Melalui dialog yang hangat dan penuh makna, para narasumber yaitu Dr. A. Ginanjar Sya'ban (kedua dari kiri), Bhikkhu Dhammasubho Mahathera (tengah), Azmi Abubakar (kedua dr kanan), dan Andre Zulman (kanan) berbagi pandangan mengenai nilai-nilai kebersamaan dan toleransi.
Dalam suasana Ramadan sekaligus menyambut Hari Raya Idul Fitri 2026, DAAI TV Indonesia menggelar Dialog Lintas Iman bertajuk Islam dan Kebinekaan pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan ini berlangsung di International Hall lantai 3 Tzu Chi Center PIK, Jakarta Utara.
Selain menjadi ruang pertemuan lintas iman, acara ini juga menjadi momentum peluncuran sekaligus penayangan program Ramadan DAAI TV bertajuk Jejak Islam Nusantara, sebuah dokumenter yang mengangkat sejarah serta nilai-nilai Islam yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Dialog hangat ini menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, di antaranya Staf Khusus Kementerian Agama RI Farid F. Saenong, pakar manuskrip Islam Nusantara A. Ginanjar Sya'ban, pemuka agama Buddha Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa Azmi Abubakar, serta Kepala External Relation & Social Project Tzu Chi, Andre Zulman.
Suasana acara Dialog Lintas Iman: Islam dan Kebinekaan yang dihadiri oleh para narasumber, relawan Tzu Chi, siswa Ponpes Nurul Iman, dan masyarakat lainnya.
Staf Khusus Kemenag RI, Dr. Farid F. Saenong, MA, menyampaikan sambutan bahwa di Indonesia relatif sudah berada di level-level berikutnya ketika kita bicara tentang kehidupan keagamaan dan kemajemukan.
Dalam sambutannya, Farid F. Saenong menyampaikan bahwa kehidupan keberagaman di Indonesia telah berkembang menuju tahap yang lebih matang.
“Di Indonesia kita relatif sudah berada pada level yang baik ketika berbicara tentang kehidupan keagamaan dan kemajemukan. Saya sangat senang diskusi kali ini mengangkat tema Islam dan kebinekaan. Insyaallah kehidupan beragama di Indonesia akan terus berjalan dengan baik,” ujarnya.
CEO DAAI TV Indonesia, Elisa Tsai, memberikan sambutan hangat mengenai nilai-nilai dari semua ajaran agama yang mengajarkan hal yang sama tentang kebaikan, kepedulian, dan tentang kasih kepada sesama manusia.
Sambutan hangat juga disampaikan CEO DAAI TV Indonesia, Elisa Tsai. Ia menekankan bahwa Ramadan merupakan momentum refleksi diri sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
“Bulan Ramadan adalah waktu untuk menata hati, belajar menahan diri, serta menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Nilai-nilai ini bersifat universal. Semua agama mengajarkan kebaikan, kepedulian, dan kasih kepada sesama manusia. Karena itu dialog lintas iman seperti ini menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Menelusuri Jejak Islam Nusantara
Pada kesempatan tersebut, DAAI TV juga memperkenalkan program dokumenter Jejak Islam Nusantara. Melalui program ini, pemirsa diajak menelusuri perjalanan sejarah Islam di Indonesia yang berkembang dengan kekayaan budaya lokal yang beragam.
Produser Program Dokumenter Refleksi DAAI TV, Sapto Agus Irawan, menjelaskan Program Islam di DAAI TV Indonesia “Jejak Islam Nusantara” yang tayang pada bulan Ramadan.
Produser Program Dokumenter Refleksi DAAI TV, Sapto Agus Irawan, menjelaskan bahwa tim produksi melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia untuk merekam keberagaman wajah Islam Nusantara.
“Melalui seri Jejak Islam Nusantara, kami menyusuri beberapa wilayah di Indonesia untuk menghadirkan wajah Islam yang memiliki lokalitas berbeda-beda. Nilainya beragam karena Islam bersentuhan dengan budaya yang berbeda. Keunikan ini hampir tidak ditemukan di tempat lain selain di Nusantara,” jelas Sapto.
Acara semakin semarak dengan berbagai penampilan seni, mulai dari isyarat tangan relawan komite Tzu Chi, lantunan lagu dari Debora Patricia, tari kipas dan tari piring dari siswa Tzu Chi School, hingga penampilan isyarat tangan dari santri Nurul Iman.
Merajut Kebersamaan dalam Perbedaan
Dialog yang dimoderatori oleh Arto Biantoro berlangsung hangat dan penuh makna. Para narasumber berbagi pandangan mengenai pentingnya menjaga toleransi, merawat kebersamaan, serta memperkuat harmoni di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Dalam diskusi tersebut juga disinggung perjalanan sejarah masuknya berbagai agama ke Nusantara yang berlangsung secara damai. Islam diperkirakan masuk pada abad ke-13, sementara agama Buddha telah hadir sejak abad ke-5, Hindu pada abad ke-1 hingga ke-4, dan Kristen pada abad ke-16.
“Negeri Nusantara menjadi negeri yang diberkahi karena berbagai agama datang dengan semangat kasih sayang dan perdamaian. Ini penting menjadi warisan bagi generasi mendatang,” jelas Ginanjar Sya'ban.
Dalam dialog kebinekaan, Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, menjelaskan mengenai kata ‘Metta’ (bahasa pali), yang berarti konsep cinta kasih universal, niat baik, dan keramah-tamahan yang tulus tanpa pamrih kepada semua makhluk.
Dalam perspektif Buddhisme, Bhikkhu Dhammasubho Mahathera menjelaskan konsep Metta dalam bahasa Pali, yakni cinta kasih universal yang tulus kepada semua makhluk.
“Metta dapat dimaknai sebagai kebahagiaan tertinggi dan abadi. Manusia sering mengejar kebahagiaan yang mahal tetapi sifatnya sementara. Namun dari satu kata Metta ini kita dapat mencapai kebahagiaan yang sejati,” ujarnya.
Sementara itu, Andre Zulman menjelaskan bahwa dalam Islam dikenal konsep persaudaraan yang meliputi ukhuwah Islamiyah (sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia).
Ia menilai nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat kemanusiaan yang dijalankan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi.
“Yayasan Buddha Tzu Chi didirikan oleh Master Cheng Yen dengan landasan nilai welas asih. Master selalu mengajarkan bahwa penderitaan adalah tanggung jawab bersama. Karena itu kita tidak boleh lagi membatasi diri dengan sekat agama, suku, ataupun ras,” jelasnya.
Kepala External Relation & Social Project Tzu Chi, Andre Zulman dalam kesempatanya menyampaikan bahwa Yayasan Buddha Tzu Chi dalam setiap kegiatan sosial yang dilakukan tidak memandang agama, suku, maupun ras.
Melalui dialog lintas iman ini, para peserta diajak kembali menyadari bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk saling memahami dan bekerja sama dalam menebarkan kebaikan.
Di tengah suasana Ramadan yang penuh refleksi, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kemanusiaan bersifat universal dan melampaui batas agama. Dengan semangat kebersamaan dan cinta kasih, dialog seperti ini diharapkan terus menumbuhkan benih toleransi serta memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Editor: Anand Yahya