Harapan Baru dari Parsoran Nauli: Verifikasi dan Pengundian 70 Unit Hunian Tetap bagi Korban Bencana di Desa Adian Koting, Tapanuli Utara

Jurnalis : Liani (Tzu Chi Medan), Fotografer : Liani (Tzu Chi Medan)
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumut, Mujianto, menyampaikan rasa syukur atas tercapainya target pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak banjir.

Tangis haru dan rasa syukur menyelimuti Aula Pertemuan Bupati di Desa Adian Koting, Sabtu (25/04/2026). Sebanyak 18 relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, yang terdiri dari 13 orang dari Medan dan 5 orang dari Jakarta, hadir untuk menyaksikan momen bersejarah bagi warga terdampak bencana banjir dan longsor di Sumatera pada akhir tahun 2025. Kali ini, relawan Tzu Chi mengadakan verifikasi dan pengundian hunian tetap (Huntap) bagi korban banjir di Adian Koting, Tapanuli Utara. Turut hadir Bupati Tapanuli Utara Dr. Jonius Taripar Paesaoran Hutabarat, S.Si., M.Si., Plt. Kalak BPBD Binhot Ishak Aritonang, S.Sos., M.Si., Plt. Kadis Perkim Nokman Simanungkalit, S.T., M.T., Plt. Ka. Bappelitbangda Christina Eva Kartini Nahampun, S.STP., MSP., Camat Adian Koting Rambe Hutabarat, Kepala Desa Dolok Nauli, serta Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara Mujianto, serta Timmy Jawira, relawan Tzu Chi Medan yang menjadi koordinator kegiatan ini.

Bupati Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si., didampingi Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumut, Mujianto, menyaksikan proses verifikasi dan pengundian rumah warga di Aula Pertemuan Kantor Bupati. Ia mengapresiasi langkah cepat ini.

Hal ini merupakan langkah nyata pemulihan kehidupan melalui verifikasi dan pengundian 70 unit Hunian Tetap (Huntap) Tahap I yang berlokasi di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara. Kawasan hunian baru ini pun resmi menyandang nama penuh doa, yaitu “Parsoran Nauli” yang artinya adalah “Hunian yang Baik dan Nyaman”. Bagi relawan Tzu Chi dan warga terdampak bencana, nama ini sangat indah karena menggambarkan rumah baru sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk memulai kehidupan yang baru.

Pembangunan hunian kemanusiaan ini lahir dari kolaborasi erat antara Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara yang menyediakan lahan dan infrastruktur, Kementerian PUPR dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang berperan dalam proses pembangunan dan perlengkapan perabotan rumah warga. 

Di Aula Pertemuan Kantor Bupati Tapanuli Utara, relawan melakukan verifikasi dan mencocokkan data warga sebelum proses pengundian dilaksanakan.

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto, menyapa warga dengan ucapan, “Selamat pagi, horas,” serta menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan seluruh pihak yang telah membantu pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak banjir. Tzu Chi berkomitmen memastikan warga tidak hanya memiliki atap, tetapi juga kenyamanan di dalamnya. “Kami memberikan bantuan tambahan berupa perabot seperti sofa, meja makan, tempat tidur, dan rak meja. Kami berharap proses ini cepat tuntas agar warga bisa segera menempati rumah baru mereka,” jelasnya.

Bupati Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Paesaoran Hutabarat, S.Si., M.Si., dalam sambutannya menekankan pentingnya keadilan. Pengundian dilakukan secara terbuka untuk menentukan nomor blok dan rumah bagi setiap warga tanpa membedakan status sosial. “Pemerintah hadir untuk kalian. Tidak ada pilih kasih, semua sama rata. Saya juga berpesan, gunakan sisa bantuan ekonomi dengan bijak untuk modal usaha, bukan untuk konsumsi yang tidak perlu,” tegas Bupati.

Kisah di Balik Bencana
Di antara puluhan warga, terselip kisah pilu Ibu Elisabeth Panggabean (54), seorang penenun sarung songket yang kehilangan rumah papannya (kayu) akibat hantaman longsor dari dua arah pada November 2025 lalu. Trauma mendalam sempat menghambat kegiatannya mencari nafkah, sebagai ibu yang menghidupi tiga anak. “Dulu menenun dua minggu selesai, sekarang dua bulan pun belum tentu karena badan cepat lemas akibat trauma. Tapi hari ini saya sangat bersyukur. Terima kasih kepada Tuhan, pemerintah, dan Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah memberikan hunian tetap kepada kami. Ini adalah harapan baru bagi kami,” ungkap Elisabeth dengan mata berkaca-kaca.

Elisabeth Panggabean menceritakan rumahnya yang roboh dan hanyut diterjang banjir. Timmy Jawira, selaku koordinator kegiatan, dengan sabar mendengarkan dan memberikan perhatian dan motivasi kepadanya.

(a) Kondisi rumah Elisabeth sebelum diterjang banjir. (b) Elisabeth Panggabean di depan rumahnya yang roboh pasca terkena banjir bandang.

Hal senada dirasakan Nurtima Panggabean, yang sempat terjebak air sungai meluap sebelum berhasil menyelamatkan diri ke Gereja HKBP. Hingga kini, rumah lamanya masih tertimbun lumpur, menjadikannya sangat bergantung pada bantuan hunian tetap ini. “Terima kasih yang mendalam kepada pemerintah dan Buddha Tzu Chi yang telah memberikan bantuan berupa sembako, pakaian, dan hunian tetap pascabanjir. Sebagai warga yang sudah tidak mampu lagi bekerja mencari nafkah, bantuan ini sangat berarti,” ungkap Nurtima Panggabean.

Kegiatan yang diawali dengan doa dan lagu kebangsaan Indonesia Raya ini menjadi bukti nyata bahwa gotong royong dan kepedulian berbagai pihak mampu memberikan solusi bagi masyarakat yang tertimpa musibah. Dengan progres pembangunan yang sudah mencapai 100% untuk 34 unit pertama, kompleks “Parsoran Nauli” diharapkan menjadi simbol bangkitnya kemandirian warga Adian Koting. Di atas tanah ini, mereka tidak hanya membangun dinding dan atap, tetapi juga merajut kembali masa depan yang lebih aman dan sejahtera.

Nurtima menyampaikan rasa terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah memberikan hunian tetap kepada warga terdampak bencana.

Sukacita Nurtima (tengah) dan Elisabeth setelah mengikuti proses verifikasi dan pengundian hunian tetap di Aula Pertemuan Bupati, Tapanuli Utara.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Pembangunan Huntap di Sumatera: Relawan Tinjau Pembangunan Huntap di Aceh

Pembangunan Huntap di Sumatera: Relawan Tinjau Pembangunan Huntap di Aceh

01 April 2026

Untuk memastikan pembangunan huntap berjalan lancar dan berkualitas, relawan Tzu Chi meninjau lokasi pembangunan huntap serta lakukan kunjungan kasih di Aceh Tamiang.

Pembangunan Huntap di Sumatera: Bahagianya Warga Tapanuli Selatan Terima Hunian Tetap Pascabencana.

Pembangunan Huntap di Sumatera: Bahagianya Warga Tapanuli Selatan Terima Hunian Tetap Pascabencana.

30 Maret 2026

Suasana bahagia tercipta saat serah terima 120 unit hunian tetap untuk warga penyintas bencana di Desa Hapesong Baru, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Harapan Baru dari Parsoran Nauli: Verifikasi dan Pengundian 70 Unit Hunian Tetap bagi Korban Bencana di Desa Adian Koting, Tapanuli Utara

Harapan Baru dari Parsoran Nauli: Verifikasi dan Pengundian 70 Unit Hunian Tetap bagi Korban Bencana di Desa Adian Koting, Tapanuli Utara

27 April 2026

Hunian baru ini pun resmi menyandang nama penuh doa, yaitu “Parsoran Nauli” yang artinya adalah “Hunian yang Baik dan Nyaman”. 

Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -