Relawan Tzu Chi Komunitas Xie Li Agung Sedayu Group melakukan kegiatan pengangkutan barang daur ulang di bisnis unit Sedayu Indo Golf PIK 2. Berbagai jenis sampah yang telah dikumpulkan dan dipilah kemudian diangkut untuk disalurkan ke depo daur ulang dan CSR daur ulang. Sampah yang telah dipisahkan berdasarkan jenisnya ini nantinya akan dikelola kembali agar memiliki nilai guna.
Apakah Anda sudah tahu kalau sampah plastik yang sehari-hari kita temui, seperti botol minuman beserta tutupnya, gelas plastik, kemasan makanan ringan, hingga berbagai jenis plastik lainnya, bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai?
Sebelum sampai sana, tentu mereka lebih dulu dipilah, dibersihkan, kemudian dirajang menjadi kepingan-kepingan kecil. Potongan plastik ini selanjutnya dipanaskan dan dipres menggunakan mesin khusus hingga membentuk lembaran papan daur ulang atau recycled plastic board yang bercorak indah dan penuh warna, hasil perpaduan dari beragam jenis serta warna plastik yang digunakan. Dia lalu dibentuk menjadi benda yang sesuai dengan apa yang ingin dibuat. Bisa menjadi meja, kursi, jam dinding, atau banyak perabotan lainnya.
Tak cuma sampai situ, hal lain yang mungkin belum banyak diketahui adalah kemampuan sampah plastik ini bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif, termasuk bahan bakar yang memiliki karakteristik menyerupai solar. Melalui teknologi pirolisis, jenis plastik tertentu dapat diproses menjadi minyak yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi setelah melalui pengujian dan pengolahan lebih lanjut.
Dari perjalanan panjang, teknologi, tenaga, dan biaya yang harus dikeluarkan itu, sampah plastik khususnya, akhirnya menjadi bentuk yang baru dan mempunyai hidup kedua.
Inovasi Pelestarian Lingkungan Ala Tzu Chi ASG
Nah, semua proses itu ternyata sudah dijalankan oleh relawan Tzu Chi Komunitas Xie Li Agung Sedayu Grup (ASG) sejak Oktober 2025 lalu yang mulai dilakukan di bisnis unit Aloha Pasir Putih PIK 2. Dalam sepekan sekali, yakni setiap hari jumat pagi, sekitar pukul 9.00 hingga 11.00 WIB, para staf ikut serta memilah sampah plastik, memisahkan setiap bagian, dan mencucinya hingga bersih. Hasil pilah sampah, disalurkan ke depo pendidikan dan pelestarian lingkungan PIK, sekaligus ke beberapa recycle partner.
Semangat yang sama kemudian meluas ke lingkungan bisnis unit lainnya. Aksi tersebut lalu diikuti oleh bisnis unit Sedayu Indo Golf dan Central Market PIK 2 yang mulai kegiatan serupa pada awal tahun 2026. Dimana di dalamnya pun sudah bergabung beberapa staf yang menjadi relawan Tzu Chi.
Relawan Tzu Chi Komunitas Xie Li Agung Sedayu Group melakukan aksi pelestarian lingkungan berupa pemilahan sampah plastik di bisnis unit Aloha Pasir Putih PIK 2. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi sampah yang terbuang sekaligus membangun kebiasaan peduli lingkungan di lingkungan kerja.
Kegiatan rutin yang dilakukan setiap Jumat ini diikuti oleh relawan yang juga merupakan staf bisnis unit Aloha Pasir Putih dan Sedayu Indo Golf PIK 2. Mereka bersama-sama membersihkan botol-botol bekas minuman hingga bersih sebelum dipilah dan disiapkan untuk proses daur ulang.
Di balik kegiatan pemilahan sampah yang kini rutin dilakukan, salah satunya pada 30 November 2026 lalu, ada persoalan yang sejak awal ingin diatasi, yakni timbunan sampah yang terus meningkat di kawasan Aloha Pasir Putih. Bryan Alfa Yoga, Operation Deputy Department Head Aloha Pasir Putih PIK 2 menuturkan, kondisi inilah yang kemudian mendorong pihaknya untuk mulai membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
“Sebenarnya semua dilatarbelakangi oleh timbunan sampah yang ada di Aloha Pasir Putih. Kami awalnya berkoodinasi dengan dinas lingkungan hidup kabupaten Tangerang tentunya kami memiliki keselarasan dan ingin melakukan pemilahan sampah dan memiliki pengelolaan sampah yang baik di area komersial,” papar Bryan.
Upaya tersebut perlahan menunjukkan hasil. Pemilahan sampah yang dilakukan secara rutin membuat jumlah sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir berkurang cukup signifikan. Bryan pun menggambarkan perubahan tersebut melalui perbandingan jumlah sampah sebelum dan sesudah kegiatan berjalan.
“Dulu kalau di weekday biasa timbunan sampah yang kami buang bisa sampai 100 polybag, setelah ada kegaitan ini turun menjadi 50-an polybag. Kalau weekend baisa 200 polybag, turun menjadi 100 polybag. Yang bisa kami pilah separuhnya. Nah sampah atau sisa residu yang tidak bisa kami pilah, yang belum bisa kami olah, kami kerja sama dengan dinas lingkungan hidup Kabupaten Tangerang,” lanjut relawan yang sudah bergabung dengan Tzu Chi sejak 2024 ini.
Namun, manfaat dari kegiatan ini tidak hanya terlihat dari berkurangnya sampah yang terbuang ke TPA. Melalui kolaborasi antara Tzu Chi ASG dan relawan komunitas He Qi Jakarta Utara 1, semakin banyak staf yang terlibat dan memahami pentingnya menjaga lingkungan, mulai dari memilah hingga mengelola sampah dengan lebih bertanggung jawab.

Bryan Alfa Yoga (kiri), Operation Deputy Department Head Aloha Pasir Putih PIK 2, memperlihatkan hasil cacahan atau biji plastik yang nantinya dapat diolah menjadi berbagai barang yang bermanfaat. Melalui proses pengolahan lebih lanjut, material yang semula dianggap sebagai sampah ini dapat memiliki bentuk dan fungsi baru.
Top table dengan corak warna cerah dan indah ini terbentuk dari perpaduan berbagai warna kemasan plastik yang telah didaur ulang menjadi recycled plastic board. Setiap warna yang berpadu menghasilkan motif unik yang membuat permukaannya terlihat menarik.
Antony Chandra, Deputy Division Head Operations Golf Club at Agung Sedayu Group misalnya, saat ini ia menilai kegiatan ini amat penting dan besar dampaknya. “Karena tanpa kita sadari ternyata sampah adalah bagian dari hidup kita sehari-hari. Bayangkan, setiap bulan, ada lebih dari 100 kg sampah yang hanya dari botol plastik. Itu belum dari sampah lainnya. Itu hanya dari sini,” tutur Antony. “Apalagi kalau saya sedang keliling ke lokasi, ke lapangan, ada pantai. Di sana ya kadang ada banyak sampah plastik juga, itu kalau masuk ke laut kan ekosistem laut juga pasti terganggu. Untuk itu kita sekarang sebisa mungkin ikut menjaga,” imbuhnya.
Kesadaran untuk menjaga lingkungan inilah yang kemudian mendorong mereka melangkah lebih jauh, dari sekadar memilah menjadi mengolah sampah. Dengan banyaknya sampah plastik ini, Tzu Chi ASG tak berhenti memilah, tapi juga mengolah. Apalagi dengan menyandang predikat tempat hiburan dan wisata, ASG memegang tanggung jawab moral untuk juga tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan dipantau oleh dinas pariwisata dan dinas lingkungan hidup. Maka, melalui Tzu Chi ASG lah, kegiatan ini menjadi gayung bersambut.
Dari kegitan pelestarian lingkungan ini, mereka memisahkan masing-masing plastik, tutup, dan label kemasan. Walaupun belum bisa mandiri mengolah hasil pemilahan, Tzu Chi ASG dan CSR ASG sudah bekerja sama dengan politeknik ATMI (Akademi Teknik Mesin Industri) yang ada di Cikarang, For Good Things di Cibubur, dan Repair Project yang ada di Bekasi.
Natalia Kusumo, Ketua Komunitas Relawan Tzu Chi ASG, memperlihatkan satu set meja dan kursi yang terbuat dari hasil daur ulang plastik. Selain memiliki corak warna yang menarik, meja dan kursi tersebut juga tampak kokoh sehingga dapat digunakan untuk menunjang berbagai aktivitas sehari-hari.
Kolaborasi dengan berbagai mitra ini membuat sampah plastik yang telah dipilah memiliki peluang untuk diolah lebih lanjut menjadi produk yang bermanfaat. Hasilnya berupa recycled plastic board yang bisa dibentuk menjadi berbagai produk. Mereka pun bekerja sama dengan komunitas pemuda di lokasi penerima CSR untuk mengolah plastik menjadi bahan bakar murah yang selanjutnya diperuntukkan bagi para nelayan di bawah binaan ASG.
“Peruntukan saat ini untuk kebutuhan di Aloha, seperti tempat sampah, meja, lalu ada juga yang di-develop menjadi kursi. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan Tzu Chi ASG yang saat ini ikut dalam Program Bebenah Rumah di Kamal Muara dimana rencananya meja, kursi hasil program ini akan kami sumbangkan untuk melengkapi kebahagiaan mereka dalam menempati rumah barunya,”
Kehidupan Kedua yang Lebih Bermakna
Rencana tersebut pun telah diwujudkan melalui Program Bebenah Rumah di Kamal Muara. Hasil pengolahan sampah plastik yang semula hanya berupa lembaran papan kini telah menjadi perabotan yang dapat dimanfaatkan langsung oleh warga. Dalam momen penyerahan rumah (1/11/2026) sekaligus perabotannya di Kamal Muara, Natalia Kusumo, Ketua komunitas relawan Tzu Chi ASG pun menjelaskan sumbangsih pelestarian lingkungan ASG dengan penuh kebahagiaan.
Fahrozi Hardi, Lurah Kamal Muara, melihat langsung satu set meja dan kursi hasil daur ulang plastik. Melalui pemanfaatan kembali sampah ini, masyarakat diajak untuk memahami bahwa plastik tidak seharusnya dibiarkan begitu saja hingga mencemari lingkungan, karena dengan pengolahan yang tepat masih bisa menjadi barang yang berguna.
Satu set meja dan kursi hasil daur ulang plastik melengkapi rumah warga penerima manfaat Program Bebenah Kampung Tahap ke-7 Kamal Muara. Kehadiran perabotan ini tidak hanya menambah kenyamanan rumah baru mereka, tetapi juga menjadi bukti bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat kembali memberikan manfaat bagi kehidupan.
“Kali ini Tzu Chi ASG sumbang meja dan kursi hasil dari recycle untuk warga di Kamal Muara ini. Meja kursinya compact, kokoh, dan estetik. Yang paling penting ini adalah hasil dari pelestarian lingkungan. Kursi dan meja ini terbuat dari bungkus makanan, bungkus-bungkus snack, juga botol plastik yang kami kumpulkan lalu dipres. Jadi kami mencoba mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna,” ucapnya bahagia sembari menunjukkan set meja kursi di sampingnya. “Ini adalah satu program pelestarian lingkungan kami, dimana kami melihat banyak sampah dan cari solusi untuk bagimana sampah ini bisa jadi hal yang berguna. Nanti setiap rumah dapat satu set. Hari ini saya pun ikut senang sekali, ikut terharu,” tambah Natalia.
Diperkenalkan di hadapan warga, Natalia ingin sekaligus memberikan edukasi bahwa sampah masih bisa bermanfaat, bernilai. Hingga ia ingin masyarakat tidak lagi sembarangan membuang karena bisa mencemari lingkungan. “Kalau bisa kita kurangi penggunaan barang sekali pakai itu ya. Tapi kalau belum bisa, ya kita usaha, jangan buang sembarangan, kita kumpulkan sehingga nanti bisa jadi sesuatu yang berguna,” katanya.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari