Menguatkan Welas Asih dan Kebijaksanaan di Pelatihan Misi Amal Tzu Chi Medan

Jurnalis : Liani (Tzu Chi Medan), Fotografer : Amir Tan, Liani (Tzu Chi Medan)
Jenni Lo menyampaikan materi mengenai tata cara survei kasus bagi relawan yang mengambil dan menangani kasus misi amal.

Misi Amal merupakan akar dari Empat Misi Utama dan Delapan Jejak Langkah Yayasan Buddha Tzu Chi. Tujuan utama misi amal adalah memberi kebahagiaan dengan hati welas asih serta melepaskan penderitaan. Dengan semangat misi amal, Tzu Chi menjunjung tinggi penghargaan terhadap jiwa dan kesetaraan seluruh makhluk hidup.

Dalam menyalurkan bantuan, Tzu Chi berpegang pada prinsip cepat, tepat, dan langsung, serta berlandaskan pada nilai ketulusan, kebenaran, kepercayaan, dan kejujuran. Bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan penerima, meliputi bantuan beras, biaya hidup, susu, pendampingan, anak asuh, alat kesehatan, bedah rumah, serta berbagai bentuk bantuan lainnya.

Sebagai upaya penguatan niat dan peningkatan kapasitas relawan misi amal, Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Cabang Medan menyelenggarakan Pelatihan Misi Amal pada Minggu, 18 Januari 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Melangkah Bersama dengan Bijak dalam Menapaki Jalan Kebajikan” dan diikuti oleh 156 peserta, dengan dukungan 39 panitia.

Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari Kota Medan, tetapi juga datang dari berbagai daerah, di antaranya Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Tanjung Pura, hingga Tanjung Balai, sebagaimana disampaikan Widiyani, selaku koordinator kegiatan.

“Kami sangat bersyukur atas kelancaran acara ini, meski sempat tertunda akibat bencana banjir pada Desember lalu. Harapan saya, pelatihan ini dapat menjadi pembekalan yang berharga bagi para relawan serta semakin memantapkan budaya humanis Tzu Chi dalam misi amal,” ujarnya.

​Mengasah Welas Asih, Membangkitkan Kebijaksanaan
Acara dibuka dengan penuh semangat oleh Juniaty selaku pembawa acara. Memasuki sesi inti, para peserta diajak menyimak pesan cinta kasih melalui video ceramah Master Cheng Yen yang mengangkat tema membangkitkan kebijaksanaan dengan welas asih. Dalam pesannya, Master menekankan bahwa welas asih merupakan landasan utama kebijaksanaan. Melalui kepedulian terhadap sesama, pikiran manusia akan menjadi lebih jernih dan tenang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Huini, Handra Sikoko, dan Desnita memberikan penjelasan serta menjawab pertanyaan peserta dalam sesi tanya jawab pelatihan misi amal.

Selanjutnya, Desnita, Pembina Misi Amal Tzu Chi Medan, memaparkan materi mengenai SOP, arah, dan sikap relawan dalam menangani kasus misi amal. Ia menjelaskan bahwa praktik amal di Tzu Chi tidak semata-mata berupa bantuan materi yang hanya mencakup 10 persen, melainkan juga mencakup aspek tak berwujud berupa cinta kasih universal (30 persen) serta tujuan mulia untuk mensucikan hati manusia (60 persen).

“Dalam menjalani misi amal, diperlukan keseimbangan antara welas asih dan kebijaksanaan, dan tentu ada tantangannya. Selama ini, tantangan terbesar adalah komunikasi serta menyatukan beragam pemikiran relawan agar dapat mencapai satu kesepakatan dan tujuan bersama. Semoga pelatihan hari ini dapat membina relawan untuk memiliki satu pemikiran dan tujuan yang sama, serta tetap bertekad menjalani misi amal,” ungkapnya.

