Relawan Tztu Chi mendampingi keluarga dr. Erik Winarto (ayah dari Ernest dan Elaine). Menurut dr. Erik Winarto, kegiatan Hari Ayah yang dilaksanakan oleh kelas Budi Pekerti ini bernilai moral dan budaya humanis yang sangat penting bagi anak-anak saat ini.
Suasana ceria dan hangat menyelimuti Gedung Aula Yayasan Buddha Tzu Chi Medan pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kelas Budi Pekerti Qin Zi Ban (QZB) mengadakan Perayaan Hari Ayah. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi juga sarana pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenali jasa orang tua dan mengungkapkan rasa terima kasih kepada sosok ayah.
Sejak awal kegiatan, anak-anak bersama para ayah mengikuti berbagai aktivitas dengan antusias. Permainan bersama menjadi kesempatan untuk menikmati waktu berkualitas sekaligus belajar berkomunikasi, bekerja sama, saling menghargai, dan membangun kedekatan dalam keluarga.
Peserta kemudian diajak menyaksikan tayangan video “Kenangan Sederhana dan Lukisan Pasir”. Kisah tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan keluarga sering hadir melalui hal-hal sederhana. Waktu bersama orang tua, perhatian kecil, dan kebersamaan dapat menjadi kenangan berharga dalam kehidupan seorang anak.
Suasana menjadi lebih emosional ketika peserta menyaksikan tayangan “Ayah, Saya Membencimu, Ba Ba Wo Hen Ni” serta “Papa Cepat Bangun & Papaku”. Tayangan tersebut mengajak anak-anak merenungkan kasih sayang ayah dan pentingnya mengungkapkan cinta serta terima kasih selagi masih memiliki kesempatan. Sosok ayah digambarkan sebagai pribadi yang tangguh dengan sepasang tangan yang terus menopang keluarga.
Keceriaan, kerja sama antara ayah dan anak dalam salah satu permainan menciptakan suasana yang harmonis dalam hubungan keluarga.
Pesan kasih juga disampaikan melalui penampilan isyarat tangan (Shou Yu) oleh anak-anak kelas QZB dengan lagu Ying Xiong Baba (英雄爸爸) dan “Ba Ba Nin Xing Ku Le” (爸爸您辛苦了). Dengan gerakan sederhana, anak-anak menyampaikan penghargaan kepada ayah yang selama ini berjuang dan berkorban bagi keluarga.
Pada puncak acara, anak-anak melakukan tindakan sederhana sebagai bentuk bakti. Mereka menyuapi puding, menyuguhkan air tahu, serta menyematkan hadiah berupa pita hasil kreasi sendiri pada baju ayah. Aktivitas tersebut mengajarkan bahwa kasih sayang kepada orang tua tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Senyum, tawa, dan keharuan pun hadir dalam kebersamaan itu.
Belajar Berbakti melalui Kisah
Pembelajaran berlanjut melalui kisah “Setengah Helai Selimut” yang disampaikan melalui video Master Cheng Yen Bercerita. Kisah ini mengajarkan bakti kepada orang tua, rasa syukur, hidup sederhana, serta penghargaan terhadap kasih dan pengorbanan keluarga.
Anak-anak QZB kecil memperagakan bahasa isyarat tangan (Shou Yu) yang bertemakan Ying Xiong Baba dan “Ba Ba Nin Xing Ku Le” dengan gerakan sederhana. Anak-anak menyampaikan penghargaan kepada ayah yang selama ini berjuang dan berkorban bagi keluarga.
Nilai tersebut selaras dengan tujuan pendidikan budi pekerti QZB, yakni membimbing anak agar tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga hati yang penuh kasih, mampu menghormati orang lain, tahu berterima kasih, dan memahami arti berbakti kepada orang tua.
Grayden, yang baru setahun bergabung di kelas QZB, mampu menangkap pesan dari kisah tersebut. “Meskipun setiap orang tua tidak sempurna, kita harus tetap menghargainya,” ujar Grayden. Ayahnya pun menambahkan bahwa tidak ada keluarga yang sempurna, tetapi setiap keluarga tetap dapat menjalani kehidupan dengan bahagia.
Keluarga Menjadi Sekolah Pertama
Suasana semakin meriah dengan penampilan Shou Yu orang tua dari lagu “Angin Gunung” (草山的風). Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sharing keluarga dr. Erik Winarto, M.Kes., ayah dari Ernest dan Elaine sekaligus anggota TIMA Sumut.
“Kami sangat mensyukuri adanya jodoh bersama Tzu Chi. Anak-anak sangat senang belajar di kelas bimbingan QZB. Sampai di rumah pun mereka sering menyanyikan lagu-lagu yang mereka pelajari,” ujar Erik.
Menurut Erik, nilai moral dan budaya humanis yang diajarkan dalam kegiatan tersebut sangat penting bagi anak-anak saat ini. Pendidikan budi pekerti tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Dari keluarga, anak belajar kasih sayang, tanggung jawab, kesabaran, rasa hormat, kepedulian, dan bakti.
Anak-anak Kelas Budi Pekerti diajak untuk memijit bahu ayahnya masing-masing sebagai tanda terima kasih seorang anak kepada Sang Ayah. Momentum ini perlu menjadi pengingat bagi anak-anak untuk menghargai kasih sayang, pengorbanan, dan jerih payah ayah.
Cleora Zane Wijaya, yang telah bergabung selama empat tahun di kelas QZB, bersama papanya, David, juga merasakan manfaat dari pembelajaran tersebut. Kebersamaan dalam kegiatan Hari Ayah menjadi ruang bagi orang tua dan anak untuk saling mendekatkan hati melalui pengalaman sederhana yang bermakna.
PIC kegiatan, Budi Yanto, berharap perayaan Hari Ayah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, momentum ini perlu menjadi pengingat bagi anak-anak untuk menghargai kasih sayang, pengorbanan, dan jerih payah ayah.
“Anak-anak bisa lebih menghargai jerih payah ayahnya sekaligus membentuk karakter dan hati yang welas asih,” ungkap Budi Yanto.
Pesan tersebut sejalan dengan kata perenungan Master Cheng Yen, “Ada dua hal yang tidak boleh ditunda, yaitu berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan.” Melalui perayaan Hari Ayah, anak-anak diajak memahami bahwa bakti tidak selalu hadir dalam tindakan besar. Perhatian, ucapan terima kasih, dan waktu yang diberikan kepada orang tua dapat menjadi bentuk kasih yang sederhana, tetapi bermakna.
Salah satu keluarga murid kelas Budi Pekerti berfoto bersama di fotobooth. Para orang tua merasa kegiatan Hari Ayah menjadi ruang bagi orang tua dan anak untuk saling mendekatkan hati melalui pengalaman sederhana yang bermakna.
Editor: Anand Yahya