Para Xiao Pu Sa belajar cara memegang huan bao (alat makan) yang didampingi oleh Susiana Bonardy, relawan Tzu Chi.
Menjadi anak yang baik bukan berarti harus selalu sempurna. Anak-anak masih dapat berselisih dengan teman, enggan membereskan barangnya sendiri, atau bahkan meluapkan emosi kepada orang lain. Para remaja yang sedang berada dalam masa peralihan pun masih dapat merasa bingung, kurang percaya diri, serta terus mencari jati diri dengan berbagai cara. Semua ini merupakan bagian dari proses bertumbuh.
Mereka membutuhkan ruang untuk mencoba, melakukan kesalahan, berefleksi, kemudian belajar kembali dengan pendampingan yang penuh cinta kasih. Semangat inilah yang menghidupkan kembali Kelas Budi Pekerti di Singkawang melalui Qin Zi Ban dan Tzu Shao Ban.
Pada Minggu, 9 Agustus 2026, Tzu Chi Singkawang mengadakan Kelas Budi Pekerti yang dilaksanakan secara bersamaan di Kantor Penghubung Tzu Chi Singkawang. Kegiatan ini terdiri atas Qin Zi Ban yang diikuti 10 anak beserta orang tua mereka dan Tzu Shao Ban yang diikuti 17 anak.
Kelas Budi Pekerti dilaksanakan sebulan sekali, setiap minggu kedua. Qin Zi Ban diperuntukkan bagi anak-anak setingkat sekolah dasar yang mengikuti kegiatan bersama orang tua, sedangkan Tzu Shao Ban diperuntukkan bagi anak-anak setingkat SMP hingga SMA. Melalui kegiatan dalam misi pendidikan ini, para peserta belajar berbakti kepada orang tua, mensyukuri berkah yang dimiliki, hidup harmonis di tengah masyarakat, serta mencintai lingkungan.
Belajar dan Bertumbuh Bersama dalam Qin Zi Ban
Qin Zi Ban merupakan kelas yang mempertemukan proses belajar anak dengan pendampingan orang tua. Para peserta terbagi dalam dua kelompok, yaitu Zhi Zu dan Gan En . Anak-anak yang disapa sebagai Xiao Pu Sa atau Bodhisatwa cilik, diajak mengenal kebajikan dan tata krama budi pekerti melalui bahasa yang sederhana dan menyenangkan.
Salah satu Xiao Pu Sa aktif mengungkapkan pendapat di depan kelas dengan rasa percaya diri.
Melalui lima tahapan pengajaran Kata Perenungan, yaitu mengalami, bercerita, berpikir, merenung, dan mempraktikkan secara langsung, para Xiao Pu Sa dibimbing untuk mengenal rasa syukur serta menyadari kasih sayang yang mereka terima setiap hari.
Qin Zi Ban bukan hanya kelas bagi anak-anak. Sesuai dengan makna namanya, Qin berarti orang tua dan Zi berarti anak. Qin Zi Ban menjadi ruang belajar bersama antara orang tua dan anak.
Ketika orang tua hadir mendampingi, mereka juga memperoleh kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandang anak. Ada saatnya orang tua belajar memberikan arahan, tetapi ada pula saatnya mereka belajar menahan diri, mendengarkan, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba sendiri.
Di sinilah makna Qin Zi menjadi hidup. Kedekatan orang tua dan anak tidak hanya dibangun karena tinggal dalam satu rumah, tetapi juga karena adanya kesediaan untuk belajar dan bertumbuh bersama.
Dalam pertemuan perdana ini, para Xiao Pu Sa dan orang tua diajak mengenal tata krama serta budaya humanis Tzu Chi melalui Empat Sikap Mulia dan keindahan budaya humanis saat makan. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan sebagai aturan yang mengekang, melainkan sebagai perwujudan rasa Gan En Zun Zhong dan Ai, yaitu rasa syukur, penghormatan, dan cinta kasih terhadap orang lain.
Dengan penuh cinta kasih, orang tua mendampingi anaknya dalam mengikuti setiap materi dan kegiatan dalam kelas Qin Zi Ban.
Melalui permainan, refleksi, dan praktik nyata, pertemuan Qin Zi Ban mengajak anak-anak memahami bahwa berbuat baik tidak harus menunggu hingga mereka dewasa. Mungkin satu tindakan kecil belum dapat langsung mengubah dunia. Namun, ketika banyak hati kecil mulai bersinar bersama, cahaya itu dapat menghangatkan keluarga, sekolah, dan lingkungan di sekitarnya.
“Kelas budi pekerti ini sangat menarik dan sangat baik untuk pendalaman dan penanaman karakter anak-anak, terutama mengajarkan anak anak tentang budi pekerti, kesopanan, tata krama, dan banyak pengetahuan lain yang berkaitan dengan karakter anak. Anak-anak juga bisa belajar dengan orang tua, orang tua juga jadi belajar lagi tentang budi pekerti, tentang kesopanan, dan mungkin nanti bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari di keluarga,” jelas Ulfa, orang tua Sunny.
Hal yang sama juga dirasakan oelh Santi, ia merasa kelas yang diikuti anaknya sangat bermanfaat.
“Sangat bermanfaat ya, dengan adanya kegiatan ini, kedekatan orang tua dan anak jadi lebih dalam. Sebagai orang tua juga bisa lebih meluangkan waktu untuk bersama dengan anak dan orang tua juga ada kesempatan untuk ikut belajar,” ujar Santi, orang tua Gloria.
Menumbuhkan Kemandirian Remaja dalam Tzu Shao Ban
Masih membawa nilai dan tujuan yang sama dengan Qin Zi Ban, Tzu Shao Ban memiliki perbedaan dalam proses pendampingannya. Para peserta mengikuti kelas secara mandiri tanpa didampingi orang tua.
Nama Tzu Shao berasal dari kata Tzu yang merupakan bagian dari nama Tzu Chi dan bermakna cinta kasih, serta Shao yang berarti muda atau remaja. Melalui kelas ini, para remaja diharapkan memiliki kepedulian, empati, dan rasa syukur atas berkah yang dimiliki. Mereka juga diajak mengembangkan empati menjadi aksi nyata dalam kegiatan sosial serta menumbuhkan sikap tanggung jawab, disiplin, dan kemampuan bekerja sama.
Dengen rasa kebersamaan, para peserta Tzu Shao saling belajar dan mempraktekkan posisi tangan Wen Xun (penghormatan).
Para Tzu Shao dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Bao Rong dan Shan Jie. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan materi Keindahan Budaya Humanis Tzu Chi dan Tata Krama.
Sama seperti dalam Qin Zi Ban, para Tzu Shao mempelajari Empat Sikap Mulia, yaitu Berjalan Laksana Angin, Berdiri Ibarat Pohon Cemara, Duduk Bagaikan Sebuah Lonceng, serta Keindahan Budaya Humanis saat Makan.
Selain itu, peserta juga diajak belajar menjadi versi terbaik dari diri mereka melalui materi bertajuk Bersinar, Mari Menjadi Versi Terbaik dari Diri Kita: Harapan untuk Diri Sendiri.
Rangkaian kegiatan tersebut bertujuan membangun kepercayaan dan kebersamaan dalam tim, menciptakan keharmonisan kelas melalui kesepakatan bersama, serta mendorong pengembangan diri setiap anggota Tzu Shao secara berkelanjutan. Kegiatan kemudian diakhiri dengan mengajak peserta merenungkan pertanyaan, “Hari ini, saya ingin menjadi pribadi seperti apa?”
Salah satu peserta Tzu Shao, Lorinfea, berbagi pengalaman selama menjalani kelas dan berbagai hal lainnya.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dan menyenangkan. Antusiasme dan keaktifan para Tzu Shao terlihat sepanjang rangkaian kegiatan.
”Hal paling berkesan tadi, kami mengisi soal-soal atau refleksi yang seru. Seperti perkenalan, tadi ada minta tanda tangan teman, kelebihan mereka, dan hal yang telah mereka capai,” ungkap Gilbert, salah satu peserta Tzu Shao Ban.
Hal serupa juga disampaikan Devoni. “Kelas hari ini tuh seru banget, kita banyak belajar hal baru, bahkan seperti jalan dan makan ada tata cara dan tata kramanya, seru dan belajar banyak hal baru,” ucapnya.
Melalui Kelas Budi Pekerti ini, benih-benih kebajikan mulai ditanam. Dengan pendampingan orang tua dan para relawan, diharapkan setiap Xiao Pu Sa dapat terus bertumbuh menjadi pribadi yang penuh rasa syukur, cinta kasih, dan kepedulian terhadap sesama. Demikian pula para Tzu Shao, semoga dapat bertumbuh menjadi generasi muda yang mandiri, berkarakter, dan mampu mewujudkan nilai-nilai kebajikan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Fikhri Fathoni