Mendidik Sejak Dini untuk Tergerak Menyelamatkan Bumi

Jurnalis : Rosy Velly Salim (He Qi Pusat), Fotografer : Deddy (He Qi Pusat)

Para Murid Qing Zi Ban dan Tzu Shao Ban sebelumnya telah dihimbau membawa bahan-bahan organik (kulit buah atau sayuran) untuk digunakan saat sesi praktik membuat eco enzyme.  Annabele dibantu Henny Chen (Daai Mama) sedang menuangkan air ke dalam botol yang berisi molase.

Selama sepekan terakhir, temperatur suhu di Jakarta tercatat di 28 - 34 derajat Celcius. Kondisi ini membuat masyarakat merasakan tubuhnya menjadi lebih gerah dan panas akibat panasnya terik matahari. Selain itu, beberapa gangguan pernapasan banyak dialami akibat polusi udara yang sangat tinggi pencemaran.

Fenomena ini sejatinya adalah sebuah sinyal untuk bergegas menautkan (Bersatu) hati untuk bertindak nyata menyelamatkan bumi yang sedang sangat membutuhkan uluran tangan kita manusia. Sebagai bentuk sosialisasi dan menanamkan kepedulian lingkungan kepada Masyarakat luas, relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Pusat tergerak untuk terus mengaungkan kembali semangat pelestarian lingkungan di dalam setiap kegiatannya. Dan Kelas Pendidikan Budi Pekerti Tzu Chi menjadi salah satunya.

Nurfitini, relawan Tzu Chi, turut berbagi mengisi dalam kelas bimbingan budi pekerti He Qi Pusat. Ia menyampaikan kepada anak-anaknya tentang pentingnya menjaga bumi, demi penghuni bumi dan nasib bumi itu sendiri.

The Yenny (Relawan Tzu Chi) adalah praktisi yang telah lebih dari 10 tahun mengeluti eco enzyme. Ia membagikan cara, tips pembuatan eco enzyme kepada murid-murid dan orang tua murid.

Sejak pukul 8 pagi, murid-murid Qing Zi Ban Besar (setara SD atau SMP) dan Tzu Shao Ban (setara SMP dan SMA) sudah mulai berdatangan dan mengisi absensi di meja pendaftaran ruang serba guna yang berlokasi di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Pangeran Jayakarta pada Minggu, 10 September 2023. Tercatat ada 13 murid Qing Zi Ban Besar, 9 murid Tzu Shao Ban, 14 orang tua murid, dan 55 relawan Tzu Chi yang hadir.

Materi pengajaran kali ini bertemakan pelestarian lingkungan yang dikemas dengan sangat menarik. Terdapat aktivitas yang dilakukan di lapangan maupun di dalam ruangan. Pembelajaran mengalami disampaikan kepada para murid melalui permainan yang dinamakan “Kali Angke”(outdoor), “Berpetualang di Lautan” (indoor) dan praktik langsung membuat eco enzyme dan melakukan pemilahan barang-barang daur ulang. Anak-anak juga berkesempatan melihat dan mendengarkan secara langsung cara membuat sabun yang sehat dan ramah lingkungan.

Dengan riang gembira Annabele Faith Lynn (10) dan ibunya, Monica Bersama-sama dengan peserta lainnya melakukan permainan mengalami yang berjudul Kali Angke.

“Perasaan hari ini senang, seru, karena kegiatannya asyik ada eco enzyme dan membuat sabun. Ada juga permainannya, sedikit susah karena tangan kami diikat,” kata Annabele Faith Lynn (10) dengan semangat sembari mengingat apa saja yang sudah dipelajarinya hari ini. Pada permainan “Kali Angke”, 1 kelompok terdiri dari 4-6 orang (pesertanya termasuk murid, orang tua murid, maupun Duifu). Setelah itu satu tangan mereka masing-masing diikat satu sama lainnya sehingga yang tersisa adalah belahan tangan lainnya. Anak-anak diharuskan mengambil barang-barang yang tergeletak di halaman depo untuk dimasukan kedalam karung.

“Aku bantuin pegang karungnya, semua saling bantu ambil barangnya. Ada botol plastik, mainan, kertas, dan kaleng,”sambung Annabele. Bocah berusia 10 tahun ini juga menyampaikan apa yang ada di dalam benaknya saat itu. “Kita bisa ambil banyak sampah yang tergeletak di bawah, supaya bisa ikut serta (menjaga) bumi menjadi bersih. Tujuan dari permainan ini mengajak kita semua menjaga bumi, membersihkan bumi dari sampah, dan tidak membuang sampah sembarangan,” terang Annabele. 

Devin Alfiano Tjhia (13) bersama anggota kelompoknya sedang mengikuti permainan “Kali Angke”.

Bagi Delvin Alfiano Tjhia (13), peserta lainnya, pengajaran materi hari ini cukup menarik pasalnya ia bisa bermain bersama-sama dengan yang lainnya dan memetik pembelajaran dibalik yang telah dilakukannya hari ini. “Senang bisa mengumpulkan sampah dan bisa bermain bersama. Mengajarkan kita bijak dalam membuang sampah, membutuhkan kerjasama banyak orang untuk membersihkan sampah menjaga bumi supaya sehat. Saya juga pakai kaki untuk mengapai sampahnya untuk dimasukan ke karung,” kata Delvin.

Annabele, Delvin dan anak-anak lainnya kemudian diajak lebih dalam dan luas lagi dengan konsep pelestarian lingkungan 5R (Re-Think: memikirkan Kembali, Reduce: mengurangi, Reuse: menggunakan kembali, Recycle: mengolah kembali, dan Repair: memperbaiki), melalui bijak dalam memutuskan saat membeli barang, apakah termasuk kebutuhan atau keinginan semata. Selain pemaparan melalui lisan, juga melalui diskusi permainan dengan judul “bertualang di lautan” yang menyampaikan pesan ketika orang dihadapkan pada kondisi hidup dan mati, akan cenderung memikirkan apa yang menjadi kebutuhannya untuk dapat bertahan hidup. Dan, mendapatkan kebutuhan primer seperti makanan, minuman disaat genting tentunya akan merasa sangat bersyukur. Langkah untuk menjadi bahagia adalah mensyukuri apa yang telah kita miliki dan tidak merisaukan apa yang belum kita miliki. “Yang termasuk kebutuhan saya adalah makanan, minuman, peralatan sekolah, dan untuk keinginan belum ada karena tidak suka minta beli-beli barang,” jawab Delvin, ketika ditanyakan kepadanya apa contoh kebutuhan dan keinginannya. Delvin juga menjelaskan jika ia sudah terbiasa membawa bekal kotak makan dan minum sendiri saat ke sekolah.

Suvenir berupa sebotol eco enzyme yang diberikan kepada para murid yang dapat digunakan sebagai sanitizer, pembersih udara, mencuci pakaian, membersihkan lantai dan lainnya.

Hal yang sama dirasakan Annabele Faith Lynn (10) , dimana dari materi tersebut membuatnya menjadi tahu untuk membedakan yang mana kebutuhan dan keinginan, agar lebih bijak jika ingin membeli sesuatu barang. “Peralatan sekolah termasuk kebutuhan. Membeli sesuatu jadi perlu pentingkan membeli sesuai yang dibutuhkan. Jadi bisa membedakan yang dibutuhkan dan diinginkan,” ujarnya.

Monica (47), ibunda Annabelle mengungkapkan bahwa sifat anaknya termasuk riang, tingkat kepeduliannya cukup tinggi, tidak banyak menuntut dalam membeli sesuatu, dan hobinya di bidang seni sehingga ketika ia menyukai musik, menari, dan jika membeli stiker akan di manfaatkan untuk membuat jurnalnya.

“Materi yang ada cukup bagus, video yang ditayangkan juga mudah dimengerti oleh anak-anak. Penyampaian pelajaran juga mudah dicerna. Melalui kelas budi pekerti ini, anak-anak diajarkan tentang menghargai orang tua, sesama, dan lingkungan. Saya berharap Annabele bisa belajar menghargai kehidupan dan orang tua. Mengingat sekarang ini banyak sekali di temui, anak yang prestasinya pintar tetapi tidak ditunjang dengan budi pekerti yang baik,” kata Monica.

Monica sendiri kini sudah turut bersama masuk dalam barisan relawan Tzu Chi. Hal ini tentu juga tak luput dari dukungan anaknya tersebut. “Saya belum lama kehilangan salah satu keluarga. Saya berpikir hidup ini misteri dan singkat. Saya bilang ke Annabelle,  ‘I Want To Do Something’, dan dia juga mendukung saya berada di sini. Di sini sudah saya anggap keluarga kedua,” ungkap Monica membagikan rasa syukurnya.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Memperingati Hari Guru dengan Cara yang Menyenangkan

Memperingati Hari Guru dengan Cara yang Menyenangkan

05 Desember 2019

Sabtu, 30 November 2019, malam itu kegiatan mulai pada jam 19.00 WIB. Sebanyak 80 orang relawan dan termasuk guru-guru yang mengikuti kegitan ini.

Bijak Menggunakan Air, Perwujudan Cinta Kasih pada Bumi

Bijak Menggunakan Air, Perwujudan Cinta Kasih pada Bumi

11 Maret 2022

Relawan Misi Pendidikan komunitas He Qi Utara 2 mengadakan kelas budi pekerti Tzu Shao Ban pada hari Minggu 27 Februari 2022. Kelas yang diadakan secara online ini diikuti 21 siswa Tzu Shao.

Kelas Budi Pekerti bagi Generasi Baru

Kelas Budi Pekerti bagi Generasi Baru

15 September 2012 Budi Pekerti bagi generasi baru merupakan langkah awal yang baik untuk memantapkan insan Tzu Chi. Pertemuan kedua kelas Budi Pekerti yang diadakan di Kantor Tzu Chi Tanjung Balai Karimun.
Lebih mudah sadar dari kesalahan yang besar; sangat sulit menghilangkan kebiasaan kecil yang buruk.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -