Melalui Pembinaan Diri, Relawan Tzu Chi Perkuat Tekad Bodhisatwa dalam Melayani

Jurnalis : Riyanti Teresa Tedja, Prety Sagita (He Qi Jakarta Barat 2) , Fotografer : James Yip, Mery Hasan (He Qi Jakarta Barat 2)

Para peserta pelatihan Relawan Abu Putih (AP) tampak antusias mempraktekkan rangkaian penghormatan.

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai kegiatan Pelatihan Relawan Abu Putih (AP) ke-4 yang diselenggarakan oleh relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 2 pada Minggu, 2 Agustus 2026 di Aula Jing Si Tzu Chi Center PIK, Jakarta. Kali ini, kegiatan tersebut mengusung tema Mengukuhkan Tekad Bodhisatwa: Membina Diri, Mengemban Tanggung Jawab.

Dengan tema tersebut, hal itu menjadi landasan bagi 36 peserta untuk semakin memperdalam pemahaman terhadap nilai-nilai Tzu Chi, seperti mengukuhkan komitmen dalam melayani dan memantapkan langkah dalam menjalankan Visi dan Misi Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Pelatihan ini dipandu langsung oleh relawan Tzu Chi, Shijie Meydia, sebagai pembawa acara dan moderator.

Dalam kegiatan itu, rangkaian training diawali dengan penghormatan kepada Master Cheng Yen dan dilanjutkan dengan menyanyikan Mars Tzu Chi sebagai pembangkit semangat kebersamaan. Selanjutnya untuk mempersiapkan batin yang tenang dan hati yang siap menerima pembelajaran, peserta diajak melakukan pradaksina atau meditasi berjalan.

Para relawan Tzu Chi menampilkan Shou Yu dengan lagu yang berjudul Wo Ai Tzu Chi Da Jia Ting serta mengajak para peserta untuk mempererat kebersamaan.

Materi pertama bertajuk Tata Krama Namaskara dan Pradaksina yang disampaikan oleh Shijie Elly Widjaja. Beliau menjelaskan makna sekaligus tata cara beranjali , posisi tangan samadhi, dan penghormatan tanpa bernamaskara dan penghormatan sebanyak tiga kali dengan posisi tangan membentuk mudra vairocana, serta pradaksina (meditasi jalan). Melalui materi ini, peserta memahami bahwa setiap gerakan penghormatan bukan sekadar tata krama, tetapi juga merupakan latihan batin untuk menjalani kehidupan sesuai jalan tengah, melatih pikiran yang jernih, serta menumbuhkan rasa hormat kepada sesama.

Selanjutnya, Shijie Elly Chandra mengajak para peserta membacakan sepuluh sila bersama-sama, kemudian menjelaskan bahwa sila Tzu Chi dirumuskan oleh Master Cheng Yen sebagai pedoman menuju kebahagiaan, mencegah kesalahan dan menghentikan niat buruk sedangkan Tzu Chi adalah wadah pelatihan diri. Selain itu, beliau juga mengajarkan bahwa cinta kasih hendaknya menjadi managemen dalam mengelola kehidupan, sedangkan sila menjadi sistem yang terus dipraktikkan dalam setiap tindakan. Menjaga sila bukanlah membatasi diri, melainkan melindungi diri sendiri.

Suasana training semakin meriah dengan penampilan Shou Yu (Isyarat Tangan) yang dibawakan oleh panitia. Penampilan tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga menambah semangat serta mempererat kebersamaan seluruh peserta.

Salah satu relawan Tzu Chi, Johny Chandrina menyampaikan materi kepada peserta pelatihan dengan menegaskan, dalam menjalankan peran sebagai relawan harus memegang teguh prinsip tanpa menjadi kaku dan bersikap tegas.

Relawan Tzu Chi, Shixiong Johnny menyampaikan materi dengan tema Memahami Dharma Master. Beliau mengingatkan pesan Master Cheng Yen bahwa dalam menghadapi persoalan kehidupan, seseorang harus memegang prinsip tanpa menjadi kaku, serta bersikap tegas namun tetap penuh toleransi. Kemudian ia menjelaskan bahwa keharmonisan dapat diwujudkan melalui praktik empat sifat luhur yaitu cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Selain itu, beliau juga mengajak para peserta untuk senantiasa menjaga tekad awal, menjalin jodoh baik, mengikis noda batin dan kebiasaan buruk, serta membangun kebersamaan yang harmonis, saling menyayangi, dan bergotong royong.

Pada sesi berikutnya, Shixiong Suriadi menyampaikan materi mengenai transformasi Tzu Chi dalam menghubungkan hati, memperkuat organisasi, dan memperluas dampak pelayanan. Beliau menjelaskan bahwa seiring pesatnya perkembangan teknologi, Tzu Chi Indonesia terus melakukan transformasi agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Tzu Chi yang diwariskan Master Cheng Yen. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengadopsi digitalisasi sebagai sarana memperkuat kolaborasi dan organisasi melalui lima pilar strategi penggerak dampak berkelanjutan, yaitu DODYS (Digital Communication, Organizational Capacity, Donation Transformation, Youth Development, Sustainability Program).

Materi Menghubungkan hati, memperkuat organisasi & memperluas dampak, dibawakan oleh Suriadi dengan penuh semangat.

Salah satu sesi yang paling menginspirasi untuk para peserta, adalah talkshow bertema Mengemban Tanggung Jawab, Bertumbuh Melalui Pelayanan. Talkshow ini menghadirkan tiga narasumber relwan Tzu Chi, yaitu Yonga yang bergabung sejak tahun 2013, Lie Fang yang bergabung sejak tahun 2010, serta Lenyh yang menjadi insan Tzu Chi sejak tahun 2009. Kemudian mereka membagikan kisah perjalanan mereka yang berawal dari relawan biasa, hingga dipercaya mengemban tanggung jawab dalam organisasi Tzu Chi.

Meski memiliki latar belakang yang berbeda, mereka memiliki kesamaan pandangan, yaitu tidak takut menerima kesempatan untuk bertanggung jawab. Dalam setiap proses menjalankan tanggung jawab, mereka memperoleh banyak pelajaran berharga tentang kesabaran, empati, kemampuan memahami orang lain, serta pentingnya terus melatih diri. Sebagaimana pesan Master Cheng Yen, “Jangan menganggap remeh diri sendiri karena setiap orang memiliki potensi yang tak terhingga,”.

Kemudian, materi berikutnya diisi Stephen Ang, yang membawakan tema mengenai Budaya Humanis Zhen Shan Mei yang berarti Benar, Bajik, dan Indah. Beliau menjelaskan bahwa budaya humanis merupakan fondasi penting untuk menjadi teladan bagi banyak orang, sekaligus mewariskan nilai-nilai kebajikan kepada generasi berikutnya. Budaya ini diwujudkan melalui sikap bersyukur, saling menghormati, dan menumbuhkan cinta kasih, karena setiap insan sesungguhnya telah memiliki benih cinta kasih dalam dirinya.

Dalam suasan kebersamaan, Talkshow dengan tema Mengemban Tanggung Jawab, Bertumbuh Melalui Pelayanan disampaikan oleh relawan Tzu Chi.

Menjelang akhir kegiatan, peserta juga membagikan pengalaman dan kesan selama mengikuti training. Salah satunya peserta, Michael Steven menyampaikan tekadnya untuk terus berusaha menjalankan sila serta mempraktikkan cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sesi penyampaian materi, relawan Tzu Chi Johny Chandrina mengingatkan para peserta bahwa menjadi relawan berarti memegang teguh nilai dan prinsip dalam setiap tindakan.

Training ditutup dengan menyaksikan Lentera Kehidupan dari Master Cheng Yen. Dalam pesannya, Master mengingatkan pentingnya menaati dan menjaga sila sebagai landasan untuk menciptakan berkah di dunia.

Melalui pelatihan Relawan Abu Putih ke-4 ini, setiap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai Tzu Chi, tetapi juga semakin mengukuhkan tekad Bodhisatwa untuk terus membina diri, mengemban tanggung jawab dengan sukacita, serta menebarkan cinta kasih dalam setiap langkah pelayanan kepada masyarakat.

Editor: Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Pelatihan Relawan: Saling Menyemangati, Saling Belajar, dan Saling Mendukung

Pelatihan Relawan: Saling Menyemangati, Saling Belajar, dan Saling Mendukung

29 Juni 2020

Sutra ibarat sebuah jalan yang telah dibabarkan oleh guru. Dan hendaknya para murid melatih diri untuk berjalan di jalan yang telah dibentangkan guna membantu semua mahkluk terlepas dari penderitaan.

Mewariskan Sejarah dengan Tekad yang Teguh

Mewariskan Sejarah dengan Tekad yang Teguh

27 September 2024

Pelatihan relawan di Tzu Chi Batam kali ini jadi sangat istimewa dengan kehadiran beberapa relawan senior. Di antaranya Stephen Huang, Liu Su Mei, serta Sugianto Kusuma.

Pelatihan ke Dalam dan ke Luar Diri

Pelatihan ke Dalam dan ke Luar Diri

02 September 2015 Tujuh puluh lima pasang kaki melangkah menuju Tzu Chi Center pada Minggu pagi, 30 Agustus 2015. Berangkat dari pelataran parkir di Klub Kelapa Gading, para relawan Tzu Chi komunitas He Qi Timur tersebut datang untuk satu tujuan: mengikuti pelatihan.
Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -