Tjioe Soh Khiem memasak dengan penuh cinta kasih untuk para pekerja pembangunan. Setiap hidangan disiapkan dengan ketulusan sebagai wujud kepedulian kepada sesama.
Relawan Tzu Chi Padang mengadakan kegiatan makan bersama para seniman bangunan yang bertugas dalam pembangunan Hunian Tetap (Huntap) di kawasan Bumi Perkemahan Air Dingin Selasa, 21 April 2026.
Bencana banjir yang melanda Padang pada November 2025 lalu merupakan bagian dari rangkaian bencana di wilayah Sumatera Barat. Di mana dalam beberapa hari, curah hujan yang terus meningkat menyebabkan sungai meluap dan tanah menjadi labil. Kondisi tersebut kemudian memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah, merendam permukiman warga serta memaksa banyak keluarga kehilangan tempat tinggal. Sebagai bentuk kepedulian terhadap para penyintas, pembangunan huntap menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan hunian yang lebih aman dan layak.
Di lokasi, para relawan mulai menata dan mempersiapkan hidangan makanan. Setiap sajian diatur dengan rapi untuk menyambut para seniman bangunan yang akan makan bersama.
Kegiatan makan bersama ini turut dikoordinasikan oleh Wakil Ketua Tzu Chi Padang, Chaidir, ini berlangsung dengan penuh sukacita dan menjadi wujud kebersamaan antara relawan serta para seniman bangunan yang turut membangun harapan baru bagi para korban.
Sejak pukul 08.00 pagi, para relawan mulai memasak hidangan vegetaris di kantor Tzu Chi Padang. Kebersamaan dan semangat saling membantu terasa hangat, menghadirkan masakan yang tidak hanya nikmat, tetapi juga penuh berkah bagi yang menerimanya. Sementara itu, sebagian relawan lainnya telah berada di lokasi untuk mempersiapkan tenda, meja, dan kursi.
Para seniman bangunan mulai mengantre dengan tertib untuk mengambil makanan. Wajah-wajah penuh semangat terlihat saat mereka menunggu giliran.
Setelah seluruh hidangan selesai disiapkan, sekitar pukul 11.30 relawan tiba di lokasi. Perlengkapan serta makanan mulai ditata dengan rapi di atas meja. Sebanyak 55 pekerja berkumpul untuk makan bersama. Para pekerja yang biasanya makan seadanya di antara tumpukan material bangunan, hari itu dapat duduk bersama relawan dalam satu meja, merasakan kebersamaan yang penuh cinta kasih.
“Saya mewakili teman-teman di sini sangat berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi karena telah berbagi rezeki kepada kami para pekerja bangunan. Selama saya bekerja di proyek, baru kali ini merasakan perhatian seperti ini. Biasanya saya membawa bekal dari rumah, tapi hari ini kami diajak makan bersama. Saya merasa kaget sekaligus terharu karena kepedulian Tzu Chi yang tidak hanya memberi, tetapi juga meluangkan waktu untuk bersama kami,” ungkap Riki, salah satu pekerja.
Relawan dan para seniman bangunan mulai menikmati hidangan yang telah disiapkan. Momen makan bersama menjadi waktu sederhana yang penuh makna.
Kebersamaan itu pun terasa begitu hangat hingga waktu berlalu tanpa terasa. Setelah makan bersama, kegiatan ditutup dengan foto bersama sebagai kenangan. Bukan tentang mewahnya hidangan, tetapi tentang rasa dihargai. Para pekerja merasakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari membangun kehidupan, sementara relawan Tzu Chi belajar langsung makna welas asih dari setiap keringat yang tercurah.
Editor: Metta Wulandari