Menapaki Welas Asih dalam Pelatihan Relawan Tzu Chi Surabaya

Jurnalis : Rahayu Wulandari (Tzu Chi Surabaya), Fotografer : Diyang Yoga W, Sophie (Tzu Chi Surabaya)

Ida Sabrina saat menyematkan name tag kepada Suharjo sebagai tanda resmi menjadi anggota Tzu Chi. Pelantikan ini adalah bukti bertambahnya barisan relawan Tzu Chi di Kota Surabaya.

Mentari pagi mulai menghangatkan Kota Surabaya ketika satu per satu relawan Tzu Chi  melangkahkan kaki menuju Kantor Tzu Chi Surabaya. Dari halaman hingga ruang pelatihan, sapaan hangat saling bersahutan. Ada yang melambaikan tangan dari kejauhan, berjabat tangan dengan senyum penuh keakraban, hingga berpelukan layaknya keluarga yang telah lama saling mengenal. Kehangatan itu seolah menjadi energi yang menyatukan setiap hati sebelum pelatihan dimulai.

Perlahan, ruang pelatihan dipenuhi para relawan. Suasana berubah menjadi khidmat. Seluruh peserta duduk dengan penuh perhatian. Tatapan mereka tertuju kepada pemateri, sesekali menganggukkan kepala, tersenyum, bahkan larut dalam keheningan ketika kisah-kisah yang dibagikan menyentuh relung hati. Di atas meja, buku-buku kecil mulai dipenuhi catatan, seakan setiap kalimat yang terdengar begitu berharga untuk dibawa pulang.

Pelatihan relawan Abu Putih hari itu dihadiri oleh 36 orang relawan untuk kembali menapaki nilai-nilai yang menjadi fondasi perjalanan Tzu Chi. Mulai dari semangat Jing Si, pelestarian lingkungan, budaya humanis, hingga kisah perjalanan relawan yang telah bertahun-tahun meniti jalan welas asih.

Pelatihan relawan Abu Putih hari itu dihadiri oleh 36 orang relawan untuk kembali menapaki nilai-nilai yang menjadi fondasi perjalanan Tzu Chi. Relawan dengan khidmat mendengarkan seluruh pemateri dan mencatat materi yang dapat diterapkan sehari-hari.

Relawan dengan khidmat mendengarkan materi dari Lulu Shi Jie yang mengingatkan relawan Tzu Chi bahwa datang ke Tzu Chi bukan sekadar melakukan banyak kegiatan, melainkan juga belajar menjaga ucapan, sikap, dan kerendahan hati.

Suasana ruangan semakin hening ketika Lulu Shi Jie mengajak seluruh peserta kembali mengenal Griya Jing Si, tempat Master Cheng Yen memulai perjalanan Tzu Chi dari kesederhanaan. Melalui kisah-kisah sederhana, Master Cheng Yen mengingatkan bahwa Dharma tidak hanya dipelajari melalui kata-kata, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lilin yang rela membakar dirinya demi menerangi orang lain menjadi lambang ketulusan memberi, sementara rumput liar yang dicabut dari kebun menjadi pengingat untuk terus membersihkan ego dan prasangka di dalam hati.

Beberapa relawan tampak termenung ketika Lulu Shi Jie mengingatkan bahwa datang ke Tzu Chi bukan sekadar melakukan banyak kegiatan, melainkan juga belajar menjaga ucapan, sikap, dan kerendahan hati. Suasana yang semula dipenuhi senyum berubah menjadi penuh perenungan. Setiap orang seakan sedang bercermin pada dirinya sendiri.

Materi tersebut menjadi salah satu sesi yang paling membekas bagi Ariesta Shi Jie.

"Setiap kali mengikuti kegiatan di Tzu Chi, saya selalu merasakan suasana yang hangat. Hari ini pun saya kembali merasakan kehangatan itu. Saat Lulu Shi Jie menyampaikan kisah Master Cheng Yen tentang ketidakkekalan, saya benar-benar terharu. Saya tidak ingin lagi menunda untuk terus berjalan bersama Tzu Chi," janji Ariesta.

Tiga relawan baru, Suharjo, Meliana, dan Herrawati, diperkenalkan di hadapan seluruh peserta. Relawan yang sudah mengikuti kegiatan Tzu Chi sejak lama dan kembali aktif dalam satu tahun terakhir dalam kegiatan Tzu Chi Surabaya.

Kehangatan pelatihan hari itu semakin terasa dengan bertambahnya keluarga besar Tzu Chi Surabaya. Tiga relawan baru, Suharjo, Meliana, dan Herrawati, diperkenalkan di hadapan seluruh peserta. Tepuk tangan panjang mengiringi langkah mereka menuju depan ruangan. Senyum para relawan seakan menyambut hadirnya saudara baru yang akan berjalan bersama di jalan kebajikan.

Dalam sesi berbagi, Suharjo menceritakan jalinan jodohnya dengan Tzu Chi Surabaya. Sebagai relawan baru, Suharjo mengaku mantap mengikuti setiap kegiatan, terutama Program Bebenah Kampung. Keputusan itu lahir setelah dirinya berkali-kali mendampingi survei calon penerima bantuan. Hingga kini, ia telah mengikuti survei di 14 kelurahan yang menjadi lokasi program bebenah kampung.

Dengan suara sederhana namun penuh ketulusan, Suharjo berbagi pengalaman yang membekas di hatinya.

"Saat melakukan survei Bebenah Kampung, kami masuk gang demi gang. Ketika melihat penerima bantuan yang sudah tidak berdaya karena stroke dan kondisi rumahnya bocor, saya membayangkan bagaimana mereka menjalani hari-harinya. Di situlah saya sadar bahwa saya masih sangat beruntung," ucap Suharjo dengan penuh rasa syukur.

Ruangan seketika menjadi hening. Kisah sederhana itu mengingatkan bahwa setiap langkah menyusuri gang-gang sempit bukan hanya perjalanan menuju rumah penerima bantuan, melainkan juga perjalanan menemukan rasa syukur dan memperluas welas asih.

Relawan berjalan dengan rapi meninggalkan ruang pelatihan saat memasuki time break di lantai 3. Para peserta berjalan membentuk barisan mengikuti mentor dalam pelatihan budaya humanis Tzu Chi.

Suasana kembali penuh perhatian ketika materi pelestarian lingkungan disampaikan. Sebuah kalimat sederhana dari Master Cheng Yen ditampilkan di layar.

"Gunakanlah kedua tangan kalian yang sedang bertepuk itu untuk melestarikan lingkungan"

Kalimat yang diucapkan puluhan tahun silam itu telah menggerakkan jutaan orang di berbagai belahan dunia. Para relawan diajak menyadari bahwa menjaga Bumi dimulai dari kebiasaan kecil, seperti mengurangi penggunaan barang yang tidak diperlukan, membawa wadah makan sendiri, menghemat listrik dan air, hingga menjalani pola hidup vegetarian. Perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan.

Pelatihan relawan Abu Putih ini ditutup oleh Christine Tjen Shi Jie yang mengawali materinya dengan pesan Master Cheng Yen, "Jangan berkata bahwa kita tidak memiliki waktu. Setiap orang menerima 24 jam yang sama setiap hari."

Melalui perjalanan hidupnya sebagai relawan, Christine Shi Jie mengajak seluruh peserta memahami bahwa Tzu Chi adalah sekolah kehidupan, tempat seseorang belajar disiplin, menghargai waktu, bekerja sama, menurunkan ego, sekaligus belajar bersyukur melalui setiap kunjungan kasih kepada mereka yang membutuhkan.

Christine Shi Jie juga membagikan pengalaman saat menggalang dana. Dahulu dirinya merasa sungkan mengajak orang lain berdonasi. Namun, seiring waktu, Christine Shi Jie menyadari bahwa yang sebenarnya sedang dihimpun bukanlah uang, melainkan hati manusia agar bersama-sama menanam benih kebajikan.

Para relawan peserta pelatihan relawan Abu Putih, usai menjalankan pelatihan, berkesempatan untuk foto bersama dengan relawan Komite Tzu Chi.  

Di penghujung sesi, Christine Shi Jie menjawab pertanyaan yang mungkin pernah muncul di benak banyak relawan: mengapa tetap bertahan di Tzu Chi?

Christine Shi Jie tersenyum sebelum menjawab dengan kalimat sederhana yang disambut dengan tepuk tangan panjang dari seluruh peserta.

"Karena saya merasa diri saya menjadi lebih baik."

Tepuk tangan yang bergema sore itu terasa berbeda. Bukan sekadar penanda berakhirnya pelatihan, melainkan ungkapan syukur atas kesempatan untuk kembali mengisi batin dengan Dharma.

Para relawan pulang dengan membawa lebih dari sekadar materi. Mereka membawa hati yang kembali hangat, tekad yang semakin teguh, serta keyakinan bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi awal perubahan yang besar.

Sebab dunia tidak selalu berubah oleh kata-kata yang panjang. Terkadang, satu kalimat yang lahir dari welas asih, satu langkah yang dilakukan dengan ketulusan, atau satu hati yang tergerak untuk peduli telah cukup menjadi awal lahirnya perubahan yang mengubah dunia.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Bodhisatwa Berbuat Baik Bersama dan Memupuk Berkah

Bodhisatwa Berbuat Baik Bersama dan Memupuk Berkah

03 September 2024

Relawan dari komunitas He Qi Pantai Indah Kapuk (PIK) dan Muara Karang mengadakan Training Relawan Abu Putih ke-4 di Guo Yi Ting, Tzu Chi Centre. Tema pelatihan kali ini adalah “Bodhisatwa Berbuat Baik Bersama dan Memupuk Berkah”.

Menapaki Welas Asih dalam Pelatihan Relawan Tzu Chi Surabaya

Menapaki Welas Asih dalam Pelatihan Relawan Tzu Chi Surabaya

03 Juli 2026

Pelatihan relawan Abu Putih Tzu Chi Surabaya menjadi ruang belajar yang menghangatkan hati. Peserta diajak menumbuhkan kembali ketulusan, welas asih, dan rasa syukur melalui semangat Jing Si, pelestarian lingkungan, serta budaya humanis.

Keluarga Besar Tzu Chi

Keluarga Besar Tzu Chi

11 Juli 2024

Komunitas He Qi Pusat kembali mengadakan pelatihan relawan untuk tingkat Abu Putih ketiga. Pelatihan kali ini dilaksanakan secara hybrid learning dengan Xie Li Depok dan Xie Li Bogor yang dihadiri 190 peserta dan panitia dari tiga lokasi.

Orang yang memahami cinta kasih dan rasa syukur akan memiliki hubungan terbaik dengan sesamanya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -