Henny, selaku Wakil Koordinator Bidang Pendidikan He Qi Jakarta Barat 3, menyampaikan materi sosialisasi kepada para orang tua dan anak-anak.
Relawan Misi Pendidikan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 3, mengadakan kegiatan sosialisasi dan pendaftaran tahap 2 Kelas Budi Pekerti tahun ajaran 2026/2027 pada Sabtu, 13 Juni 2026, di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kegiatan ini menjadi jalinan jodoh baik untuk memperkenalkan pendidikan karakter yang berlandaskan cinta kasih universal kepada para orang tua dan anak-anak.
Sejak pukul 10.00 WIB, relawan yang bertugas di bagian koordinator lapangan (korlap) telah bersiap menyambut kedatangan para peserta. Dengan penuh kehangatan, relawan mengarahkan orang tua dan anak-anak menuju ruangan sosialisasi. Tercatat sekitar 10 orang tua dan 10 anak hadir dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan sosialisasi dimulai dan dibawakan oleh Henny, selaku Wakil Koordinator Bidang Pendidikan He Qi Jakarta Barat 3. Dalam sesi tersebut, para orang tua diperkenalkan mengenai dua kelas yang tersedia, yaitu Qin Zi Ban Kecil untuk anak kelas 1–3 SD dan Qin Zi Ban Besar untuk anak kelas 4–6SD.
Para orang tua dan anak-anak tampak menyimak materi sosialisasi dengan penuh perhatian. Setelah pemaparan selesai, mereka juga aktif mengikuti sesi tanya jawab untuk mengetahui lebih jauh mengenai kegiatan dan pembelajaran di Kelas Budi Pekerti.
Suryani, relawan Tzu Chi, saat memperagakan tata krama makan yang baik dan benar. Dengan penuh kesabaran, ia menjelaskan cara memegang mangkuk dan sumpit saat makan sebagai bagian dari pembelajaran budaya humanis.
Henny juga menjelaskan jadwal pembelajaran tahun ajaran 2026/2027 yang akan dimulai pada 9 Agustus 2026 dengan total 10 pertemuan, terdiri dari 9 kali kelas dan 1 acara penutupan. Ia juga menyampaikan bahwa Kelas Budi Pekerti tidak berfokus pada pelajaran akademik sekolah, melainkan lebih menanamkan tata krama, rasa hormat, sopan santun, kepedulian, serta cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memperkenalkan koordinator bidang, tim pemateri, tim Shou Yu (isyarat tangan), Da Ai Mama dan Da Ai Papa, Henny juga menampilkan berbagai dokumentasi kegiatan Kelas Budi Pekerti sebelumnya. Tampak anak-anak belajar Shou Yu, berbagi cerita di depan kelas untuk melatih rasa percaya diri, hingga kegiatan Hari Ibu seperti membasuh kaki orang tua sebagai ungkapan bakti dan rasa hormat kepada orang tua.
Suryani, selaku Koordinator Bidang Pendidikan He Qi Jakarta Barat 3, turut menyampaikan bahwa Kelas Budi Pekerti bukan sekadar tempat belajar bagi anak-anak, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama antara anak dan orang tua agar nilai-nilai kehidupan dapat diterapkan di lingkungan keluarga.
“Kelas Budi Pekerti bukan tempat menitipkan anak, melainkan tempat belajar bersama. Dalam hal ini, Master Cheng Yen menyampaikan pesan cinta kasih bahwa Pendidikan anak adalah mengajarkan tata krama, mengasuh budi pekerti, menunjukkan jalan, dan memandu mereka ke arah yang benar,” ujar Suryani.
Papa Sintyadi bersama kedua putrinya, Alicia dan Scarlett, hadir mengikuti kegiatan sosialisasi. Kedua putrinya merupakan calon murid Kelas Budi Pekerti yang tampak antusias mengenal berbagai kegiatan dan nilai-nilai yang akan dipelajari selama mengikuti kelas nanti.
Suasana sosialisasi berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Para orang tua tampak aktif bertanya mengenai kegiatan pembelajaran dan nilai-nilai yang akan diterapkan kepada anak-anak mereka. Sebagian besar orang tua mengaku mengetahui informasi Kelas Budi Pekerti melalui stan He Qi Jakarta Barat 3 pada kegiatan VESAK Festival 2026 di Mall Taman Anggrek. Dari jalinan jodoh baik tersebut, banyak orang tua akhirnya tertarik mengenal lebih jauh pendidikan budi pekerti yang diajarkan di Tzu Chi.
Salah satu orang tua yang hadir, Sintyadi, sempat menanyakan apakah kedua anaknya yang beragama Katolik diperbolehkan mengikuti Kelas Budi Pekerti. Dengan hangat, relawan menjelaskan bahwa Kelas Budi Pekerti bersifat lintas agama dan tidak membahas ajaran agama tertentu, melainkan menanamkan nilai tata krama, rasa hormat, serta cinta kasih universal kepada seluruh anak tanpa membedakan latar belakang.
Anak perempuan Sintyadi, Alicia, yang merupakan calon murid Kelas Budi Pekerti, juga membagikan kesannya setelah mengetahui nilai-nilai kebaikan yang diajarkan di Tzu Chi oleh relawan. Menurutnya, anak-anak tidak hanya belajar tentang budi pekerti, tetapi juga dilatih menerapkan norma kesopanan dalam kehidupan sehari-hari, seperti tata cara makan, berjalan, bersalaman, memperkenalkan diri, hingga berkenalan dengan orang lain secara sopan.
“Saya merasakan bahwa di Tzu Chi mengajarkan norma-norma kesopanan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak diajarkan cara makan, berjalan, bersalaman, dan berkenalan dengan orang lain dengan lebih sopan,” ungkap Alicia dengan antusias.
Orang tua dan anak-anak menjalani proses fitting seragam Kelas Budi Pekerti yang didampingi para relawan.
Setelah sesi tanya jawab, kegiatan dilanjutkan dengan pengisian formulir pendaftaran dan fitting seragam. Relawan dengan sabar membantu orang tua mengisi data serta menjelaskan perlengkapan yang diperlukan untuk kegiatan kelas nantinya.
Melalui Kelas Budi Pekerti, para relawan berharap dapat menanamkan benih-benih kebaikan sejak dini agar anak-anak bertumbuh menjadi pribadi yang penuh cinta kasih, hormat kepada orang tua, serta peduli terhadap sesama.
Editor: Fikhri Fathoni