Ekoenzim yang Ramah Lingkungan
Jurnalis : Ivana, Fotografer : Ivana
|
| |
Eco-enzyme memiliki manfaat yang berlipat ganda. Dengan memanfaatkan sampah organik sebagai bahan bakunya, kemudian dicampur dengan gula aren dan air, proses fermentasinya menghasilkan gas O3 dan hasil akhirnya adalah cairan pembersih serta pupuk yang ramah lingkungan. Tidak Lengket dan Berbau “Caranya siapkan air dalam botol atau jerigen, masukkan gula aren, lalu sampah kulit buah atau sayur. Perbandingan air, gula, dan sampah, adalah 10 : 1 : 3,” Suryadi menjelaskan, disimak oleh 12 relawan lain. Hari itu mereka menggunakan jerigen berkapasitas 20 liter. Mereka mengisinya dengan air 12 liter, lalu dimasukkan 1,2 kg gula aren, disusul 3,6 kg sampah buah. Setiap hari, proses fermentasi ekoenzim ini akan menghasilkan gas, jadi sebaiknya setiap hari botol atau jerigen tempat fermentasi dibuka tutupnya. Bila tidak, gas ini akan terus menekan botol hingga bisa berakibat retak atau pecah. Setelah lewat 3 bulan, air di dalam botol tersebut telah berubah menjadi cairan pembersih yang dapat digunakan untuk pembersih lantai, sabun cuci piring, sabun pakaian, pengharum ruangan, bahkan juga sabun mandi dan pencuci rambut. Masing-masing dengan takaran pencampuran air tertentu.
Ket : - Perbandingan antara air, gula, dan sampah organik untuk membuat ekoenzim adalah 10 : 1 : 3 bagian. (kiri) Para relawan langsung bergerak mencoba membuat ekoenzim ini dengan alat dan bahan yang sudah ada. Sebagian menyiapkan air, sebagian lagi memotong gula aren dan sampah buah menjadi potongan kecil-kecil. Untuk pembuatan hari itu, secara khusus Suryadi telah meminta sampah buah dari sebuah toko buah yang dikelola seorang relawan Tzu Chi. Alhasil, mereka membuat 7 jerigen ekoenzim ditambah beberapa botol plastik 1 liter, dilabeli tanggal hari itu. Tiga bulan mendatang, cairan dalam jerigen ini dapat digunakan untuk beragam fungsi, dan ampas sampah buahnya dapat digunakan sebagai pupuk organik. “Saya sudah coba pake di rumah untuk pel lantai, hasilnya sih lantai nggak licin meski nggak pake sabun. Padahal anak-anak kalau makan ya biasalah suka jatuh di lantai,” kata Ani Wijaya, relawan yang ikut hari itu. Biasanya ia hanya memakai 2 tutup botol enzim dicampur 1 ember air. Ani juga pernah mencoba membuat sendiri di rumah, namun tidak kontinu karena sering kehabisan botol plastik. “Saya tidak terpikir untuk ambil botol plastik di depo daur ulang,” terangnya.
Ket: - Nathalia (kiri) dan Aini (kanan) antusias ikut membuat ekoenzim yang baru mereka kenal hari itu. "Ini namanya daur ulang sampah buah," kata mereka. (kiri) Beberapa relawan baru pertama kali mendengar tentang ekoenzim ini. “Tertarik aja. Caranya nggak susah ya, cuma memang perlu kesabaran. Kan katanya tiap 2 hari sekali harus dibuka,” kata Aini sambil memasukkan potongan buah ke dalam jerigen. Nathalia ikut nimbrung, “Ini bagus ya, sampah-sampah buah bisa jadi bermanfaat lagi, ini namanya daur ulang buah,” katanya. Tren pembuatan ekoenzim sesungguhnya sudah berlangsung cukup lama di negara lain seperti Malaysia, Australia, Taiwan, juga Amerika Serikat. Suryadi berharap dapat membawa budaya ini ke dalam lingkungan Tzu Chi Indonesia. “Saya pikir ini bagus untuk menjadi salah satu budaya humanis yang kita jalankan dalam kompleks Aula Jing Si ini,” katanya. | ||
Artikel Terkait
Anak-anak Istimewa Menunjukkan Kasihnya pada Orang Tua
02 Desember 2019Kevin Antolim (13) tak bisa menahan tangisnya saat membasuh kaki ibunya, Seni Pui (39). Siswa yang duduk di bangku SD kelas 5 ini terlihat sesenggukan. Begitu juga dengan ke-25 temannya di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kasih Bunda, Duri Selatan, Jakarta Barat yang mengikuti acara basuh kaki dalam rangka memperingati Hari Ibu ini.
Pelipur Lara untuk Warga Korban Kebakaran di Taman Sari
10 Februari 2020Di tengah pilu yang dirasakan Ibu Nung dan warga lainnya yang mengalami cobaan ini, pelipur lara datang dari relawan Tzu Chi. Hari ini, Senin 10 Februari 2020, relawan mendistribusikan 75 paket bantuan. Paket bantuan berisi terpal, ember, air mineral, lalu ada satu kontainer yang berisi selimut, handuk, sarung, sandal, pakaian layak pakai, tempat makan, dan perlengkapan mandi.
Tumbuh Bersama Mereka
24 Juli 2017Memasuki tahun ketujuh, relawan juga terus berinovasi agar acara pelepasan memberikan kesan bagi murid-murid kelas budi pekerti. Berbeda dengan acara sebelumnya, susunan acara tahun ini diadakan Pradaksina atau meditasi berjalan.








Sitemap