Mengasah Hati dengan Kunjungan Kasih kepada Pasien Kasus

Jurnalis : Stephanie, Riani Purnamasari (He Qi Barat 1) , Fotografer : Reza Rezaie, Vicky Ramadhan, Kusnadi Akwang (He Qi Barat 1)


Saking senangnya, Grace pun mencium bingkisan yang diberikan para relawan.

Kehidupan yang berbahagia adalah kehidupan yang penuh makna. Setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda, jalan yang berbeda, makna yang berbeda. Ada yang berbahagia dengan menjadi juara kelas, ada yang berbahagia mendapatkan promosi dalam pekerjaannya, ada juga yang berbahagia dengan melayani orang lain. Master Cheng Yen adalah guru yang selalu mengajarkan murid-muridnya maupun para relawan untuk mencapai tujuan kebahagiaan dengan melayani orang lain.

Dalam Empat misi utamanya, Tzu Chi dibangun pada fondasi Misi amal. Di mana para relawan melayani para penerima bantuan baik pasien kasus maupun anak asuh beasiswa. Pelayanan utamanya memang memberikan bantuan sesuai kebutuhannya, misalnya pasien kasus tentu diberikan bantuan sesuai dengan survey yang dilakukan sebelumnya. Ada yang membutuhkan bantuan operasi, ada yang membutuhkan tambahan nutrisi, ada juga yang membutuhkan dana bantuan biaya hidup bulanan. Setelah disurvei, pasien tidak hanya diberikan bantuan materi semata. Setiap bulannya, para relawan selalu mengumpulkan setiap anggota relawan komunitasnya, maupun relawan-relawan baru untuk bersama-sama memberikan perhatian melalui kunjungan kasih. Dengan demikian, keluarga pasien yang sedang berkesusahan hatinya dapat teringankan beban hatinya.

Dengan relawan Misi Amal yang sudah berkomitmen melayani para penerima bantuan, setiap bulannya mereka  mengadakan kegiatan kunjungan kasih. Pada Minggu, 16 September 2018 lalu, 30 orang relawan berkumpul di Aula Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi untuk mengunjungi beberapa penerima bantuan. Ada 5 kelompok yang dibagi oleh Yuni Gunawan, relawan koordinator kegiatan kunjungan kasih. Salah satu kelompoknya pergi ke daerah Kebon Jahe, Cengkareng Timur. Ada dua pasien malnutrisi yang tempat tinggalnya berdekatan, yang pertama bayi 2 tahun bernama Grace Imanuel dan bayi 5 bulan bernama Nurbagas.

Grace Imanuel, Ketika Kaki Tidak Kuasa Melangkah

Pasien yang bernama Grace, yang lahir bulan April 2016 menjalin jodoh pertama kali dengan Tzu Chi melalui tetangganya yang sudah mengenal Tzu Chi terlebih dahulu. Saat itu, Grace berusia 8 bulan dan sempat dilarikan ke rumah sakit karena gizi buruk dan flek paru-paru yang mengakibatkan perlambatan pertumbuhan dan sampai sekarang Grace masih belum bisa berbicara dan berjalan seperti bayi seusianya.

“Baru beberapa minggu ini kaki Grace bisa kuat menapak. Sebelumnya lunglai dan tidak bisa berdiri tegak waktu diberdirikan,” ujar Lusi, ibu Grace.

Ketika pertama kali masuk ke rumah sakit, Grace langsung ditangani oleh pihak rumah sakit dengan diberikan makanan bergizi. Tim medis juga melakukan bimbingan terhadap sang ibu pasien yang waktu itu berstatus ibu muda dan telah ditinggal suaminya sejak Grace masih dalam kandungan. Sejak Grace berusia 8 bulan, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia melalui relawannya selalu memberikan bantuan berupa pampers dan susu setiap bulannya. Ibunya Grace yang masih berusia 24 tahun saat ini masih terus menerima pendampingan dari para relawan.

Grace dan ibunya tinggal bersama dengan kakek neneknya Grace. Kakek Grace adalah kepala keluarga yang mengandalkan hasil penjualan dari pulungannya setiap hari. Kerisauan terjadi tiap hari ketika jam makan dimulai. Dengan kedatangan para relawan, kakeknya Grace pun menceritakan betapa pahit hidupnya di masa lalu. Dia pernah mengembalikan istri dan anaknya kepada keluarga mertuanya karena tidak sanggup membiayai kehidupannya dan ia pun pernah melakukan percobaan bunuh diri, namun karena Tuhan belum mengizinkan, maka ia pun kembali sehat.

Kini dengan adanya kunjungan dari para relawan, menghangatkan hatinya dan bisa menerima kehidupannya. Kakek Grace selalu senang dengan adanya kunjungan para relawan setiap bulannya.

Pada kunjungan kasih ini, relawan juga memberikan bingkisan bulanan untuk pasien Nurbagas.


Keluarga Nurbagas sangat bersyukur diperhatikan oleh para relawan Tzu Chi.

Nurbagas dan Nurbagus, Yang Selamat Adalah Nurbagas

Saat kedua bayi ini akan lahir, sekitar jam 12 siang, sang ibu belum merasakan tanda-tanda kelahiran bayinya dan akhirnya sang ibupun akhirnya tiba-tiba melahirkan di rumah dengan bantuan tetangganya. Nurbagas dan Nurbagus yang saat itu dilahirkan normal, ari-arinya masih tertinggal di dalam rahim ibunya sehingga ibunya dilarikan ke RSCK Tzu Chi. Nurbagus saat dilarikan ke rumah sakit akhirnya tidak bisa diselamatkan. Nurbagas lah yang masih bisa diselamatkan.

Sejak itulah Nurbagas mulai dibantu Tzu Chi terutama untuk peningkatan gizi buruknya. Beberapa kali dokter Toto dari RSCK Tzu Chi datang ke rumah keluarga Nurbagas untuk memantau perkembangannya. Saat ini Nurbagas masih terus menjalani rawat jalan khususnya steam pada paru-parunya. Nurbagas memiliki kakak yang bernama Damar yang telah putus sekolah dan memutuskan untuk bekerja, dan dua kakak lainnya yaitu Ilham dan Lina. Ketiga kakaknya sangat menyayangi Nurbagas.


Relawan mengecek perkembangan fisik Nurbagas.


Saat ini Nurbagas masih terus menjalani rawat jalan khususnya steam pada paru-parunya.

Mengajari dengan Memberi Contoh

Pada kunjungan kasih ini, Susanto adalah relawan yang baru aktif dalam berkegiatan Tzu Chi. Hari itu pun ia membawa turut serta kedua anaknya, Rio dan Ellen yang masih remaja. Tujuannya hanya satu, untuk merasakan syukur dalam hati.

“Dengan melihat kondisi para pasien, saya merasa bersyukur bisa memiliki kehidupan yang baik” ujar Ellen. “Ke depannya saya mau ikut lagi supaya bisa bersumbangsih, membantu yang membutuhkan,” ujar Rio.


Usai kunjungan kasih, relawan  berkumpul untuk saling berbagi tentang kesan dan pelajaran apa saja yang didapat dari kunjungan kasih kali ini.

Salah satu kata perenungan Master Cheng Yen yaitu “Mengatur orang bukan dengan sikap memerintah, namun dengan memberi contoh dengan perbuatan nyata” Susanto tidak bisa serta merta memerintahkan kedua anaknya untuk dapat mensyukuri kehidupan. Susanto memberikan contoh keteladanan dengan menjadi seorang ayah yang turut bersumbangsih untuk sesama. Di saat yang sama itulah, Susanto memberi contoh nyata bagi kedua anaknya untuk turut memaknai kehidupan dengan berbahagia melayani sesama.

Editor: Khusnul Khotimah  


Artikel Terkait

Mengasah Hati dengan Kunjungan Kasih kepada Pasien Kasus

Mengasah Hati dengan Kunjungan Kasih kepada Pasien Kasus

18 September 2018

Kunjungan kasih relawan Tzu Chi di komunitas He Qi Barat 1 ke beberapa penerima bantuan Tzu Chi ini memberikan kesan yang dalam, baik bagi keluarga penerima bantuan maupun bagi relawan sendiri. Para relawan dibagi menjadi 5 kelompok. Salah satu kelompoknya pergi mengunjungi dua pasien malnutrisi, yang pertama bayi 2 tahun bernama Grace Imanuel dan bayi 5 bulan bernama Nurbagas.

Landasannya adalah Berbakti Kepada Orang Tua

Landasannya adalah Berbakti Kepada Orang Tua

01 Oktober 2018
Shigu, lain kali tolong infokan ke saya ya. Saya mau ikut bersama teman-teman ke panti jompo” ujar Cindy Jonathan, siswi kelas XI SMA Cinta Kasih Tzu Chi kepada relawan Zhen Shan Mei. “Kenapa kamu mau ikut lagi?” tanyanya. “Karena dari kunjungan ke Panti Jompo, saya belajar bersyukur, jadi semakin sayang kepada mama dan papa,” jawab Cindy.
Menebar Kasih untuk Generasi Penerus Bangsa

Menebar Kasih untuk Generasi Penerus Bangsa

25 September 2018
Udara yang cukup panas siang itu tak mengurungkan kaki-kaki mungil anak-anak Paud Little Hoopoe untuk mendatangi lokasi kunjungan kasih di sebuah tempat yang terletak di belakang Tangerang City Mall. Tempat itu bernama Yayasan Semanggi, Rumah Singgah dan Belajar.
Bila kita selalu berbaik hati, maka setiap hari adalah hari yang baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -