Jing Si Book's & Cafe Tzu Chi Hospital Hadirkan Stan Makanan untuk Pengunjung

Jurnalis : Fikhri Fathoni, Fotografer : Fikhri Fathoni

Pembukaan stan makanan Jing Si Book's & Cafe Tzu Chi Hospital, PIK, Jakarta Utara, dihadiri Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei beserta relawan Tzu Chi dengan penuh sukacita.

Pada Senin, 21 September 2026, atas arahan Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, Jing Si Book's & Cafe Tzu Chi Hospital, PIK, Jakarta Utara, mengadakan pembukaan stan makanan. Kehadiran stan ini menjadi bagian dari perluasan fasilitas Jing Si Book's & Cafe yang sebelumnya hanya menyediakan minuman bagi para pengunjung.

Pembukaan stan makanan ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei. Para relawan yang hadir turut bersukacita menyambut perluasan fasilitas tersebut. Stan ini menawarkan beragam makanan dan minuman, antara lain Ichigo Daifuku (mochi), Kue Meses Jadoel, Mango Sago, Inari Sushi, Bakcang, Cake Slices, Coffee Jelly, Java Tea, dan Lychee Tea.

“Hari ini ada pembukaan perluasan fasilitas Jing Si Book's & Cafe, di sini ada buka stan, ada jual berbagai macam cake, sushi (vegetarian), kemudian minuman dan lain-lainnya,” jelas salah satu relawan Tzu Chi, Minarni.

Menurut Minarni, perluasan ini dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pasien, keluarga pasien, maupun relawan yang beraktivitas di Tzu Chi Hospital. Kehadiran stan makanan diharapkan dapat memberikan pilihan tempat beristirahat sekaligus menikmati makanan dan minuman.

“Sebelumnya di Jing Si Book's & Cafe tidak boleh menjual makanan, hanya boleh minuman. Tapi karena ini di Tzu Chi Hospital banyak pasien atau keluarga pasien yang cari makan agak susah, mau ngopi juga bingung mau kemana, jadi kita kembangkan di sini. Jadi keluarga pasien atau relawan pemerhati juga bisa rehat sejenak di sini sambil menikmati makanan sehat dan enak,” ungkap Minarni.

Pembukaan stan makanan ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei yang diserahkan kepada Minarni serta relawan Tzu Chi lainnya.

Untuk menjaga kenyamanan dan ketertiban Jing Si Book's & Cafe, relawan dan staf pengelola menyediakan meja dan kursi bagi pengunjung yang ingin menikmati makanan di sekitar area stan yang berada persis di depan Jing Si Book's & Cafe. Pengunjung tidak diperkenankan membawa dan menyantap makanan di dalam area Jing Si Book's & Cafe.

Selain menjadi tempat untuk menikmati minuman, Jing Si Book & Cafe juga dikenal memiliki suasana yang tenang. Hal ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin beristirahat, membaca buku, ataupun sejenak menenangkan pikiran.

“Banyak masyarakat luas ya bilang Jing SI Book's & Cafe agak beda dengan cafe yang lain karena sangat tenang di dalamnya. Jadi orang duduk sambil merenung, sambil baca buku sangat senang, katanya seperti perpustakaan,” tambahnya.

Minarni berharap, dengan adanya perluasan fasilitas ini semakin banyak masyarakat yang berkunjung dan mengenal lebih dekat Tzu Chi serta Jing Si Book & Cafe.

“Tentu harapan saya semakin banyak orang luar yang datang, lebih mengenal Tzu Chi, lebih mengenal Jing SI Book's & Cafe,” harapnya.

Stan penjualan berbagai makanan ini berada persis di depan Jing Si Book's & Cafe Tzu Chi Hospital, PIK, Jakarta Utara. Di sana disediakan meja dan kursi untuk pengunjung menyantap makanan.

Stan ini menawarkan beragam makanan dan minuman, antara lain Ichigo Daifuku (mochi), Kue Meses Jadoel, Mango Sago, Inari Sushi, Bakcang, Cake Slices, Coffee Jelly, Java Tea, dan Lychee Tea.

Menjadi Ruang untuk Menjalin Jodoh Baik
Kehadiran stan makanan juga disambut baik oleh Lauw Diana Yanti atau yang akrab disapa Pong Shijie. Ia mengaku sudah terbiasa berkunjung ke Jing Si Book's & Cafe untuk menikmati kopi dan bersantai.

“Saya biasa ke sini duduk-duduk minum kopi. Nah, kebetulan ini lagi buka jadi mau coba kue-kuenya,” katanya.

Selain sebagai tempat beristirahat, area ini juga menjadi ruang bagi para relawan untuk berkumpul dan berbincang setelah menyelesaikan aktivitas kerelawanan mereka.

“Kebetulan kalo kita kadang-kadang ajak para relawan yang di kantin, kalau sudah selesai tugas di kantin di sini duduk-duduk santai,” tambahnya.

Pada hari pembukaan tersebut, Lauw Diana Yanti atau yang akrab disapa Pong Shijie turut membeli dan mencoba berbagai produk yang disediakan di stan makanan.

Pada hari pembukaan tersebut, Pong Shijie turut membeli dan mencoba berbagai produk yang disediakan di stan makanan. Terlebih, sebagian makanan yang tersedia juga dibuat oleh para relawan Tzu Chi.

“Tadi beli teh sama beli kue, kebetulan kan yang bikin juga relawan jadi mau cobain,” jelasnya.

Pong Shijie juga berharap keberadaan stan makanan ini dapat semakin meramaikan Jing Si Book's & Cafe. Lebih dari sekadar tempat menikmati makanan dan minuman, ia berharap tempat ini juga dapat menjadi ruang untuk menjalin hubungan baik dengan masyarakat dan mengenalkan semangat kerelawanan Tzu Chi.

“Yang pasti semoga ramai, banyak yang duduk-duduk di sini, selain beli juga bisa menjalin jodoh baik sama orang lain. Ke rumah sakit duduk di sini siapa tahu juga bisa bersumbangsih di Tzu Chi,” harapnya.

Editor: Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Satu Dasawarsa Jing Si Books & Cafe Pluit

Satu Dasawarsa Jing Si Books & Cafe Pluit

02 September 2014 Menorehkan sejarah perjalanan cinta kasih Tzu Chi di Indonesia, tidak akan luput dari peran pentingnya. Sebuah bangunan berarsitektur modern di Jalan Pluit Permai Raya 20, Jakarta menjadi saksi sejarah.
Soft Opening Jing Si Books and Cafe Blok M

Soft Opening Jing Si Books and Cafe Blok M

27 Februari 2012 Setelah melalui penantian yang cukup panjang, akhirnya Jumat 24 Februari 2012, relawan Tzu Chi membuka gerai Jing Si Book & Café di pusat perbelanjaan Blok M Plaza, Jakarta Selatan.
Internasional : Jing Si Books & Café Pertama

Internasional : Jing Si Books & Café Pertama

23 Juli 2010
Para staf Jing Si Books & café ini sebelumnya telah menjalani tiga bulan pelatihan di Taiwan sehingga mereka dapat memberikan pelayanan yang berkualitas dan menunjukkan semangat budaya humanis.
Bila sewaktu menyumbangkan tenaga kita memperoleh kegembiraan, inilah yang disebut "rela memberi dengan sukacita".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -