Dua Hari Perjalanan Religi, Menelusuri Warisan Dharma di Tiga Candi

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta Wulandari, Dok. Tzu Chi
Langit pagi bersemburat merah muda menjelang matahari terbit. Relawan Tzu Chi bersama para Shifu mulai menapaki Borobudur untuk bermeditasi, melantunkan sutra, dan melakukan pradaksina.

Di tengah pagi yang masih gelap dan langit yang sangat pekat, angin sejuk berembus pelan di Magelang. Beberapa buggy car bergerak melawan angin sepoi-sepoi itu, melewati kompleks Taman Borobudur, membawa rombongan relawan yang sejak pukul 3.00 WIB pagi sudah bangun dan bersiap. Sekitar pukul 04.50 WIB, kami tiba di area Taman Wisata Candi Borobudur.

Kedatangan kami disambut oleh suara jangkrik di tengah suasana fajar yang senyap. Di kanan-kiri jalan, pepohonan tumbuh rapat. Saya bahkan tidak tahu apa saja nama pohon-pohon itu karena cahaya masih minim dan mata belum sepenuhnya terbiasa dengan gelap.

Tidak sampai lima menit perjalanan, bahkan sebelum pukul 05.00, kaki kami sudah berpijak di Taman Kenari, di sisi barat candi. Di hadapan kami berdiri Borobudur. Dalam remang pagi itu, kemegahannya justru terasa semakin kuat, menunjukkan bahwa dialah monumen peninggalan Budhisme yang telah berdiri selama berabad-abad.

Pagi itu, sebanyak 41 relawan Tzu Chi, termasuk saya dan tim DAAI TV Indonesia, menjadi bagian dari rombongan yang datang untuk menjalani rangkaian kegiatan di Borobudur. Kami menapaki sekitar 300 anak tangga menuju puncak, lalu membacakan Sutra Makna Tanpa Batas dan Sutra Sifat Luhur, yang dilanjutkan dengan pradaksina.

Tidak banyak kata terucap. Hanya langkah yang perlahan menapaki satu per satu anak tangga, menata alas doa, lalu memulai meditasi dan melantunkan sutra. Suasana pagi itu begitu hening. Namun, di tengah keheningan tersebut, ada ketenangan yang perlahan tumbuh.

Dalam rangka memperingati ulang tahun Tzu Chi ke-60 serta ulang tahun Master Cheng Yen ke-90, Tzu Chi Indonesia secara khusus mempersiapkan replika Candi Borobudur sebagai persembahan kepada Master.

Sebenarnya, perjalanan relawan Tzu Chi ke Borobudur bukan tanpa sebab. Tahun 2026 ini menjadi tahun istimewa bagi Tzu Chi. Enam puluh tahun perjalanan Tzu Chi tersebut bertepatan dengan ulang tahun Master Cheng Yen yang ke-90. Untuk memperingati momen tersebut, Tzu Chi Indonesia secara khusus mempersiapkan replika Candi Borobudur sebagai persembahan ulang tahun bagi Master.

Liu Su Mei, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, menjelaskan bahwa pemilihan Borobudur tidak terlepas dari perhatian Master Cheng Yen terhadap sejarah perkembangan ajaran Buddha, termasuk di Indonesia. Beberapa tahun lalu, Master pernah mengingatkan bahwa insan Tzu Chi Indonesia telah banyak melakukan hal-hal yang berlandaskan semangat “demi semua makhluk”. Namun, ada satu hal yang juga perlu terus diingat, yaitu “demi ajaran Buddha”. Maka, Borobudur menjadi salah satu tempat yang tepat untuk kembali merenungkan pesan tersebut, di mana ajaran Buddha dapat terus dipahami, dijalankan, dan diwariskan melalui kehidupan sehari-hari.

Ketika menerima replika tersebut, Master Cheng Yen mengungkapkan rasa harunya. “Sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saya benar-benar terharu karena laporan kalian tadi kecepatannya tidak dapat saya kendalikan. Namun, saat ini saya sulit mengungkapkan rasa haru saya. Bodhisatwa sekalian, saya percaya insan Tzu Chi di seluruh dunia juga melihatnya. Cinta kasih ini, saya merasa tidak layak menerimanya. Namun, insan Tzu Chi di seluruh dunialah yang telah mewujudkan misi Tzu Chi di dunia ini. Saya percaya semua orang turut merasakan cinta kasih ini.”

Bagi Master, persembahan itu bukan hanya datang dari insan Tzu Chi Indonesia, tetapi juga menjadi wujud cinta kasih yang dirasakan oleh insan Tzu Chi di seluruh dunia.

Perjalanan menuju Candi Borobudur diawali dengan meditasi dan penenangan diri sebelum melanjutkan rangkaian kegiatan.

Master Cheng Yen kembali menuturkan, “Terima kasih kepada para Bodhisatwa dari Indonesia. Kalian telah memberi banyak kepada saya. Bagaimanapun, saya berikrar untuk mewariskan jiwa kebijaksanaan ini dari generasi ke generasi dan hingga ke kehidupan-kehidupan selanjutnya. Saya masih ingin melihat di mana stupa ini diletakkan. Terima kasih, Bodhisatwa sekalian.”

Harapan itu rupanya tidak berhenti sebagai sebuah ucapan. Master berharap para Shifu dari Griya Jing Si dapat datang ke Indonesia dan melihat langsung Borobudur. Beberapa waktu kemudian, kesempatan itu pun tiba. Selama dua hari, 28–29 September 2026, usai mengikuti Kamp 4in1 di Tzu Chi Center, para relawan mendampingi para Shifu menuju tiga candi di Magelang, yakni Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Borobudur, yang menjadi tempat mereka menyaksikan langsung jejak sejarah Buddhisme yang selama ini menjadi perhatian Master Cheng Yen.

Membaca Kembali Jejak Dharma
Bagi Huang Si Hao, Qing Xiu Shi dari Griya Jing Si Taiwan, pengalaman berkeliling dari candi ke candi dan kemudian berada di Borobudur sejak pagi memberikan kesan yang mendalam. Pradaksina dan lantunan Sutra Makna Tanpa Batas di tengah suasana candi yang masih hening membuatnya merasakan kedalaman sejarah yang ada di tempat tersebut.

“Rasanya seperti peninggalan berusia lebih dari seribu tahun, dan kebijaksanaan yang terkumpul selama lebih dari seribu tahun, seolah-olah seluruhnya dipadatkan ke dalam sebuah sutra,” ungkapnya.

Relawan Tzu Chi bersama para Shifu melantunkan Sutra Makna Tanpa Batas, khususnya Bab Sifat Luhur, di Borobudur.

Berada di hadapan peninggalan yang telah melewati ribuan tahun membuat Si Hao menyadari betapa besarnya kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Walaupun usia manusia begitu singkat, warisan tersebut terus bertahan dan menunggu untuk dipahami oleh generasi berikutnya.

Perasaan kagum itu kemudian semakin dalam ketika ia melihat relief-relief yang terpahat di dinding candi. Bagi Si Hao, relief tersebut bukanlah rangkaian gambar atau kisah yang dapat dilihat semata, melainkan cara ajaran Buddha diwariskan melalui cerita dan berbagai latar kehidupan. Lalu, tugas kita adalah memahami pesan yang ingin disampaikan oleh Buddha.

“Mengetahui ceritanya berarti kita baru memahami permukaannya saja. Apakah kita memahami mengapa Buddha menceritakan kisah tersebut kepada kita? Apakah kita memahami makna di baliknya? Kemudian, bagaimana kita menerapkannya dalam diri dan kehidupan kita sendiri?” tuturnya.

Karena itu, selama mengikuti penjelasan Romo Handaka yang memandu rombongan, pikirannya terus bergerak pada satu hal, “bagaimana agar kisah-kisah yang terpahat di Borobudur tidak berhenti sebagai sesuatu yang indah untuk dilihat dan bagaimana kisah tersebut dapat membuat orang belajar, merenung, dan menemukan sesuatu yang relevan bagi kehidupan mereka hari ini”.

“Kalau tidak, kita hanya akan melihatnya sebagai sebuah cerita, seperti menonton sebuah pertunjukan. Kalau hanya demikian, sangat disayangkan,” ujarnya.

Kekaguman itu juga disertai kegelisahan ketika ia melihat sejumlah peninggalan mengalami kerusakan, baik karena faktor alam maupun aktivitas manusia. Di satu sisi, ia ingin lebih banyak orang datang dan mengenal warisan tersebut. Di sisi lain, semakin banyak orang yang datang juga menghadirkan tantangan untuk menjaganya tetap lestari.

Usai melantunkan Sutra, para relawan memberikan penghormatan dengan penuh khidmat.

Pertanyaan tentang bagaimana menjaga peninggalan sekaligus mewariskan nilai yang terkandung di dalamnya kemudian membawanya pada perenungan yang lebih jauh. Sebab, bagi Si Hao, yang perlu dijaga bukan hanya bangunan dan reliefnya, tetapi juga kebijaksanaan yang diwariskan melalui tempat tersebut. Berada di Borobudur akhirnya mengingatkannya kembali pada jalan yang sedang ditempuhnya bersama Tzu Chi, yaitu Jalan Bodhisatwa.

Ia kemudian mengaitkan perjalanan menaiki Borobudur dengan salah satu makna yang terdapat dalam Sutra Makna Tanpa Batas, yaitu ungkapan “dari satu melahirkan tak terhingga”. Bagi Si Hao, “satu” dapat dipahami sebagai Buddha, sedangkan “tak terhingga” menggambarkan begitu banyak Bodhisatwa yang hadir untuk membimbing makhluk hidup dengan cara yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

Jika dilihat dari sisi ini, ajaran Buddha yang berasal dari satu sumber kemudian hadir dalam banyak bentuk dan cara. Ada banyak orang yang menjalankan peran sebagai Bodhisatwa, ada banyak pintu Dharma, dan ada banyak cara manusia belajar serta memahami ajaran tersebut.

Namun, Si Hao melihat sesuatu yang menarik dari bentuk Borobudur. Perjalanan menuju puncak dimulai dari bagian bawah, dari bagian yang luas, lalu perlahan bergerak naik menuju bagian yang semakin tinggi hingga mencapai puncak. Ia melihat perjalanan tersebut sebagai sebuah gambaran bahwa manusia berangkat dari sesuatu yang “tak terhingga”, beragam pengalaman, pembelajaran, dan jalan yang ditemui, kemudian perlahan kembali menuju “satu”.

“Jadi, kita berjalan dari yang tak terhingga kembali kepada satu, sedangkan Buddha bergerak dari satu menuju yang tak terhingga. Kita menelusuri kembali sumbernya sampai akhirnya menemukan ‘satu’ itu,” jelasnya.

Dengan demikian, perjalanan menaiki Borobudur bagi Si Hao bukan hanya perpindahan dari satu tingkat ke tingkat berikutnya. Ia melihatnya sebagai sebuah perjalanan untuk memahami kembali sumber dari berbagai ajaran dan pengalaman yang ditemui. Di tengah begitu banyak pintu Dharma dan cara untuk belajar, pada akhirnya muncul satu pertanyaan: “Bagaimana semua yang kita pelajari itu dapat membawa kita kembali pada hakikat yang satu tersebut?”

Sebelum menuju Borobudur, rombongan terlebih dahulu mengunjungi Wihara Mendut dan Candi Mendut. Di sana, mereka menerima sambutan dari Bhante serta penjelasan mengenai sejarah dan perkembangan Buddhisme dari Romo Handaka.

Pemikiran tersebut kembali ia rasakan ketika dalam perjalanan melihat sekelompok anak perempuan dari sebuah madrasah di Banyuwangi. Ketika melihat para relawan dan anggota Sangha, anak-anak itu dengan polos menyapa dengan sukacita.

Bagi orang dewasa, perbedaan agama mungkin dengan mudah membuat kita berpikir tentang batas dan jarak. Namun, Si Hao melihat sesuatu yang berbeda dari anak-anak tersebut. “Mereka sangat sederhana dan polos. Ketika melihat kami, mereka hanya merasa penasaran. Mereka ingin tahu, ‘Kalian datang ke sini untuk melihat apa? Kalian berasal dari mana? Kalian siapa?’” tuturnya.

Bagi Si Hao, rasa ingin tahu yang sederhana itu justru memperlihatkan sesuatu yang sangat mendasar dalam diri manusia, yaitu niat baik yang belum dibatasi oleh sekat-sekat yang dibuat oleh pikiran.

“Menurut saya, inilah niat baik manusia yang paling sederhana dan murni. Kita harus mampu menjaga kemurnian niat baik tersebut agar dapat menjalankan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Bodhisatwa.”

Pemikiran itu kemudian membawa Si Hao pada pengalaman yang paling personal pagi itu ketika melafalkan Sutra Makna Tanpa Batas di Borobudur sebelum matahari terbit.

Di Griya Jing Si, sutra yang sama dilafalkan dalam keseharian. Namun, pagi itu ia membacanya di tempat yang telah berdiri selama lebih dari seribu tahun, di tengah peninggalan yang dibangun oleh orang-orang pada masa lalu yang memiliki keyakinan dan tekad untuk menyebarluaskan Dharma.

“Justru karena ada orang-orang terdahulu inilah, hari ini kita dapat memegang dan membaca Sutra ini,” katanya.

Para Shifu menyimak penjelasan mengenai Candi Pawon dalam rangkaian perjalanan menyusuri jejak sejarah Buddhisme di Magelang.

Ada rasa syukur yang semakin dalam ketika ia menyadari bahwa apa yang dapat dilakukan hari ini tidak terlepas dari mereka yang datang jauh lebih dahulu. Mereka membangun, menjaga, dan mewariskan sesuatu yang kemudian menjadi jalan bagi generasi berikutnya.

“Tanpa orang-orang dahulu itu, tanpa mereka yang membangun candi ini dan mewariskan ajaran Buddha kepada generasi berikutnya, bagaimana mungkin kita hari ini masih dapat mempelajari semua ini? Kita sungguh harus berterima kasih kepada para pendahulu yang telah membuka dan merintis jalan. Karena merekalah, kita yang datang kemudian memiliki jalan untuk terus melangkah.”

Menghidupkan Dharma di Tengah Masyarakat
Jika Si Hao melihat perjalanan di Borobudur sebagai sebuah perenungan tentang bagaimana kebijaksanaan diwariskan dan kembali dibawa ke tengah masyarakat, De Ju Shifu melihatnya dari sudut yang lebih luas, yakni perjalanan panjang perkembangan ajaran Buddha di Indonesia hingga keberadaannya pada masa kini.

Dari penjelasan Romo Handaka, De Ju Shifu mengetahui bahwa ajaran Buddha pernah berkembang pesat di Indonesia. Perjalanan sejarah tersebut tidak lepas dari keberadaan berbagai kerajaan yang memberikan ruang dan dukungan bagi perkembangan Buddhisme, sehingga ajaran tersebut menyebar dari Sumatra ke Jawa.

Namun, ada satu hal yang kemudian menarik perhatian Shifu. Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, jejak Buddhisme masih mudah ditemukan dalam bentuk peninggalan fisik, seperti stupa dan rupang Buddha. Sekarang, yang menjadi perenungannya adalah bagaimana ajaran tersebut tidak berhenti sebagai peninggalan, tetapi benar-benar hadir dan memberikan manfaat dalam kehidupan masyarakat.

“Hal yang sangat menyentuh hati saya adalah bahwa Tzu Chi telah hadir di Indonesia selama lebih dari tiga puluh tahun. Tzu Chi juga memperoleh pengakuan yang luas dari masyarakat. Ketika orang berbicara tentang agama Buddha, mereka juga teringat pada Tzu Chi,” ungkapnya.

Pada siang hari, rombongan kembali ke Borobudur untuk melihat relief-relief candi sekaligus memahami kisah dan makna yang terkandung di dalamnya.

Bagi De Ju Shifu, keberadaan Tzu Chi di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan bahwa nilai-nilai Budhisme dapat hadir dalam bentuk yang nyata. Melalui berbagai kegiatan kemanusiaan dan pelayanan kepada masyarakat, cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin tidak hanya dibicarakan, tetapi diwujudkan dalam tindakan.

“Itulah hati Buddha. Kita berharap masyarakat dapat menerima semangat cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin tersebut sehingga dapat membantu membebaskan semua makhluk dari penderitaan,” katanya.

Karena itu, kunjungan ke tiga candi selama perjalanan ini bukan hanya untuk memahami masa lalu. Bagi rombongan dari Taiwan, perjalanan tersebut juga menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana ajaran Buddha pernah tumbuh di Indonesia, bagaimana jejaknya bertahan hingga kini, serta bagaimana nilai-nilai tersebut dapat kembali hadir dalam kehidupan masyarakat.

Di Borobudur, upaya untuk kembali menyelami nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada mendengarkan penjelasan tentang sejarah. Para relawan dan Shifu menghidupkannya melalui kegiatan melafalkan Sutra Makna Tanpa Batas, khususnya Bab Sifat Luhur. Bagi De Ju Shifu, pemilihan sutra ini memiliki makna tersendiri. Sutra Makna Tanpa Batas merupakan salah satu sutra yang menjadi pedoman bagi insan Tzu Chi sekaligus sutra pembuka bagi Sutra Bunga Teratai.

Keterbatasan waktu membuat rombongan hanya melafalkan satu bab. Namun, bagi Shifu, yang terpenting bukan berapa banyak bagian sutra yang selesai dibacakan, melainkan bagaimana intisarinya dapat dibawa pulang dan dijalankan.

Romo Handaka menjelaskan kisah dan makna yang terpahat dalam relief Borobudur, sementara rombongan menyimak dengan saksama.

“Kami berharap kelak setiap insan Tzu Chi dapat menerima dan menjalankan semangat Sutra Makna Tanpa Batas. Semangat Sutra Makna Tanpa Batas merupakan inti yang sangat penting dalam Jalan Bodhisatwa. Semangat sutra ini juga merupakan titik awal dalam menapaki Jalan Bodhisatwa,” ujarnya.

Kalimat Shifu kemudian kembali pada satu kesadaran yang sejak awal juga telah hadir dalam perjalanan ini, yakni Dharma tidak berhenti pada tempat, bangunan, ataupun kata-kata yang tertulis dalam sutra. Dharma menjadi hidup dan lebih bermakna ketika dipahami, dijalankan, dan dibawa ke tengah masyarakat.

“Karena makhluk hidup tak terhingga, maka pintu Dharma pun tak terhingga. Dengan pintu Dharma tak terhingga, maknanya pun menjadi tak terhingga. Sehingga, yang terpenting adalah bagaimana kita membawa makna Dharma tersebut ke dalam kehidupan. Karena makna sejati dari ajaran Buddha adalah bisa memberikan manfaat untuk masyarakat dan meringankan penderitaan,” ujar De Ju Shifu.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Waisak 2555: Aksi Bersih di Borobudur

Waisak 2555: Aksi Bersih di Borobudur

20 Mei 2011
Selesai memungut sampah di area sekitar Candi Borobudur, sampah-sampah yang bisa didaur ulang seperti botol-botol plastik minuman kemasan dikumpulkan di samping stan tenda Tzu Chi untuk langsung dipilah. Relawan Tzu Chi juga melibatkan pemulung setempat untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Membangun Kebersamaan dengan Warga Borobudur

Membangun Kebersamaan dengan Warga Borobudur

18 September 2024

Tzu Chi Indonesia berbagi kebahagiaan dengan memberikan 5.000 paket sembako untuk warga di tujuh kelurahan di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Paket sembako yang diberikan berisi beras 5 Kg, minyak goreng 1 liter, gula pasir 1 Kg, dan 10 bungkus Mi DAAI.

Dua Hari Perjalanan Religi, Menelusuri Warisan Dharma di Tiga Candi

Dua Hari Perjalanan Religi, Menelusuri Warisan Dharma di Tiga Candi

02 Oktober 2026
Mengikuti perjalanan relawan Tzu Chi dan para Shifu menyusuri tiga candi di Magelang untuk belajar dari warisan Budhisme dan memaknai kembali Dharma dalam kehidupan.
Dengan keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -