Kunjungan Tunas Antusias Nusantara Sukabumi ke Tzu Chi Center

Jurnalis : Liena, Henny Yohannes (He Qi Jakarta utara 3), Fotografer : Youmi, Liena, Henny Yohannes Yohannes (He Qi Jakarta utara 3)
Liena menjelaskan makna dokumentasi di sepanjang lorong Tzu Chi, yang menjadi jejak perjalanan Cinta kasih para relawan.

Sabtu pagi, 22 Agustus 2026, suasana Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara, terasa hangat dengan kedatangan rombongan dari Sukabumi. Sebanyak 61 peserta dari komunitas Tunas Antusias Nusantara Sukabumi datang untuk mengenal lebih dekat Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Selain melihat kawasan Jing Si, mereka juga berkesempatan mengenal kepedulian Tzu Chi terhadap lingkungan melalui sosialisasi pengolahan sampah organik menjadi Eco Enzyme.

Rombongan yang dikoordinasikan oleh Rukuniah Tanurachman, atau yang akrab disapa Nai Nai, berangkat dari Sukabumi sejak pukul 05.00 WIB. Meski harus menempuh perjalanan cukup jauh, semangat mereka tetap terasa ketika tiba di Tzu Chi Center dan disambut hangat oleh relawan Tzu Chi  komunitas He Qi Jakarta Utara 3.

Kegiatan diawali dengan pengenalan Tzu Chi yang dibawakan oleh salah satu relawan Tzu Chi, Jok khian. Setelah itu, rombongan dibagi menjadi empat kelompok. Tiga kelompok mengikuti touring ke kawasan Jing Si, sementara satu kelompok mengikuti diskusi mengenai misi pendidikan bersama Christine Tjen.

Sebanyak 61 peserta tiba di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, untuk mengenal, belajar, dan menemukan inspirasi kebaikan.

Diskusi tersebut menarik perhatian beberapa peserta yang berprofesi sebagai guru PAUD. Sehingga menginspirasi mereka untuk menghadirkan pendidikan budi pekerti sebagai bagian dari pembelajaran. Karena itu, mereka ingin mengetahui lebih jauh bagaimana Kelas Budi Pekerti Tzu Chi diterapkan kepada anak-anak.

Christine menjelaskan mulai dari materi, cara penyampaian, hingga pelaksanaan kegiatan Kelas Budi Pekerti. Bagi para peserta, diskusi ini bukan sekadar kesempatan untuk bertanya, tetapi juga membuka wawasan tentang pentingnya menanamkan nilai-nilai kebaikan dan karakter sejak usia dini.

Menyusuri Jing Si, Melihat Jejak Kebaikan
Sementara itu, tiga kelompok lainnya mengikuti touring yang didampingi oleh Youmi, Liena, dan Jok Khian. Perlahan, mereka menyusuri kawasan Jing Si sambil melihat berbagai foto kegiatan dan aksi relawan yang terpampang di sepanjang lorong.

Bagi sebagian peserta, kunjungan ini merupakan pengalaman pertama melihat langsung Jing Si. Kemegahan bangunan, suasana yang rapi dan bersih, serta dokumentasi berbagai kegiatan sosial Tzu Chi yang menarik perhatian mereka.

Relawan Tzu Chi mengenalkan relief Tzu Chi kepada para peserta.

Salah seorang peserta bahkan spontan mengungkapkan kekagumannya. “Jing Si ini sangat besar sekali, ya. Aksi-aksi relawannya juga terpampang di setiap dinding,”

Liena kemudian menjelaskan bahwa Jing Si menjadi salah satu tempat bagi relawan untuk berkumpul, belajar, dan mengikuti berbagai kegiatan. Saat ada pelatihan gabungan, relawan dari berbagai wilayah di Indonesia dapat berkumpul di tempat ini. Bangunannya memang besar, tetapi di baliknya tersimpan semangat yang jauh lebih besar, mempertemukan orang-orang dari berbagai daerah untuk belajar, bersumbangsih, dan bersama-sama menebarkan cinta kasih.

Dari Sisa Dapur Menjadi Kepedulian bagi Lingkungan
Usai Touring, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi Eco Enzyme yang menghadirkan Juny Leong sebagai narasumber. Sesi ini menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat cara sederhana mengolah sisa bahan organic dari dapur. Dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami, Juny memperkenalkan Eco Enzyme kepada para peserta. Mulai dari bahan yang digunakan, perbedaan jenis gula, hingga manfaat dan cara pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya mendengarkan penjelasan, peserta juga melihat langsung bahan-bahan yang disiapkan untuk praktik, seperti sisa kulit buah dan sayuran dari dapur. Suasana pun semakin hidup ketika mereka menyadari bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sampah ternyata masih dapat dimanfaatkan.

Melalui Eco Enzyme, mereka diajak melihat kembali kebiasaan sehari-hari. Kepedulian terhadap lingkungan ternyata tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dari dapur rumah sendiri, langkah kecil untuk menjaga bumi bisa dimulai.

Kunjungan yang Meninggalkan Kesan
Menjelang akhir kegiatan, rombongan Tunas Antusias Nusantara Sukabumi menyerahkan cendera mata kepada Tzu Chi sebagai tanda persahabatan dan kenang-kenangan.

Bagi Nai Nai, kunjungan ini meninggalkan kesan tersendiri. “Setelah kunjungan ke Tzu Chi, saya senang dan terharu. Saya baru melihat bangunan yang megah, besar, rapi, dan bersih seperti ini. Terima kasih atas pelayanan yang begitu antusias sehingga semua anggota merasa senang. Kalau ada kekurangan, mohon maaf,” ungkapnya.

Para peserta sangat antusias pada saat Jok Khian menjelaskan karya mozaik di Aula lantai 4 Tzu Chi Center, yang tersusun dari jutan keping mozaik berukuran 1x1 cm merupakan karya seniman korea utara.

Di usia 92 tahun, semangat Nai Nai untuk membawa rombongan dari Sukabumi berkunjung ke Tzu Chi menjadi salah satu momen yang menghangatkan pertemuan ini. Perjalanan tersebut bukan sekadar kunjungan untuk melihat tempat baru, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar, berbagi, dan mengenal lebih dekat semangat kerelawanan Tzu Chi.

Kunjungan sehari ini pun meninggalkan kesan bagi kedua pihak. Bagi rombongan Sukabumi, ada pengalaman dan wawasan baru yang dibawa pulang. Sementara bagi relawan Tzu Chi, pertemuan ini menjadi kesempatan untuk berbagi nilai dan membuka hubungan yang lebih dekat dengan komunitas di Sukabumi.

Sebagai penutup kunjungan, komunitas Tunas Antusias Nusantara Sukabumi menyerahkan cendera mata kepada Tzu Chi.

“Sungguh berbahagia hari ini bisa menerima kunjungan dari komunitas Tunas Antusias Nusantara Sukabumi. Dari kegiatan ini, mereka bisa mengenal lebih dekat Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, serta mengenal visi dan misi Tzu Chi. Harapannya, mereka bisa mengembangkan komunitas relawan di Sukabumi. Sebagian dari mereka juga sudah tertarik untuk bergabung menjadi relawan,” ujar Jok Khian, Ketua He Qi Jakarta Utara 3.

Dari Sukabumi menuju Jakarta, 61 peserta datang dengan rasa ingin tahu dan pulang membawa cerita tentang Tzu Chi, pendidikan budi pekerti, serta kepedulian terhadap lingkungan. Semoga apa yang dipelajari dan dirasakan hari itu tidak berhenti di Tzu Chi Center, tetapi ikut dibawa pulang dan menjadi benih kebaikan yang tumbuh dan berkembang di Sukabumi.

Sebagai penutup, para relawan bersama 61 peserta Tunas Antusias Nusantara Sukabumi mengabadikan kebersamaan melalui foto bersama.

Editor: Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Bersih-Bersih Rumah Kedua

Bersih-Bersih Rumah Kedua

08 Juli 2015
“Saya membayangkan kamar-kamar yang sudah kita bersihkan ini tentunya akan nyaman ditinggali oleh para relawan yang menginap di sini. Dengan membayangkan hal ini saja, hati saya terasa sangat bahagia,” ujar wanita yang akrab disapa Ahun itu.
Pembelajaran Cinta Kasih untuk Siswa Seminari

Pembelajaran Cinta Kasih untuk Siswa Seminari

28 Maret 2016 Kunjungan, pengenalan, serta sharing sekolah Seminari Wacana Bhakti, Pejaten, Jakarta Selatan ke Yayasan Buddha Tzu Chi pada 11 Maret 2016 terkait program pendalaman spiritualitas.
Mengawali Tahun Ajaran Baru di Tzu Chi Center

Mengawali Tahun Ajaran Baru di Tzu Chi Center

21 Juli 2016

Menyambut tahun ajaran 2016/2017, Ehipassiko School BSD City mengadakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kepada siswa-siswi SMA-nya di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk. Rabu, 20 Juli 2016.

Melatih diri adalah membina karakter serta memperbaiki perilaku.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -