Kacamata untuk Warga Dayak Kenyah
Jurnalis : Rudi Suryana (Tzu Chi Perwakilan Sinar Mas), Fotografer : Rudi Suryana (Tzu Chi Perwakilan Sinar Mas)|
|
| ||
Selama 4 hari kegiatan yang terhitung sejak 20 hingga 23 November 2012, sebanyak 63 relawan Tzu Chi Perwakilan Sinar Mas telah melayani 1.318 warga masyarakat yang membutuhkan bantuan kacamata di kecamatan Kong Beng, Kecamatan Wahau dan Kecamatan Telen kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur. Untuk mencapai kabupaten Kutai Timur, dari Jakarta menggunakan pesawat ke Berau dengan transit di Balikpapan terlebih dahulu. Dari Berau harus menempuh 6 jam perjalanan darat lagi dengan melewati hutan Kalimantan Timur yang kiri kanannya jurang. Selama perjalanan panjang tersebut tidak hentinya saya mengagumi keindahan bumi Kalimantan. Sesampainya di Kecamatan Kong Beng di mana menjadi titik temu para relawan yang tersebar di 3 kecamatan lainnya, langsung diadakan training relawan sebagai dasar untuk menyamakan visi misi ketika berkegiatan. Pada training ini pula pembagian kelompok kerja dilakukan karena baksos harus dijalankan secara paralel mengingat lokasi yang berjauhan dan banyaknya jumlah peserta yang akan diperiksa. Keunikan dari bakti sosial pemeriksaan mata dan pembagian kacamata kali ini adalah para peserta yang merupakan suku Dayak Kenyah. Di beberapa tempat, ditemui orang tua yang masih memiliki daun telinga panjang menjuntai khas suku Dayak. Kegiatan pemeriksaan ini mendapatkan antusiasme dari masyarakat karena selama ini mereka tidak terpikir untuk memakai dan mendapatkan kacamata sebagai alat bantu untuk melihat. Lain halnya dengan di tempat lain biasa mengadakan baksos kacamata untuk membantu orang agar dapat belajar atau membaca lagi, di sini para suku Dayak Kenyah membutuhkan kacamata untuk membuat kerajinan manik-manik, mengukir kayu serta membuat atau atau memperbaiki jaring ikan.
Keterangan :
Pelaksanaan kegiatan baksos yang biasanya menggunakan ruangan kelas sekolah, kali ini dilakukan di balai desa atau rumah adat yang disebut juga ‘lamin adat’. Lamin adat berfungsi sebagai tempat berembug warga dalam menyelesaikan masalah di dalam desa. Selain itu, juga merupakan tempat untuk melangsungkan upacara adat besar setiap tahunnya. Lamin adat ini terbuat dari kayu hitam atau kayu ulin yang merupakan pohon asal hutan Kalimantan. Interior dalamnya penuh dengan ukiran dan kerajinan tangan suku Dayak Kenyah. Walau berada jauh di pedalaman Kalimantan, cinta kasih Tzu Chi tetap bergulir. Semangat para relawan pun sebenarnya ditularkan oleh Kumarasamy Gobal Shixiong yang baru saja dilantik menjadi relawan biru putih pada 4 November 2012 lalu. Ia mengatakan, “Kita datang dengan niat untuk membantu masyarakat semata karena didasari oleh semangat kekeluargaan. Melalui kegiatan ini kita semua menjalin tali persaudaraan, tidak ada perbedaan di antara kita karena sesungguhnya di bawah langit di atas bumi semua sama.” Pernyataan terakhir yang ia kutip dari buku Ilmu Ekonomi Kehidupan. Pada akhir kegiatan didapat jumlah peserta yang mengikuti kegiatan baksos ini sebanyak 1.392 orang yang terdiri atas masyarakat umum di delapan belas desa dan tiga kecamatan. Dari jumlah tersebut yang mendapatkan kacamata sebanyak 1.318 orang dan terdapat dua puluh delapan pasien rujukan. Para pasien rujukan ini nantinya akan ditindaklanjuti dengan prosedur misi amal. Berkali- kali mengadakan kegiatan baksos pemeriksaan mata dan pembagian kacamata gratis ini kadang membuat kita tidak lagi mendalami makna interaksi dengan para penerima bantuan. Sejatinya dalam setiap langkah kehidupan harus dapat berguna untuk sekeliling kita dan memaknai kesuksesan tidak hanya sekedar tercapainya tujuan dan materi yang diinginkan, semakin tinggi jam terbang kegiatan seharusnya menjadikan kita pribadi yang penuh welas asih dan kebijaksanaan. Seperti yang Master Cheng Yen katakan, bahwa segala sesuatu di jagad raya yang mahaluas ini merupakan pelajaran bagi kita. Segala sesuatu adalah bagian dari Dharma dan pengembangan batin. Sukses adalah kemauan untuk bepikir, mengembangkan diri dan bekerja sama dengan sungguh. | |||
Artikel Terkait
Menentramkan Hati Warga Korban Kebakaran di Kelurahan Krukut
28 Maret 2019
Jangan Menyerah
23 November 2010 Minggu pagi tanggal 10 Oktober 2010, cuaca nampak kurang bersahabat. Namun mendung di langit tidak menyurutkan langkah para relawan Tzu Chi untuk melakukan kebajikan di Panti Asuhan Putra Utama Cengkareng. Anak-anak Tzu Shao (relawan cilik) yang juga ikut dalam kegiatan ini penuh semangat menuju ke panti tersebut.Pelatihan Calon Anggota TIMA Indonesia
15 Agustus 2014Di Tzu Chi mereka semua terjun langsung kemasyarakat untuk memberikan pengobatan bagi warga yang membutuhkan dalam baksos kesehatan Tzu Chi. Sama seperti relawan pada umumnya, TIMA juga melakukan pekerjaan ini secara sukarela dan tanpa dibayar.








Sitemap