Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1 mengadakan kegiatan Xun Fa Xiang dengan tema “Mentraktir Minum Susu”.
Pagi yang tenang di pertengahan bulan Juni 2026 menjadi momen penuh berkah bagi puluhan insan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1. Hari itu, Minggu, 14 Juni 2026, sebanyak 42 relawan berkumpul di Ruang Budaya Humanis, Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi untuk mengikuti kegiatan Xun Fa Xiang (menghirup keharuman Dharma). Xun Fa Xiang kali ini mengangkat tema yang mendalam yakni “Mentraktir Minum Susu”.
Acara yang berlangsung sejak pukul 06.20 WIB ini dipandu dengan hangat oleh Merlin Lukman sebagai MC dan dikoordinasikan dengan apik oleh Yuni selaku PIC. Ada hal yang istimewa pada kebersamaan kali ini, di mana salah satu relawan bernama Endang mengemban tanggung jawab baru sebagai moderator untuk pertama kalinya. Dengan penuh rasa syukur, Endang mengungkapkan kebahagiaannya atas berkah kesempatan yang diberikan. Meski membutuhkan persiapan materi intensif selama dua hari, rasa lega terpancar karena seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Endang yang menjadi moderator mendampingi Nani saat berbagi pengalaman tentang pentingnya berbakti dan merawat orang tua selagi kesempatan masih ada.
Dalam pengantarnya, Endang mengingatkan kembali esensi batin setiap manusia. “Setiap orang pada dasarnya memiliki hati Buddha. Ketika kita mampu menumbuhkan kesadaran, kebijaksanaan, dan welas asih dalam diri, saat itulah batin Buddha itu sedang nyata memancar,” tuturnya hangat kepada para relawan yang hadir.
Melalui ulasan materi Dharma bertema “Mentraktir Minum Susu”, Master Cheng Yen menegaskan pentingnya menghargai waktu dan kesempatan untuk bersumbangsih. Beliau berpesan bahwa saat niat baik muncul untuk melakukan sesuatu, hendaknya kita segera merealisasikannya dan jangan menunda-nunda. Filosofi kehidupan ini menegaskan hukum sebab-akibat: siapa yang menabur, dialah yang akan menuai. Melalui tindakan nyata dalam menyebarkan benih kebaikan inilah, setiap individu dapat memupuk pahala sekaligus menumbuhkan kebijaksanaan diri.
Nilai kebajikan tersebut langsung terwujud nyata dalam sesi sharing yang menyentuh hati dari beberapa relawan, di antaranya Sumiyati, Akwang, Hangga, dan Nani. Mereka saling berbagi pengalaman mengenai pentingnya berbakti dan merawat orang tua selagi kesempatan itu masih ada.
Akwang menekankan bahwa merawat orang tua mendatangkan berkah yang luar biasa dalam hidup. Ia mencontohkan kisah nyata dari Bobby yang dengan penuh ketulusan merawat ibunya setiap hari, hingga memperoleh berkah tak terduga berupa kesempatan perjalanan ke Jepang.

Surya Kheng membagikan pemahaman mengenai Filosofi Bacang Tzu Chi sebagai pedoman dalam mempererat jalinan persaudaraan antar relawan.
Melengkapi keindahan materi pagi itu, Surya Kheng turut membagikan ulasan mengenai internalisasi 'Filosofi Bacang Tzu Chi' sebagai kompas moral dalam mempererat tali persaudaraan antar relawan. Filosofi ini terdiri dari empat pilar esensial, yaitu:
- Zhi Zu (Puas Diri): Senantiasa merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki.
- Gan En (Bersyukur): Selalu bersyukur atas setiap berkah dan jodoh baik yang diterima.
- Shan Jie (Pengertian): Berpikir positif, berbuat baik, dan suka menolong sesama.
- Bao Rong (Toleransi): Berlapang dada, merangkul perbedaan, dan saling mengasihi.
Sebagai penutup dari indahnya jalinan Dharma, seluruh peserta melakukan sesi foto bersama di dalam ruangan. Namun, keceriaan tidak berhenti di sana. Sebelum melangkah pulang, para relawan diajak menuju lapangan terbuka Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng.
Dengan rapi dan penuh sukacita, mereka bersama-sama membentuk formasi huruf "XFX" raksasa yang diabadikan melalui dokumentasi foto udara menggunakan kamera drone. Kebersamaan pagi itu pun disempurnakan dengan santap pagi bersama yang menutup kegiatan Xun Fa Xiang hari itu.
Sebagai penutup kegiatan, para relawan membentuk formasi huruf "XFX" sebagai simbol kebersamaan dan sukacita dalam menghayati Dharma serta menebarkan kebajikan.
Editor: Arimami Suryo A.