Ketua He Xin Indonesia 2, Like Hermansyah menyematkan nametag relawan kepada para relawan Abu Putih Logo yang baru saja dilantik, salah satunya Amnah, relawan Tzu Chi Pekanbaru.
Seperti momen-momen pelantikan lainnya, suasana sukacita dan bahagia berbaur di akhir kegiatan Kamp Pelatihan Komite dan APL 2026 sesi 2. Pelantikan relawan Abu Putih Logo (APL) ini adalah momen penutup pada kegiatan pelatihan tersebut. Sebanyak 193 relawan berbaris rapi menuju panggung utama untuk penyematan nametag baru mereka, tentu dengan seragam relawan Abu Putih Logo yang juga baru.
Di antara relawan yang berdiri dengan penuh kebahagiaan itu, ada sosok Amnah, relawan Tzu Chi dari Pekanbaru, yang membawa cerita hangat. “Aduh bahagia sekali, sangat sukacita,” ucapnya usai dilantik. Momen ini sudah ia tunggu sebelumnya. Ia bahkan sempat takut batal ikut pelatihan sekaligus batal dilantik karena pekerjaannya. Tapi akhirnya momen ini tidak ia lewatkan.
Perjalanan Amnah mengenal Tzu Chi sebenarnya sudah sangat lama, sejak tahun 2009. Saat itu ia hanya ikut-ikutan sekali dua kali berkegiatan ketika sempat, jadi selalu menjadi relawan rompi. Keinginan untuk melangkah lebih jauh sebenarnya ada, namun selalu tertahan oleh kesibukan sebagai karyawan swasta di bagian pajak. Terbayang waktu terasa sempit, dan keberanian itu belum sepenuhnya tumbuh. Ia takut tidak bisa berkomitmen ketika nanti menerima tugas kantor dan tugas Tzu Chi bersamaan.
“Saya pengen sekali, tapi belum berani,” kira-kira begitulah pergulatan batinnya selama bertahun-tahun.
Hingga akhirnya, pandemi COVID-19 di tahun 2020 menjadi titik balik. Situasi yang penuh ketidakpastian membuatnya merenung, ‘gimana kalau sampai saya tiada, saya nggak sempat gabung Tzu Chi?’ itu terus yang ada di kepalanya. Apalagi setiap hari, berita kehilangan terus menghantui.
Setahun kemudian, ia memberanikan diri berbicara kepada suaminya. “Shixiong, saya takut kalau dalam kehidupan ini saya tidak punya kesempatan untuk benar-benar menjadi relawan Tzu Chi. Kita harus mulai, kita harus dilantik,” tuturnya menahan air mata.
Dukungan dari sang suami menjadi langkah awal. Sejak itu, Amnah dan suaminya Herdianto mulai aktif, turun langsung survei, membantu kegiatan, hingga belajar mencari donatur.
Namun perjalanan itu tidak selalu mudah. Di awal, mencari donatur terasa begitu sulit. Banyak yang ragu, bahkan merasa tidak layak untuk berdonasi karena jumlahnya kecil. Tapi justru disitulah Amnah menemukan makna yang lebih dalam.
Ia tidak hanya mendekati mereka yang berkecukupan, tetapi juga kalangan sederhana, seperti para penjual makanan di sekitaran kantornya.
“Saya ke penjual lontong, penjual nasi, dan teman-teman kantor. Office boy juga saya ajak untuk donasi,” katanya sumringah.
Amnah dan Herdianto berbagi kisah tentang keputusan mereka untuk tidak lagi menunda berbuat kebajikan, serta selalu mengambil setiap kesempatan baik dalam jalinan jodoh bersama Tzu Chi.
Awalnya semua menolak. “Ceh, saya kalau mau ngasih banyak, saya tak sanggup. Ngasih sikit, saya merasa malu, saya segan…,” cerita Amnah mengingat jawaban para calon donaturnya dulu.
Amnah dengan lembut menjawab, “Kalau kamu punya pikiran seperti itu, kapan kamu bisa beramal?”
Ia juga menjelaskan bahwa berdana tidak harus besar. Yang penting tidak memberatkan, tidak menjadi beban di hati. Ikhlas dan tulus. Bahkan dana kecil, jika dilakukan bersama-sama, bisa menjadi kekuatan besar untuk membantu banyak orang. Ditambah lagi, suasana pandemi membuat semua ketidakpastian hadir. “Entah kapan kita kembali (meninggal), kita tidak tahu. Kalau tidak cepat ambil kesempatan untuk amal, kapan lagi kita mau beramal?” lanjut Amnah.
Penjelasan tersebut membuka hati dan pikiran mereka. “Kalau sikit, berapa ceh bisa saya kasih?”
Amnah menjawab, “terserah. Selama uang yang kamu keluar, tidak membebani kamu.” Akhirnya para calon donatur itu bilang, “tapi segan, Ceh. Harus Ceceh pungut lagi, uangnya kecil.”
Tak habis akal, Amnah memberikan keleluasaan, “sekarang sudah gampang. Ada gopay, ada ovo, ada shopee, dan lain-lain. Saya punya semua. Silakan transfer saja.”
Akhirnya donaturnya kini ada 100 lebih dan ia sangat bergembira bisa menjalin jodoh baik dengan mereka semua.
Hari pelantikan itu pun menjadi momen yang sangat berarti. Bahkan untuk bisa hadir, ia harus berjuang meminta izin cuti dari atasannya. Awalnya tidak mendapat jawaban. Namun ia tidak menyerah. “Koh, saya bawa laptop. Saya tetap bekerja dari sana.”
Jawaban yang ditunggu akhirnya datang singkat, namun penuh arti: “Oke.” Amnah lega… ia akhirnya bisa semakin mantap berjalan di Jalan Bodhisatwa dan selangkah lagi menjadi murid Master Cheng Yen.
Johnny Chandrina menyematkan nametag relawan kepada Herdianto. Senyum sukacita terpancar di wajah mereka, menandai momen yang telah lama dinantikan.
Tak Melepaskan Kesempatan
Di balik langkah mantap Amnah menuju pelantikan relawan Abu Putih Logo, ada sosok yang berjalan berdampingan dengannya, yakni sang suami, Herdianto. Bagi keduanya, perjalanan di Tzu Chi adalah kisah bersama yang saling menguatkan.
Awal perkenalan Herdianto dengan Tzu Chi pun terbilang sederhana. Ia pertama kali ikut saat kegiatan vaksinasi COVID-19 di tahun 2020, diajak oleh seorang relawan senior di Pekanbaru. Saat itu, niatnya belum sepenuhnya kuat sekadar ikut, sekadar melihat.
Namun ada satu momen yang membekas. Saat pertama kali datang ke kantor Tzu Chi di Pekanbaru, ia membaca dua kalimat perenungan Master Cheng Yen: Dua hal yang tidak boleh ditunda dalam hidup adalah berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan.
Kalimat itu terasa begitu dalam. Di saat yang sama, ibunya sedang sakit.
Dari situ, tekadnya tumbuh. Ia memilih untuk berbakti terlebih dahulu, merawat sang ibu dengan sepenuh hati. Untuk sementara, ia pun berhenti dari aktivitas Tzu Chi, fokus mendampingi ibunya.
Amnah dan Herdianto yang semula berencana bergabung dengan Tzu Chi di masa tua, kini memilih untuk tidak menunda dan segera memanfaatkan waktu dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan.
“Sebelumnya saya memegang kulit mama saja rasanya agak takut ya. Sudah berbeda karena kondisinya sakit. Tapi ingat kata perenungan Master Cheng Yen, ingat kami dulu dirawat dan disayang-sayang, jadi saya singkirkan rasa takut itu,” tutur Herdianto. “Dari awal hanya bantu suapin, sampai akhirnya bantu mandikan mama, bersihkan mama, obati luka mama. Semua saya, adik-adik, dan anak-anak kami pun ikut serta lakukan hingga akhir hayat mama di Desember 2022.”
Tahun 2023, ia mulai kembali perlahan. Namun saat itu, ia masih merasa “sekadar ikut”. Bahkan dulu, sebelum benar-benar mengenal Tzu Chi, ia sempat berpikir bahwa menjadi relawan adalah sesuatu yang dilakukan nanti saja di masa tua. “Ya kita masuk Tzu Chi nanti saja ya, kita kerja huanbao (pilah barang daur ulang). Biar ada kegiatan waktu masa tua gitu,” tuturnya sederhana kepada Amnah.
Ternyata, hidup berkata lain.
Awal tahun 2024 menjadi titik yang tak terduga. Dalam sebuah gathering, namanya tiba-tiba muncul di layar. “Herdianto, korbid TTD.”
Ia bahkan belum tahu apa itu TTD (Tim Tanggap Darurat) tapi sudah terpasang sebagai koordinator bidangnya. Belum paham tugasnya. Tapi tanggung jawab sudah ada di depan mata. Belum sempat memahami, tantangan langsung datang. Seminggu kemudian, terjadi kebakaran. Ia harus terjun langsung. Disusul kegiatan bakti sosial, sementara ia sendiri masih belum mengenal banyak relawan.
Bagaimana caranya? Mulai dari mana? Semua terasa asing untuk ayah tiga anak itu.
Namun di tengah kebingungan itu, ada satu kalimat yang ia ingat selamanya. Seorang shijie berkata, “Kami tidak akan membiarkan Shixiong berjalan sendiri.”
Kalimat sederhana itu seolah melepaskan seluruh beban di pundaknya.
Sejak saat itu, Herdianto mulai memahami, di Tzu Chi, tidak ada yang berjalan sendirian. Semua adalah tim. Semua saling menopang.
Amnah dan Herdianto turut memperkenalkan Tzu Chi kepada anak-anak serta keluarga mereka, menumbuhkan jalinan jodoh baik dalam lingkup keluarga.
Tanggung jawab demi tanggung jawab pun terus datang. Dari menjadi PIC kegiatan, terlibat dalam bazar, hingga kini dipercaya sebagai Wakil PIC untuk kegiatan bakti sosial besar di Pekanbaru.
Yang membuatnya semakin terharu, dukungan itu tidak hanya datang dari Pekanbaru. Relawan dari berbagai daerah, Palembang, Batam, Jakarta saling terhubung, saling membantu, bahkan hingga melakukan koordinasi bersama.
Di situlah ia benar-benar merasakan arti “Satu Keluarga”.
Bagi Herdianto, perjalanan ini mengubah cara pandangnya. Dulu ia berpikir menunggu waktu yang tepat. Kini ia justru percaya kesempatan tidak perlu ditunggu, tapi harus diambil.
“Kalau ada tugas, ambil saja Shixiong Shijie. Nanti bagaimana, itu urusan nanti,” tutur Herdianto bahagia.
Hari pelantikan itu menjadi momen yang begitu bermakna bagi Amnah dan Herdianto. Bukan hanya karena sudah berganti seragam, tetapi karena akhirnya mereka berani melangkah berdua dan memupuk keyaninan dan kebijaksanaan bersama di Tzu Chi. Karena akhirnya bagi mereka, menjadi relawan tidak cuma untuk mengisi waktu di hari tua, tapi adalah menjalin jalinan jodoh, menggarap ladang berkah bersama-sama.
Jangan Tunda Lagi
Euforia pelantikan memang terasa begitu kuat, penuh sukacita dan semangat yang mengalir di hati setiap relawan. Namun, ketika langkah kaki kembali ke wilayah masing-masing dan kembali pada rutinitas sehari-hari, satu pertanyaan pun perlahan muncul: apakah semangat itu akan tetap terjaga, atau perlahan meredup seiring waktu?
Pertanyaan inilah yang seakan menjadi pengingat bagi seluruh relawan, bahwa perjalanan sesungguhnya justru dimulai setelah pelantikan usai.
Di momen tersebut, Wakil Ketua He Xin Indonesia 2, Johnny Chandrina turut menyampaikan pesan penuh makna kepada para relawan yang baru dilantik. Ia mengingatkan bahwa perjalanan menjadi relawan bukanlah hal yang mudah, karena membutuhkan waktu, tenaga, dan juga pengorbanan. Namun di balik itu, terdapat kesempatan besar untuk bertumbuh dan memaknai hidup.
Johnny Chandrina memberikan pesan penyemangat kepada seluruh peserta Kamp Pelatihan Komite dan APL 2026.
Johnny menekankan bahwa pelantikan bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah yang lebih dekat untuk menjadi murid Master Cheng Yen. “Master tidak memiliki hak memilih murid, tetapi kita yang memiliki hak untuk memilih guru,” ujarnya. Karena itu, ia mengajak seluruh relawan untuk menghargai jalinan jodoh yang telah terbangun dan terus menjaga semangat di Jalan Bodhisatwa.
Dalam perjalanannya, ia mengakui bahwa jalan ini tidak lepas dari tantangan, baik dari dalam diri maupun dalam interaksi antar manusia. Namun justru di situlah letak proses pembelajaran. “Kalau kita sudah memahami Dharma, kita akan melihat bahwa semua kembali pada jodoh dan karma. Rintangan itu bukan untuk dihindari, tetapi untuk menjadi batu asah agar kita semakin bijaksana,” ungkapnya.
Johnny juga mengingatkan tema besar pelatihan, bahwa setiap orang memiliki potensi yang tidak terbatas. Melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan, tanpa disadari kualitas diri akan terus meningkat. Namun potensi itu hanya akan bermakna jika disertai dengan kebersamaan dan keharmonisan. Ketika relawan mampu bersatu hati, potensi kecil pun dapat menjadi kekuatan besar.
Ia menutup pesannya dengan sebuah perenungan sederhana, “apakah kita yang membutuhkan Tzu Chi, atau Tzu Chi yang membutuhkan kita?” Dari sanalah, ia mengajak relawan untuk menumbuhkan rasa memiliki tanpa keinginan untuk menguasai, serta terus melangkah dengan tekad awal, tidak menunda kesempatan untuk berbuat baik.
Editor: Arimami Suryo A.