Dalam materi Keindahan Budaya Humanis, Henny sebagai pemateri didampingi oleh Intan dan Dora yang memperagakan secara langsung sikap yang perlu diperhatikan saat makan, sebagai bagian dari praktik pembinaan diri dalam keseharian.
Relawan komunitas He Qi Jakarta Barat 3 menyelenggarakan Training Abu Putih ke-2 pada Minggu, 29 Maret 2026, yang berlangsung dengan penuh semangat dan khidmat di Ruang Xi She Ting, Tzu Chi Center Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Pelatihan relawan ini dimulai pukul 08.00 WIB, sementara sejak pukul 07.30 WIB para relawan telah hadir untuk melakukan registrasi dan persiapan.
Acara dibuka dengan suasana tertib dan penuh penghormatan. Peserta berbaris memasuki ruangan, dilanjutkan dengan penghormatan kepada para Buddha, Bodhisatwa, serta Master Cheng Yen yang dipandu oleh pembawa acara (MC). Kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan Mars Tzu Chi dan pembacaan 10 Sila Tzu Chi sebagai landasan moral relawan.
Rangkaian Kegiatan Training
Setiap sesi dalam training disusun secara runtut untuk membangun pemahaman, kedisiplinan, serta karakter relawan Tzu Chi. Kegiatan diawali dengan materi kisah dan kemandirian Master Cheng Yen yang disampaikan oleh Adi.
Materi ini menjelaskan bagaimana Master Cheng Yen menjalani kehidupan dengan kesederhanaan, disiplin, kerendahan hati, serta tekad kuat dalam membantu sesama. Dari sini, relawan diajak memahami bahwa kegiatan yang dilakukan bukan sekadar aktivitas, tetapi juga proses membina diri dan membangun komitmen terhadap nilai kemanusiaan.
Adi menyampaikan materi tentang Kisah dan Kemandirian Master Cheng Yen, yang mengajak peserta memahami perjalanan hidup penuh keteguhan dan nilai pembinaan diri dalam menjalankan misi kemanusiaan.
Materi selanjutnya tentang Misi Pelestarian Lingkungan yang disampaikan oleh Tet Kong. Materi ini menekankan bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari praktik cinta kasih. Relawan diajak memulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.
Pada sesi Budaya Humanis yang disampaikan oleh Henny, peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Peserta dilatih mengenai cara berjalan yang baik, berpakaian rapi dan sopan, serta tata cara makan di meja sesuai budaya humanis Tzu Chi.
Pada sesi ini, Intan dan Dora turut memperagakan tata cara makan yang benar, mulai dari cara memegang sumpit dan mangkuk, posisi duduk, hingga etika saat berada di meja makan. Melalui materi ini, peserta diharapkan menyadari bahwa pembinaan diri dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan ketulusan.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi break and networking yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk beristirahat sejenak sambil saling mengenal dan membangun kebersamaan.
Seluruh peserta terlihat antusias mengikuti pembelajaran bahasa isyarat tangan (shou yu), yang tidak hanya melatih kekompakan, tetapi juga menyampaikan pesan cinta kasih secara universal.
Kegiatan training dilanjutkan dalam suasana interaktif melalui pembelajaran bahasa isyarat tangan (shou yu) lagu “Ren Jian You Ai” yang dibawakan oleh Fie Lan dan Ik Lan. Peserta mengikuti gerakan secara bertahap hingga dapat melakukannya bersama-sama, mencerminkan kekompakan dan harmoni.
Selanjutnya, peserta diperkenalkan pada empat “Sup Tzu Chi” yang disampaikan oleh Ay Ling Shi Jie, yaitu Zhi Zu, Gan En, Shan Jie, dan Bao Rong. Keempat nilai ini memiliki makna rasa cukup, bersyukur, pengertian, dan toleransi yang membentuk hati menjadi lapang, serta menjadi dasar dalam menjalankan kegiatan kemanusiaan Tzu Chi. Selain itu, peserta juga diingatkan kembali akan nilai Gan En, Zun Zhong, Ai (Bersyukur, Menghormati, dan Cinta Kasih) sebagai prinsip utama dalam berinteraksi dengan sesama.
Pada sesi Gan En, Zun Zhong, Ai, Jupiter, salah satu peserta training, berkesempatan menjelaskan perbedaan antara Xie xie dan Gan en. Ia menjelaskan bahwa xie xie merupakan ungkapan terima kasih yang bersifat umum, sedangkan gan en memiliki makna lebih mendalam, yaitu ungkapan syukur yang lahir dari hati.
Melalui penjelasan tersebut, Jupiter mencontohkan bahwa kesempatan berbagi di hadapan peserta bukan sekadar momen berbicara, melainkan anugerah yang patut disyukuri dengan sepenuh hati. Dengan demikian, tidak hanya berhenti pada ucapan terima kasih, tetapi juga menghadirkan rasa syukur yang tulus dalam setiap kesempatan.
Suasana diskusi dan sharing terasa hidup, dipandu oleh Budiman Shi Xiong bersama dua peserta training, yang saling berbagi pemahaman dan pengalaman selama mengikuti kegiatan.
Pada sesi talkshow galang hati dan galang dana, Yenny sebagai pemandu acara serta Fie Lan dan Amel sebagai narasumber menekankan pentingnya menggerakkan hati sebelum tindakan. Materi ini juga menyampaikan semangat celengan bambu, yaitu kebaikan yang dimulai dari hal kecil secara konsisten.
Sesi diskusi dan sharing menjadi ruang refleksi bagi peserta untuk membagikan pemahaman serta pengalaman selama mengikuti training. Sesi ini dipandu oleh Budiman PIC Mentor yang mengarahkan jalannya diskusi dengan hangat.
Di penghujung pelatihan, dilaksanakan pelantikan relawan Abu Putih. Wylen Ketua He Qi Jakarta Barat 3 dan Haryogi sebagai Wakil Ketua menyematkan name tag kepada para relawan. Momen ini menjadi tanda resmi bergabungnya relawan kembang. Selanjutnya, seluruh panitia dan peserta naik ke panggung untuk berfoto bersama sebagai simbol kebersamaan.
Pelatihan dilanjutkan dengan menyaksikan tayangan ceramah Master Cheng Yen sebagai penguatan nilai dan spiritualitas, diakhiri dengan doa bersama, penghormatan, serta pesan cinta kasih dari Wylen.
Wylen Ketua He Qi Jakarta Barat 3 menyematkan name tag kepada peserta yang dilantik sebagai relawan abu putih, menjadi momen penuh makna sebagai tanda awal perjalanan baru dalam melatih diri dan mengabdi kepada masyarakat.
Belajar dari Proses: Pengalaman Panitia
Wawa, yang pertama kali menjadi PIC Korlap, mengungkapkan bahwa kesempatan ini menjadi proses belajar yang sangat berharga. Ia berusaha menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, meskipun belum sepenuhnya memahami. Dengan dukungan rekan-rekan, ia merasa terbantu dan semakin memahami perannya. Baginya, setiap kesempatan adalah pembelajaran yang harus dijalani dengan sepenuh hati.
Perjalanan Hati Relawan Baru
Urip, relawan kembang yang baru dilantik sebagai relawan abu putih, membagikan pengalaman yang menyentuh. Ia mengaku awalnya mengikuti kegiatan sosial hanya sebatas membantu. Namun, setelah mengikuti training, ia mulai memahami nilai Tzu Chi secara lebih mendalam dan merasa tergugah. Ia berkomitmen untuk membina diri dan menularkan nilai kebaikan kepada keluarga serta lingkungan.
Dari Pemahaman Menuju Komitmen
Grace, Koordinator Bidang Pelatihan He Qi Jakarta Barat 3, berharap para relawan baru dapat memahami sejarah Tzu Chi secara lebih mendalam. Ia menekankan bahwa pembelajaran tidak hanya berasal dari materi, tetapi juga dari keteladanan dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Makna Training dan Semangat yang Ditanamkan
Wylen menyampaikan bahwa training ini bertujuan memperdalam filosofi Tzu Chi agar relawan memiliki pemahaman visi dan misi yang selaras dengan ajaran Master Cheng Yen. Ia juga mengapresiasi semangat gotong royong panitia dalam mempersiapkan kegiatan.
“Training ini menanamkan semangat celengan bambu, yaitu melakukan kebaikan dari hal kecil secara konsisten,” jelas Wylen. Nilai ini mengajarkan kemandirian, ketulusan, serta komitmen dalam berbuat baik. Relawan diingatkan untuk terus menjaga tekad awal, berkembang, dan mewariskan nilai kebaikan kepada generasi berikutnya sejalan dengan semangat “Dana Kecil, Amal Besar.”
Prosesi pelantikan berlangsung dengan khidmat dan lancar, mencerminkan kesiapan para relawan untuk melangkah lebih jauh dalam menjalankan nilai-nilai Tzu Chi.
Editor: Anand Yahya