Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026: Insan Tzu Chi Tidak Takut Mengambil Tanggung Jawab

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Anand Yahya, Arimami Suryo A, Dok. Tzu Chi

Lie Lie Sioe dari Tzu Chi Tangerang berbagi kisah tentang 17 tahun perjalanannya di Tzu Chi yang penuh dengan lika liku.

Kamp Pelatihan Relawan Komite dan Abu Putih Logo tahun 2026 sesi 2 dimana diperuntukkan bagi relawan Tzu Chi luar kota, masih berlangsung pada Minggu, 19 April 2026. Mengusung tema “Setiap orang memiliki potensi; ketika bersatu hati, potensi besar itu dapat terwujud,” kegiatan ini mengajak para relawan untuk menyadari bahwa potensi tidak hadir begitu saja, tetapi perlu dilatih, diasah, dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Pemahaman ini sejalan dengan ajaran Master Cheng Yen yang sebagian besar bersifat filosofis, namun Dharma tersebut perlu direnungkan agar benar-benar dipahami. Dari proses memahami inilah, seseorang mulai menyadari makna dari setiap tindakan kecil, hingga akhirnya potensi yang dimiliki dapat berkembang dan terwujud. Potensi itu juga baru akan benar-benar bermakna ketika diiringi dengan keberanian untuk melangkah, mengambil peran, dan bertanggung jawab dalam setiap ladang berkah yang ada.

Semangat ini yang kemudian dibawa ke dalam sesi talkshow bertema Tanggung Jawab. Dalam sesi ini, 360 peserta pelatihan yang hadir, diajak untuk melihat bagaimana nilai tanggung jawab tidak hanya dipahami, tetapi juga dijalankan dalam perjalanan nyata para relawan.

Hadir sebagai pembicara, Lie Lie Sioe dari Tzu Chi Tangerang, Jok Khian Bundarto dari Tzu Chi komunitas Jakarta Utara 3, serta Rosida Kusuma dari Tzu Chi komunitas Jakarta Utara 4. Melalui pengalaman masing-masing, ketiganya berbagi tentang keberanian untuk melangkah, menghadapi keraguan, hingga tetap bertahan dalam memikul tanggung jawab di tengah berbagai tantangan.

Hadir dalam Pendampingan Panjang
Perjalanan tentang tanggung jawab ini diawali dari kisah Lie Lie Sioe, yang telah melewati berbagai fase dalam perjalanannya sebagai relawan sejak tahun 2009.

Lie Lie Sioe memahami bahwa tanggung jawab bukanlah sesuatu yang datang ketika seseorang sudah siap, melainkan ketika seseorang bersedia untuk terus belajar dan bertumbuh. Baginya, Tzu Chi adalah ladang pembelajaran yang tidak pernah selesai, tempat setiap orang tanpa memandang usia atau pengalaman, tetap memiliki peran untuk dijalankan, baik kecil maupun besar.

Namun dari sana, ia melihat satu tantangan yang kerap muncul di komunitas, yaitu ketika relawan senior merasa sudah saatnya mundur dan menyerahkan segalanya kepada generasi muda. Bagi Lie Lie, tanggung jawab tidak bisa dilepaskan begitu saja. Justru di situlah peran penting seorang senior dibutuhkan, yakni untuk mendampingi, memberi arah, dan menjadi teladan bagi para relawan junior.

“Kita tidak bisa menyerahkan semuanya kepada yang muda. Kita tetap harus mendampingi dan memberi contoh yang baik,” ungkapnya. Baginya, sekecil apa pun peran yang diambil, tetap memiliki arti besar dalam menjaga kesinambungan misi kemanusiaan.

Berbagai tanggung jawab telah membuatnya belajar banyak, hingga kini ia terus memberikan pendampingan kepada para relawan baru, termasuk pendampingan ke Pesantren Nurul Iman di Parung, bogor.

Perjalanan Lie Lie sendiri bukan tanpa keraguan. Relawan Tzu Chi Tangerang ini pernah berada di titik terendah, merasa tidak mampu, bahkan ingin melepaskan semua tanggung jawab yang diembannya. Namun di tengah pergulatan itu, ia kembali mengingat niat awalnya melangkah.

“Bukan tergantung kita mampu atau tidak, tapi kita mau melakukannya atau tidak,” tuturnya dengan tegas. Keyakinan inilah yang membuatnya terus bertahan, melangkah, dan berkembang, meski penuh keterbatasan.

Ia juga menyadari bahwa tanggung jawab tidak pernah berdiri sendiri. Dalam setiap langkahnya, ada kekuatan tim yang saling menopang, serta proses menggali potensi relawan lain agar bersama-sama tumbuh dan melanjutkan estafet kebaikan.

Di sisi lain, Lie Lie tidak menutup mata terhadap tantangan mengatur waktu dan kesibukan bersama keluarga. Ia menyadari bahwa menjalankan tanggung jawab di luar rumah tidak boleh mengorbankan keharmonisan di dalam rumah. Dengan berpegang pesan Master Cheng Yen bahwa setiap relawan tetap harus mendahulukan keluarga, ia belajar menata waktu dan menjaga keseimbangan.

“Kita harus mendahulukan keluarga,” menjadi pegangan yang ia jalani dengan konsisten. Melalui ketulusan dan komunikasi, perlahan keluarganya pun memahami, bahkan memberikan dukungan penuh atas jalan yang ia pilih.

Lebih dari itu, setelah 17 tahun berjalan di jalan ini, Lie Lie menemukan satu kunci sederhana untuk bisa bertahan, yakni kepedulian. Baginya, tanggung jawab lahir dari hati yang peduli.

“Kalau kita peduli, kita akan bergerak dengan sendirinya,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab bukanlah milik satu orang atau satu peran saja, melainkan milik bersama.

“Yang ditakutkan bukan kita tidak mampu, tapi kalau kita tidak mau melakukannya,” tambahnya.

Dari perjalanan ini, Lie Lie Sioe menunjukkan bahwa tanggung jawab bukanlah beban yang harus dihindari, melainkan jalan untuk bertumbuh, sebuah proses panjang yang berakar dari kepedulian, diperkuat oleh keberanian untuk tetap maju, dan dijalani dengan ketulusan untuk berjalan bersama orang lain.

Berani Mencoba, Berani Bertanggung Jawab
Melanjutkan kisah tentang tanggung jawab, perjalanan Jok Khian menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Jika sebelumnya kita melihat bagaimana pengalaman panjang Lie Lie membentuk keteguhan, maka pada Jok Khian, kita justru melihat keberanian untuk melangkah meski belum memiliki banyak pengalaman.

Jok Khian Bundarto dari Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 3 berani mengemban tanggung jawab dengan bekal ingin belajar dan mengetahui potensi dalam dirinya.

Saat pertama kali menerima tanggung jawab sebagai Ketua He Qi Jakarta Utara 3, Jok Khian menyadari bahwa dirinya belum pernah melewati tahapan-tahapan kepemimpinan sebelumnya. Tidak pernah menjadi Ketua Xie Li, tidak pernah menjadi Ketua Hu Ai, bahkan belum pernah menjabat sebagai wakil ini wakil itu. Semua terasa begitu baru dan asing.

“Di satu sisi saya merasa dibutuhkan, tapi di sisi lain saya tidak tahu harus mulai dari mana,” kenangnya. Keraguan itu nyata, bahkan sempat membuatnya merasa gentar. Namun satu kalimat sederhana yang ia terima justru menjadi titik balik.

“Saya lihat kamu orangnya mau belajar,” pesan dari Like Hermansyah (relawan senior Tzu Chi) itu ia pegang erat. Dari situlah ia menyadari bahwa tanggung jawab bukan tentang seberapa siap seseorang, melainkan tentang kesediaan untuk belajar dan bertumbuh di dalamnya.

“Saya akan coba,” menjadi jawaban sederhana yang akhirnya membuka langkahnya.

Dalam perjalanannya, Jok Khian juga belajar mengubah cara pandang terhadap tanggung jawab. Ia menyadari bahwa banyak orang menganggap tanggung jawab sebagai beban yang harus dipikul sendirian. Namun kenyataannya, tidak demikian.

“Kerja Tzu Chi itu bukan kerja sendiri, ini adalah kerja tim,” tegasnya. Dengan membuka diri untuk belajar, baik dari senior, rekan relawan, bahkan dari mereka yang lebih muda atau memiliki pengalaman lebih, ia menemukan bahwa kekuatan sejati justru terletak pada kebersamaan.

Ia pun mempraktikkan hal itu dalam berbagai kesempatan. Saat memimpin kegiatan besar seperti pembagian ribuan paket cinta kasih, ia tidak berjalan sendiri. Ia belajar, bertanya, dan melibatkan banyak pihak. Dari situlah ia semakin yakin bahwa tanggung jawab akan terasa ringan ketika dijalani bersama.

Dalam memimpin tim relawan yang memiliki kesibukan masing-masing, Jok Khian juga menanamkan satu nilai penting, dimana menjadikan kebersamaan tanpa sekat sehingga tidak akan ada lagi batasan “ini tugas saya” atau “itu bukan bagian saya”.

“Kerja Tzu Chi itu adalah kerja gotong royong, tidak ada kotak-kotakan,” ujarnya. Ia mengajak semua relawan untuk tidak terpaku pada peran masing-masing, melainkan saling melengkapi di mana pun dibutuhkan. Karena pada dasarnya, setiap orang datang dengan niat yang sama, yakni untuk memberi dan berkontribusi.

“Saya percaya kita semua di sini adalah Bodhisatwa yang siap untuk bersumbangsih,” tambahnya.

Dalam berbagai kegiatan, Jok Khian Bundarto terus belajar hal baru, baik dari relawan senior maupun junior, yang semakin menguatkan keyakinannya dalam menjalankan tanggung jawab.

Bagi Jok Khian, perjalanan ini juga menjadi ruang refleksi yang terus berjalan. Ia tidak melihat tanggung jawab sebagai pencapaian, melainkan sebagai proses yang tidak pernah cukup.

“Saya selalu bertanya, sejauh mana saya bisa bersumbangsih,” ungkapnya. Pertanyaan itulah yang mendorongnya untuk terus melangkah, terus mencoba, dan terus menerima kesempatan yang datang.

Ia percaya bahwa setiap tanggung jawab adalah ladang berkah, menjadi kesempatan untuk menggali potensi diri yang mungkin selama ini belum tersentuh.

“Kalau mendapat kesempatan ladang berkah yang lebih besar, ambil,” pesannya sederhana namun dalam.

Dari perjalanan Jok Khian, kita belajar bahwa tanggung jawab tidak selalu datang kepada mereka yang mampu, tetapi kepada mereka yang bersedia berkata “ya” untuk belajar. Yang mempunyai keberanian untuk mencoba, kerendahan hati untuk belajar, dan kesediaan untuk berjalan bersama, adalah kunci untuk menumbuhkan tanggung jawab menjadi kekuatan yang membawa kebaikan bagi banyak orang.

Rasa Takut, Berubah Menjadi Sumber Keberanian
Melengkapi kisah tentang tanggung jawab, perjalanan Rosida Kusuma atau yang akrab disapa Alan menghadirkan cerita yang sangat dekat dengan banyak orang. Alan adalah ibu-ibu biasa, pasti awalnya ia merasa ragu, merasa tidak mampu, bahkan takut untuk melangkah.

Alan pernah berada di fase itu. Ia mengaku tidak percaya diri, takut berbicara, bahkan untuk menatap lawan bicara pun terasa sulit. Namun, perjalanan di Tzu Chi perlahan mengubah semuanya, tentu tidak secara instan, melainkan setapak demi setapak.

“Awalnya takut, tidak percaya diri… tapi ketika kita berani mengambil tanggung jawab, lama-lama kita jadi bisa,” ungkapnya jujur.

Rosida Kusuma atau yang akrab disapa Alan berbagi bahwa ia dulu lebih banyak malu dan kurang percaya diri, merasa tak mampu, namun berkat berani menggenggam kesempatan di Tzu Chi dan menggarap ladang berkah, ia berhasil mengubah mindsetnya.

Bagi Alan, dengan adanya tanggung jawab, ia baru bisa mendapatkan ladang berkah untuk menempa diri. Ketika ia diberi kepercayaan, meski dengan perasaan belum siap, ia memilih untuk tetap mencoba. Dari situlah, keberanian perlahan tumbuh seiring langkah yang terus diambil. “Bukan karena kita bisa baru kita melakukan, tetapi karena kita melakukan, kita menjadi bisa.

Ia merasakan sendiri bagaimana tanggung jawab “memaksa” dirinya untuk berubah. Karena kalau ia lihat di lapangan, tantangan terbesar di komunitas sebenarnya bukan pada pekerjaan, tetapi pada komunikasi. Sering kali relawan tidak mau bertanya, semua dipendam sendiri. Lama-lama muncul rasa kesal, kecewa, bahkan menjauh. Makanya ia terus mencoba belajar dan berubah, belajar berbicara, bertanya, dan mendengarkan sehingga bisa membangun komunikasi, hingga belajar memahami kondisi setiap relawan di komunitasnya.

“Awalnya terasa susah ya… tapi karena harus dilakukan, akhirnya kita jalan juga,” tuturnya tertawa.

Dalam proses itu, Alan menyadari bahwa tanggung jawab bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi tentang membangun hubungan. Ia mengedepankan komunikasi yang hangat, perhatian yang tulus, dan kehadiran yang konsisten juga pendampingan satu sama lain agar relawan merasa didengar dan dihargai.

Hal ini juga terlihat ketika menghadapi konflik di komunitas. “Di setiap konflik pasti ada hati yang terluka. Kita bukan mau menang argumen, tapi menghangatkan hati satu sama lain,” katanya halus.

Dengan pendekatan yang penuh empati, mulai dari mendengar, merangkul, dan mendampingi, ia percaya bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik.

Dalam menumbuhkan semangat tanggung jawab pada relawan, Alan pun tidak banyak berbicara, tetapi memilih untuk memberi contoh.

“Saya percaya orang bisa belajar dari melihat tindakan kita,” ujarnya. Ia turun langsung dalam kegiatan, berbagi pengalaman, dan mengajak relawan untuk ikut terlibat. Dari situlah, perlahan tumbuh kesadaran bahwa tanggung jawab adalah tentang kesediaan untuk melayani.

Setiap kegiatan memberikan makna yang berbeda, semakin banyak kegiatan, semakin banyak pula pembelajaran yang Alan dapatkan sehingga mindset untuk melayani dan peduli itu akan tumbuh dari relawan.

Setelah 17 tahun berjalan di Tzu Chi, Alan menemukan bahwa kunci untuk bertahan tetap kembali pada niat awal.

“Kalau kita merasa tidak nyaman, kita harus ingat kembali, awal kita ke Tzu Chi mau apa,” refleksinya.

Dari perjalanan Alan, kita belajar bahwa tanggung jawab tidak selalu dimulai dari keberanian, tetapi justru sering lahir dari rasa takut. Namun ketika seseorang bersedia melangkah, meski pelan, rasa malu itu perlahan berubah menjadi keberanian dan dari situlah, seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang mampu memberi manfaat bagi banyak orang.

Potensi Tumbuh di Tengah Tanggung Jawab
Dari tiga kisah yang dibagikan, terlihat bahwa tanggung jawab bisa berbentuk apa saja. Seperti bagi Lie Lie Sioe, tanggung jawab adalah tentang tetap mendampingi dan tidak melepaskan. Bagi Jok Khian, tanggung jawab adalah keberanian untuk melangkah meski belum sepenuhnya siap. Sementara bagi Rosida Kusuma, tanggung jawab tumbuh perlahan dari rasa takut, hingga akhirnya menjadi keberanian untuk melayani.

Meski berangkat dari pengalaman yang berbeda, ketiganya menunjukkan satu hal yang sama, bahwa tanggung jawab bukanlah beban yang harus dihindari, melainkan proses yang membentuk, menguatkan, dan mengembangkan potensi dalam diri.

Nilai inilah yang terus dihidupkan dalam menjalankan ladang berkah di Tzu Chi. Melalui setiap langkah kecil yang dijalankan dengan tulus, para relawan tidak hanya memberi manfaat bagi sesama, tetapi juga menumbuhkan kebijaksanaan dan potensi yang tak terhingga dalam diri.

Pada akhirnya, sejalan dengan kata perenungan Master Cheng Yen, “Setiap orang memang memiliki potensi yang tidak terhingga.” Namun, potensi itu tidak akan berkembang dengan sendirinya. Potensi baru muncul apabila kita punya keberanian untuk melangkah, kesediaan untuk mengambil peran, dan ketulusan untuk memegang tanggung jawab.

Ketika semua itu berjalan bersama, dalam hati yang selaras, potensi besar itu pun bukan lagi sekadar harapan, melainkan sesuatu yang benar-benar dapat terwujud.

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel Terkait

Kamp 4 in 1: Garap Ladang Berkah dari Pulau Batam hingga Cikarang

Kamp 4 in 1: Garap Ladang Berkah dari Pulau Batam hingga Cikarang

30 September 2024

Relawan Tzu Chi Batam menceritakan kisah inspiratif mereka dalam menggarap berkah dan mengembangkan komunitas di Batam. Ada pula relawan He Qi Cikarang yang mengemban tanggung jawab di tim konsumsi dan pelayanan.

Kamp 4 in 1 2019: Bergerak Bersama, Membantu Sesama

Kamp 4 in 1 2019: Bergerak Bersama, Membantu Sesama

29 Juli 2019

Setiap hari, setiap detik kita harus berjuang agar kehidupan bernilai dan bermakna; membuat manusia “sepaham” tentang kebenaran; lebih banyak orang “sepakat” berbuat kebajikan; dan mengajak lebih banyak orang untuk “bertindak bersama”. Inilah pesan penting dari Kamp Pelatihan 4 in 1 Tzu Chi Indonesia tahun 2019 yang diadakan 27-28/7/19.

Kamp 4 in 1 2019: Mempraktikkan Sepaham, Sepakat, dan Sejalan

Kamp 4 in 1 2019: Mempraktikkan Sepaham, Sepakat, dan Sejalan

30 Juli 2019
Ada satu prinsip yang harus dipahami betul oleh relawan Tzu Chi supaya dapat bersumbangsih dan menjalankan kegiatan Tzu Chi dengan sukacita. Apa itu? Sepaham, sepakat, dan sejalan. Tiga kata ini juga yang menjadi tema sentral dari Kamp Pelatihan 4 in 1 2019 yang digelar Tzu Chi Indonesia selama dua hari 27-28 Juli 2018. 
Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -