Laksmi Widyastuti membawakan Kisah Master Cheng Yen untuk mengajak para relawan menelusuri sejarah dan akar Tzu Chi, sekaligus memahami nilai-nilai yang melandasi setiap langkah perjalanan Tzu Chi hingga hari ini.
Relawan Tzu Chi He Qi Jakarta Barat 2 menggelar Pelatihan Relawan Abu Putih kedua pada Minggu, 25 Januari 2026, dengan mengangkat tema “Menelusuri Akar Tzu Chi, Meneguhkan Niat di Jalan Bodhisattva”, dengan Hadinata sebagai koordinator utama.
Tema ini dipilih seiring perjalanan Tzu Chi yang telah memasuki usia 60 tahun serta semakin banyaknya relawan baru yang bergabung. “Oleh karena itu, dirasa perlu mengajak para relawan, baik yang baru maupun yang telah lama bergabung, untuk kembali menelusuri akar Tzu Chi agar langkah ke depan senantiasa berlandaskan niat awal yang murni,” ungkap Mony selaku penggagas materi pelatihan ini.
“Akar tersebut kami angkat melalui pengenalan celengan bambu sebagai simbol awal mula Tzu Chi yang berangkat dari kesederhanaan, ketulusan, dan tekad untuk menolong sesama. Pemahaman ini diperdalam melalui kisah Master Cheng Yen yang dibawakan oleh Laksmi Widyastuti, sehingga relawan tidak hanya mengetahui sejarah, tetapi juga dapat merasakan semangat dan nilai yang melandasi setiap langkah Tzu Chi,” sambung Mony.
Relawan menampilkan lagu dan isyarat tangan “Celengan Bambu” sebagai sarana menyampaikan pesan kebajikan secara sederhana, ceria, dan mudah dipahami oleh semua kalangan.
Berkaitan dengan materi tersebut, ditampilkan lagu dan isyarat tangan berjudul Celengan Bambu yang mengisyaratkan ajakan bagi setiap orang untuk berbuat kebajikan setiap hari, dimulai dari hal yang paling kecil.
Celengan bambu melambangkan bahwa donasi sekecil apa pun, jika dilakukan dengan hati yang tulus dan secara kolektif, dapat terhimpun menjadi kekuatan besar yang mampu mengubah dunia serta memberikan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Melalui penampilan ini, relawan menginspirasi lebih banyak orang untuk memupuk kebiasaan baik dalam bersedekah, sekaligus mengingatkan bahwa berdana tidak perlu menunggu kaya.
Celengan bambu menjadi simbol ajakan berbuat kebajikan setiap hari, dimulai dari hal yang paling kecil, sebagai pengingat bahwa ketulusan dan konsistensi mampu menumbuhkan kekuatan besar.
Untuk semakin menggugah semangat berdonasi, Johnny Chandrina memaparkan materi tentang Galang Hati Galang Dana. Pengalaman nyata yang dibagikannya mampu menyentuh hati, khususnya bagi relawan baru, sekaligus mengingatkan relawan lama bahwa makna berdana bukan sekadar memberi secara materi, melainkan juga menggerakkan tekad dan ketulusan hati.
Johnny Chandrina menambahkan, “Tidak ada yang tidak mungkin jika ada niat dan tekad.”
Pelatihan ini juga dilengkapi dengan penjelasan mengenai struktur dan penamaan komunitas tahun 2026, yang memuat Struktur 4 in 1 serta pengenalan wilayah komunitas Jakarta Barat 2. Materi ini dibawakan oleh Elly Chandra dan bertujuan membantu relawan baru memahami struktur organisasi serta peran mereka dalam komunitas agar dapat berpartisipasi secara lebih terarah.
Sebagai ice breaking yang bermakna, agar proses “menelusuri akar” tidak hanya bersifat mendengar, ditambahkan tur Aula Jing Si dalam bentuk permainan amazing race. Metode ini diadaptasi dari He Qi Utara 1 yang telah diterapkan sebelumnya. Melalui pendekatan ini, relawan diajak belajar secara aktif, bekerja sama dalam tim, saling mendukung, serta menumbuhkan rasa kebersamaan. Proses mencari jawaban di setiap pos menumbuhkan rasa ingin tahu, kegembiraan, serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai Tzu Chi yang tersimpan di setiap sudut Aula Jing Si.
Permainan amazing race menjadi selingan bermakna dalam tur Aula Jing Si, mengajak relawan belajar secara aktif melalui kerja sama tim, kebersamaan, dan kegembiraan yang menumbuhkan pemahaman nilai-nilai Tzu Chi di setiap sudut aula.
Melalui rangkaian materi yang dipaparkan, seluruh kegiatan bermuara pada tujuan untuk mendorong para relawan meneguhkan niat di Jalan Bodhisatwa, berakar pada nilai-nilai Tzu Chi, serta melangkah dengan kesadaran dan tanggung jawab tanpa melakukan perbandingan antarindividu.
Pelatihan ditutup dengan Ceramah Master Cheng Yen, doa, serta pembagian suvenir. Dalam ceramahnya, Master Cheng Yen menekankan pentingnya bersungguh hati dalam setiap tindakan. Menjaga niat awal yang murni untuk membantu sesama merupakan kunci dalam menapaki Jalan Bodhisatwa yang panjang dan terkadang penuh rintangan. Master juga mengajarkan bahwa niat baik harus diwujudkan dalam tindakan nyata, didukung oleh keyakinan yang teguh serta ikrar tulus untuk menyelamatkan semua makhluk di dunia.
Editor: Metta Wulandari