Bagi Rike, bisa mendonor untuk pertama kalinya adalah berkah tersendiri. ia merasa jauh lebih beruntung bisa memberi daripada menerima selagi raga masih sehat dan ada kesempatan.
Sering kali kita lupa bahwa kesehatan yang kita syukuri hari ini adalah doa yang paling dinantikan oleh mereka di ruang perawatan. Melalui setetes darah, kita sebenarnya sedang berbagi kehidupan yang melampaui sekat perbedaan, sekaligus menyambung harapan yang sempat meredup. Di titik itulah, ketersediaan darah bukan lagi sekadar urusan teknis, melainkan kesempatan nyata yang sering kali menentukan keselamatan nyawa seseorang.
Kesadaran untuk saling menopang inilah yang menghangatkan suasana di Yayasan Tunggal Andal, Penjaringan, Jakarta Utara, pada Minggu, 1 Maret 2026. Niat baik para peserta disambut ketulusan 12 relawan komunitas Hu Ai Muara Karang serta bantuan profesional dari 7 petugas medis Unit Transfusi Darah RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Hari itu, dari 48 pendaftar, terkumpul 36 kantong darah, tiga puluh enam harapan baru yang siap disalurkan bagi mereka yang sedang berjuang untuk sembuh.
Kemenangan Kecil di Ujung Jarum
Di antara barisan pendonor, tampak Rike (58), seorang relawan yang memutuskan untuk menerjemahkan nilai kasih menjadi tindakan nyata. Ia memandang donor darah sebagai kesempatan berharga untuk mempraktikkan rasa syukur atas raga yang sehat.
"Orang yang memberi itu sebenarnya lebih beruntung daripada yang menerima," ujar Rike. Ia percaya bahwa memiliki kesehatan yang cukup untuk bisa berbagi adalah sebuah kemewahan batin. Prinsip “人生无常,把握当下” (hidup manusia penuh ketidakkekalan) menjadi pengingat baginya untuk selalu menggenggam erat setiap kesempatan berbuat baik yang datang hari ini. Sebab menurut Rike, kita tidak pernah tahu kapan keadaan akan berubah.
Dengan keyakinan tersebut, ia memberanikan diri melakukan pemeriksaan kesehatan. Saat dinyatakan lolos skrining, Rike pun ikut mengantre dengan hati yang tenang. "Duduk di kursi lalu mulai diambil darahnya. Rasanya gan en (bersyukur) sekali diberi tubuh yang sehat. Senang sekali bisa mendonorkan darah untuk pertama kalinya," tambahnya dengan binar mata bahagia.
Setelah penantian panjang melawan kondisi kesehatan, sukacita Ritawati pecah saat akhirnya ia mampu memberikan manfaat nyata lewat donor darah.
Kehangatan yang dirasakan Rike sebagai pendonor pertama kali, menjadi pemandangan yang menyentuh bagi rekan relawannya, Ritawati (51). Namun, jika bagi Rike ini adalah langkah awal yang lancar, bagi Ritawati, setiap langkah menuju kursi donor adalah sebuah perjalanan panjang melawan keterbatasan fisiknya sendiri. Di balik seragam relawan yang ia kenakan hari itu, tersimpan keteguhan yang luar biasa.
“Sebenarnya saya pendonor biasa saja, tapi mungkin cerita saya bisa jadi sedikit penyemangat bagi mereka yang juga ragu,” ujarnya. Bagi Ritawati, donor darah merupakan sebuah cita-cita yang sering kali harus berbenturan dengan realitas tubuhnya. Sejarah kesehatannya mencatat deretan kegagalan yang sempat mematahkan semangat, mulai dari tekanan darah yang sering merosot hingga berat badan yang tidak stabil. Ia teringat suatu hari di sebuah wihara; dengan keberanian yang dikumpulkan, ia melangkah maju untuk mendonor, namun harus pulang dengan tangan hampa karena kondisi fisiknya dinyatakan belum siap oleh tim medis. “Rasanya ada sedikit kecewa saat itu, niat ingin membantu tapi raga tidak mengizinkan,” kenangnya.
Titik balik itu baru datang pada Maret 2024. Setelah penantian panjang, untuk pertama kalinya ia dinyatakan lolos skrining. Namun, perjalanan itu tidak lantas menjadi mudah. Ia sempat harus kembali menelan pil pahit saat gagal di dua kesempatan berikutnya karena kadar hemoglobin yang rendah.
Namun, di bawah naungan Yayasan Tunggal Andal hari itu, semesta seolah tersenyum padanya. Di sela kesibukannya melayani peserta, Ritawati mencoba kembali peruntungannya. Saat petugas medis memberikan tanda bahwa semua syarat terpenuhi, binar matanya tak mampu menyembunyikan rasa syukur.
"Kali ini lolos. Rasanya gembira sekali, seperti menang lotere karena akhirnya bisa donor untuk kedua kalinya," ungkap Ritawati dengan senyum lega. Baginya, berhasil mendonor adalah sebuah perayaan atas raga yang sehat, sebuah napas kepedulian yang ia harap bisa terus ia bagikan secara rutin.
Mengalirkan Kembali Kasih yang Diterima
Perjuangan fisik yang dilalui Ritawati menemukan makna terdalamnya pada mereka yang berdiri di sisi penerima bantuan Tzu Chi, seperti pasangan suami istri Arif Firmansyah (46) dan Neneng Rohani (41). Sejak buah hati mereka, Diza Arumi Firmansyah (5), didiagnosis menderita leukemia, kehidupan keluarga sederhana ini tak pernah lagi sama. Di tengah masa-masa sulit itulah, relawan Tzu Chi hadir menemani perjuangan mereka, memberikan dukungan pengobatan yang menjadi sandaran bagi kesembuhan sang anak.
Lewat setetes darah, Neneng Rohani menyambung rantai kebaikan yang pernah ia terima. Sebuah langkah kecil yang ia harap dapat menjadi napas baru bagi keluarga lain yang sedang menanti keajaiban.
"Waktu pertama kali dokter bilang anak kami kena leukemia, rasanya kayak dunia berhenti sebentar. Jujur, kami kaget dan takut sekali," kenang Arif. Sebagai seorang ayah, ia merasa beban yang tadinya dipanggul sendiri menjadi lebih ringan saat tangan-tangan relawan merangkul dan menguatkan hatinya. Neneng pun merasakan kehangatan yang sama, menganggap relawan bukan sekadar pemberi bantuan, melainkan keluarga baru yang tulus peduli. "Yang kami rasakan bukan cuma dibantu secara medis, tapi perhatiannya yang luar biasa. Kami merasa nggak sendirian menjalani ini," ungkapnya.
Dalam heningnya ruang tunggu dan bangsal perawatan, Neneng dan Arif sering kali terdiam dalam syukur setiap kali melihat kantong-kantong darah tersalurkan ke tubuh putri mereka. Momen itu bukan sekadar prosedur medis, melainkan keajaiban yang memberi napas baru bagi Diza.
"Tiap lihat darah masuk ke tubuh anak, kami selalu terharu. Kami sadar betul, darah itu asalnya dari orang-orang baik yang mungkin nggak pernah kami kenal, tapi mereka sudah menolong nyawa anak kami. Dari situ kami benar-benar ngerasa kalau kebaikan orang lain itu bisa nyelamatin hidup seseorang," tutur Neneng tulus.
Berawal dari penerima bantuan, kini Arif Firmansyah menyingsingkan lengan baju sebagai wujud terima kasih untuk membantu nyawa lain, sebagaimana darah pendonor telah menguatkan perjuangan putrinya.
Rantai kebaikan ini pun menemukan jalannya kembali melalui Dewi (47), salah satu koordinator kegiatan hari itu. Dengan hati terbuka, ia mengundang Arif dan Neneng untuk hadir di Yayasan Tunggal Andal. Baginya, kehadiran mereka bukan sekadar angka dalam daftar peserta, melainkan bukti nyata bahwa kasih sayang selalu berputar.
"Saya ingin mereka merasakan sisi lain dari kebaikan ini. Bahwa setelah menerima bantuan, mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi penolong bagi orang lain," ujar Dewi.
Mendengar undangan tersebut, Arif dan Neneng merasa inilah saatnya mereka mengambil bagian. Mereka ingin beralih peran, dari yang biasanya didampingi, kini menjadi pihak yang menolong sesama. "Saya langsung ingat anak saya sendiri. Jadi saya pikir, kalau kondisi saya kuat, kenapa tidak? Mungkin darah saya bisa bantu orang lain, sama seperti orang lain sudah bantu anak kami selama ini," ujar Arif.
Neneng pun ikut menyingsingkan lengan baju meski sempat merasa gugup. Baginya, ini adalah bentuk terima kasih yang paling tulus kepada semesta. Pesan mereka bagi siapa pun di luar sana sangatlah menyentuh. "Bagi kami sebagai orang tua, darah dari para pendonor itu luar biasa artinya. Mungkin buat yang donor itu cuma sebentar, tapi buat keluarga pasien, itu adalah harapan untuk terus melihat anak kami tumbuh."
Pengabdian yang Mengalir Selama Dua Dekade
Jika Rike merayakan keberanian donor pertamanya dengan penuh syukur, Ritawati memenangkan perjuangan atas keterbatasan fisiknya, dan keluarga Arif menyalurkan rasa terima kasih mereka lewat tindakan nyata, maka sosok Jony Salim (54) melengkapi rantai kebaikan ini dengan sebuah keteguhan yang melampaui waktu. Pengabdiannya dalam berbagi telah dimulai lebih dari dua dekade silam, saat Jing Si Book and Café Pluit menjadi saksi bisu langkah pertamanya.
Melampaui dua dekade pengabdian, Jony Salim (tengah) telah mendonorkan darahnya lebih dari 55 kali sebagai bukti nyata dari niat baik yang dirawat dengan kedisiplinan hidup.
Catatan di kartu pesertanya menunjukkan angka yang mengagumkan. Ia memulai langkah ini pada 10 Agustus 2002. Hingga 1 Maret 2026, Jony telah menyumbangkan darahnya lebih dari 55 kali. Sebuah angka yang bukan sekadar deretan statistik, melainkan bukti dari sebuah niat baik yang terus dijaga.
“Waktu itu saya berpikir sederhana saja. Kalau kondisi badan sehat dan darah ini bisa bantu orang lain, kenapa tidak?” kenang Jony. Baginya, konsistensi selama dua puluh empat tahun ini bukanlah beban, melainkan kebiasaan yang tumbuh bersama kedewasaannya. Panggilan untuk menolong tak pernah mengenal kata jauh maupun titik jenuh dalam hidupnya.
Rahasia di balik tubuh bugar yang memungkinkannya berbagi hingga puluhan kali ternyata ada pada kedisiplinan hidup. “Saya berusaha jaga pola hidup saja. Makan cukup, istirahat, dan tidak macam-macam. Kalau mau donor darah kan memang harus menjaga kesehatan juga,” tambahnya. Baginya, menjaga kesehatan bukan lagi sekadar untuk diri sendiri, melainkan agar ia selalu siap saat "panggilan" untuk menolong itu datang.
Setiap kali jarum dicabut dan kantong darah terisi penuh, ada satu perasaan yang selalu sama ia rasakan selama 24 tahun terakhir, yaitu lega. “Rasanya senang karena hari itu kita bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat. Kita memang tidak tahu darah itu akhirnya dipakai siapa, tapi mudah-mudahan bisa membantu orang yang sedang membutuhkan.”
Sosok Jony Salim menjadi penutup yang manis bagi kegiatan di Penjaringan hari itu. Ia adalah bukti bahwa kepedulian adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak mengenal garis finis. Pesannya kepada kita semua pun sederhana namun mendalam: "Mungkin bagi kita ini tindakan sederhana, tapi bagi orang lain, setetes darah adalah segalanya."
Di balik 36 kantong darah yang terkumpul, terdapat niat tulus dari para peserta yang memilih untuk menjadikan kesehatan mereka sebagai saluran berkah bagi sesama.
Kegiatan di Yayasan Tunggal Andal hari itu mungkin telah usai, namun manfaatnya baru saja dimulai. Tiga puluh enam kantong darah yang terkumpul adalah bukti bahwa kepedulian masih sangat nyata di tengah masyarakat.
Pengalaman Rike, Ritawati, Arif, Neneng, dan Jony Salim menunjukkan bahwa donor darah adalah cara sederhana untuk mensyukuri kesehatan diri sendiri sambil membantu sesama. Apa yang diberikan hari ini adalah bentuk nyata dukungan antarmanusia agar mereka yang sedang berjuang dapat terus melanjutkan hidup. Mungkin bagi kita ini hanyalah langkah kecil, namun bagi mereka yang sedang menanti, setetes darah ini adalah jawaban yang sangat berarti.
Editor: Metta Wulandari