Menggenggam Waktu, Bersungguh Hati dan Tulus Menjalankan Misi Amal

Jurnalis : Ardi Wijaya (Tzu Chi Medan), Fotografer : Aristo, Melisa (Tzu Chi Medan)

Talk show yang dipandu oleh Juniaty menghadirkan tiga narasumber dari Kota Tanjung Pura, yaitu Noni, Tan Mi Lin, dan Siu Ling. Ketiganya berbagi pengalaman dan perjalanan dalam menjalankan Misi Amal Tzu Chi.

Minggu pagi, 6 September 2026, suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Cabang Medan, Jl. Cemara Boulevard No. 1 Blok G/1. Sebanyak 73 relawan Tzu Chi dari Komunitas He Qi Medan Deli hadir dalam Gathering Relawan Misi Amal yang mengusung tema “Menggenggam Waktu dengan Bersungguh Hati dan Tulus dalam Menjalankan Misi Amal.”

Kegiatan ini menjadi ruang bagi para relawan untuk kembali menyegarkan semangat, memperdalam pemahaman tentang Misi Amal, sekaligus mengingatkan bahwa setiap kesempatan untuk bersumbangsih merupakan kesempatan untuk melatih diri dan menumbuhkan cinta kasih. Dengan penuh kegembiraan, Pipink Asriana memandu jalannya acara.

Kegiatan diawali dengan penghormatan kepada Master Cheng Yen, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Mars Tzu Chi bersama-sama. Sesi pertama diisi oleh Siswanto Tam yang membawakan materi mengenai pengenalan Misi Amal Tzu Chi. Ia menjelaskan bahwa Misi Amal bukan sekadar wadah bagi relawan untuk melakukan kebajikan, tetapi juga menjadi tempat untuk melatih dan membentuk diri.

“Dalam menjalankan Misi Amal, kita harus melatih diri ke dalam dan melatih diri ke luar. Dengan demikian, selama menjalankan Misi Amal, kita dapat mengikis tabiat buruk dan menjadi pribadi yang lebih baik. Kita juga diharapkan mampu membimbing penerima bantuan agar perlahan dapat keluar dari penderitaannya serta menginspirasi orang lain, sehingga barisan insan Tzu Chi semakin panjang,” ungkap Siswanto.

Melalui setiap kunjungan dan pendampingan, relawan tidak hanya memberikan bantuan secara materi, tetapi juga menghadirkan perhatian, kepedulian, dan kehangatan. Di sinilah proses pelatihan diri berlangsung, mendengar dengan tulus, memahami dengan bijaksana, serta melayani tanpa pamrih.

Para relawan menyimak dengan penuh perhatian materi yang disampaikan. Melalui kegiatan ini, relawan kembali memperdalam pemahaman dan semangat dalam menjalankan Misi Amal.

Tidak kalah menarik, sesi berikutnya dikemas dalam bentuk drama mengenai tata cara survei calon penerima bantuan. Drama ini mengingatkan para relawan mengenai pentingnya penampilan, sikap, cara berbicara, serta cara menggali informasi dengan tetap menjunjung nilai-nilai budaya humanis Tzu Chi.

Melalui drama tersebut, relawan diajak memahami bahwa ketika bertemu dengan calon penerima bantuan, bukan hanya informasi yang perlu dikumpulkan, tetapi juga perasaan dan martabat orang yang ditemui harus dijaga. Mendengarkan dengan tulus, berbicara dengan lembut, memberikan perhatian, serta menghadirkan kehangatan merupakan bagian penting dalam menjalankan Misi Amal. Dengan demikian, proses survei tidak sekadar menjadi kegiatan administratif, tetapi juga menjadi jembatan kasih antara relawan dan sesama yang membutuhkan.

Setelah mendapatkan pemahaman mengenai Misi Amal dan tata cara survei, Ardi Wijaya selaku PIC Koordinator Acara mengingatkan bahwa tugas relawan tidak berhenti setelah survei dilakukan.

“Setelah melakukan survei, tugas relawan tidak berhenti sampai di sini. Selanjutnya, relawan perlu membuat PPT calon penerima bantuan dan membawanya ke forum rapat. Karena itu, penting bagi relawan untuk mengisi data dengan lengkap dan jelas. Dengan informasi yang lengkap, permohonan dapat dinilai dengan lebih bijaksana sehingga bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan calon penerima bantuan,” jelas Ardi.

Hal ini menjadi pengingat bahwa ketelitian juga merupakan bentuk cinta kasih. Setiap informasi yang disampaikan dengan benar akan membantu forum memahami kondisi calon penerima bantuan secara lebih utuh, sehingga keputusan yang diambil dapat dilakukan dengan penuh kebijaksanaan.

Sudianto Ely dan Meri Rialina, pasangan suami istri yang bersama-sama menapaki jalan Tzu Chi, berbagi pengalaman sebagai relawan dalam menjalankan Misi Amal.

Kehangatan gathering semakin terasa melalui talk show bertema “Perjalanan Misi Amal di Kota Tanjung Pura” yang dipandu oleh Juniaty sebagai moderator. Tiga narasumber berbagi pengalaman dan perjalanan mereka dalam menjalankan Misi Amal. Salah satunya adalah Noni, yang telah mengenal Tzu Chi sejak tahun 2014.

Perjalanannya berawal dari kepedulian sederhana kepada seorang lansia yang tidak memiliki keluarga. Suatu ketika, banjir besar melanda Kota Tanjung Pura. Lansia tersebut terjatuh dan mengalami kesulitan untuk bergerak. Di tengah kondisi tersebut, Noni melihat kehadiran relawan Tzu Chi yang datang memberikan bantuan.

“Pada saat banjir besar di Kota Tanjung Pura, relawan Tzu Chi hadir memberikan bantuan. Di sanalah jodoh saya bertemu dengan Tzu Chi. Saya memohon bantuan untuk lansia tersebut dan kemudian diajak bergabung menjadi relawan Tzu Chi,” tutur Noni.

Kini, Noni bertanggung jawab sebagai ketua relawan komunitas Hu Ai Binjai. Jarak yang jauh dari Kota Medan tidak menyurutkan semangatnya untuk bersumbangsih. Dengan ketulusan dan ketekunan, ia terus memperpanjang barisan relawan dan membantu mengembangkan Misi Amal Tzu Chi di Kota Tanjung Pura. Semangat Noni pun menginspirasi relawan lainnya.

“Noni memberikan perhatian dan membimbing kami seperti saudara sendiri. Kami mengikuti arahan Noni hingga saat ini. Pada bulan November nanti, kami akan ke Hualien untuk dilantik oleh Master Cheng Yen,” ungkap Tan Mi Lin dan Siu Ling.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa sebuah niat baik yang sederhana dapat menjadi awal dari perjalanan cinta kasih yang panjang. Dari kepedulian kepada satu orang, cinta kasih dapat terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak orang untuk turut bersumbangsih.

Melati Ramli dari He Qi Medan Deli membagikan suvenir kepada para relawan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan gathering.

Menjelang penghujung acara, para relawan dengan penuh perhatian menyimak ceramah Master Cheng Yen bertema “Welas Asih, Kebijaksanaan dan Keberanian dalam Bersumbangsih.”

Dalam ceramah tersebut, Master Cheng Yen kembali mengingatkan semangat awal Tzu Chi yang tumbuh dari celengan bambu. Dengan menyisihkan 50 sen setiap hari, 30 ibu rumah tangga pada masa awal Tzu Chi menanam benih kebajikan melalui hal sederhana yang dilakukan dengan tekun. Master Cheng Yen berharap semakin banyak orang yang terinspirasi untuk menerapkan semangat Tzu Chi, yakni bersumbangsih dengan cinta kasih tanpa pamrih.

Dalam bersumbangsih, kita bukan hanya memberikan sesuatu kepada orang lain, tetapi juga belajar bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk membantu. Bahkan, ketika memberikan bantuan, insan Tzu Chi diajarkan untuk membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih kepada penerima bantuan. Sebab, kesempatan untuk bersumbangsih merupakan berkah yang patut disyukuri.

Semangat inilah yang terus dikembangkan oleh setiap insan Tzu Chi, mempertahankan tekad, tekun melatih diri, terus belajar, serta berani melangkah untuk menghadirkan cinta kasih di tengah masyarakat.

Salah satu relawan dari Kota Tanjung Pura, To Siu Tuan, menjadi teladan bagi relawan lainnya. Meski telah lanjut usia, beliau tetap bersemangat menjalankan Misi Amal dan melestarikan lingkungan. Baginya, dapat membantu orang lain merupakan kebahagiaan yang tak ternilai. Ia merasakan bahwa dengan aktif menjalankan Misi Amal dan pelestarian lingkungan, tidurnya menjadi lebih nyenyak dan tubuh pun terasa lebih sehat.

Kisah To Siu Tuan mengingatkan kita untuk tidak menyia-nyiakan waktu di usia muda. Namun, ketika usia telah lanjut, jangan pula merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Selama masih memiliki kesempatan dan kemampuan, mari menggenggam waktu sebaik-baiknya untuk terus berbuat kebajikan.

Sharing dari relawan inspiratif juga hadir dari pasangan suami istri yang bersama-sama berkomitmen menapaki jalan Tzu Chi. Sudianto Ely dan Meri Rialina bergabung dengan Tzu Chi pada tahun 2025.

Menurut Sudianto Ely dan Meri Rialina, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mereka sebagai relawan baru. Melalui kegiatan ini, mereka semakin memahami Misi Amal Tzu Chi sekaligus berkesempatan menjalin jodoh baik dan bertemu dengan para mitra bajik yang dapat membimbing serta mendukung mereka dalam menjalankan kegiatan Tzu Chi.

Para relawan dengan penuh perhatian menyimak ceramah Master Cheng Yen tentang welas asih, kebijaksanaan, dan keberanian dalam bersumbangsih.

Acara kemudian ditutup dengan pesan cinta kasih dari Melati Ramli, He Qi Medan Deli. “Saya sangat bahagia karena semakin banyak relawan yang menjalankan Misi Amal. Misi Amal merupakan misi pertama Tzu Chi. Setiap relawan harus bersungguh hati, tulus, dan bersatu hati dalam menjalankan Misi Amal, karena Misi Amal merupakan akar dari Tzu Chi,” ungkap Melati.

Sementara itu, Ardi Wijaya selaku PIC Koordinator Acara menyampaikan bahwa gathering ini dikemas dengan materi yang sederhana, namun diharapkan dapat menumbuhkan kembali semangat para relawan dalam menjalankan Misi Amal.

“Melalui gathering hari ini, kami berharap relawan dapat memahami tujuan Misi Amal, tata cara survei yang lebih humanis, serta belajar untuk lebih bersungguh hati, tulus, dan penuh cinta kasih dalam menjalankan setiap langkah Misi Amal,” ujarnya.

Ia juga mengutip Kata Perenungan Master Cheng Yen, “Dengan adanya cinta kasih dalam hati, baru ada keberkahan dalam hidup. Dengan bersumbangsih, baru ada keberhasilan dalam hidup.”

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Gathering Relawan Hu Ai Perintis, Merawat Semangat Melayani dengan Welas Asih

Gathering Relawan Hu Ai Perintis, Merawat Semangat Melayani dengan Welas Asih

07 Agustus 2026

Gathering Relawan Misi Amal Hu Ai Perintis Medan menjadi momen refleksi untuk memperkuat semangat pelayanan, menanam berkah, dan memupuk kebijaksanaan.

Melangkah dengan Cinta Kasih, Menjangkau Mereka yang Membutuhkan

Melangkah dengan Cinta Kasih, Menjangkau Mereka yang Membutuhkan

15 Juni 2026

Pertemuan relawan Misi Amal Tzu Chi Medan, menjadi sarana bagi relawan untuk memperkuat semangat pelayanan dan pemahaman tentang pendampingan kemanusiaan.

Belajar Bersama dalam Gathering Misi Amal

Belajar Bersama dalam Gathering Misi Amal

20 Februari 2017
Tzu Chi Medan kembali menggelar gathering Misi Amal. Gathering misi amal bertujuan agar para relawan saling menginspirasi dan belajar satu sama lain. Beberapa relawan menceritakan pengalamannya, termasuk apa saja yang membuat mereka mencintai apa yang mereka lakukan di Misi Amal.
Meski sebutir tetesan air nampak tidak berarti, lambat laun akan memenuhi tempat penampungan besar.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -