Hema menyampaikan materi dalam kegiatan Sosialisasi Relawan Tzu Chi yang berlangsung pada Minggu, 11 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 16 peserta, di mana hujan deras tidak menyurutkan peserta untuk datang dengan semangat kebajikan.
Hujan deras turun tanpa henti sejak pagi. Langit mendung menaungi kawasan Cengkareng, seolah menguji setiap niat baik yang telah tertanam. Namun pada Minggu, 11 Januari 2026, hujan bukanlah penghalang bagi hati-hati yang ingin belajar mencintai sesama.
Bertempat di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Gedung B – Ruang Budaya Humanis, relawan dari komunitas He Qi Jakarta Barat 1 mengadakan kegiatan sosialisasi relawan Tzu Chi. Suasana yang tercipta terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Dari 24 orang yang mendaftar, 16 peserta hadir. Jumlahnya mungkin tak lengkap, tetapi ketulusan yang datang justru terasa semakin utuh.
Mereka hadir dengan beragam latar belakang, menembus hujan, kemacetan, dan keterbatasan. Salah satunya adalah Eka Susanti, seorang kasir di kawasan Baywalk yang tinggal di Kapuk. Berbalut jas hujan plastik dan menumpang transportasi daring, Eka tetap melangkahkan kaki.
“Saya berharap bisa menjadi manusia yang bermanfaat, memiliki kedamaian dan ketenangan hati. Saya ingin membantu sesama. Saya sering melihat hal-hal yang menyentuh hati dari Instagram Tzu Chi, juga dari apa yang terjadi di jalan dan lingkungan sekitar. Walaupun mungkin hanya bisa membantu dengan tenaga, saya sangat ingin. Semoga dengan bergabung di Tzu Chi, niat ini bisa terwujud,” tutur Eka dengan mata berkaca-kaca.
Eka Susanti menyampaikan harapannya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat serta dapat membantu sesama. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan keinginannya untuk menemukan kedamaian dan ketenangan batin melalui jalan kebajikan.
Peserta lainnya, Venny, datang membawa kenangan lama. Saat masih duduk di bangku SMA pada tahun 2015, ia pernah mengikuti bakti sosial kesehatan bersama Tzu Chi di Pesantren Nurul Iman, Parung, Bogor.
“Saya menyukai misi pendidikan Tzu Chi dan budaya humanisnya, terutama bahasa isyarat tangan. Hal ini menambah nilai kehidupan karena kita bisa berkomunikasi dan memahami orang lain melalui gerakan tangan,” ujar Venny, lulusan IBI Kesatuan Bogor, dengan penuh keyakinan.
Kekaguman terhadap Tzu Chi juga dirasakan Mahanani, yang akrab disapa Gween. Lulusan hubungan internasional ini kini merupakan mahasiswa penerima beasiswa S2 di Jing Si Bodhi College.
“Dalam banyak konflik dan bencana, tidak semua negara bisa menerima bantuan internasional. Namun Tzu Chi sering dipercaya dan dapat masuk ke mana pun karena misi kemanusiaannya,” jelas Mahanani. Baginya, mengenal Tzu Chi adalah sebuah keberuntungan besar. “Usia manusia ada batasnya, dan terlahir sebagai manusia bukanlah hal yang mudah. Saya ingin memaksimalkan potensi diri untuk melakukan kebajikan,” sambungnya.
Sementara itu, Cecilia atau Meiliana, yang telah terbiasa aktif dalam organisasi, merasakan panggilan yang lebih dalam. “Saya ingin bersumbangsih pada sesuatu yang lebih besar dan belajar langsung dari sumbernya. Relawan Tzu Chi memiliki cara berpikir dan sikap yang berkelas. Hidup hanya dengan uang tidaklah cukup. Saya ingin membawa satu Dharma agar bisa memberi dampak,” ungkap Cecilia dengan mantap.
Venny, Cecilia, dan Gween (dari kiri ke kanan) berfoto bersama relawan Tzu Chi. Semangat kebajikan tetap terpancar meskipun usianya relawan telah lanjut, mencerminkan ketulusan dalam melayani sesama.
Di balik terselenggaranya kegiatan ini, ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Yennie, selaku koordinator acara, bersama 23 relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Jakarta Barat 1, mengungkapkan bahwa sosialisasi ini telah dipersiapkan sejak pertengahan Desember 2025.
“Ini pertama kalinya saya menjadi koordinator. Sejak pagi hujan deras, saya masih merasa tenang. Namun menjelang siang, satu per satu peserta mengonfirmasi terjebak macet, bahkan ada yang batal hadir,” ujar Yennie dengan jujur. Meski demikian, rasa syukur tetap menguatkan langkahnya.
“Terima kasih sepenuh hati kepada para Shi Xiong dan Shi Jie yang telah memberikan dukungan. Berkat kerja sama dan pendampingan, acara ini dapat berjalan dengan lancar. Semoga 16 relawan baru hari ini menjadi awal jodoh kebajikan dan semakin menguatkan tekad untuk berjalan bersama Tzu Chi dan Master Cheng Yen. Dunia yang penuh musibah ini sangat membutuhkan lebih banyak relawan,” tuturnya.
Hujan hari itu memang membatasi jumlah kehadiran, tetapi tidak mampu membasahi semangat. Di ruangan sederhana tersebut, benih-benih kebajikan ditanam oleh mereka yang percaya bahwa cinta kasih, ketika dijalani bersama, akan selalu menemukan jalannya.
Editor: Anand Yahya