Antusiasme para peserta saat menghadiri acara workshop yang diadakan relawan Tzu Chi komunitas He Qi Medan.
Dalam kegiatan kemanusiaan, kita terus belajar membuka hati untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Pada 4 Oktober 2026, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Medan mengadakan workshop yang mengusung tema “60 Tahun Tzu Chi dan Misi Amal, Bersatu Hati Menapaki Jalan Bodhisatwa” di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Medan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Komplek Grand Jati Junction, Medan. Acara itu diharapkan nantinya akan menjadi ruang bagi para relawan untuk kembali menyegarkan semangat dalam menjalankan misi amal. Sebanyak 77 orang relawan Tzu Chi komunitas He Qi Medan hadir dalam kegiatan Workshop Misi Amal, di dalamnya terdapat tiga Hu Ai yaitu Hu Ai Mandala, Hu Ai Titi Kuning, dan Hu Ai Perintis.
Di tengah suasana yang penuh kebersamaan tersebut, acara itu dibuka oleh Roslina Yun, selaku moderator juga memperkenalkan wakil koordinator pengurus misi amal, Yenny Waty dan dr.Lenny Wijaya, M.Biomed.
Kegiatan Workshop juga menghadirkan beberapa narasumber yang mempunyai pengalaman dibidang amal yaitu Shu Tjeng dan Budi Dharmawan. Selanjutntya materia sesi pertama disampaikan, Shu Tjeng yang memberi penjelasan mengenai sejarah awal berdirinya misi amal Tzu Chi. Ia menceritakan dahulu sejarah berdirinya misi amal Tzu Chi tidak terlepas dari kisah celengan bambu. Berawal pada tahun 1966 di Hualien, Taiwan, ketika Master Cheng Yen mengajak 30 ibu rumah tangga menyisihkan 50 sen setiap hari ke dalam potongan bambu untuk membantu sesama. Semangat kebaikan dari celengan bambu inilah yang kemudian berkembang pesat dan menjadi fondasi utama seluruh aksi kemanusiaan Yayasan Buddha Tzu Chi di berbagai penjuru dunia.
“Lebih dari sekadar mengumpulkan dana, gerakan sederhana ini ditujukan untuk menumbuhkan niat baik dan rasa kepedulian secara konsisten di setiap harinya.” Ujar Shu Tjeng.
Cinta Kasih yang Terus Mengalir
Pada materi yang dibawakan, Shu Tjeng juga menyampaikan mengenai tiga kisah awal penerima bantuan Tzu Chi. Ketiga kisah saling berkaitan erat dalam membentuk fondasi utamanya bantuan kemanusiaan Tzu Chi.
Dengan penuh cinta kasih Shu Jeng menyampaikan materi tentang sejarah Misi Amal Tzu Chi kepada para peserta.
Kisah pertama yang dibagikan adalah tentang Nenek Lin Ceng, seorang lansia berusia 86 tahun yang hidup sebatang kara di dekat pasar Hualien, Taiwan. Dalam kondisi sakit dan tanpa keluarga yang mendampingi, ia menjadi penerima bantuan jangka panjang pertama Tzu Chi pada Mei 1966. Tzu Chi memberikan bantuan finansial, perawatan sehari-hari, serta pendampingan hingga akhir hayatnya.
Selanjutnya kisah kedua di mulai dari Ibu Lu Dan-Gui seorang penjual sayur penderita glaucoma, dalam cerita tersebut diingatkan akan pentingnya menjaga kesadaran dan emosional pada proses mendampingi penerima bantuan. Tragedi menyedihkan yang menimpa Ibu Lu Dan-gui, seorang penjual sayur penderita glaukoma yang merasa menjadi beban keluarga hingga nekat mengakhiri hidupnya hanya karena kesalahpahaman emosional terkait tiga buah kol yang ia masak sekaligus di tengah kesulitan ekonomi.
Setelah itu, kisah terakhir diceritakan Shu Jeng tentang seorang kakek bernama Li A-se yang hidup menyendiri di dalam gubuk reot yang hampir roboh. Tzu Chi juga memberikan kepedulian terhadap kelayakan hidup para lansia, yang juga memberikan pendampingan kepada Li A-se, di mana para relawan tidak hanya menyalurkan bantuan materi tetapi juga membantu membangun rumah yang lebih aman untuk Li A-se.
“Melalui peristiwa inilah, Master Cheng Yen menyadari bahwa misi amal tidak boleh berhenti pada pembagian uang atau barang semata, melainkan harus mencakup pendampingan psikologis, perbaikan tempat tinggal, serta kehadiran pendampingan langsung yang memanusiakan setiap penerima bantuannya”. Ungkap Shu Tjeng
Melihat dengan Mata, Memahami dengan Hati
Pada sesi kedua, Budi Dharmawan, menyampaikan materi mengenai misi kemanusiaan Tzu Chi yang didasari oleh ketulusan untuk hadir bagi sesama. Melalui prinsip melihat dengan mata, relawan turun langsung ke lapangan untuk menyaksikan penderitaan tanpa sekat perbedaan. Pandangan mata ini bukan sekadar proses pengamatan fisik, melainkan awal dari tumbuhnya kepedulian yang nyata.
Dalam acara workshop yang bertema “60 Tahun Tzu Chi dan Misi Amal, Bersatu Hati Menapaki Jalan Bodhisatwa,” sesi materi tentang Misi Amal Tzu Chi disampaikan oleh Budi Dharmawan dengan penuh semangat.
“Melihat kondisi ekonomi melalui angka-angka yang diperoleh saat survei ke rumah penerima bantuan saja tidak cukup. Kita juga perlu memahami kondisi mereka dengan hati. Ketika rasa empati mendasari setiap tindakan, bantuan yang diberikan bukan sekadar materi, melainkan wujud rasa hormat, welas asih, dan kehangatan,” ungkap Budi Dharmawan.
Budi Dharmawan juga mengajak 3 peserta workshop untuk memberikan tanggapan melalui foto-foto ilustrasi yang pernah ditemui pada waktu melakukan survey. Masing-masing peserta memberikan sudut pandang mereka ketika melihat foto yang ditunjukkan. Salah satu peserta, Haeyanti menyampaikan pendapatnya saat melihat gambar yang ditampilkan.
“Kondisi rumahnya bagus, mungkin bisa saja dahulu calon penerima bantuan ini mampu kemudian ada hal yang membuat keluarga terpuruk sehingga membutuhkan bantuan, jadi tidak bisa dianggap bahwa keluarga ini tidak layak untuk dibantu”. Ungkap Haeyanti.
Salah satu peserta workshop, Haeyanti (ketiga dari kanan) menyampaikan pendapat saat melihat kondisi foto ilustrasi di Lokasi survey.
Kepedulian Menjadi Cinta Kasih
Sesi berikutnya diisi oleh Relawan misi Amal Tzu Chi, Yanti Yunita, berbagi Kisah inspiratif menjadi relawan pendamping Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi). Ia menceritakan kisah keluarga sederhana yang mengandalkan mata pencarian dengan menjahit tas, untuk memenuhi kebutuhan dua orang anak berkebutuhan khusus. Pada Maret 2025 Indra Budiman sempat mengalami osteoarthritis pinggang hingga menjalani perawatan serta pendampingan agar kondisinya dapat berangsur membaik dan bisa beraktivitas kembali seperti biasanya.
Sebagai bentuk rasa syukur, keluarga penerima bantuan itu turut aktif bersumbangsih dalam kegiatan yang diadakan oleh Tzu Chi seperti membantu Bazar Amal dan mendonorkan darah.
“melalui pengalaman ini, saya mendapatkan pelajaran berharga mengenai ketulusan kasih sayang orang tua, rasa syukur atas kehidupan, pentingnya bekerjasama serta menjalin komunikasi yang baik dengan sesama relawan karena menjalankan misi amal ini tidak dapat dikerjakan sendiri” ucap Yanti Yunita.
Pada sesi sharing, Teti, salah satu peserta PIC kasus amal, membagikan pengalaman barunya selama mengikuti kegiatan Misi Amal Tzu Chi.
Selain itu, salah satu relawan misi amal Tzu Chi, Teti, juga menyampaikan bahwa pada saat survey, rumah calon penerima bantuan berada di gang yang sempit. Ia kemudian diajak oleh relawan senior untuk ikut berkegiatan itu dengan menggunakan sepeda motor. Hal itu menjadi pengalaman baru yang cukup mendebarkan, karena ia belum pernah merasakan perjalanan menggunakan transportasi tersebut. Di tengah perjalanan, ia menyadari bahwa dirinya tidak mengenakan helm. Kemudian ia teringat akan salah satu Sila Tzu Chi yaitu pentingnya menaati peraturan lalu lintas. Rasa kesadaran yang mendalam akan keselamatan dan kedisiplinan menyadarkan Teti untuk segera meminta pengemudi berhenti di toko terdekat guna membeli alat pelindung kepala tersebut.
“Saat itu anak saya sempat heran melihat saya kenapa membawa pulang sebuah helm, kemudian saya lanjut menceritakan kejadian diatas, dan anak akhirnya memahami” ujar Teti.
Melalui seluruh rangkaian materi dan kisah inspiratif yang dibagikan, Workshop Misi Amal ini bukan hanya sekadar menjadi wadah pembelajaran materi amal, tetapi juga menjadi pengingat berharga akan pentingnya empati, ketulusan, serta kedisiplinan dalam setiap langkah pelayanan. Dengan niat yang luhur dan komitmen untuk saling menguatkan, para relawan siap melangkah bersama menapaki jalan Bodhisatwa demi menebarkan kasih dan membawa perubahan positif bagi masyarakat yang membutuhkan.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari