Dora Tan menjelaskan makna San Hao Cha dan mengajak peserta menghayati nilai-nilai kebajikan melalui secangkir teh.
Tim Kebaktian He Qi Jakarta Utara 2 kembali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran Dharma. Kali ini, tim berkolaborasi dengan Tim Budaya Humanis dalam kegiatan belajar Sutra Makna Tanpa Batas (Wu Liang Yi Jing) yang mengusung tema “Menenangkan Hati, Menghidupi Dharma.” Kegiatan ini berlangsung di ruang Cha Dao 2, Gedung Gan En, pada 25 Juli 2026, dan diikuti oleh 34 peserta beserta panitia.
Kegiatan diawali dengan peserta berbaris dalam keheningan, dilanjutkan dengan mencuci tangan dan meditasi duduk selama beberapa menit. Suasana hening ini mengingatkan pada saat Buddha memasuki samadhi sebelum membabarkan Dharma. Melalui setiap langkah yang diperlambat, peserta diajak untuk menenangkan pikiran, menata batin, dan hadir sepenuhnya pada momen saat ini.
Saat mencuci tangan, peserta melafalkan empat kalimat dalam bahasa Mandarin, yaitu 清潔手 (qīng jié shǒu), 清淨心 (qīng jìng xīn), 洗手洗心 (xǐ shǒu xǐ xīn), 煥然一新 (huàn rán yī xīn), yang bermakna membersihkan tangan, menyucikan batin, mencuci tangan sekaligus membersihkan hati, hingga menjadi pribadi yang lebih baik. Prosesi sederhana ini menjadi pengingat bahwa kebersihan lahir dan batin berjalan beriringan.
Usai meditasi, peserta menikmati sesi Budaya Humanis Saji Teh, yang untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Tim Budaya Humanis kepada komunitas. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan dengan konsep 三好茶 (sān hǎo chá), yaitu 心发好愿 (xīn fā hǎo yuàn), 口说好话 (kǒu shuō hǎo huà), dan 身行好事 (shēn xíng hǎo shì), yang bermakna berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik. Melalui secangkir teh, peserta diajak melatih kesabaran, konsentrasi, ketenangan, serta kesadaran agar nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui secangkir San Hao Cha, para peserta diajak meresapi nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Hartini menyampaikan pesan dan kesan sebagai penutup kegiatan Belajar Dharma hari ini.
“Dalam budaya humanis Tzu Chi, kita tidak hanya belajar tata krama, tetapi juga melatih konsentrasi dan kesabaran. Dengan bersabar, pembawaan kita menjadi tenang. Dengan berkonsentrasi, kita menjadi lebih berkesadaran terhadap apa yang sedang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan. Di sini saya belajar banyak,” ungkap Dora Tan, selaku pembawa acara.
Hartini Harta Winata turut menyiapkan kudapan yang disajikan bersama teh. Setiap hidangan dipilih bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga mengandung makna yang selaras dengan nilai-nilai Budaya Humanis Tzu Chi.
“Anggur yang berbentuk bulat melambangkan sikap yang tidak memiliki sudut-sudut tajam, sehingga mengingatkan kita untuk tidak melukai hati orang lain. Makna ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga perasaan sesama agar hubungan yang harmonis dapat terjalin. Tomat yang berbentuk hati melambangkan tekad untuk menumbuhkan serta menyebarkan cinta kasih kepada orang-orang di sekitar kita, sehingga tercipta lingkungan yang nyaman, harmonis, dan penuh kasih sayang,” jelas Hartini Harta Winata.
“Sementara itu, wajik yang memiliki tekstur lengket diibaratkan sebagai he he hu xie, yang melambangkan kebersamaan, saling mendukung, kekompakan, dan keharmonisan dalam menjalankan kebajikan maupun berbagai kegiatan di komunitas,” lanjutnya saat menerangkan filosofi di balik pemilihan snack yang disajikan bersama teh.
Puspawati berbagi inspirasi dan kesan batin yang diperolehnya dari ceramah Master.
Para peserta bersama-sama melafalkan Janji Bakti sebagai pengingat untuk mempraktikkan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, peserta bersama-sama menyimak Ceramah Master Cheng Yen – Sutra Teratai Jing Si: Makna Tanpa Batas dalam Kebenaran Sejati (Episode 150). Setelah sesi ceramah, Puspawati membagikan pemahamannya.
“Sebelum mengenal Master, kita mungkin sering datang ke wihara dan mendengarkan Dharma, tetapi belum sungguh-sungguh merenungkannya. Kita menjalani kehidupan lahir, tua, sakit, dan mati, begitu cepat tanpa menyadari bahwa tubuh ini sangat berharga sebagai sarana mengasah batin. Jika tidak mendengarkan Dharma, kita mudah menjalani hidup dalam kebingungan dan kembali mengikuti arus karma. Kini Master mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan mencapai Kebuddhaan. Beliau selalu memanggil kita sebagai para Bodhisatwa. Jika kita terus melatih diri dengan sungguh-sungguh, kita pun dapat melangkah menuju Kebuddhaan.”
Melalui rangkaian kegiatan ini, peserta diajak untuk benar-benar menghayati makna ungkapan, “Masuk ke Jalan melalui teh, dan memasukkan Jalan ke dalam teh.” Semoga keheningan yang dialami, kebijaksanaan yang diperoleh, dan Dharma yang dipelajari tidak berhenti di ruang kegiatan saja, melainkan terus diwujudkan dalam pikiran, perkataan, dan tindakan sehari-hari, sehingga setiap orang dapat menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang, penuh cinta kasih, dan selaras dengan Dharma.
Editor: Metta Wulandari