Fenny Apriani NG mengenang mendiang suaminya, Hasan Gus, dengan mata sembab namun tetap tersenyum. Ia terus belajar menerima dan melepas kepergian sang suami dengan tulus.
Hari itu, Minggu 8 Maret 2026, halaman Kantor Penghubung Tzu Chi Jambi dipenuhi wajah-wajah bahagia. Para relawan berkumpul merayakan peresmian gedung yang telah lama mereka nantikan, sebuah bangunan lima lantai yang kini menjadi pusat berbagai kegiatan kemanusiaan, mulai dari kegiatan amal, donor darah, hingga program sosial lainnya.
Namun di tengah suasana sukacita itu, bagi Fenny Apriani NG, relawan Tzu Chi Jambi, momen berdirinya gedung ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Di balik bangunan yang ramai hari itu, tersimpan jejak seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, suaminya. Dan dari halaman gedung yang dipenuhi para relawan itu pula, ingatan Fenny perlahan kembali pada sebuah malam yang tak pernah ia lupakan.
Fenny Apriani NG berbagi kisah di hadapan relawan Tzu Chi Jambi dan Jakarta dalam Peresmian Kantor Penghubung Tzu Chi Jambi, memotivasi para relawan untuk terus melangkah dalam perjalanan kemanusiaan yang masih panjang.
Satu malam pada bulan Januari 2025 itu sebenarnya terasa biasa saja. Seperti malam-malam sebelumnya, Fenny dan suaminya duduk berdua menikmati makan malam di rumah mereka. Kebiasaan sederhana yang hampir tidak pernah mereka lewatkan.
“Kalau sudah jam makan, pasti kami saling menunggu. Makan siang, makan malam,” kenang Fenny.
Di tengah kesibukan masing-masing, makan malam selalu menjadi waktu mereka untuk berkumpul kembali. Namun malam itu menjadi berbeda. Setelah makan, beberapa teman datang mengajak suaminya bermain badminton sebentar. Memang sudah cukup lama Hasan Gus atau yang akrab dipanggil Akiet tidak ikut berkumpul seperti itu. Setahun terakhir waktunya banyak tersita untuk berbagai kegiatan relawan, termasuk membantu proses pembangunan gedung Tzu Chi di Jambi.
“Aku main sebentar ya,” katanya saat itu.
Tak lama kemudian, suasana berubah. Setelah bermain, Akiet beristirahat dan duduk di pinggir lapangan. Ia terdiam, napasnya terdengar mendengkur, tubuhnya perlahan melemah. Semua terjadi begitu cepat, tanpa tanda-tanda sebelumnya. Malam itu menjadi malam terakhir mereka bersama.
Kepergian yang begitu mendadak itu seakan memutus banyak kenangan yang mereka bangun bersama, termasuk perjalanan Akiet di dunia kerelawanan.
Fenny Apriani NG bersama mendiang suaminya, Hasan Gus, saat awal terlibat dalam kegiatan Tzu Chi dan menerima tanggung jawab sebagai tim konsumsi.
Jauh sebelum malam itu terjadi, justru Akiet lah yang lebih dulu aktif di Tzu Chi. Fenny sendiri awalnya belum terlalu tertarik untuk ikut terlibat. Bahkan kadang ia merasa waktu kebersamaan mereka berkurang karena suaminya semakin sering mengikuti kegiatan relawan.
“Sabtu Minggu juga ada kegiatan. Jadi kadang saya merasa waktu ketemu jadi lebih sedikit,” katanya.
Suatu hari, suaminya mengajak Fenny datang ke kegiatan donor darah Tzu Chi. Saat memasuki ruangan itu, Fenny langsung memperhatikan bagaimana kegiatan berlangsung. Semuanya tertata rapi. Para relawan bekerja dengan teratur. Suasananya terasa hangat dan penuh kebersamaan. Ia terkesan.
“Saya sampai bertanya, kok bisa sebagus ini? Susunannya rapi sekali.” Suaminya lalu menjawab sederhana. “Makanya kamu ikut pelatihan, supaya tahu bagaimana cara kerjanya.”
Kalimat itu menjadi awal langkah Fenny mengenal dunia kerelawanan. Ia mulai ikut kegiatan dan mengikuti pelatihan. Perlahan-lahan terlibat membantu dalam berbagai kegiatan relawan.
Potret bahagia mendiang Hasan Gus saat berkegiatan sebagai relawan Tzu Chi.
Namun setelah kepergian suaminya, semuanya sempat berhenti. Hari-hari setelah itu terasa sangat berat dan sangat panjang. Di rumah, setiap sudut seolah menyimpan kenangan tentang suaminya. Kursi makan yang biasa mereka duduki bersama, percakapan-percakapan kecil yang dulu terasa biasa saja, kini justru terasa begitu berarti.
“Saya hampir setiap hari menangis,” kata Fenny.
Gedung Tzu Chi yang dulu sering didatangi suaminya pun menjadi tempat yang sulit ia datangi kembali. Terlalu banyak kenangan yang tersimpan di sana.
Namun di tengah masa-masa itu, sebuah kalimat dari suaminya tiba-tiba teringat kembali.
“Hiduplah di hari ini. Hari kemarin tinggalkan, hari esok jangan dirisaukan.”
Kalimat sederhana itu perlahan menyentuh hatinya.
Seolah belum cukup sampai di situ, suatu malam Fenny mengalami mimpi yang hingga kini masih ia ingat dengan jelas. Dalam mimpi itu, ia melihat suaminya berdiri di atas tangga gedung Tzu Chi, mengenakan seragam relawan lengkap. Sosoknya tampak rapi dan tenang, seperti sedang menunggunya.
Fenny tidak mendengar kata-kata apa pun. Namun, di dalam hatinya ia merasakan sebuah pesan yang begitu kuat seolah suaminya sedang mengingatkan, bahwa sudah waktunya ia kembali ke jalan yang dulu mereka jalani bersama dan melanjutkan misi kebajikan yang belum selesai.
Fenny Apriani NG (tengah) dengan wajah bahagia membantu membungkus suvenir untuk Peresmian Kantor Penghubung Tzu Chi Jambi.
Pada saat itu, para relawan pun tidak pernah berhenti merangkulnya. Mereka terus menemani Fenny, mengajak Fenny kembali terlibat dalam kegiatan. Perlahan-lahan ia mulai datang lagi.
Suatu hari ia diminta membantu di misi amal. Dari situlah sesuatu mulai berubah. Fenny mulai melihat langsung kehidupan banyak orang yang membutuhkan bantuan.
Ia bertemu dengan keluarga yang hidup dalam keterbatasan, anak-anak yang harus berjuang melawan penyakit berat, dan berbagai kisah kehidupan para penerima bantuan yang menyentuh hati. Salah satu yang paling membekas adalah seorang anak berusia sekitar dua belas tahun yang menderita kanker paru-paru. Rambut anak itu sudah rontok akibat pengobatan. Namun semangat hidupnya tetap kuat. “Dia tetap ingin sembuh,” kata Fenny.
Melihat itu semua membuatnya tersadar. “Saya sempat berpikir saya orang yang paling menderita. Tapi ternyata tidak.”
Perlahan-lahan hidupnya berubah. Kesibukan dalam kegiatan relawan membuat pikirannya tidak lagi terus tenggelam dalam kesedihan. Bahkan ia mengambil keputusan besar. Beberapa usaha yang sebelumnya ia jalankan akhirnya ditutup. Ia hanya mempertahankan satu usaha yang bisa berjalan sendiri, agar ia memiliki lebih banyak waktu untuk terlibat dalam kegiatan Tzu Chi.
“Saya ingin punya waktu lebih banyak di sini (Tzu Chi),” katanya.
Fenny Apriani NG (kiri) mengikuti pentas isyarat tangan lagu Wo Ai Tzu Chi Da Jia Ting pada kegiatan Pemberkahan Awal Tahun 2026 di Kantor Penghubung Tzu Chi Jambi.
Kini, ketika Kantor Penghubung Tzu Chi Jambi akhirnya diresmikan, Fenny berdiri di antara para relawan yang merayakan momen tersebut. Gedung ini memang bukan hanya bangunan. Bagi para relawan, gedung ini adalah tempat berkumpul, tempat melanjutkan visi misi Tzu Chi, sekaligus tempat menumbuhkan semangat untuk terus membantu sesama.
Sementara bagi Fenny, gedung ini juga menjadi pengingat akan perjalanan hidupnya sendiri. Tentang kehilangan dan proses bangkit kembali, juga tentang bagaimana sebuah jalan kerelawanan mampu mengubah duka menjadi kekuatan.
Di tempat yang dulu begitu sulit ia datangi kembali, kini Fenny justru melangkah dengan keyakinan baru. Melanjutkan jejak cinta kasih yang pernah dimulai oleh orang yang paling ia cintai, di Jambi.
Editor: Fikhri Fathoni