup Sehat di Usia Senja

22 Oktober 2024

Relawan Tzu Chi Indonesia dari komunitas He Qi Pusat mengadakan baksos kesehatan untuk warga berusia lanjut di Menteng Atas, Jakarta Selatan. Baksos dilaksanakan di SMAN 43 Jakarta dan diikuti 100 orang warga berusia lanjut.

 Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi Ke-136: Membuka Jalan untuk Mengubah Masa Depan

Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi Ke-136: Membuka Jalan untuk Mengubah Masa Depan

14 Februari 2023
Yayasan Tzu Chi mengadakan Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-136 yang di digelar pada 10 – 12 Ferbruari 2023 di RS. Metro Hospitals M. Toha Tangerang.
Antusias Menyukseskan Bakti Sosial Pengobatan Katarak

Antusias Menyukseskan Bakti Sosial Pengobatan Katarak

11 Januari 2018
Tzu Chi Lampung menggelar Bakti Sosial Pengobatan Katarak, di RSUD Abdul Moeloek, Jumat, 24 November 2017. Ada 228 pasien yang mengikuti operasi.
The beauty of humanity lies in honesty. The value of humanity lies in faith.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -