Anggun Novita Sari (tengah) berfoto bersama kedua orang tuanya usai menyelesaikan Program Profesi Kebidanan. Kelulusan ini menjadi buah dari perjuangan panjang keluarga yang bangkit dari kehidupan di bantaran Kali Angke hingga mengantarkan putri sulung mereka meraih cita-citanya.
Hujan pernah menjadi hal yang paling dikhawatirkan Farida Ariani. Bukan karena ia tidak menyukai suara rintiknya, melainkan karena setiap hujan deras turun, ia tahu keluarganya harus bersiap menghadapi kemungkinan yang paling ditakutkan dan yang terburuk, banjir.
Saat itu, awal tahun 2000-an, Farida dan suaminya tinggal di bantaran Kali Angke, Kapuk Muara, di rumah sang mertua. Kawasan itu merupakan pemukiman padat yang menjadi tempat mereka membangun harapan sebagai keluarga muda, tetapi juga menyimpan kekhawatiran yang terus berulang. Pasalnya air sungai yang meluap hampir selalu menjadi bagian dari kehidupan mereka. Setiap musim hujan datang, rasa was-was ikut hadir. Bukan hanya memikirkan rumah yang bisa kembali terendam kapan saja, tetapi juga berpikir akan keselamatan keluarga serta kesehatan anak-anaknya yang suatu hari nanti akan mereka besarkan di sana.
"Tinggal di bantaran kali itu ya pastinya enggak nyaman, tapi ya mau gimana lagi, kan belum ada banyak uang ya, belum bisa pindah juga dan masih numpang di rumah mertua,” kenang Farida. “Kalau musim hujan, wah… sudah pasti banjir. Kalau udah gitu kan banyak penyakit, ya batuk, pilek, gatal-gatal, diare. Saya bayanginnya ya bakal susah kalau besarin anak di sana,” lanjutnya.
Kekhawatiran itu mencapai puncaknya ketika banjir besar melanda Jakarta pada awal tahun 2002. Saat itu, anak pertama pasangan Farida dan Totok, Anggun Novita Sari baru saja lahir. Beruntung beberapa hari sebelumnya, Farida membawa bayinya pulang ke kampung halamannya di Lampung. Dari sanalah ia mendengar kabar bahwa Jakarta lumpuh diterjang banjir.
Ia masih mengingat perasaan campur aduk yang menyelimuti hatinya. Di satu sisi, ia bersyukur karena sedang berada jauh dari lokasi bencana sehingga bayi kecilnya selamat. Namun di sisi lain, rumah sang mertua dan seluruh isinya tentu tak bisa diselamatkan. Air banjir yang tingginya mencapai leher orang dewasa merendam hampir seluruh isi rumah. Barang-barang yang selama ini mereka kumpulkan perlahan hilang begitu saja.
Farida Ariani menunjukkan foto Anggun Novita Sari saat masih duduk di bangku SD Cinta Kasih Tzu Chi. Dari sekolah inilah Anggun mulai menumbuhkan disiplin, tata krama, dan semangat untuk menggapai cita-citanya.
Musibah itu ternyata belum menjadi akhir. Setelah kembali ke Jakarta, keluarga kecil ini kembali diuji ketika kebakaran datang menyusul berselang beberapa bulan setelah banjir. Dua bencana besar hadir hampir tanpa jeda, membuat mereka kehilangan tempat berpijak sekaligus rasa aman.
"Musibah kayak datang beruntun, bertubi-tubi. Kami bingung cari tempat tinggal, apalagi waktu itu ada bayi kan," tutur Farida.
Untuk sementara waktu, mereka berpindah-pindah dari satu kontrakan kecil ke kontrakan lainnya. Suami Farida terus melanjutkan pekerjaannya yang apa saja dilakukan, sementara Farida menyesuaikan diri dengan kehidupan baru sebagai seorang ibu. Hari-hari mereka dijalani dengan sederhana dengan satu harapan suatu hari nanti anak mereka dapat tumbuh di tempat yang lebih aman.
Harapan itu mulai menemukan jalannya ketika Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia membangun Rusun Cinta Kasih Tzu Chi sebagai bagian dari relokasi warga bantaran Kali Angke. Keluarga Farida menjadi salah satu yang mendapat kesempatan menempati hunian tersebut.
Semangat Membangun Cita-Cita di Lingkungan Baru
Bagi sebagian orang, perpindahan itu mungkin hanya berarti berganti alamat. Namun bagi Farida, hari pertama memasuki rusun adalah awal dari kehidupan yang sangat berbeda. Rasa bahagianya tak terbayang. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi dihantui rasa cemas setiap musim hujan datang. Rumah yang bersih, lingkungan yang tertata, serta sekolah yang berada begitu dekat membuatnya merasa anak-anaknya akhirnya memiliki tempat yang layak untuk bertumbuh.
"Rasanya senang dong... Rumahnya bersih, lingkungannya bagus, aman. Sangat membantu sekali," ujarnya tersenyum seakan masih ingat betul bagaimana pertama kali perasaan itu datang.
Anggun Novita Sari (kiri) bersama drg. Mellisa, Sp.KG sosok yang menginspirasinya untuk menekuni dunia kesehatan. Ketulusan drg. Mellisa dalam melayani pasien menjadi teladan yang menguatkan tekad Anggun untuk mengabdikan diri membantu sesama.
Perubahan terbesar lalu terasa setelah mereka mulai menjalani kehidupan di lingkungan baru itu. Sekolah berada tidak jauh dari rumah. Rumah sakit mudah dijangkau. Lingkungan lebih bersih dan aman. Tak ada lagi kekhawatiran anak-anak bermain di tengah genangan banjir atau tumbuh di lingkungan yang kurang sehat. Perlahan, rasa cemas yang selama bertahun-tahun menyelimuti keluarga itu berganti menjadi keyakinan bahwa masa depan bisa diusahakan.
Farida menyadari bahwa rumah yang layak saja tidak cukup. Anak-anak membutuhkan pendidikan agar suatu hari kelak memiliki kehidupan yang lebih baik daripada orang tuanya. Saat Anggun duduk di bangku kelas tiga SD, Farida mulai menyadari satu hal. Setiap pagi setelah mengantar putrinya ke sekolah, ia hanya duduk menunggu di depan gerbang. “Kalau saya cuma duduk gini mah nggak dapat apa-apa ya, sementara suami kasih uang gaji ya cuma untuk kebutuhan sehari-hari. Saya lalu kepikiran buat cari kerja buat nambah-nambah penghasilan dan nabung,” terang Farida sumringah.
Sejak saat itu ia menerima pekerjaan apa pun yang halal. Pernah bekerja di pabrik, kemudian memilih menjadi asisten rumah tangga agar masih dapat mengatur waktu bersama anak-anaknya. Beruntung, lingkungan sekitar Rusun Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng membuka banyak kesempatan. Perumahan-perumahan di sekitarnya membutuhkan tenaga untuk membantu pekerjaan rumah, mengasuh anak, hingga merawat lansia.
"Kalau kita rajin cari, peluang kerja di sini banyak sekali. Intinya ya jangan malas dan kita harus jujur," kata Farida yang sudah bekerja belasan tahun pada bos yang sama.
Berisik itu Tak Mengusik
Namun jalan yang dipilihnya tidak selalu dipahami orang lain. Ada saja tetangga yang memandang rendah pekerjaannya. Ada yang menilai anak-anaknya akan terlantar karena ibunya terlalu sibuk bekerja. Bahkan juga merendahkan dengan berkata, ‘alah... kerjaannya gitu mana mungkin bisa sekolahin anak tinggi-tinggi.’
Di sela kesibukannya mengurus rumah, Farida Ariani tak pernah berhenti bekerja demi masa depan anak-anaknya. Baginya, setiap tetes keringat menjadi bagian dari ikhtiar agar mereka dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin.
Ucapan-ucapan itu tentu menyakitkan. Farida mendengarnya dan merasakannya. Namun setiap kali pulang bekerja dan melihat anak-anaknya belajar, ia tahu bahwa ia tidak sedang mengejar penilaian orang lain. Ia sedang memperjuangkan masa depan keluarganya.
"Saya tidak mau dengar omongan orang. Saya mau maju," katanya mantap.
Bersama suaminya, Farida sepakat menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Mereka hidup sederhana agar anak-anak dapat terus sekolah. "Yang penting uang itu terkumpul untuk dukung anak-anak sekolah," imbuh Farida. Semangat itu pun diam-diam tumbuh dalam diri Anggun.
Teladan untuk Menebar Kebaikan
Sejak kecil Anggun bersekolah di TK dan SD Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Di sana ia menemukan guru-guru yang sabar membimbing, bukan menghukum. Dari sekolah itulah ia belajar disiplin, tata krama, dan rasa syukur yang masih ia pegang hingga hari ini.
Sebagai mahasiswa kebidanan, Anggun Novita Sari turut memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan panjangnya untuk mengabdikan diri di bidang kesehatan.
Di masa sekolah pula, Anggun bertemu sosok yang mengubah arah cita-citanya. Sosok itu adalah drg. Mellisa, Sp.KG yang juga merupakan tempat sang mama bekerja. Bagi Anggun kecil, drg. Mellisa bukan cuma seorang dokter gigi. Ia melihat seorang tenaga kesehatan yang bekerja dengan hati. Ketika berobat, ia tidak pernah diminta membayar. Ia juga melihat banyak pasien lain yang tetap dibantu meski sedang kesulitan ekonomi.
"Beliau bukan sekadar baik, tetapi selalu menolong orang," tutur Anggun. Keteladanan itu membuat Anggun bercita-cita menjadi dokter.
Orang tuanya mendukung penuh impian tersebut. Bahkan ketika Anggun belum berhasil diterima di fakultas kedokteran, mereka tetap berusaha mencari jalan agar putri sulungnya dapat terus melanjutkan pendidikan. Namun Anggun memilih berpikir lebih jauh. Ia sadar masih ada dua adiknya yang juga memiliki mimpi untuk berkuliah. Ia tidak ingin seluruh beban itu dipikul sendiri oleh kedua orang tuanya.
"Akhirnya saya berpikir, bagaimana caranya saya tetap bisa menolong banyak orang tanpa harus menjadi dokter," tutur Anggun.
Ia pun mencari berbagai pilihan hingga akhirnya diterima sebagai mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan pada tahun 2021. Meski sempat merasa profesi bidan bukanlah cita-cita awalnya, perlahan ia menemukan makna di balik profesi tersebut. Baginya, menjadi bidan juga merupakan panggilan untuk melayani kehidupan.
"Ternyata saya bisa menolong orang tanpa harus menjadi dokter," ujarnya.
Jatuh Bangun demi Pendidikan
Tapi kisahnya tak semulus itu. Awal langkah Anggun menuju bangku kuliah bertepatan dengan masa yang tidak mudah bagi keluarganya. Pandemi Covid-19 melanda Indonesia membuat aktivitas ekonomi terhenti dan ayah Anggun adalah salah satu karyawan yang kehilangan pekerjaannya akibat efisiensi. Penghasilan keluarga tentu menurun drastis, sementara biaya kuliah sudah menanti di depan mata.
Dengan penuh ketelitian, Anggun Novita Sari menangani bayi yang baru lahir dalam praktik profesi kebidanan.
Di tengah situasi itu, Farida memilih untuk tidak menyerah. Ia menerima lebih banyak pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Dari pagi hingga sore, ia berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyetrika, dan mengerjakan apa pun yang bisa menghasilkan tambahan penghasilan.
Baginya, pendidikan anak-anak adalah prioritas yang tidak boleh berhenti hanya karena keadaan sedang sulit. Dukungan dari sekitar pun datang dan sangat membantu proses pendidikan Anggun. "Kalau di rumah adanya garam, ya saya makan garam saja. Yang penting uang itu terkumpul untuk dukung anak-anak sekolah," ujarnya menahan tangis.
Perjuangan kedua orang tuanya menjadi penyemangat bagi Anggun selama menjalani perkuliahan. Hampir setiap hari ia berangkat dari Cengkareng menuju Kampus STIKes tempatnya berkuliah sejak pukul empat pagi demi mengikuti apel sebelum perkuliahan dimulai. Rasa lelah kerap datang, tetapi ia selalu mengingat pengorbanan ayah dan ibunya yang bekerja keras agar dirinya tetap bisa belajar.
Cita-Cita Tak Cuma Jadi Mimpi
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Kebidanan, Anggun melanjutkan Program Profesi Kebidanan pada tahun 2025. Baginya, setiap langkah yang berhasil dilalui bukanlah hasil perjuangannya seorang diri, melainkan buah dari doa, pengorbanan, dan kasih sayang kedua orang tuanya yang tak pernah berhenti mempercayai mimpinya. Ia tidak ingin pendidikan anak-anak berhenti hanya karena keadaan sedang sulit.
Hingga akhirnya, hari yang selama bertahun-tahun mereka nantikan benar-benar tiba.
Anggun Novita Sari mendampingi pemeriksaan ibu hamil saat menjalani praktik profesi kebidanan. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa menjadi bidan adalah jalan untuk menghadirkan pelayanan dan menebar kebaikan.
Farida berdiri menyaksikan putri sulungnya resmi menyandang profesi bidan. Di hadapannya kini berdiri Anggun, bukan lagi bayi yang dulu digendongnya, tapi seorang tenaga kesehatan yang siap mengabdikan diri untuk menolong sesama.
"Saya lihat dia lulus saja saya tidak percaya. Alhamdulillah... hasil kerja keras semuanya," ujar Farida dengan mata yang berbinar.
Bagi Farida, kelulusan itu bukan sekadar akhir dari perjalanan pendidikan Anggun. Momen itu menjadi jawaban atas setiap doa yang ia panjatkan agar anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik daripada dirinya.
Kebahagiaan yang sama dirasakan drg. Mellisa. Selama bertahun-tahun mengenal keluarga Farida, ia menyaksikan sendiri bagaimana pasangan suami istri itu bekerja dengan penuh ketulusan demi anak-anaknya. "Mama dan papanya kerja susah payah. Lihat Anggun sekarang ya sangat-sangat ikut happy. Bukan cuma Anggun, adik-adiknya juga sekolah dan kuliah dengan baik," ujarnya.
Tawa Anggun Novita Sari dan Farida Ariani pecah saat mengenang perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama. Di balik senyum itu tersimpan kisah perjuangan, doa, dan kasih sayang yang mengantarkan Anggun meraih cita-citanya.
Bagi Anggun sendiri, toga profesi yang dikenakannya bukanlah simbol keberhasilan pribadi. Ia melihatnya sebagai hasil dari doa yang tak pernah putus, peluh yang setiap hari menetes dari kedua orang tuanya, dan kasih yang tidak pernah meminta balasan.
"Orang tua adalah sumber kebahagiaan saya. Jadi keberhasilan ini bukan cuma untuk saya, tetapi juga untuk kedua orang tua saya," katanya.
Perjalanan keluarga ini membuktikan bahwa sebuah rumah bukan hanya tempat untuk berteduh. Rumah yang aman juga memberi ruang bagi harapan untuk tumbuh. Lingkungan yang mendukung membuka kesempatan. Sementara kasih orang tua menjadi akar yang menguatkan anak-anak untuk terus menggapai mimpi.
Editor: Arimami Suryo A.