Kepedulian Tzu Chi Batam Membuka Jalan Zulkifli untuk Lebih Giat Menafkahi Keluarga

Jurnalis : Rizky Afifah, Agus (Tzu Chi Batam), Fotografer : Vemmy Ho, Jenny Agusri, Andy Tan (Tzu Chi Batam)

Relawan Tzu Chi Batam melakukan skrining pada mata kanan Zulkifli sebelum menjalani operasi katarak. Baksos kesehatan operasi katarak ini berlangsung di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) pada 23-24 Oktober 2026.

Gangguan penglihatan akibat katarak menjadi tantangan tersendiri bagi Zulkifli yang sehari-hari bekerja sebagai pelayan di sebuah warung ayam penyet. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap berusaha bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, penglihatan yang semakin kabur membuat aktivitas sehari-harinya tidak lagi mudah.

Kesempatan menjalani operasi katarak gratis melalui bakti sosial kesehatan Tzu Chi Batam bersama Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) yang dilaksanakan pada 23-24 Oktober 2026 menjadi harapan baru baginya untuk kembali beraktivitas dengan lebih baik.

Selama sekitar tujuh bulan mengalami katarak, Zulkifli merasakan langsung dampak gangguan penglihatan terhadap kehidupannya. Salah satu aktivitas yang paling menyulitkan adalah mengendarai sepeda motor. Penglihatan yang kabur pada mata kanannya membuat ia kesulitan memperhatikan kendaraan yang melintas dari sisi tersebut.

“Mata sebelah kanan tidak nampak; kita nampaknya sebelah sini saja. Jadi, kalau ada motor atau mobil lewat, kita terkejut,” ucap Zulkifli, menceritakan kesulitannya saat berkendara.

Aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah kini membutuhkan perhatian dan kewaspadaan ekstra. Ia juga kerap mengalami sakit kepala dan merasa tidak nyaman dengan kondisi penglihatannya. Meski demikian, Zulkifli tetap berusaha menjalankan pekerjaan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Tim medis TIMA Indonesia sedang memeriksa kesehatan mata Zulkifli yang menderita katarak. Pemeriksaan ini berlangsung di Aula Jing Si Batam.

Di balik perjuangannya mencari nafkah, Zulkifli juga menghadapi persoalan keluarga yang menyisakan kesedihan. Saat menceritakan pengalaman hidupnya, air matanya mengalir. Dalam situasi sulit tersebut, ia bersyukur masih mendapatkan dukungan dari orang-orang yang peduli, terutama atasannya, Ibu Camalia, yang senantiasa memberikan semangat dan mendoakan kesembuhannya.

Ibu Camalia bahkan memberikan izin kepada Zulkifli untuk beristirahat agar dapat menjalani operasi dan masa pemulihan. Baginya, kesehatan Zulkifli jauh lebih penting daripada urusan pekerjaan.

“Bos saya (Ibu Camalia) selalu mendoakan. Dia tiap hari mendoakan kita. Alhamdulillah, dia support terus. Kesehatan lebih utama daripada uang. Uang itu bisa dicari, katanya. Bos, saya satu ini memang terbaik,” tuturnya penuh rasa syukur.

Dukungan tersebut sangat berarti bagi Zulkifli. Ia tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk menjalani pengobatan, tetapi juga perhatian dan pengertian ketika sedang menghadapi masa sulit. Sikap atasannya semakin menguatkan dirinya untuk memprioritaskan kesehatan agar kelak dapat kembali bekerja dan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.

Kesempatan Mendapatkan Pengobatan
Sebelum mendapatkan kesempatan mengikuti bakti sosial kesehatan Tzu Chi, Zulkifli sebenarnya telah berusaha mencari jalan untuk menjalani operasi. Sekitar empat bulan sebelumnya, ia pernah menanyakan kemungkinan operasi melalui BPJS Kesehatan. Namun, menurut penuturannya, ia terkendala oleh kewajiban membayar denda sebesar Rp8 juta.

“Saya pernah bertanya sama BPJS empat bulan yang lalu, namun harus bayar denda sebesar Rp8 juta baru bisa operasi. Saya ingin operasi karena sudah tidak nyaman lagi. Betul-betul tidak nyaman dan setiap hari sakit kepala,” ujar Zulkifli setengah putus asa.

Zulkifli akan menjalani operasi katarak oleh tenaga medis dari TIMA Indonesia. Zulkifli sangat terkesan secara mendalam terhadap pelayanan para tim medis TIMA dan relawan Tzu Chi yang mendampingi mulai dari meja pendaftaran hingga ruang operasi yang selalu mendampingi dengan  ramah.

Harapan untuk mendapatkan pengobatan akhirnya muncul ketika seorang saudaranya memberikan informasi mengenai bakti sosial operasi katarak gratis yang diselenggarakan Tzu Chi Batam bersama RSBK. Kesempatan tersebut disambut dengan penuh rasa syukur karena memberinya jalan untuk memperoleh penanganan medis yang selama ini diharapkan.

“Untung saya dapat info dari saudara kalau ada operasi katarak gratis. Saya benar-benar bersyukur,” ucap Zulkifli.

Bagi Zulkifli, kesempatan menjalani operasi bukan sekadar upaya untuk memperbaiki penglihatan. Lebih dari itu, ia berharap dapat kembali menjalani aktivitas dengan nyaman dan melanjutkan perjuangannya mencari nafkah bagi keluarga.

“Mudah-mudahan mataku balik seperti yang dulu lagi. Ini yang bisa diharapkan. Soalnya, saya seorang bapak yang ingin menafkahi anak-anak saya. Masa depan saya masih panjang, anak saya masih panjang,” ungkapnya.

Harapan tersebut menjadi penguat bagi Zulkifli untuk terus berjuang. Baginya, kesehatan sangat berarti karena ada keluarga yang harus diperhatikan dan masa depan anak-anak yang ingin ia perjuangkan.

Penglihatan Membaik, Harapan Kembali Tumbuh
Setelah menjalani operasi katarak dan perban matanya dibuka, Zulkifli mulai merasakan perubahan pada penglihatannya. Rasa lega menyertainya ketika ia dapat melihat hasil dari tindakan medis yang dijalaninya, meskipun pandangannya masih sedikit kabur.

“Alhamdulillah, sangat lega sekali. Sudah nampak hasilnya, sudah nampak. Tapi masih agak kurang sedikit. Tapi sudah 80–95 persen sudah oke,” ucap Zulkifli, mengungkapkan perasaannya setelah operasi.

Zulkifli pascaoperasi mendapat instruksi dan pesan yang harus dijalani dengan baik selama berada di rumah. Mulai dari cara mengganti perban dan penggunaan obat tetes mata, larangan beraktivitas berat, larangan keluar rumah, dan minum obat secara teratur sesuai anjuran dokter.

Sebelum operasi, penglihatan yang kabur kerap membuatnya kesulitan saat berkendara. Ia terkadang tidak menyadari adanya kendaraan yang datang dari sisi mata yang mengalami gangguan. Kondisi tersebut membuat aktivitas sederhana sekalipun terasa lebih sulit dan membutuhkan kewaspadaan ekstra.

Kini, setelah menjalani operasi, ia merasakan penglihatannya jauh lebih baik. Ia juga mengungkapkan bahwa selama dua hari setelah operasi, sakit kepala yang biasanya dirasakan tidak lagi muncul.

“Alhamdulillah, sesudah operasi, dua hari ini saya tidak merasakan sakit kepala lagi. Ah, sudah tidak sakit kepala lagi, alhamdulillah,” tuturnya.

Perubahan tersebut membawa kelegaan tersendiri bagi Zulkifli. Meski masih dalam proses pemulihan, ia kembali memiliki harapan untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

Pelayanan yang Menghadirkan Kehangatan
Selain bersyukur atas kesempatan mendapatkan pengobatan, Zulkifli juga mengungkapkan kesan mendalam terhadap pelayanan para relawan Tzu Chi. Keramahan dan perhatian yang diterimanya selama mengikuti kegiatan membuatnya merasa dihargai dan diperhatikan.

“Kalau untuk pelayanan relawan Tzu Chi ini yang membantu ini, waduh, saya memang benar-benar sangat suka. Macam kita dirajakan gitu. Memang bagus. Macam pelayanan orang Singapura, sangat-sangat bagus,” tuturnya.

Raut wajah gembira Zulkifli dan istri setelah menjalani post-op satu hari pascaoperasi. Melalui bakti sosial kesehatan, Tzu Chi Batam bersama TIMA Indonesia dan Rumah Sakit Budi Kemuliaan berupaya membantu masyarakat mendapatkan akses pengobatan untuk warga kurang mampu agar bisa melanjutkan pekerjaan dan menafkahi keluarga.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepedulian tidak hanya hadir melalui bantuan medis, tetapi juga melalui perhatian dan pelayanan yang diberikan dengan tulus. Sambutan yang ramah, pendampingan yang sabar, serta perhatian terhadap kebutuhan pasien menjadi bagian penting yang membuat mereka merasa nyaman selama menjalani pengobatan.

Zulkifli pun menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan melalui bakti sosial kesehatan tersebut.

“Harapan saya semoga ini berjalan dengan lancar, semoga alhamdulillah saya bisa sembuh seperti semula lagi. Saya sangat berterima kasih atas adanya program yayasan ini. Saya sangat terbantu sekali,” ungkapnya penuh rasa syukur.

Melalui bakti sosial kesehatan, Tzu Chi Batam bersama RSBK berupaya membantu masyarakat mendapatkan akses pengobatan yang dibutuhkan. Bagi Zulkifli, kesempatan ini menjadi bagian penting dalam perjuangannya untuk memperoleh penglihatan yang lebih baik, melanjutkan pekerjaan, dan menafkahi keluarga.

Perjalanan pemulihan Zulkifli masih berlanjut. Namun, di tengah berbagai tantangan yang telah dilaluinya, harapan untuk masa depan kembali tumbuh. Kisahnya mengingatkan bahwa di balik setiap pasien, ada keluarga yang ingin diperjuangkan, tanggung jawab yang ingin ditunaikan, dan masa depan yang ingin dirajut. Terkadang, sebuah kesempatan untuk mendapatkan pengobatan disertai kepedulian yang tulus dapat menjadi kekuatan bagi seseorang untuk kembali melangkah menghadapi hari esok.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-157: Hadirkan Harapan bagi Ratusan Pasien di Batam

Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-157: Hadirkan Harapan bagi Ratusan Pasien di Batam

28 Oktober 2026

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-157 di RS Budi Kemuliaan Batam memberikan operasi gratis bagi 252 pasien katarak dan 47 pasien pterigium bagi masyarakat prasejahtera di Batam dan pulau sekitar.

Kepedulian Tzu Chi Batam Membuka Jalan Zulkifli untuk Lebih Giat Menafkahi Keluarga

Kepedulian Tzu Chi Batam Membuka Jalan Zulkifli untuk Lebih Giat Menafkahi Keluarga

03 November 2026

Katarak sempat menghambat aktivitas dan pekerjaan Zulkifli. Melalui bakti sosial Tzu Chi Batam bersama RSBK, ia mendapat operasi gratis dan harapan untuk kembali bekerja serta menafkahi keluarga.

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke - 157: Hampir Empat Tahun Pandangan Kabur, Pak Benny Tetap Berjuang demi Keluarga

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke - 157: Hampir Empat Tahun Pandangan Kabur, Pak Benny Tetap Berjuang demi Keluarga

27 Oktober 2026

Hampir empat tahun mengalami katarak, Pak Benny tetap berjuang mencari nafkah. Melalui bakti sosial kesehatan yang diadakan Tzu Chi bersama RSBK Batam, ia mendapat kesempatan operasi katarak.

Setiap manusia pada dasarnya berhati Bodhisatwa, juga memiliki semangat dan kekuatan yang sama dengan Bodhisatwa.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -