Melestarikan Bumi Sejak Dini Lewat Aksi Sosialisasi

Jurnalis : Lendra Bodhi Satria (Tzu Chi Cabang Sinar Mas), Fotografer : Lendra Bodhi Satria (Tzu Chi Cabang Sinar Mas)

Penyuluh Agama Buddha, Taat Handoko sedang menyampaikan penjelasan tetang ekoteologi kepada para peserta.

“Bila berharap sumber daya bumi tidak terkuras, kita harus memulainya dengan memahami cara menghargai sumber daya itu”
Kata Perenungan Master Cheng Yen

Pernahkah kita berpikir bahwa menjaga lingkungan itu sebenarnya adalah bagian dari ibadah? Saat ini, makin banyak anak-anak dan remaja yang giat menanam pohon, membersihkan sampah, hingga mengurangi pemakaian plastik. Menariknya, aksi keren ini tidak hanya didasari rasa peduli terhadap bumi, tetapi juga sebagai perwujudan ajaran agama. Nah, perpaduan antara kepedulian lingkungan dan ajaran agama inilah yang dikenal sebagai ekoteologi.

Untuk mengenalkan lebih lanjut konsep ekoteologi, relawan Tzu Chi komunitas Xie Li Pati mengundang Taat Handoko, salah satu pemuka agama di Kabupaten Pati, untuk berbagi pengetahuan dan pemahaman tentang ekoteologi itu sendiri. Kegiatan yang berlangsung di Vihara Dhamma Santi, Desa Karangsari, Pati, Jawa Tengah ini dihadiri 45 orang peserta, yang terdiri dari anggota Tzu Ching dan anak-anak Sekolah Minggu Buddhis Sati Sampajanna dan Dharma Bhakti.

Taat Handoko juga menjelaskan, jika sebagai umat beragama kita tidak bisa lepas dari alam. Untuk itu Kementerian Agama mengangkat konsep ekoteologi yang memadukan antara ajaran agama dan pelestarian lingkungan. Sehingga rumah ibadah, sekolah, perkantoran dibawah Kementrian Agama (Kemenag) diajak untuk mewujudkan konsep tersebut, salah satunya melalui penanaman pohon. “Ekoteologi itu tidak harus hal yang besar, kita bisa memulainya dengan hal sederhana seperti menanam pohon, juga hemat listrik dan air,” ucap Taat Handoko.

Relawan Tzu Chi bersama Tzu Ching mengajak anak-anak SMB Sati Sampajanna dan Dharma Bhakti untuk bersama-sama menanam pohon di lingkungan vihara Dhamma Santi, Desa Karangsari, Pati, Jawa Tengah.

Penanaman pohon dilakukan relawan Tzu Chi, Viriya Aryasatta sebagai tanda berlangsungnya kegiatan penuyuluhan ekoteologi dalam Pelestarian Lingkungan.

Antusias anak-anak sekolah minggu dan anggota Tzu Ching (muda-mudi Tzu Chi) sangat terlihat ketika beliau memberi pemaparan materi. Banyak dari mereka yang penasaran dan bertanya apa itu ekoteologi. Salah satunya Viriya Aryasatta, salah satu anggota Tzu Ching juga  anak asuh Tzu Chi komunitas Xie Li Pati. “Iya awalnya saya tidak tahu apa itu ekoteologi, tapi tadi diterangkan, sudah lebih paham. Sebetulnya kita sudah pernah melakukannya juga, tetapi belum tahu kalau itu disebut ekoteologi,” ujar Viriya.

Setelah pemaparan materi selesai, kegitan dilanjutkan dengan bermain games yang dibawakan oleh anggota Tzu Ching yang melibatkan anak-anak Sekolah Minggu Buddhis (SMB).  Kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung ekoteologi yaitu menanam 10 bibit pohon buah alpukat dan kelengkeng di lingkungan vihara.

Rasa gembira juga dirasakan Rea Putri Asti Suwardi. “Suka sekali kak, tadi bermain games seru bersama anak-anak SMB dan sekarang lanjut menanam pohon di lingkungan vihara. Semoga nanti pohon yang di tanam ini cepat berbuah,” ucap Rea sambil tawa khasnya.

Anak-anak SMB diajak untuk bermain games bersama relawan Tzu Ching dengan penuh ceria serta dipandu oleh relawan Tzu Chi, Rea dan anggota Tzu Ching lainnya.

Ketua Tzu Chi komunitas Xie Li Pati, Dwi Hariyanto,  turut merasakan besarnya semangat yang ditunjukkan para peserta. Manurutnya, pelibatan Tzu Ching serta Anak-anak SMB dalam kegiatan ini memiliki makna penting. “Anak-anak dan remaja punya energi yang luar biasa, ide-ide kreatif, dan semangat belajar yang tinggi,” ungkap Dwi Hariyanto.

Ia juga menambahkan ketika anak muda bergerak menyampaikan pesan-pesan agama yang menyejukkan, suara mereka kerap lebih mudah didengar dan mampu menginspirasi banyak orang. Upaya menyelamatkan bumi tidak perlu menunggu untuk menjadi orang dewasa, sebab seseorang dapat memulainya melalui Langkah kecil seperti hemat air dan listrik, mematikan kran saat menyikat gigi dan matikan lampu saat tidak digunakan. Selain itu menghabiskan makanan juga merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan, sebab membuang makanan sama saja dengan menyia-nyiakan berkah sekaligus menambah sampah organik. "Jaga Kebersihan, jangan pernah membuang sampah sembarangan,” ujar Dwi Hariyanto.

Bumi adalah satu-satunya "rumah" yang kita miliki bersama. Dengan mempraktikkan ekoteologi, kita tidak hanya menjadi pribadi yang taat beragama, tetapi juga menjadi pahlawan bagi bumi tempat kita tinggal.

Editor: Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Menjadi Sahabat Bagi Bumi

Menjadi Sahabat Bagi Bumi

10 September 2019

Mengawali bulan September yang orang bilang September Ceria, muda-mudi Tzu Chi atau Tzu Ching Medan mengadakan pelestarian lingkungan dari rumah ke rumah di sekitar Kampus Universitas Prima Indonesia, Medan. Apa saja yang mereka lakukan? 

Menjernihkan Alam dan Batin dengan Pelestarian Lingkungan

Menjernihkan Alam dan Batin dengan Pelestarian Lingkungan

28 Juli 2023

Komunitas relawan Tzu Chi di He Qi Tangerang kembali mengadakan Pelatihan Abu Putih yang ke-3. Irawaty Hendrawan mengisi sesi pertama dengan membahas secara lengkap filosofi dan prinsip pelestarian lingkungan beserta metodenya.

Mengajak Generasi Muda Cinta Lingkungan

Mengajak Generasi Muda Cinta Lingkungan

08 Mei 2024

Depo Pendidikan Pelestarian lingkungan Tzu Chi Medan di Cemara Asri dikunjungi siswa-siswi SMP Sekolah Bangun Insan Mandiri. Mereka ingin belajar tentang pelestarian lingkungan guna bisa diterapkan di lingkungan sekolah dan rumah.

Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -