Satu per satu warga penerima hunian tetap (Huntap) di Hapesong Baru membawa perabotan ke rumah masing-masing. Perabot yang telah dipersiapkan sebelumnya didistribusikan langsung ke setiap unit hunian, menjadi awal bagi warga untuk menata kembali kehidupan mereka di tempat yang lebih layak.
Senyum haru dan kebahagiaan terpancar dari wajah warga terdampak bencana di Tapanuli Selatan pada Selasa, 28 April 2026. Sebanyak 103 keluarga kini bersukacita setelah menerima bantuan rumah beserta perabot lengkap untuk hunian tetap (Huntap) mereka di Hapesong Baru.
Pada hari itu, kegiatan difokuskan pada proses penyerahan perabot kepada para warga penerima huntap. Perabot yang telah dipersiapkan sebelumnya didistribusikan langsung ke masing-masing unit rumah warga. Suasana berlangsung tertib dan penuh kehangatan, diiringi senyum dan rasa syukur dari para warga yang kini dapat mulai menata kehidupan baru di hunian yang lebih layak.
Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Tapanuli Selatan Marancar, Kepala BPBD Tapanuli Selatan Zulkarnaen Siregar, serta Kabid BPBD Handi Batubara. Sinergi ini menjadi jangkar bagi masyarakat Tapanuli Selatan untuk melangkah maju, meninggalkan trauma masa lalu, dan menatap masa depan di rumah baru yang lebih aman dan layak.
Proses penyerahan perabot ini dilakukan setelah melalui tahapan verifikasi dan pengundian rumah pada Maret lalu. Sebanyak 18 relawan dari Medan, 5 relawan dari Jakarta, serta 8 sukarelawan dari PSMTI Padang Sidempuan bahu-membahu mendata warga dan mendistribusikan paket perabot yang terdiri dari satu set meja makan dan kursi, sofa, meja tamu, serta dua buah kasur untuk setiap unit rumah.
Bukan hanya warga, para relawan pun tampak antusias hadir dan terlibat langsung dalam setiap proses. Dengan penuh semangat, mereka membantu melengkapi isi rumah warga, memastikan setiap keluarga dapat segera menempati hunian barunya dengan nyaman.
Syandi Saputra dan istrinya tak kuasa menahan air mata saat pertama kali memasuki rumah barunya. Dengan penuh haru, keduanya bersujud dan berdoa, mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan untuk kembali memiliki tempat tinggal yang aman bagi keluarga mereka.
Di antara para para warga tersebut, salah satunya adalah Syandi Saputra (37), warga Desa Hapesong Baru. Sehari-hari, ia bekerja sebagai petani untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Ia mengenang kembali kondisi rumahnya yang terendam lumpur dan retak akibat banjir bandang setinggi 2,5 meter. Sejak peristiwa itu, ia dan keluarganya harus mengungsi di posko hunian sementara (Huntara), dan hingga kini masih tinggal di sana bersama istri dan ketiga anaknya.
Perasaan syukur dan bahagia tak terbendung saat ia menerima kunci rumah beserta perabotan. Syandi dan istrinya tak kuasa menahan air mata saat memasuki rumah barunya, hingga menunduk dan berdoa. “Ya Allah, akhirnya kami memiliki rumah lagi. Terima kasih Pemerintah dan Tzu Chi yang telah membantu kami,” ungkapnya haru.
Tak tinggal diam, para relawan turut membantu warga mengangkat dan menata perabotan satu per satu ke dalam rumah. Kebersamaan ini mencerminkan semangat gotong royong yang menghangatkan proses kepindahan warga ke hunian baru mereka.
Senada dengan Syandi, Suwarni (47) juga merasakan hal yang sama. Ia menceritakan bagaimana tanah longsor yang terjadi secara tiba-tiba dalam waktu singkat merobohkan rumahnya hingga rata dengan tanah. Ia bersama empat anaknya sempat terhimpit bangunan sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh sang suami, dimulai dari anak yang paling kecil.
“Kini kami sekeluarga merasa lebih tenang dan sangat berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi dan pemerintah yang telah memberikan hunian baru. Sebelumnya kami sempat menumpang di rumah kerabat, dan sekarang kami optimis dapat membangun kembali masa depan keluarga di lokasi yang lebih aman. Kami berharap kejadian ini tidak terulang lagi,” ungkap Suwarni.
Komitmen untuk Masa Depan
Di hari yang sama, dilakukan pula penandatanganan kontrak pembangunan hunian tetap (Huntap) tahap kedua sebanyak 227 unit di Desa Simatohir, Kabupaten Tapanuli Selatan. Saat ini, status lahan masih dalam proses percepatan pematangan agar pada awal Mei 2026 pembangunan dapat segera dimulai. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu, S.E., Ak., M.M., serta Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto.
Mujianto menyampaikan rasa syukurnya atas dukungan pemerintah, baik pusat maupun daerah, sehingga pembangunan Huntap tahap pertama dapat berjalan dengan baik. Bahkan, sebagian warga telah menempati hunian tersebut sebelum Hari Raya Idulfitri.
“Mohon jadikan rumah ini sebagai ‘rumah berkah’ dan rumah sejarah bagi anak cucu. Mohon dirawat dengan baik. Kami berharap pembangunan tahap kedua ini dapat berjalan lebih cepat dan lancar dengan belajar dari evaluasi tahap pertama,” ujar Mujianto.
Sukacita terpancar dari wajah warga dan relawan yang saling berinteraksi di rumah-rumah baru. Pendampingan yang dilakukan menjadi wujud kepedulian yang berkelanjutan. Rumah baru membawa harapan baru hingga doa pun mengiringi setiap langkah mereka ke depan.
Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan, juga menyambut baik progres tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada penyediaan hunian, tetapi juga pada pemulihan ekonomi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan, seperti budidaya ikan sistem bioflok dan pemanfaatan lahan tumpang sari untuk pertanian jagung.
“Kami sangat mengapresiasi progres ini. Berkat kolaborasi pemerintah dan Yayasan Buddha Tzu Chi, warga yang terdampak bencana banjir kini telah mendapatkan hunian tetap, bahkan sebagian sudah menempatinya sebelum Lebaran. Tentu saja ini menjadi kebahagiaan bagi kami. Ke depan, kami ingin warga tidak terus bergantung pada bantuan. Melalui kolaborasi dengan BUMD sebagai offtaker hasil panen, kami berharap ekonomi masyarakat pascabencana dapat bangkit kembali,” jelas Bupati Gus Irawan Pasaribu.
Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, mengapresiasi pembangunan hunian tetap bagi warganya. Ia menyampaikan bahwa sebagian warga telah menempati rumah baru di Huntap Hapesong Baru sebelum Lebaran, dan menyambut baik penandatanganan kontrak pembangunan tahap kedua di Desa Simatohir sebagai langkah lanjutan pemulihan masyarakat.
Pembangunan Huntap ini menjadi bukti nyata kuatnya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Pemerintah Pusat (Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian PKP), Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, serta BAZNAS. Sinergi ini menjadi langkah penting bagi masyarakat Tapanuli Selatan untuk bangkit, meninggalkan trauma masa lalu, dan menatap masa depan di hunian yang lebih aman dan layak.
Mari kita terus mendukung misi kemanusiaan ini, memberikan perhatian dan uluran tangan bagi mereka yang berjuang menata kembali kehidupan di tengah keterbatasan. Semoga hunian baru ini membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh keluarga penerima manfaat di Tapanuli Selatan.
Editor: Metta Wulandari