Desnita menambahkan bahwa Tzu Chi tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga pendampingan yang menyentuh batin.“Melalui misi amal, kita belajar memahami dinamika sifat manusia. Dalam penanganan kasus rutin, kebijaksanaan perlu digunakan agar bantuan tepat sasaran, sementara dalam kondisi darurat atau bencana, welas asih harus lebih diutamakan,” ujarnya.

​Profesionalisme dalam Pelayanan Kemanusiaan
Seiring perkembangan zaman, Tzu Chi Medan kini telah menggunakan SIRT (Sistem Informasi Relawan Tzu Chi), yakni sistem komputerisasi berbasis web (online). Handra Sikoko menjelaskan bahwa sistem ini sangat membantu dalam pengelolaan data relawan dan administrasi kasus, sehingga penanganan misi amal dapat berjalan lebih efektif, terstruktur, dan transparan.

Para relawan menampilkan adegan drama yang menggambarkan tata cara survei kasus yang tepat.

Dalam sesi berikutnya, Jenni Lo bersama tim menampilkan drama singkat yang menarik untuk mendemonstrasikan tata cara survei kasus. Melalui adegan tersebut, para relawan diingatkan untuk selalu menjaga etika survei, antara lain mencatat kondisi ekonomi dan kesehatan secara rinci, menghindari perdebatan dengan pemohon, menghormati privasi, serta tidak menghakimi kebiasaan penerima bantuan saat melakukan kunjungan ke rumah pemohon.

Tak kalah penting, Huini membekali peserta dengan teknik presentasi kasus dalam rapat.“Relawan pendamping (PIC) harus menguasai kasus secara mendalam agar mampu menggambarkan kondisi lapangan secara nyata kepada peserta rapat, bukan sekadar membaca teks pada slide,” tegasnya.

Pendampingan Hingga Tuntas
Misi amal Tzu Chi berlanjut hingga tahap pendampingan. Ardi Wijaya menjelaskan pentingnya peran relawan dalam mendampingi penerima bantuan, terutama pada kasus pengobatan. Dalam misi amal, bantuan diberikan sesuai kebutuhan, termasuk membantu pasien mengakses layanan kesehatan pemerintah seperti BPJS dan program UHC (Universal Health Coverage), baik di Kota Medan maupun luar kota.

Pendampingan ini bertujuan agar pasien tidak merasa sendirian dalam perjuangan melawan penyakit. Dengan adanya dukungan relawan, semangat untuk sembuh pun meningkat sehingga proses pemulihan dapat berjalan lebih baik. “Kami sangat bahagia melihat pemohon bantuan yang sakit bisa sehat kembali. Semua ini tidak lepas dari pendampingan relawan yang dilakukan dengan benar dan penuh ketulusan,” ungkap Ardi Wijaya.

Ardi Wijaya memaparkan pentingnya pendampingan dan perhatian berkelanjutan bagi para pemohon bantuan.

Vijay Kumar, peserta dari Tanjung Balai, mengaku memperoleh banyak pembelajaran dari pelatihan misi amal yang diikutinya untuk pertama kali.

Pelatihan ini juga memberikan manfaat dan pembelajaran mendalam bagi para peserta. Vijay Kumar, relawan asal Tanjung Balai, bahkan berangkat sejak subuh dan menempuh perjalanan sekitar empat jam menuju Medan demi mengikuti pelatihan misi amal ini. Jarak yang jauh tidak mengendurkan semangatnya untuk belajar.

“Motivasi utama saya mengikuti pelatihan ini adalah keinginan untuk memahami lebih dalam peran dan tanggung jawab sosial, serta bagaimana kontribusi kecil dapat memberi dampak nyata bagi sesama. Sesi yang paling menyentuh adalah saat narasumber membagikan kisah nyata dari lapangan—bagaimana bantuan sederhana mampu mengubah hidup seseorang. Dari sini saya belajar bahwa empati dan tindakan nyata harus berjalan beriringan,” ungkap Vijay.

Ia menambahkan bahwa bersumbangsih kepada masyarakat tidak selalu harus dalam bentuk materi.“Waktu, keterampilan, dan dukungan moral juga sangat berarti. Setiap orang memiliki cara unik untuk berkontribusi. Saya berkomitmen, setelah pelatihan ini, untuk mulai terlibat aktif meski dalam skala kecil di lingkungan sekitar, serta mengajak orang terdekat untuk peduli dan berbagi sesuai kemampuan masing-masing,” tambahnya.

Inspirasi juga datang dari dr. Nany Mkt., AIFO.K, peserta pelatihan yang telah bergabung dalam TIMA (Tzu Chi International Medical Association) sejak tahun 2019. Ia menekankan bahwa dalam menapaki jalan Bodhisatwa, proses belajar tidak boleh berhenti.“Tanpa belajar tidak akan lahir kebajikan, dan tanpa pengetahuan tidak akan muncul kebijaksanaan,” ungkapnya, sejalan dengan kepeduliannya terhadap kesehatan lansia.

Relawan bersama-sama melakukan isyarat tangan dengan lagu “Jalan Tzu Chi”.

Kegiatan juga diisi dengan permainan edukatif tentang kisah putri jelita dan tukang perahu yang mengandung pesan moral untuk menjaga pikiran dan membina keharmonisan dalam menjalankan misi amal, meski terdapat perbedaan pendapat, dengan mengedepankan kebijaksanaan.

Setelah sesi materi, para relawan mengikuti isyarat tangan bersama serta permainan edukatif gadis jelita dengan tukang perahu yang sarat pesan moral. Permainan ini mengajarkan pentingnya menjaga pikiran, menghargai perbedaan pendapat, dan menyatukannya dengan kebijaksanaan agar penanganan kasus dapat berjalan dengan baik.

Kegiatan ditutup dengan pesan cinta kasih dari Hasan Tina, Wakil Ketua Pelaksana Tzu Chi Medan, yang mengapresiasi dedikasi para relawan, baik yang berasal dari Medan maupun yang datang dari luar kota.
“Setelah mendapat ilmu, praktikkanlah di komunitas. Jangan takut mengambil kasus. Tetaplah semangat dalam menebar kebajikan,” pesannya.

Pengurus Misi Amal periode 2024–2025 menerima plakat apresiasi yang diserahkan oleh Desnita, Pembina Misi Amal.

Sebagai bentuk penghargaan, acara diakhiri dengan pemberian apresiasi kepada pengurus misi amal periode 2024–2025. Para peserta pun pulang membawa tidak hanya suvenir, tetapi juga tekad baru untuk menjadi saluran berkah bagi sesama.

Semoga melalui ladang kebajikan ini, semakin banyak hati yang tersucikan dan semakin banyak penderitaan yang terhapuskan. Menanam kebajikan, menuai kebahagiaan.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

Menguatkan Welas Asih dan Kebijaksanaan di Pelatihan Misi Amal Tzu Chi Medan

Menguatkan Welas Asih dan Kebijaksanaan di Pelatihan Misi Amal Tzu Chi Medan

23 Januari 2026

Yayasan Buddha Tzu Chi Medan menyelenggarakan Pelatihan Misi Amal sebagai upaya memperkuat niat, kapasitas, dan kesatuan langkah para relawan.

Langkah Pertama Sebagai Bodhisatwa Dunia

Langkah Pertama Sebagai Bodhisatwa Dunia

28 Maret 2019
Untuk membantu para dermawan menapaki langkah pertama sebagai Bodhisatwa dunia, Tzu Chi Batam mengadakan Pelatihan Misi Amal Tzu Chi pada 24 Maret 2018 di Ruang Isyarat Tangan, Aula Jing Si Batam.
Belajar Melayani dengan Hati dalam Pelatihan Misi Amal

Belajar Melayani dengan Hati dalam Pelatihan Misi Amal

16 Desember 2025

Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat 1 mengikuti Pelatihan Misi Amal bertema “Melihat dengan Welas Asih, Melayani dengan Hati” di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng pada Minggu, 14 Desember 2025.

Orang bijak dapat menempatkan dirinya sesuai dengan kondisi yang diperlukan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -