Mengawali Tahun dengan Pembekalan dan Pendampingan Relawan Amal

Jurnalis : Dewi Yanti (He Qi Jakarta Barat 4), Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3), Fotografer : Dewi Yanti (He Qi Jakarta Barat 4), Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3)

Lo Hok Lay, Koordinator Bidang Amal He Qi Jakarta Utara 3, menyampaikan sambutan pembuka yang mengajak relawan kembali meneguhkan misi amal sebagai akar gerakan Tzu Chi.

Welas asih yang tidak disertai pemahaman mudah melemahkan langkah. Sementara pemahaman tanpa welas asih membuat pelayanan kehilangan kehangatan. Di basement Gedung DAAI, Tzu Chi Center, PIK, dua nilai ini dipertemukan. Materi bantuan pendidikan mengajarkan relawan membuka pintu akses bagi keluarga yang hidup dalam kondisi serba terbatas, sementara genogram membantu relawan memahami kisah di balik setiap keluarga yang mereka dampingi. Dari pertemuan inilah Misi Amal Tzu Chi kembali diteguhkan, mengingatkan relawan untuk melayani dengan niat yang tulus dan langkah yang membawa perubahan nyata bagi kehidupan sesama.

Pada 11 Januari 2026, sebanyak 61 relawan amal Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 4 dan He Qi Jakarta Utara 3 berkumpul mengikuti rangkaian pelatihan dan kebersamaan awal tahun. Relawan baru dan senior duduk berdampingan, membawa pengalaman lapangan dan sudut pandang yang beragam. Di ruang itu, perbedaan melebur menjadi satu tujuan bersama: memperkuat kualitas pendampingan agar pelayanan tidak hanya aktif, tetapi juga semakin tepat arah.

Dalam sambutan pembuka, Koordinator Bidang Amal He Qi Jakarta Utara 3, Lo Hok Lay, menegaskan bahwa misi amal merupakan akar dari seluruh gerakan Tzu Chi. Ia mengajak relawan kembali turun melihat kehidupan nyata di sekitar mereka, bukan hanya yang tampak di permukaan, tetapi juga yang tersembunyi di gang-gang kecil dan sudut kehidupan yang penuh perjuangan.

“Di sanalah kita belajar melihat dengan lebih jernih. Ketika melihat penderitaan, kita belajar bersyukur, dan dari rasa syukur itulah welas asih tumbuh,” ujarnya. Hok Lay menegaskan bahwa pembekalan seperti genogram bukan sekadar materi teknis, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas relawan agar mampu melayani dengan lebih bijaksana. Ia juga mendorong relawan untuk terus belajar menumbuhkan cinta kasih, kesabaran, dan keteguhan hati dalam setiap langkah pelayanan.

Nur Maghfiro, membagikan pengalaman lapangan sekaligus materi bantuan pendidikan pemerintah, mengajak relawan memahami pentingnya pendampingan agar keluarga rentan tidak terputus dari akses layanan.

Sesi pembekalan pertama dibawakan oleh Nur Maghfiro. Ia tidak memulai dengan teori, melainkan dengan pengalaman pribadinya saat mendampingi orang tuanya menjalani pengobatan di rumah sakit. Dari sana, ia mengajak relawan memahami betapa rumitnya proses administrasi dan betapa pentingnya pendampingan yang sabar dan telaten bagi keluarga yang sedang berada dalam kondisi sulit.

Sharing yang saya sampaikan hari ini bukan sekadar materi, tapi pengalaman yang benar-benar saya jalani sendiri. Saat mengurus pengobatan orang tua, saya merasakan betapa banyak keluarga yang bingung, lelah, dan tidak tahu harus mulai dari mana,” ungkapnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Nur memaparkan berbagai program bantuan pendidikan dan sosial pemerintah seperti KJP Plus, KIP, dan PKH yang menjadi jaring pengaman bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Namun ia menegaskan bahwa persoalan di lapangan tidak berhenti pada ketersediaan program. Banyak keluarga gagal mengakses bantuan bukan karena tidak layak, melainkan karena terhambat pada pencatatan data sosial.

Di titik inilah peran relawan menjadi krusial. Relawan hadir sebagai jembatan yang menghubungkan keluarga dengan sistem, membantu proses pendaftaran, memastikan data tercatat dengan benar, serta menjaga agar hak pendidikan anak-anak tidak terputus di tengah keterbatasan.

Pemahaman yang disampaikan Nur menemukan gaungnya dalam diskusi kelompok. Salah satu relawan, Ening Suwarni, yang juga menjabat sebagai Ketua RT, membagikan pengalaman lapangannya secara rinci. Ia mengangkat persoalan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang sering menjadi gerbang utama berbagai bantuan pemerintah.

“Kalau keluarga belum masuk DTKS, sebaik apa pun niat kita membantu, jalannya akan sulit. Karena itu relawan di lingkungan punya peran besar, mendampingi warga agar datanya benar, lengkap, dan bisa diverifikasi,” ujar Ening. Ia menambahkan bahwa pendampingan tidak berhenti pada pengisian data, tetapi juga pada edukasi warga agar memahami proses dan tidak mudah menyerah saat menghadapi birokrasi.

Berbagi pengalaman ini membuat suasana diskusi semakin hidup. Para relawan tidak hanya mencatat, tetapi juga saling bertukar cerita lapangan, menyadari bahwa kerja kemanusiaan sering dimulai dari hal-hal kecil yang menentukan, satu formulir, satu kunjungan rumah, satu percakapan yang membangun kepercayaan.

Vincent Salimputra memandu sesi genogram, membantu relawan memahami dinamika keluarga agar pendampingan dapat dilakukan lebih tepat dan menyentuh akar persoalan.

Usai coffee break, sesi berikutnya dipandu oleh Vincent Salimputra dengan materi genogram. Ia mengajak peserta memandang keluarga sebagai satu kesatuan yang saling terhubung.

“Di dunia sosial, termasuk kerja-kerja kemanusiaan, kita sering menghadapi cerita keluarga yang panjang. Kalau hanya dibaca dalam bentuk narasi, kita harus membaca dari awal sampai akhir dulu baru paham. Tapi dengan genogram, dalam bentuk diagram, kita bisa melihat gambaran besarnya lebih cepat,” jelas Vincent.

Melalui pemetaan ini, relawan belajar membaca dinamika emosional, beban tanggungan, pola persoalan yang kerap berulang, sekaligus mengenali kekuatan yang tersembunyi dalam keluarga. Siapa yang menopang, siapa yang paling tangguh, dan siapa yang selama ini memikul beban dalam diam menjadi lebih terlihat. Dengan pemahaman ini, pendampingan dapat diarahkan lebih tepat dan menyentuh akar persoalan.

Suasana diskusi kelompok saat relawan memetakan genogram, menajamkan pemahaman tentang kisah di balik setiap keluarga yang didampingi.

Dalam sesi praktik kelompok, para peserta memetakan genogram secara langsung. Diskusi mengalir dari satu meja ke meja lain, memperlihatkan keseriusan relawan dalam mengasah kepekaan mereka, tidak hanya membaca data, tetapi juga memahami manusia di balik data tersebut.

Menjelang sore, suasana berubah menjadi lebih cair melalui games kebersamaan dan sesi tukar kado. Hadiah yang dibagikan bukan berupa makanan, melainkan barang-barang yang bermanfaat seperti kotak makan, lampu tidur, dan reuse bag. Beberapa peserta diminta membacakan pesan motivasi yang terselip di dalam kado, menghadirkan tawa dan kehangatan yang menutup rangkaian kegiatan dengan suasana akrab.

Peserta berbagi kesan tentang materi bantuan pendidikan yang disampaikan Nur Maghfiro, merefleksikan peran relawan sebagai jembatan antara keluarga dan akses layanan.

Acara ditutup dengan doa, penghormatan, dan foto bersama. Di balik senyum yang terabadikan, tersimpan tekad yang sama: melangkah ke tahun baru dengan semangat yang diperbarui.

Dari basement Gedung DAAI, para relawan pulang membawa bekal yang lebih utuh. Tidak hanya pengetahuan teknis, tetapi juga kejernihan batin dan komitmen untuk melayani dengan lebih bijaksana. Di awal tahun ini, mereka tidak sekadar memulai agenda, tetapi menata ulang cara melayani, agar setiap bantuan benar-benar membantu meringankan beban dan mengubah kehidupan menjadi lebih baik.

Editor: Arimami Suryo A

Artikel Terkait

Mengawali Tahun dengan Pembekalan dan Pendampingan Relawan Amal

Mengawali Tahun dengan Pembekalan dan Pendampingan Relawan Amal

26 Januari 2026

Relawan Amal Tzu Chi He Qi Jakarta Barat 4 dan Jakarta Utara 3 mengadakan pelatihan dan gathering yang diikuti 61 relawan di Tzu Chi Center, PIK pada Minggu, 11 Januari 2026.

Langkah Pertama Sebagai Bodhisatwa Dunia

Langkah Pertama Sebagai Bodhisatwa Dunia

28 Maret 2019
Untuk membantu para dermawan menapaki langkah pertama sebagai Bodhisatwa dunia, Tzu Chi Batam mengadakan Pelatihan Misi Amal Tzu Chi pada 24 Maret 2018 di Ruang Isyarat Tangan, Aula Jing Si Batam.
Menguatkan Welas Asih dan Kebijaksanaan di Pelatihan Misi Amal Tzu Chi Medan

Menguatkan Welas Asih dan Kebijaksanaan di Pelatihan Misi Amal Tzu Chi Medan

23 Januari 2026

Yayasan Buddha Tzu Chi Medan menyelenggarakan Pelatihan Misi Amal sebagai upaya memperkuat niat, kapasitas, dan kesatuan langkah para relawan.

Mendedikasikan jiwa, waktu, tenaga, dan kebijaksanaan semuanya disebut berdana.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -