Relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Cikarang bersama relawan Agung Sedayu Group bersama-sama menyerahkan kembali satu unit rumah milik Ibu Sumina Liong. Rumah ini salah satu yang masuk dalam program renovasi rumah tidak layak huni yang sedang dijalankan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Bagi Sumina Liong (50), hujan bukan lagi sekadar perubahan cuaca. Setiap kali langit mulai gelap dan air turun dari langit, rasa cemas ikut datang. Atap rumah yang keropos dan jebol membuat air hujan dengan mudah masuk. Lebih dari itu, kondisi bangunan yang semakin rapuh membuat Sumina khawatir akan keselamatan dirinya dan Michelle Anggana (15), putrinya yang memiliki disabilitas.
Kini, kecemasan itu perlahan berganti menjadi kelegaan. Setelah bertahun-tahun bertahan di rumah yang tidak layak huni, Sumina dan Michelle akhirnya memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman. Melalui dukungan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama relawan Tzu Chi komunitas He Qi Cikarang dan relawan Agung Sedayu Group (ASG), rumah mereka di Tambun Selatan, Bekasi, selesai direnovasi.
Rumah yang Perlahan Rapuh
Rumah Sumina yang berada di Perumahan Graha Taman Kebayoran Kel. Mekarsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kab. Bekasi tersebut telah dibeli oleh Sumina sejak 2005. Namun, saat itu ia masih ikut suami dan tinggal di Yogyakarta bersama anaknya.
Rumah tersebut ditempati oleh Mama dan adik Sumina. Ketika itu, kondisinya masih baik. Rumah ini luasnya 90 meter persegi dengan luas bangunan 60 meter persegi, terdiri dari dua ruang tidur, satu ruang tamu, satu kamar mandi, satu dapur, dan memiliki teras di belakang dan depan rumah.
Verianto, Ketua Komunitas He Qi Cikarang dan Bekasi dan Wakil Ketua He Qi Cikarang dan Bekasi, Koerniawan S., menyerahkan secara simbolis kunci rumah kepada Ibu Sumina yang disaksikan oleh Ketua RT setempat.
Pada 2012, Sumina dan Michelle mulai menempati rumah tersebut. Seiring waktu, sang mama meninggal dunia. Beberapa tahun kemudian, adiknya juga berpulang. Tinggallah Sumina dan Michelle berdua.
Kondisi ekonomi yang terbatas membuat Sumina tidak mampu memperbaiki rumah secara menyeluruh. Ia bekerja serabutan, mulai dari menjadi pengemudi ojek, membantu membersihkan rumah, hingga berjualan secara daring jika ada yang meminta bantuan. Penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mengantar-jemput anak-anak sekolah sebagai tambahan penghasilan.
Sementara itu, kerusakan rumah semakin parah. Tidak semua ruangan dapat digunakan. Kamar utama dan ruang tamu juga tidak aman sehingga Sumina dan Michelle hanya menempati sepetak ruang di teras depan yang dianggap masih cukup aman untuk tidur dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat Sumina selalu waswas, terlebih Michelle membutuhkan perhatian khusus.
“Takutnya rumah roboh tiba-tiba. Saya punya anak autis, jadi saya harus selalu melindungi dia sebelum terjadi sesuatu. Atap rumah setiap hari ada saja yang jatuh. Keropos, jatuh-jatuh begitu, gentengnya,” tutur Sumina.
Kekhawatiran semakin besar ketika Michelle hendak menggunakan kamar mandi. Sebagian dinding di dekat kamar mandi telah roboh sehingga dinding WC pun terbelah.
“Kalau anak lagi mau ke kamar mandi, saya juga waswas. Tembok di sebelahnya sudah roboh, jadi dinding WC-nya pun sudah terbelah. Saya suruh dia pegang payung saat buang air besar. Dia juga takut. ‘Mama, tungguin aku, takut,’ pinta Michelle,” cerita Sumina.
Relawan Tzu Chi melihat ruang belakang rumah Sumina yang dijadikan dapur dan juga sebagai ruang terbuka di sisi ruang belakang rumah Sumina.
Kerusakan rumah sebenarnya telah dirasakan sekitar lima tahun sebelumnya. Namun, memasuki musim hujan, kondisinya semakin parah. Atap yang semula bocor akhirnya mengalami kerusakan lebih berat dan bagian ruang tamu pun ambruk.
“Kamar depan sudah rembes, genteng jatuh juga. Saya pindah ke ruang tamu. Tapi makin hujan, makin deras, gentengnya makin parah dan akhirnya ambruk,” kenang Sumina.
Dua tahun lalu, seorang ibu yang dianggapnya sebagai mama angkat sekaligus mama baptis mengajak warga sekitar membantu. Mereka mengumpulkan sumbangan hingga akhirnya dapat membuat kamar darurat di bagian teras rumah.
“Dari situ saya cepat pindah ke sini, ke teras. Dua hari setelah pindah, ruang tamu langsung roboh. Besar sekali yang roboh. Jadi, masa pandemi itu kami sudah mengalami kondisi yang sangat parah,” ungkapnya.
Keinginan yang Lama Dipendam
Sumina sebenarnya telah lama ingin memperbaiki rumah. Namun, keinginan tersebut harus dipendam karena penghasilannya terbatas.
“Saya memang ada rencana membangun, tetapi dengan kondisi saya yang cuma ngojek, bersih-bersih rumah Ibu Christine, sama jualan online kalau ada teman yang meminta bantuan, itu tidak mencukupi. Hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membantu anak-anak sekolah antar-jemput,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Sumina tetap bersyukur. Ia merasa beruntung dipertemukan dengan orang-orang yang peduli hingga akhirnya jalinan jodoh baik membawanya ke Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Verianto melihat langsung kamar tidur utama rumah Sumina yang sebelum direnovasi kondisinya sudah tidak dapat ditempati, dan kini kamar tidur utama tersebut sudah nyaman dan sehat untuk dihuni.
Pada 20 Juli 2026, relawan Tzu Chi mulai membongkar rumah Sumina untuk direnovasi. Proses tersebut berlangsung lebih dari satu bulan. Hingga Rabu, 26 Agustus 2026, renovasi akhirnya selesai dan relawan Tzu Chi He Qi Cikarang bersama relawan Agung Sedayu Group (ASG) menyerahkan kunci rumah kepada Sumina.
Rumah yang sebelumnya rapuh kini berubah menjadi hunian yang lebih layak. Dinding bercat putih bersih berpadu dengan warna abu-abu, menghadirkan suasana yang jauh berbeda dari kondisi sebelumnya.
Bagi Sumina, perubahan tersebut bukan sekadar perubahan bangunan.
“Lewat Yayasan Tzu Chi, saya sangat berterima kasih. Ucapan saya tidak terhingga. Waktu tahu rumah ini mau dibangun, saya benar-benar gemetar dalam hati. Antara bahagia, senang, dan tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan kata-kata,” tutur Sumina haru.
Menyerahkan Rumah, Menyerahkan Harapan
Kebahagiaan Sumina juga menjadi kebahagiaan bagi para relawan yang mendampingi proses renovasi.
Verianto, Ketua He Qi Bekasi dan Cikarang, mengaku terkejut ketika kembali memasuki rumah Sumina pada hari penyerahan kunci. Perubahan terlihat begitu besar dibandingkan dengan saat pertama kali melakukan survei.
“Ini adalah satu kebahagiaan bagi kami. Pertama kali saya masuk, saya sampai kaget. Saya berpikir, ‘Ini saya salah masuk, tidak, ya?’ Karena sekarang berbeda jauh, seperti klaster,” ujar Verianto.
Namun, bukan hanya perubahan rumah yang membuatnya bahagia. Verianto melihat perubahan pada wajah Sumina.
“Awal datang sebulan lalu, dia penuh kerisauan. Tapi hari ini penuh senyum. Bahagia di penerima manfaat juga sangat terasa bagi kami,” katanya.
Ibu Christine (berbaju hitam) sangat bersyukur rumah Ibu Sumina sudah sangat layak untuk dihuni. Ibu Christine ini sudah menjalankan kerelawanannya sebagai relawan informasi di lingkungan tempat tinggalnya karena ada yang sangat membutuhkan bantuan.
Menurut Verianto, rumah yang diberikan kepada Sumina bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga harapan baru.
“Kita bukan sekadar menyerahkan fisik bangunan, tetapi juga menyerahkan harapan baru bagi penerima manfaat dan hunian yang layak dan sehat. Ini satu program yang sangat luar biasa dan merupakan satu titik dari 5.000 unit rumah yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi. Dampaknya begitu besar bagi masyarakat,” jelasnya.
Program renovasi rumah ini juga merupakan hasil kolaborasi Tzu Chi dengan relawan Agung Sedayu Group. Jalinan kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan hunian layak bagi masyarakat yang membutuhkan.
Jalinan Jodoh Baik Tzu Chi dan ASG
Faisal Munawar, relawan relawan Agung Sedayu Group, turut merasakan kebahagiaan melihat perubahan rumah Sumina. Sejak survei awal hingga renovasi selesai, ia menyaksikan langsung perjalanan perubahan tersebut.
“Betul, ini sangat luar biasa. Sejak pertama kali kami melakukan survei sampai hari ini, kami melihat perubahan yang sangat positif. Terjalin jalinan jodoh yang baik dan luar biasa. Kami melihat seperti apa tampilan awal rumah ini, dan hari ini kami bisa melihat bersama hasil renovasinya,” ungkap Faisal.
Relawan Tzu Chi berfoto bersama di teras rumah Ibu Sumina yang sudah selesai direnovasi. Kondisi rumah Ibu Sumina kini tampak bersih, sehat, dan nyaman untuk dihuni.
Menurut Faisal, harapan terbesar dari kegiatan tersebut adalah semakin banyak rumah tidak layak huni yang dapat berubah menjadi hunian yang layak bagi warga.
“Harapan terbesar kami dari relawan Agung Sedayu Group adalah rumah-rumah yang tidak layak huni dapat menjadi rumah yang layak huni bagi warga. Semoga dari jalinan jodoh ini, program seperti ini dapat terealisasi untuk semuanya,” tuturnya.
Ia juga berharap rumah yang telah dibangun bersama tersebut dapat dirawat dengan baik.
“Harapan terbesarnya adalah setelah kita melakukan perubahan ini, rumah ini bisa dijaga kebersihannya. Apa yang sudah kami berikan bersama Yayasan Tzu Chi dan ASG dapat dinikmati agar hidup lebih sehat dan nyaman,” tambah Faisal.
Rumah Baru, Kehidupan Baru
Bagi Sumina dan Michelle, rumah baru ini menjadi awal kehidupan yang lebih tenang. Tidak ada lagi kekhawatiran genteng jatuh, atap ambruk, atau dinding roboh ketika hujan turun.
Setelah bertahun-tahun bertahan di tengah keterbatasan, Sumina kini memiliki tempat yang dapat memberikan rasa aman bagi dirinya dan putrinya. Di balik renovasi satu rumah, terdapat kisah perjuangan seorang ibu yang tidak pernah berhenti berusaha menjaga anaknya, sekaligus jalinan kasih banyak pihak yang hadir membawa harapan.
Bagi relawan, rumah Sumina mungkin hanya satu dari ribuan rumah yang menjadi bagian dari program renovasi Tzu Chi. Namun, bagi Sumina dan Michelle, rumah ini berarti jauh lebih besar. Rumah ini adalah tempat untuk kembali menata kehidupan.
Kondisi ruang tamu rumah Sumina ketika sudah selesai direnovasi dan sebelum direnovasi.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari