Tim TIMA Indonesia membawakan penampilan genderang yang melambangkan semangat kebersamaan dalam meringankan beban sesama.
“Jangan Lupakan Tekad Awal Masa Celengan Bambu–Selamanya Mengingat Ikrar Agung Silsilah dan Mazhab Tzu Chi” menjadi ruh dalam Pemberkahan Akhir Tahun (PAT) yang digelar oleh komunitas relawan Tzu Chi Jakarta Utara 2 pada Minggu, 8 Februari 2026. Bertempat di Lantai 3 Tzu Chi Center, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus penguatan hati bagi para relawan dan donatur.
Suasana khidmat seketika bergelora saat tim Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia membuka acara dengan penampilan genderang yang bertenaga. Yekti Utami, koordinator sekaligus pelatih tim, menjelaskan bahwa setiap pukulan genderang membawa pesan persatuan.
“Berbuat baik itu tidak bisa dilakukan sendiri. Kita harus mengajak orang-orang di sekitar agar gemanya terdengar lebih luas dan mampu meringankan beban lebih banyak orang yang membutuhkan,” ujar Yekti. Ia menekankan bahwa berkah dalam kebajikan harus dibagikan agar manfaatnya kian terasa.
Para relawan juga menampilkan lagu isyarat tangan tentang celengan bambu yang liriknya penuh makna.
Melalui lagu 'Mo Wang', relawan mengajak hadirin kembali mengingat tekad awal dan niat luhur dalam menapaki jalan kemanusiaan di usia Tzu Chi yang ke-60.
Melalui pertunjukan isyarat tangan, relawan Jakarta Utara 2 mengajak hadirin mengenang kembali sejarah awal berdirinya Tzu Chi. Kekuatan cinta kasih global ini nyatanya bermula dari koin-koin kecil sisa uang belanja para ibu rumah tangga. Kini, di usia ke-60 Tzu Chi Internasional, semangat celengan bambu tetap menjadi fondasi yang kokoh. Terbukti dalam acara ini, sebanyak 71 celengan bambu dikumpulkan oleh para peserta untuk diteruskan sebagai bantuan kemanusiaan ke 60 negara.
Ketua He Qi Jakarta Utara 2, Hartini, turut tampil dalam lagu isyarat tangan berjudul “Mo Wang” (Jangan Lupakan). Baginya, lagu ini adalah pengingat perjalanan panjang Tzu Chi yang penuh tantangan.
“Makna Mo Wang adalah kembali ke niat awal kita. Mengingat kapan dan dengan siapa kita pertama kali melangkah di jalan ini. Ini adalah cara untuk menguatkan kembali tujuan luhur dan ikrar welas asih dalam mempraktikkan kebajikan,” tutur Hartini tulus.
Sebagai bagian dari keluarga besar Tzu Chi sejak 2021, Darwin meyakini bahwa Angpau Berkah adalah sarana untuk memupuk berkah dan kebijaksanaan bagi setiap penerimanya.
Sebanyak 300 peserta yang terdiri dari donatur, relawan, dan keluarga relawan hadir dengan antusias, terutama untuk menerima angpau berkah dari Master Cheng Yen. Darwin, anggota TIMA yang bergabung sejak 2021, mengungkapkan bahwa angpau ini memiliki makna yang berbeda dari angpau Imlek biasa.
“Ini adalah simbol terima kasih, restu, dan ajaran untuk memupuk berkah serta kebijaksanaan,” kata Darwin.
Telah mengoleksi angpau berkah selama sepuluh tahun terakhir, Megawati menjadikan setiap angpau sebagai pengingat untuk terus mempraktikkan cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Senada dengan Darwin, Megawati yang telah mengoleksi angpao Master Cheng Yen selama sepuluh tahun terakhir, merasa angpao ini adalah bentuk energi positif. Ia memahami jika dana pembuatan angpao tersebut murni berasal dari royalti buku-buku karya Master Cheng Yen. Hal inilah yang membuatnya terasa sangat personal dan bermakna sebagai doa untuk melangkah ke depan.
Keberhasilan acara ini tak lepas dari kerja keras Yully Suzana sebagai koordinator utama. Sebagai relawan yang baru dilantik menjadi relawan komite Tzu Chi pada Desember 2025, Yully memegang teguh pesan Master Cheng Yen: lakukan saja jika itu benar.
Para peserta berdoa dengan tulus memohon agar hati manusia tersucikan, masyarakat aman dan tenteram serta dunia bebas bencana.
Sebagai koordinator utama, Yully Suzana memastikan setiap detail kegiatan berjalan sempurna sesuai rencana, demi memberikan kenyamanan bagi para tamu undangan.
“Sebagai koordinator, saya belajar tanggung jawab yang luar biasa. Meski ada rasa ingin menyerah karena lelah, kata ‘Lakukanlah’ dari Master Cheng Yen selalu menguatkan saya. Suka duka tidak memupuskan tekad saya, apalagi didukung oleh kerja sama relawan yang sangat kompak,” ungkap Yully.
Acara yang berlangsung dari pukul 14.05 hingga 16.40 WIB ini melibatkan 101 panitia dan pengisi acara. Lelah mereka terbayar dengan senyum syukur yang mengembang di wajah setiap peserta yang pulang membawa angpao berkah edisi 60 tahun, suvenir, dan kenangan indah. Sampai jumpa di Pemberkahan Akhir Tahun mendatang!
Editor: Khusnul Khotimah