Antusiasme dan wajah sukacita murid kelas Budi Pekerti (Xiao Pu Sa) saat mengikuti permainan “Green Light & Red Light” yang dipandu oleh Relawan Rahayu. Para murid dengan penuh sukacita menikmati permainan “Green Light & Red Light” yang telah disiapkan relawan Tzu Chi Surabaya.
Minggu pagi, 9 Agustus 2026, suasana ceria terasa di Kelas Budi Pekerti Tzu Chi Surabaya. Sebanyak 26 peserta hadir untuk belajar bersama melalui materi, permainan, dan pengalaman yang menanamkan nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini didukung oleh 23 relawan Tzu Chi Surabaya bersama Tzu Ching Surabaya yang berperan sebagai operator, pendamping Xiao Pu Sa di setiap meja, hingga pembawa acara.
Kebersamaan relawan Tzu Chi dan Tzu Ching membuat suasana kelas semakin ceria. Mereka bahu-membahu memastikan seluruh kegiatan berjalan lancar. Kehadiran anggota Tzu Ching juga menunjukkan bahwa nilai cinta kasih dapat terus diwariskan kepada generasi muda melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan kemanusiaan.
Sebelum kelas dimulai, Younathan mengajak Xiao Pu Sa mengingat kembali pembelajaran sebelumnya tentang makna Xiao Pu Sa dan seragam yang dikenakan. Setelah memberikan penghormatan kepada Master Cheng Yen, seluruh peserta membacakan Ikrar Xiao Pu Sa sebagai pengingat untuk menjaga hati, pikiran, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Senyum Xiao Pu Sa saat menghias kembali halaman selanjutnya dari buku cinta kasih mereka dengan awan dan bintang yang berisi doa dan harapan untuk orang tua.
Anggota Tzu Ching Surabaya turut mendampingi Xiao Pu Sa saat menghiasi buku dengan penuh cinta kasih. Ada 26 peserta yang hadir untuk belajar bersama melalui materi, permainan, dan pengalaman yang menanamkan nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Keceriaan kemudian hadir melalui permainan Green Light dan Red Light. Anak-anak hanya boleh bergerak ketika mendengar aba-aba “Green Light” dan harus berhenti saat mendengar “Red Light”. Mereka yang masih bergerak ketika lampu merah disebutkan harus kembali ke garis awal.
Permainan sederhana ini ternyata menyimpan pesan yang lebih dalam. Anak yang berhasil mencapai garis finis mendapatkan Kartu Cinta Kasih untuk menuliskan doa dan harapan bagi orang tua. Dari permainan tersebut, anak-anak belajar tentang kesempatan dan pentingnya segera menggenggam jalinan kebaikan yang hadir.
Younathan menjelaskan bahwa Green Light menggambarkan kesempatan baik yang datang dalam kehidupan. Seperti Keping Kebaikan yang hanya dapat diambil ketika lampu hijau menyala, kesempatan untuk berbuat baik juga perlu segera digenggam.
“Sering kali kita karena terlalu banyak pertimbangan, atau karena diri sendiri tidak bersemangat dan malas, sehingga kehilangan banyak kesempatan baik. Sama halnya dalam berbuat baik. Jika kita merasa perlu menunggu waktu yang tepat baru melakukan perbuatan baik, sering kali karena terlalu banyak pertimbangan, kita justru kehilangan kesempatan untuk membantu orang lain,” jelas Younathan.
Ia mengingatkan bahwa waktu terus berjalan dan kesempatan yang datang hari ini belum tentu kembali di kemudian hari. Karena itu, sejak kecil Xiao Pu Sa diajak belajar berani mengambil kesempatan untuk melakukan kebajikan, sekecil apa pun bentuknya.
Pesan tersebut sejalan dengan Kata Perenungan Master Cheng Yen, “Sebaik apa pun kesempatan dan keberuntungan seseorang, jika tidak menggenggam jalinan jodoh yang ada dengan baik, maka kesempatan dan keberuntungan itu juga akan berlalu dan lenyap.”
Relawan Tzu Chi Surabaya dengan penuh welas asih mendampingi setiap meja yang ada untuk mengarahkan Xiao Pu Sa. Di balik kelancaran kegiatan, 23 relawan Tzu Chi Surabaya dan Tzu Ching Surabaya terus bersumbangsih dalam berbagai peran.
Pembelajaran ini juga dirasakan manfaatnya oleh Aristia Chen, salah satu orang tua yang kedua anaknya mengikuti kelas Budi Pekerti. Menurut Aristia, pendidikan budi pekerti merupakan bekal penting bagi anak, selain kemampuan akademik dan keterampilan.
“Senangnya karena secara akademik dan skill sudah kita siapkan, tapi untuk budi pekerti di zaman yang sudah banyak AI dalam memudahkan mencari informasi, punya wisdom adalah yang harus disiapkan juga untuk proses menuju kedewasaan sejak kecil,” ujar Aristia.
Pembelajaran berlanjut melalui tayangan video kisah Yu-an berjudul “Benih Kasih Sayang”. Melalui kisah tersebut, anak-anak diajak melihat bagaimana sebuah niat baik dapat menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain sekaligus bagi diri sendiri.
Agar pembelajaran lebih atraktif, relawan pendamping di setiap meja mengajak Xiao Pu Sa berdiskusi mengenai kisah Yu-an itu. Mereka diajak memahami perasaan orang yang menerima bantuan dan orang yang memberikan bantuan dengan tulus. Dari sini, anak-anak belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya berasal dari menerima, tetapi juga dapat tumbuh ketika seseorang memberi dan membantu sesama.
Nilai tersebut kemudian dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Berbuat baik tidak harus menunggu untuk melakukan sesuatu yang besar. Anak-anak dapat memulainya dari lingkungan terdekat, seperti membantu orang tua, berbagi dengan teman, membantu teman yang mengalami kesulitan, serta menjaga perkataan dan perilaku.
“Senang dengan antusiasme anak dan orang tua dalam mengikuti kegiatan. Harapannya dengan kegiatan kita kali ini, bersama dengan anak dan orang tua, untuk selalu bersemangat menggenggam setiap kesempatan berbuat kebajikan,” ujar Younathan.
Menjelang akhir kegiatan, suasana kembali dipenuhi kreativitas. Umma, relawan Tzu Chi Surabaya, mengajak Xiao Pu Sa menghias buku menggunakan bentuk awan dan bintang yang telah dituliskan doa serta harapan untuk orang tua dan orang-orang terdekat. Setiap hiasan menjadi ungkapan kasih anak kepada orang yang mereka cintai.
Kevin memperagakan isyarat tangan “Little Tree” yang diikuti oleh Xiao Pu Sa dengan penuh sukacita. Isyarat tangan “Little Tree” mengajak anak-anak merasakan kebersamaan dan memahami dengan tulus dapat menjadi benih yang tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Kegiatan ditutup dengan isyarat tangan “Little Tree” yang dipandu Kevin, relawan Tzu Chi Surabaya. Gerakan tersebut mengajak anak-anak merasakan kebersamaan sekaligus memahami bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi benih yang tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Di balik kelancaran kegiatan, 23 relawan Tzu Chi Surabaya dan Tzu Ching Surabaya terus bersumbangsih dalam berbagai peran. Ada yang memastikan materi berjalan dengan baik, mendampingi anak-anak, membantu permainan, hingga memandu acara. Setiap peran menjadi bagian dari jalinan kasih untuk mendampingi generasi muda mengenal dan mempraktikkan kebajikan.
Kelas Budi Pekerti bukan sekadar ruang belajar bagi anak-anak. Kegiatan ini menjadi tempat bagi orang tua dan anak untuk berjalan bersama dan menumbuhkan kebiasaan baik. Dari sebuah permainan, sebuah cerita, hingga kartu berisi doa untuk orang tua, semuanya menjadi kesempatan untuk menanamkan benih cinta kasih sejak dini.
Sebab, seperti benih yang membutuhkan perhatian untuk tumbuh menjadi pohon yang kuat, kebajikan juga perlu ditanamkan, dirawat, dan dipraktikkan sejak kecil. Ketika anak-anak belajar menggenggam kesempatan untuk berbuat baik hari ini, mereka diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kebijaksanaan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.
Editor: Anand Yahya