Relawan dari Badan Misi DAAI TV Jakarta mengunjungi rumah Windu Tri Yuwono, salah satu penerima bantuan dari Tzu Chi. Kunjungan kasih kali ini juga diikuti oleh tujuh staf DAAI TV dari Badan Misi yang turut bergabung sebagai relawan. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya Badan Misi untuk mengenal lebih dekat berbagai
"Dengan memberikan lebih banyak cinta kasih dan mengucapkan lebih banyak kalimat penuh penghiburan, berarti telah menanamkan jalinan jodoh baik dalam hati orang."
Demikian kata perenungan Master Cheng Yen yang menjadi landasan langkah para relawan Yayasan Buddha Tzu Chi dalam setiap kunjungan kasih. Berbekal semangat tersebut, relawan tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan perhatian, penghiburan, dan harapan bagi mereka yang sedang menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Minggu, 26 Juli 2026, sebanyak 50 relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat berkumpul di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi, Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat, sebelum berangkat mengunjungi sembilan keluarga penerima bantuan Tzu Chi. Kunjungan kasih ini menjadi wujud nyata kepedulian relawan untuk mendampingi para penerima bantuan sekaligus menyampaikan kehangatan melalui kebersamaan dan perhatian yang tulus.
Relawan mengunjungi rumah Daanyya Hawaddah (Anya) yang kini berusia 2 tahun 9 bulan. Anya mengalami mikrosefali, yaitu kondisi kelainan perkembangan otak yang menyebabkan ukuran otaknya jauh lebih kecil dibandingkan dengan anak seusianya. Selain itu, Anya juga mengalami disfagia orofaring, gangguan menelan yang membuatnya tidak dapat mengonsumsi makanan seperti anak-anak pada umumnya.
Salah satu keluarga yang dikunjungi adalah keluarga Daanyya Hawaddah (Anya) yang kini berusia 2 tahun 9 bulan. Selama kurang lebih satu tahun terakhir, Anya menerima bantuan susu dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Bagi keluarganya, bantuan tersebut membawa perubahan yang sangat berarti.
"Saya mendapat bantuan susu ini sudah sekitar satu tahun. Alhamdulillah, susunya cocok dan pencernaan Anya sekarang juga lancar," ungkap Yuni Tri Wulandani, ibu Anya.
Sejak lahir, Anya mengalami mikrosefali, yaitu kondisi kelainan perkembangan otak yang menyebabkan ukuran otaknya jauh lebih kecil dibandingkan dengan anak seusianya. Selain itu, Anya juga mengalami disfagia orofaring, gangguan menelan yang membuatnya tidak dapat mengonsumsi makanan seperti anak-anak pada umumnya. Kondisi katup di kerongkongannya menyebabkan makanan maupun minuman berisiko masuk ke saluran pernapasan, sehingga kebutuhan nutrisinya dipenuhi melalui susu khusus dan selang makan.
Perjuangan keluarga ini tidak berhenti pada Anya. Kakaknya, Ardan, yang kini berusia 10 tahun dan bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), juga mengalami radang otak sejak berusia 11 bulan.
"Saya bersyukur sekarang kondisi anak-anak saya semakin membaik berkat terapi, terutama Anya melalui susu yang ia konsumsi setiap hari," ujar Yuni penuh syukur.
Dwi Nur dan kelompok relawan lainnya mengunjungi rumah Kakek Cing Hwi. Di antara seluruh anggota keluarga, Kakek Cing Hwi menjadi satu-satunya yang masih mampu berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Kunjungan kasih kali ini juga diikuti oleh tujuh staf DAAI TV dari Badan Misi yang turut bergabung sebagai relawan. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya Badan Misi untuk mengenal lebih dekat berbagai kegiatan kemanusiaan yang dijalankan Yayasan Buddha Tzu Chi sekaligus merasakan secara langsung makna mendampingi masyarakat yang membutuhkan.
Salah satu keluarga yang mereka kunjungi adalah keluarga Kakek Cing Hwi. Rumah sederhana berlantai dua yang mereka tempati dihuni oleh enam orang lanjut usia dengan kondisi kesehatan yang terbatas. Di antara seluruh anggota keluarga, Kakek Cing Hwi menjadi satu-satunya yang masih mampu berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia sesekali mengumpulkan botol plastik dan barang-barang bekas yang kemudian dijual. Dari hasil tersebut, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp100.000 hingga Rp120.000 setiap kali menjualnya, meskipun jumlahnya tidak menentu. Bantuan biaya hidup dari Yayasan Tzu Chi sangat membantu keluarga ini, terutama untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras serta membayar biaya transportasi.
Bagi para relawan, setiap kunjungan kasih selalu menghadirkan pelajaran kehidupan yang mendalam. Mereka tidak hanya menyaksikan berbagai keterbatasan yang dialami para penerima bantuan, tetapi juga belajar mensyukuri kehidupan yang dimiliki saat ini.
"Dari kunjungan hari ini, saya belajar untuk lebih bersyukur. Keluarga yang saya kunjungi mengalami keterbatasan fisik sehingga hampir seluruh anggota keluarganya kesulitan berjalan. Hal itu membuat saya semakin menyadari bahwa kita masih memiliki begitu banyak berkah yang patut disyukuri," ujar Dwi Nur, salah satu Mitra Bajik DAAI TV yang mengikuti kunjungan ke rumah Kakek Cing Hwi.
Relawan berkumpul untuk berbagi pengalaman setelah melihat langsung kondisi para keluarga penerima bantuan Tzu Chi. Setiap kunjungan kasih mengajarkan bahwa bantuan tidak selalu berbentuk materi. Kehadiran relawan yang bersedia mendengarkan, menyapa, dan menguatkan menjadi sumber semangat bagi para penerima bantuan.
Dalam kunjungan lainnya, relawan juga mendampingi keluarga Windu Tri Yuwono, penerima bantuan pampers dari Yayasan Buddha Tzu Chi selama dua bulan terakhir. Bantuan tersebut sangat meringankan beban keluarga, karena sebelumnya Windu hanya menggunakan kain yang harus dicuci setiap hari oleh ibunya.
Dengan mata berkaca-kaca, sang ibu mengungkapkan harapan sederhana yang begitu menyentuh hati.
"Doakan saya ya, Mbak, supaya diberi umur panjang agar bisa terus merawat anak saya. Tidak ada orang yang akan merawat anak saya seperti saya merawatnya," tuturnya.
Ucapan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para relawan yang hadir.
"Saya sangat tersentuh mendengar ungkapan hati beliau. Seorang ibu memiliki kasih sayang yang begitu besar kepada anaknya, meskipun harus menjalani kehidupan yang penuh perjuangan setiap hari," ungkap Icha, relawan yang mendampingi keluarga Windu.
Regita, relawan yang memandu kegiatan kunjungan kasih ini, mengingatkan seluruh peserta untuk menjalankan Misi Amal kemanusiaan ini dengan berbudaya humanis. Regita menjelaskan bahwa relawan harus memakai seragam lengkap sesuai aturan sebagai relawan Tzu Chi.
Setiap kunjungan kasih mengajarkan bahwa bantuan tidak selalu berbentuk materi. Kehadiran relawan yang bersedia mendengarkan, menyapa, dan menguatkan menjadi sumber semangat bagi para penerima bantuan untuk terus menjalani kehidupan dengan penuh harapan.
Melalui kegiatan ini, relawan He Qi Jakarta Pusat kembali membuktikan bahwa cinta kasih akan selalu menemukan jalannya ketika diwujudkan melalui tindakan nyata. Dengan melangkah dari rumah ke rumah, mereka tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan kehangatan, penghiburan, serta harapan baru bagi setiap keluarga yang mereka kunjungi. Sebagaimana ajaran Master Cheng Yen, setiap kalimat penuh kasih dan setiap perhatian yang tulus akan menumbuhkan jalinan jodoh baik serta memperluas lingkaran cinta kasih di tengah masyarakat.
Editor: Anand Yahya