Dua Kemudahan Dalam Memberi Bantuan
Jurnalis : Akien (Tzu Chi Aceh), Fotografer : Lina (Tzu Chi Aceh)|
|
| ||
Gempa kali ini merupakan gempa tektonik yang berpusat di kawasan Mane-Geumpang, Kabupaten Pidie. Gempa sudah menjadi langganan bagi masyarakat Aceh, namun gempa kali ini tergolong kuat dan sangat mengagetkan warga yang masih terlelap dalam tidur, menimbulkan kepanikan di sejumlah wilayah Aceh lainnya, seperti Banda Aceh, Aceh Besar, kawasan pesisir Barat, seperti Calang, Meulaboh, dan Nagan Raya. Warga yang panik berlarian keluar rumah dan memilih berada di luar sambil siap siaga, sedangkan warga yang bermukim di pesisir pantai berhamburan mencari lokasi-lokasi yang dianggap aman (dataran tinggi atau bukit) untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan timbulnya tsunami.
Keterangan :
Di hari itu juga relawan mulai mengumpulkan informasi tentang dampak dari gempa ini. Sehari kemudian, tanggal 23 Januari 2013, berdasarkan data dari Koran Serambi Indonesia, relawan mendapatkan informasi lokasi yang terkena musibah, yaitu kawasan Mane, Geumpang, dan Tangse. Gempa telah meluluhlantakkan kawasan tersebut. Beberapa bangunan hancur atau rusak, seperti mesjid, madrasah, sekolah, kantor-kantor pemerintahan dan swasta, Puskesmas, jembatan, asrama TNI, rumah warga dan Pos Pemantau Gunung Api Peut Sagoe juga tak luput dari musibah ini. Gempa juga memakan korban meninggal 1 orang dan warga yang menderita luka-luka ada 15 orang. Melihat kondisi ini, relawan Tzu Chi segera menggelar rapat di malam hari dan diputuskan keesokan paginya tanggal 24 Januari 2013 (kebetulan hari libur) akan berangkat ke lokasi bencana. Pemerintah Aceh patut diberi jempol, bantuan tanggap darurat sudah diberikan di hari pascakejadian, berupa tenda, pakaian, peralatan rumah tangga hingga sembako. Pagi hari tanggal 24 januari 2013, relawan sudah berkumpul sejak jam 8 pagi. Ada sebanyak 14 orang relawan yang turun, dan dengan mengendarai 2 unit mobil relawan siap berangkat menuju Tangse. Waktu perjalanan hingga ke tempat tujuan membutuhkan 5 jam. Rombongan sempat berhenti di Sigli karena tiba-tiba mobil Afung Shigu sempat kurang beres, sempat tersendat-sendat, jadi sampai di Sigli kita mencari bengkel mobil sambil beristirahat.
Keterangan :
Pemilik bengkel sempat menanyakan rombongan kami, dan Afung Shigu langsung menjelaskan tentang Tzu Chi kepada pemilik bengkel dan mendapat respon yang sangat baik. Sang pemilik bengkel mengatakan bahwa nama Tzu Chi sudah tidak asing lagi baginya. Walaupun ia tidak begitu mengenal Tzu Chi, tetapi ia dapat merasakan bahwa Tzu Chi itu adalah baik. Setelah urusan selesai, tiba-tiba istri sang pemilik bengkel datang dengan terburu-buru mengendarai kereta roda dua (motor) menghampiri Afung Shigu sambil menyodorkan sekantong plastik yang berisi sebotol minyak angin. Rupanya Shijie ini sempat melihat Afung Shigu mencari minyak angin, tapi tak ada satu pun relawan yang membawa – yang dibawa relawan adalah minyak kayu putih. Afung Shigu sempat terkejut dan hendak membayarnya, tapi dengan kerendahan hati istri pemilik bengkel itu tidak mau menerima uang Afung Shigu. Sungguh suatu ikatan jodoh yang sangat baik terjalin saat itu. Saat relawan sedang beristirahat, seorang bapak bernama Ibrahim datang menghampiri Supandi Shixiong, memperkenalkan diri bahwa ia mengenal Supandi Shixiong bersama relawan saat datang ke Tangse tahun lalu dalam kegiatan menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Tangse. Setelah bersilaturahmi sebentar, Ibrahim kemudian mengulurkan bantuan untuk memperkenalkan kawannya yang akan membantu menunjukkan jalan menuju lokasi bencana untuk mempermudah rombongan kami dalam menemukan kawasan gempa. Sekali lagi kami dipermudah dalam perjalanan ke lokasi bencana. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan, naik turun gunung membuat kepala rasanya pusing. Sebagian relawan memilih tidur, supir dengan cekatan mengemudi. Jalannya begitu sempit, sementara di kiri-kanan jalan masih ada sisa-sisa longsoran tanah. Air di sungai berwarna kuning mengalir begitu deras menandakan kemarin hujan cukup lebat di daerah ini. Kawasan ini setiap tahun selalu mengalami banjir di saat musim hujan. Meski harus menempuh medan yang sulit, semangat relawan untuk membantu sesama tak pernah surut. Akhirnya relawan pun dapat memberikan bantuan kepada warga yang menjadi korban gempa. | |||
Artikel Terkait
Jelang Syukuran 20 Tahun Rusun Cinta Kasih, Ibu-Ibu Rusun Berlatih Isyarat Tangan
10 Agustus 2023Jelang acara syukuran 20 Tahun Rusun Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng pada 26 Agustus 2023 mendatang, ibu-ibu rusun mulai berlatih memperagakan isyarat tangan lagu Satu Keluarga.
Memperkuat Misi Kesehatan Tzu Chi
10 April 2019Setelah mengadakan sosialisasi TIMA (Tzu Chi International Medical Association) pada 17 Maret 2019, tak lama kemudian 7 April 2019 Tzu Chi Medan mengadakan Pelatihan dan Pelantikan Pengurus TIMA Medan periode 2019 – 2020.










Sitemap