Kamp 4 in 1 2026: Menjaga Tekad, Melatih Diri, dan Terus Melangkah
Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Fikhri Fathoni, Joelianto (He Qi Jakarta Utara 1), Charlie (He Qi Jakarta Utara 2)
Relawan Tzu Chi dari berbagai wilayah di Indonesia hadir di Aula Jing Si lantai 4 untuk mengikuti Kamp 4in1 yang berlangsung pada 26–27 September 2026.
Dari berbagai penjuru daerah, para relawan Tzu Chi datang ke Aula Jing Si, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara untuk mengikuti Kamp 4in1, akhir pekan ini, 26–27 September 2026. Mereka membawa semangat dari wilayah masing-masing, lalu duduk berdampingan dalam satu ruang untuk menyimak dan belajar bersama.
Aula yang luas itu dipenuhi 528 peserta dan 318 panitia. Suasana terasa khidmat saat para Shifu menyampaikan materi, namun sesekali tawa dan sapaan terdengar di antara peserta. Di tangan mereka, catatan-catatan kecil terus bertambah, menyimpan hal-hal yang nantinya dibawa pulang dan dipraktikkan di daerah masing-masing.
Tema Training 4in1 tahun ini adalah “Berawal Dari Satu Niat Tulus, Melangkah Bersama Selama 60 Tahun.” Tema tersebut mempertegas bahwa 60 tahun perjalanan Tzu Chi, berawal dari sebuah tekad yang tulus dari Master Cheng Yen, dari sana terhitung semakin banyak hati yang memiliki tekad yang sama dan melangkah di Jalan Bodhisatwa. Melalui pelatihan ini, relawan diajak untuk kembali mengingat tekad awal bergabung di Tzu Chi, memperteguh niat, dan meneruskan langkah bersama dalam Jalan Bodhisatwa.

De Ju Shifu, De Fa Shifu, De Kan Shifu, dan De Wei Shifu (dari kiri ke kanan) hadir dalam Kamp 4in1 di Aula Jing Si. Kehadiran keempat Shifu dari Griya Jing Si Taiwan menjadi bagian penting dalam rangkaian pembelajaran selama dua hari.
Selama dua hari kamp, empat Shifu dari Griya Jing Si Taiwan hadir, yaitu De Ju Shifu, De Kan Shifu, De Fa Shifu, dan De Wei Shifu. Ada pula 4 relawan senior Taiwan yang turut berbagi ilmu. Dari materi yang mereka bawakan, Shifu mengajak relawan kembali melihat satu hal sederhana yang tidak mudah dijalankan, yakni bagaimana menjaga niat, melatih diri, dan terus belajar dari setiap orang serta keadaan yang ditemui.
Kembali Mengingat Mengapa Kita Melangkah
Mengawali kamp, De Ju Shifu mengajak para relawan kembali melihat makna dari pertemuan tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan sebagian harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai ke Aula Jing Si. Namun, jarak dan kesibukan menemukan titik temu dalam satu niat: belajar bersama.
De Ju Shifu juga menyampaikan perhatian dan doa Master Cheng Yen bagi para relawan yang mengikuti pelatihan. Setelah 60 tahun perjalanan Tzu Chi, semangat yang dibangun sejak awal perlu terus dijaga. Terlebih, berbagai bencana dan penderitaan yang terjadi di dunia menjadi pengingat akan ketidakkekalan kehidupan.

Dengan penuh sukacita, para relawan dari berbagai komunitas memperkenalkan diri satu per satu. Momen ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal dan mencairkan suasana sebelum mengikuti rangkaian pembelajaran.
Karena itu, berkumpul dalam kamp bukan sekadar mengisi waktu dengan materi. Ini menjadi kesempatan untuk kembali menggenggam tekad yang mungkin dalam perjalanan sehari-hari sempat tertutup oleh kesibukan.
“Mudah untuk bertekad, sulit untuk mempertahankannya,” ucap De Ju Shifu.
Kalimat ini menjadi pengingat bahwa memiliki niat baik hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana niat tersebut tetap hidup ketika seseorang kembali kepada rutinitas, pekerjaan, keluarga, serta berbagai persoalan dalam keseharian.
De Ju Shifu pun mengajak para relawan memanfaatkan dua hari tersebut untuk memperkuat kembali tekad dan membawa manfaatnya ke tempat masing-masing.
Melatih Diri di Tengah Kehidupan
Jika tekad adalah awal perjalanan, bagaimana menjaganya agar tetap hidup?
De Kan Shifu mengajak para relawan melihat kembali makna praktik jalan Bodhisatwa. Enam Paramita, yakni dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan, bukan sekadar pengetahuan yang dipelajari, melainkan latihan yang perlu diwujudkan dalam kehidupan. Jalan tersebut tidak ditempuh dengan menjauh dari kehidupan tapi justru sebaliknya, seseorang perlu terjun ke tengah masyarakat melalui interaksi dengan berbagai manusia dan beragam penderitaan. Dari terjun langsung, seseorang belajar melihat sekaligus membersihkan kegelapan batinnya serta membangkitkan welas asih.
Di tengah masyarakat pula latihan itu diuji. Ketika bertemu perlakuan yang tidak sesuai harapan, perbedaan pendapat, atau persoalan dalam hubungan antarmanusia, semuanya dapat menjadi bagian dari proses menempa diri.
Dalam praktik kesabaran, misalnya, De Kan Shifu mengingatkan empat hal yang dapat menjadi pegangan, pertama berpuas hati, kemudian bersyukur, berpengertian, dan berlapang dada. Kesabaran bukan sekadar menahan diri, tetapi kemampuan untuk tetap memberikan respons yang baik ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.
Begitu pula dengan keteguhan hati. Dalam Tzu Chi, latihan batin tidak berhenti ketika seseorang duduk bermeditasi. Justru ketika terjun ke masyarakat, seseorang ditempa untuk menjaga pikiran tetap tenang di tengah berbagai pergolakan. Maka, orang-orang yang hadir dalam kehidupan pun dapat menjadi guru.

De Kan Shifu menyampaikan pembelajaran tentang latihan diri melalui kehidupan sehari-hari. Ia mengajak para relawan memahami bahwa setiap pertemuan, perbedaan, dan keadaan yang dihadapi dapat menjadi kesempatan untuk melatih kesabaran dan memperkuat batin.
“Setiap orang yang berjodoh dengan kita, semuanya yang kita temui adalah satu demi satu Buddha,” ujar De Kan Shifu.
Dengan cara pandang tersebut, arti “ladang pelatihan” menjadi semakin luas. Ia bukan hanya berada di Aula Jing Si atau dalam kegiatan Tzu Chi, melainkan di mana pun seseorang berinteraksi dengan orang lain. “Kalau kita bisa menjaga hatinya, di manapun itu, itulah ladang pelatihan kita,” tutur De Kan Shifu.
Namun, enam Paramita saja belum cukup. De Kan Shifu mengibaratkannya seperti sebuah perahu yang membutuhkan dayung untuk terus bergerak. Dayung ini adalah empat latihan, yakni latihan tanpa sisa, latihan tanpa jeda, latihan penghormatan, dan latihan jangka panjang yang menjadi pengingat bahwa jalan Bodhisatwa membutuhkan ketekunan.
Latihan tanpa sisa berarti mengerahkan kemampuan untuk mengembangkan kebajikan dan mengikis kegelapan batin. latihan tanpa jeda berarti terus melangkah dengan perhatian benar. Latihan penghormatan berarti menghormati semua makhluk, termasuk mereka yang mungkin memberikan pengalaman tidak menyenangkan. Sedangkan latihan jangka panjang berarti menjaga tekad bukan hanya sesaat, tetapi terus-menerus. Karena itu, latihan tidak berhenti ketika materi selesai disampaikan. Apa yang didengar perlu direnungkan, lalu diwujudkan dalam kehidupan.
“Kita harus menghayatinya, kita harus mempraktikkannya secara nyata,” tegas De Kan Shifu.
De Kan Shifu kembali menekankan bahwa, melatih diri bukan hanya tentang seberapa banyak yang dipahami, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mempersiapkan diri untuk menjalankannya. Shifu kemudian menutup pembelajarannya dengan sebuah pengingat berbunyi, “Kebahagiaan hadir bagi mereka yang bersyukur. Kebijaksanaan tumbuh bagi mereka yang mau belajar. Kesempatan datang kepada mereka yang telah mempersiapkan diri. Dan misi dipercayakan kepada mereka yang bersedia memikul tanggung jawab.”
Empat kalimat tersebut menjadi penutup yang sederhana, sekaligus merangkum perjalanan seorang relawan yang dimulai dari belajar, mempersiapkan diri, dan pada akhirnya bersedia mengambil tanggung jawab untuk menjalankan misi.
Gesekan Menjadi Latihan
Gagasan tentang latihan diri tersebut kemudian menemukan bentuk yang sangat personal dalam pengalaman De Wei Shifu. Dalam wawancara, De Wei Shifu mengatakan bahwa ketika menjalankan Tzu Chi, seseorang perlu menggunakan ajaran Master Cheng Yen sebagai pegangan. Salah satu ajaran yang ia ingat menggambarkan bahwa jika tidak ada orang yang menarik kaki kita ke belakang, kita tidak akan memiliki kesempatan untuk melatih kekuatan kaki.
Perumpamaan tersebut menggambarkan bahwa dalam perjalanan menjalankan Tzu Chi, seseorang tidak selalu bertemu dengan keadaan yang sesuai dengan keinginannya. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, rasa kecewa, atau sikap orang lain yang tidak sesuai harapan justru dapat menjadi bagian dari latihan. Ketika ada orang yang seolah “menarik kaki kita ke belakang”, kita sebenarnya sedang diberi kesempatan untuk melatih kekuatan batin. Kita belajar menahan diri, mengubah cara pandang, dan tidak mudah terbawa emosi. Karena itu, gesekan tidak selalu harus dilihat sebagai hambatan. Situasi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melatih kesabaran dan mengubah masalah menjadi berkah.
Begitu pula dalam hubungan antarmanusia. Ketika terjadi gesekan atau perbedaan pendapat, saat itulah seseorang sebenarnya memperoleh kesempatan untuk melatih batinnya. “Kalau tidak ada orang yang menarik kaki kita ke belakang, kita tidak punya kesempatan untuk melatih kekuatan kaki kita,” tutur De Wei Shifu.

Para relawan menyimak materi yang disampaikan dengan saksama. Mereka juga mencatat berbagai hal penting selama pembelajaran sebagai bekal untuk dipahami dan diterapkan dalam kegiatan di daerah masing-masing.
Bagi De Wei Shifu, gesekan bukan sesuatu yang harus dicari, tetapi ketika ia hadir, cara seseorang memandangnya dapat menentukan apa yang kemudian tumbuh dari pengalaman tersebut. Karena itu, ia mengajak para relawan belajar mengubah cara pandang, mengubah kekhawatiran dan penderitaan menjadi berkah, lalu menumbuhkan rasa syukur.
Pengalaman hidup De Wei Shifu sendiri memperlihatkan bagaimana proses tersebut berlangsung. Ketika mulai menjalani kehidupan sebagai murid di Griya Jing Si, hal-hal sederhana justru menjadi guru. Saat memotong rumput, beberapa Shifu mengajarinya dengan cara yang berbeda. Ketika memasak nasi, ia sempat merasa telah melakukan yang terbaik karena memasak sesuai selera yang ia anggap benar. Namun, ternyata selera orang lain berbeda. Nasi yang menurutnya enak justru dianggap terlalu lembek oleh sebagian orang.
Dari pengalaman sederhana itu, ia belajar bahwa selera dan cara pandang masing-masing dapat menimbulkan kemelekatan. Dalam bekerja bersama banyak orang, keharmonisan antarmanusia menjadi sesuatu yang perlu dijaga. Perjalanan melatih diri memang tidak selalu terasa nyaman. Ada saatnya seseorang merasa lelah, tertekan, ragu, bahkan ingin mundur. Namun, justru dalam keadaan seperti itulah kekuatan tekad diuji.
Niat Harus Lebih Kuat dari Keraguan
Perjalanan De Wei Shifu untuk menjadi biksuni juga tidak berlangsung dalam satu garis lurus. Setelah mengenal Tzu Chi sejak muda, ia pernah memiliki keinginan untuk menjadi biksuni, tetapi dalam perjalanan hidupnya keinginan tersebut perlahan memudar. Ada pekerjaan, pinjaman pendidikan, kekhawatiran terhadap orang tua, hingga berbagai alasan yang membuat niat awalnya tertunda. Namun, ketika kembali mendengarkan Dharma secara rutin, ia menemukan kembali tekad tersebut. Ia juga belajar mengubah sudut pandang terhadap kekhawatiran mengenai orang tua. Daripada takut orang tua tidak mengizinkan, ia memilih mendoakan agar orang tuanya memiliki anak yang dapat menjadi biksuni. Perubahan cara pandang tersebut kemudian membuka jalan.
Pada akhirnya, ia menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dianggap sebagai penghalang sebenarnya bukanlah persoalan terbesar. “Yang masalah itu adalah niat saya sendiri.”
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan tekad bukan berarti tidak pernah goyah. Justru, ketika goyah, seseorang belajar kembali melihat apa yang sebenarnya ingin dijaga.

De Wei Shifu berbagi pengalaman mengenai perjalanan menjaga tekad dalam menjalankan kehidupan sebagai praktisi. Melalui kisah yang disampaikannya, ia mengajak para relawan melihat kembali bagaimana keraguan dan berbagai tantangan dapat menjadi bagian dari proses melatih diri.
Dari pengalaman pribadi tersebut, pembelajaran kemudian kembali pada proses yang dijalani setiap relawan. De Kan Shifu mengingatkan bahwa jalan Bodhisatwa membutuhkan latihan jangka panjang. Tekad tidak cukup hanya dibangkitkan sekali, sebaliknya, tekad perlu dipertahankan dari waktu ke waktu, bahkan sepanjang kehidupan.
Bagi murid, perjalanan itu juga berarti belajar membawa tekad guru menjadi bagian dari kehidupan sendiri. Master Cheng Yen berpesan agar murid menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri dan tekad guru sebagai tekad sendiri.
Karena itu, pembelajaran tidak cukup hanya berhenti saat mencatat, tapi menjadi relawan berarti ikut terlibat dan mengalami langsung berbagai keadaan di tengah masyarakat. Di sanalah apa yang dipelajari mendapat kesempatan untuk dipraktikkan, ketika bertemu dengan orang lain, menghadapi perbedaan, maupun saat menjalankan berbagai kegiatan Tzu Chi.
Editor: Arimami Suryo A
Artikel Terkait
Kamp 4in1: Menyongsong 30 Tahun Tzu Chi Indonesia dengan Rasa Syukur
17 September 2023Di Kamp 4in1 yang digelar pada 16-17 September 2023, topik yang diangkat adalah Mengenang Sejarah Perjalanan 30 Tahun Tzu Chi Indonesia. Para relawan diajak untuk flashback perjuangan para relawan 20 hingga 30 tahun lalu dalam menjalankan misi-misi Tzu Chi.
Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026: Berproses dan Bersungguh Hati
12 April 2026Tzu Chi Indonesia mengadakan Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 Sesi 1 sekaligus melantik 208 relawan Abu Putih Logo (APL) dari He Xin 1 (Jabodetabek) dan Tzu Chi Sinar Mas.
Kamp 4in1 Tzu Chi Indonesia 2019
05 Agustus 2019Kamp Pelatihan 4 in 1 Tzu Chi Indonesia tahun 2019 kembali diadakan di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara. Kegiatan ini diikuti oleh relawan Tzu Chi dari berbagai wilayah di Indonesia dan diadakan selama dua hari (27-28 Juli 2019).







Sitemap