Dua Karunia Untoro dan Eni

Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Hadi Pranoto


Di sudut selasar RSUD Wirosaban, Bantul, Jogyakarta, seorang bocah laki-laki meringis kesakitan. Di tangan kanannya, selang infus mengalirkan cairan untuk memulihkan kondisinya. Kaki kirinya yang baru dioperasi tiga jam lalu oleh Tim Medis Tzu Chi terbalut gulungan perban, mulai dari pergelangan kaki hingga ujung lututnya. "Haus....., haus!" rintihnya pada sang ibu. "E..e..en," kata sang Ibu menanyakan pada relawan yang berdiri di sampingnya. Tangannya bergerak-gerak ke arah mulut . "Tomi sudah buang angin belum?" tanya Tantri, relawan Tzu Chi asal Jakarta. Sembari mengipasi sang buah hati," ss..ssuudah," jawabnya dan diamini Tomi, bocah 9 tahun yang mengalami patah kaki akibat`tertimpa reruntuhan tembok rumahnya yang hancur akibat gempa. "Kalau begitu boleh," ujar Tantri. Dengan cekatan sang ibu memberikan botol minuman plastik ke mulut Tomi. Sebentar saja, separuh isi botol kecil itu pun berkurang. Bibir Tomi pun merekah tersenyum, dan kembali matanya terpejam.

Pengaruh bius masih membuatnya setengah sadar. "Tomi lapar juga?" canda Tantri. Bocah hitam manis ini pun menggeleng. Tak lama seorang pria paruh baya menghampiri dan mengelus kening Tomi. "Hh..hhh..., ssskkiit?" tanyanya putus-putus seperti istrinya. Tomi mengangguk. Ya, kedua orang tua Tomi bisu. Ayah dan ibu dua orang anak ini bisu, namun kedua putera mereka Tomi (9) dan adiknya Toni (5) semuanya normal dan lancar berbicara. Untoro sang ayah sehari-hari bekerja di perusahaan percetakan dengan penghasilan Rp 135.000/minggu. Sementara sang istri, Eni, mengurus kedua buah hatinya di rumah.

Dengan terbata-bata dan menggunakan bantuan tangannya, ayah dan ibu ini menceritakan bagaimana gempa telah meluluhlantakkan rumah mereka di Beran, Tirto Nirmolo, Bantul dan mengakibatkan kaki puteranya patah. Saat kejadian mereka semuanya sedang berada di rumah, dan sewaktu gempa mengguncang tanah Jogya, Tomi lah yang paling terlambat keluar rumah sehingga tertimpa reruntuhan tembok rumah. Adiknya Toni saat itu bisa cepat di bawa keluar sang ibu. Bahkan karena melindungi Toni, bahunya pun sempat tertimpa patahan kayu dari atap rumahnya, mengakibatkan memar di pundaknya. Dengan bantuan mobil relawan, bocah kelas 2 SDN Jarakan I ini pun akhirnya sampai di RSUD Wirosaban, Bantul.

"Rumah ditinggal, barang-barang ngak tahu, soalnya begitu kejadian mereka langsung lari kesini," kata Tantri yang menjadi mediator kami. Bagi Untoro dan Eni, keselamatan kedua puteranya ini jelas lebih penting daripada rumah dan harta benda lainnya. Bahkan sepeda, alat transportasi Untoro untuk bekerja sehari-hari sudah tak bisa lagi digunakan. "Yang penting anak-anak selamat," lanjut Tantri. Untoro dan Eni pun buru-buru mengangguk pertanda setuju pada ucapan Tantri. Meski bisu, namun keduanya bisa mendengar dengan baik, sehingga bisa meralat jika apa yang keluar dari mulut Tantri tak sesuai dengan bahasa dan isyarat yang mereka sampaikan.

Sejak gempa, Untoro dan Eni beserta Toni hanya menunggu Tomi di rumah sakit. "Ngak tahu mau tinggal di mana? Paling bikin tenda," kata Tantri mengolah maksud keduanya ketika ditanyakan kemana mereka akan tinggal setelah Tomi bisa pulang dari rumah sakit. Keduanya tetap tenang, meski sudah tak punya apa-apa lagi. Mereka tak mau lagi perduli dengan segala urusan duniawi, kesembuhan dan keselamatan Tomi di atas segalanya. Uang dan harta bisa dicari, namun memiliki dua buah hati yang sehat dan cerdas jelas merupakan sebuah karunia yang sangat disyukuri dan dijaga benar oleh kedua pasangan yang berkekurangan fisiknya ini, namun memiliki kekayaan batin karena kesempurnaan kedua buah hati mereka.


Artikel Terkait

Tangan yang Bersumbangsih untuk Bumi dan Sesama

Tangan yang Bersumbangsih untuk Bumi dan Sesama

30 Juni 2016
Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat, Hu Ai Jakarta Pusat, Xie Li Sunter melakukan kegiatan daur ulang di Taman RW 04 Sunter Metro. Beberapa warga juga ikut dalam kegiatan ini.
Kesehatan Seniman Bangunan

Kesehatan Seniman Bangunan

03 Juni 2011
“Baksos kesehatan seniman bangunan ini  gratis, jika ada seniman bangunan yang sakit dan dirujuk oleh dokter untuk berobat di RSKB, maka semua biayanya juga gratis hingga seniman bangunan sembuh dari sakitnya,” ujar Lie Fie Lan Shijie.
Satu Hari di Fu Hui Ting, Menyulam Kesadaran Para Relawan

Satu Hari di Fu Hui Ting, Menyulam Kesadaran Para Relawan

10 Desember 2025

Pelatihan Relawan Abu Putih 1 mempertemukan 97 peserta. Melalui sesi belajar yang hangat dan reflektif, kegiatan ini meneguhkan niat, memperdalam pemahaman misi, dan menyuburkan tekad berjalan di jalan welas asih.

Menyayangi diri sendiri adalah wujud balas budi pada orang tua, bersumbangsih adalah wujud dari rasa syukur.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -