Dari Perjuangan untuk Sembuh, Tumbuh Tekad Rival untuk Menebar Kebaikan

Jurnalis : Clarissa Ruth, Fotografer : Clarissa Ruth, Dok. Pribadi

Rival saat masih berjuang untuk kesembuhannya. Tubuhnya kaku dan sulit bergerak. Beruntung tante, keluarga dan relawan Tzu Chi selalu mendampinginya.

Sempat dijuluki “manusia kayu” karena penyakit autoimun yang dideritanya, Rival Tanuwijaya (35) pernah berada dalam kondisi ketika bangkit dari tempat tidur dan berjalan saja terasa begitu menyakitkan. Terasa menyiksa. Namun, di balik keterbatasan fisiknya, tersimpan keinginan kuat untuk sembuh dan kembali menjalani kehidupan seperti dahulu.

Perjuangan itu bermula pada 2017, ketika Rival masih aktif bekerja dan mulai merasakan sakit pada tubuhnya. Saat itu, rasa sakitnya belum terlalu parah sehingga ia memilih untuk mengabaikannya dan tetap beraktivitas seperti biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisinya semakin memburuk. Penyakit autoimun ankylosing spondylitis (penyakit radang kronis dan kondisi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan sehat pada persendian, terutama di area tulang belakang dan panggul -red) yang dideritanya membuat tubuhnya semakin kaku dan sulit digerakkan.

Rival telah berusaha menjalani pengobatan, tetapi kondisinya tak kunjung membaik. Pada tahun 2020, ia dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Ketika kondisinya semakin memburuk pada 2023 hingga 2024, dokter menyarankan pengobatan melalui suntikan biologis yang biayanya tidak ditanggung BPJS. Biayanya mencapai sekitar enam juta rupiah untuk satu kali suntikan. Jumlah yang sulit dijangkau oleh Rival sebagai pekerja biasa.

“Saya sudah berobat, tapi bukannya semakin membaik malah semakin memburuk. Sampai akhirnya saya merasa putus asa. Saya bingung harus bagaimana, karena suntikan yang disarankan dokter tidak ditanggung BPJS, sementara saya tidak punya biaya,” kenang Rival.

Di tengah keterbatasan itu, Rival tetap memiliki keinginan kuat untuk sembuh. Ia juga tidak ingin terus merepotkan tantenya yang selama ini merawatnya. Sebelumnya, ia bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Karena itu, ia berharap bisa kembali sehat, bekerja, dan menjalani hidup dengan lebih mandiri.

Relawan mengunjungi kembali Rival dan memberinya motivasi untuk selalu semangat menjalani pengobatan dan menjalani hidupnya dengan tegar juga kuat.

Rival menceritakan pada relawan kondisi tanganya yang masih belum pulih seutuhnya. Meski begitu, ia bersyukur karena tangannya sudah tidak kaku lagi dan bisa digunakan untuk beraktivitas sehari-hari.

Perjuangan Relawan Membuka Harapan
Di tengah kebuntuan harapan, pada tahun 2024, Rival dipertemukan dengan relawan Tzu Chi. Kasusnya ditangani oleh relawan Linda Setyadmadja, yang berusaha memperjuangkan agar Rival bisa memperoleh pengobatan yang dibutuhkan.

Linda melihat bahwa di balik kondisi fisiknya yang terbatas, Rival memiliki semangat besar untuk sembuh dan kembali mandiri. Karena itu, ia berusaha mencari informasi mengenai pengobatan yang disarankan dokter, mempelajari efeknya, berkonsultasi dengan relawan medis, serta mengumpulkan data dan dokumentasi untuk menjelaskan kondisi Rival dengan lebih lengkap.

“Dia punya semangat yang tinggi. Dia ingin sekali sembuh, dan dia juga tidak mau terus merepotkan tantenya. Sebelumnya dia bisa bekerja, jadi dia ingin kembali mandiri dan menghasilkan uang untuk kebutuhan hidupnya,” tutur Linda.

Meski pengajuan bantuan ke Tzu Chi pada awalnya belum membuahkan hasil, Linda tidak menyerah. Ia kembali memperjuangkan kebutuhan Rival dengan membawa informasi dan data yang lebih lengkap agar kondisinya dapat dipertimbangkan dengan lebih jelas.

“Saya tetap ingin memperjuangkan karena saya tahu kondisinya memang perlu dibantu. Saya mencari informasi lebih lanjut dan menyiapkan data-datanya supaya saat dibahas, saya bisa menjelaskan kondisinya secara lengkap dan lebih detail,” ungkap Linda.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tzu Chi Indonesia kemudian menyetujui bantuan untuk 12 kali suntikan. Meski perjalanan pengobatan tidak selalu mudah dan kondisi Rival mengalami pasang surut, bantuan tersebut menjadi bagian penting dalam perjuangannya untuk kembali bergerak.

Ketika pengobatan dinilai belum menunjukkan hasil yang konsisten dalam jangka panjang, bantuan pengobatan untuk sementara tidak dilanjutkan. Namun, dukungan tidak berhenti begitu saja. Rival tetap mendapatkan bantuan biaya hidup dan melanjutkan pemeriksaan serta pengobatan di RSCM Jakarta. Dalam perjalanan berikutnya, ia kemudian juga memperoleh bantuan suntikan dari rumah sakit tersebut.

Linda Setyadmadja (kiri) sangat bahagia melihat kondisi Rival sekarang. Linda berharap kondisi Rival bisa terus membaik dan bisa bekerja kembali, serta bisa lebih aktif di kegiatan Tzu Chi.

Rival kini mengisi aktivitasnya dengan berdagang kecil-kecilan di depan bengkel motor milik adiknya. Walaupun dengan gerak yang terbatas tapi Rival tetap mau berusaha mencari nafkah.

Kini, meski masih merasakan nyeri dan belum bisa melakukan semua aktivitas seperti dahulu, kondisi Rival jauh lebih baik. Ia sudah bisa berjalan dan melakukan kegiatan dan aktivitas ringan. Bagi Linda, perubahan itu menjadi kebahagiaan tersendiri.

“Dulu dia mau bergerak saja susah. Sekarang dia sudah bisa beraktivitas dan ikut kegiatan Tzu Chi. Yang membuat saya senang bukan hanya kondisi fisiknya yang lebih baik, tetapi dia juga sudah lebih percaya diri dan punya banyak teman,” ungkap Linda haru.

Bagi Linda, melihat kondisi Rival yang perlahan membaik menjadi kebahagiaan tersendiri. Ia berharap Rival dapat terus menjaga semangatnya, menjalani kehidupan dengan lebih mandiri, dan tetap memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang berarti bagi dirinya maupun orang lain.

Dulu Dibantu, Kini Ikut Membantu
Bantuan yang diterima Rival bukan hanya memberinya kesempatan untuk menjalani pengobatan, tetapi juga membuatnya merasa tidak menghadapi perjuangan seorang diri. Di tengah masa sulit yang dilaluinya, ia merasa dirangkul seperti keluarga. Perhatian dan kepedulian yang diterimanya begitu membekas hingga menumbuhkan keinginan dalam dirinya untuk melakukan hal serupa bagi orang lain.

Saat kondisinya mulai membaik, Rival teringat akan tekad yang pernah ia tanamkan dalam hati ketika berada di titik terendah hidupnya. Jika suatu hari nanti ia bisa kembali bergerak dan menjalani aktivitas dengan lebih baik, ia ingin menjadi relawan dan membantu orang lain yang membutuhkan.

Keinginan itu pun ia wujudkan pada tahun 2025 dengan menghubungi relawan yang selama ini mendampinginya. Saat mulai mengikuti kegiatan Tzu Chi, Rival merasakan sambutan hangat dari para relawan Tzu Chi di komunitas He Qi Cikarang. Ia merasa diterima, didukung, dan dirangkul seperti keluarga.

Ada satu hal lain yang semakin menyentuh hatinya, yaitu lagu Satu Keluarga yang dikenalnya di Tzu Chi. Makna lagu tersebut membuatnya semakin merasakan bahwa kepedulian tidak dibatasi oleh latar belakang seseorang. Baginya, Tzu Chi mengajarkan nilai kemanusiaan yang universal, ketika setiap orang dapat saling memperhatikan dan membantu dengan tulus.

“Waktu saya masuk Tzu Chi, saya mengenal lagu Satu Keluarga. Hati saya semakin terketuk. Saya merasa Tzu Chi benar-benar yayasan sosial yang memanusiakan manusia,” ungkap Rival.

Kini, seiring kondisi tubuhnya yang mulai membaik, Rival perlahan kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Ia mulai berjualan kopi dan aneka minuman di depan bengkel motor milik adiknya sebagai upaya untuk kembali mandiri. Ia juga ikut membantu dalam kegiatan donor darah dan kegiatan bantuan bagi penerima bantuan, menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kesehatannya.

Semua berkas dan dokumen saat masa pengobatan masih disimpan rapi oleh Rival.  Ia bahkan masih menyimpan beberapa suntikan yang dulu pernah ia pakai dalam pengobatannya.

Sekarang Rival sudah bergabung menjadi relawan dan mulai aktif dengan kegiatan Tzu Chi. Rival juga selalu menyisihkan sed8ikit penghasilannya untuk ditaruh ke celangan bambu.

Bagi Linda, melihat perubahan Rival menjadi kebahagiaan tersendiri. Rival yang dahulu kesulitan bergerak dan membutuhkan bantuan, kini mulai kembali menjalani aktivitas serta mengambil bagian dalam membantu sesama. Perubahan itu bukan hanya tentang kondisi fisiknya yang membaik, tetapi juga tentang tumbuhnya kepercayaan diri dan keinginan untuk meneruskan cinta kasih yang pernah ia terima.

Rival sendiri tidak menyangka bahwa bantuan yang diterimanya akan membawa perubahan sebesar ini dalam hidupnya. Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa kebaikan yang diterima bukanlah sesuatu yang harus berhenti pada dirinya sendiri.

“Kita tuh jangan selamanya tangan kita di bawah. Kita selalu harus balik, tangan kita yang bisa memberi,” tegas Rival.

Bagi Rival, kalimat itu bukan sekadar ungkapan, melainkan tekad untuk menjalani hidupnya ke depan. Selama masih memiliki kesempatan dan kemampuan, ia ingin terus melangkah, berbagi, dan meneruskan cinta kasih kepada orang lain.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Dari Air Mata Maria, Tumbuh Cahaya untuk Masa Depan

Dari Air Mata Maria, Tumbuh Cahaya untuk Masa Depan

11 Agustus 2026

Perjuangan Maria untuk membesarkan Cahaya di tengah keterbatasan ekonomi mengantarkan sang anak meraih cita-cita menjadi sarjana. Dukungan Tzu Chi dan pendampingan relawan menguatkan langkah mereka menuju masa depan.

Tangan-Tangan Penuh Cinta yang Memulihkan Keiko

Tangan-Tangan Penuh Cinta yang Memulihkan Keiko

01 September 2026

Pascakecelakaan motor yang membuat wajahnya terluka parah, kini Keiko dapat tersenyum bahagia setelah mendapatkan penanganan medis di Tzu Chi Hospital dan perhatian dari relawan Tzu Chi di masa pemulihan.

Dulu Penerima Bantuan, Kini Menjadi Relawan

Dulu Penerima Bantuan, Kini Menjadi Relawan

24 Februari 2020

Raut wajah Kim Fui (52) terlihat sumringah selama training Relawan Abu Putih He Qi Barat 1 berlangsung, Minggu 23 Februari 2020 di Ruang Xi She Ting, Aula Jing Si Jakarta. Bersama 103 peserta training lainnya, Kim Fui mengikuti rangkaian materi yang intinya adalah mengenal Tzu Chi lebih dalam, tentang tata krama, dan tentang Misi Amal Tzu Chi.

Setiap manusia pada dasarnya berhati Bodhisatwa, juga memiliki semangat dan kekuatan yang sama dengan Bodhisatwa.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -