Senyum bahagia dan tatapan haru tampak menghiasi wajah para orang tua. Para orang tua dilibatkan untuk mengembangkan keteladanan di rumah dan didukung oleh lingkungan yang penuh kasih.
Minggu pagi, 12 Juli 2026, suasana di Kantor Perwakilan Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya dipenuhi keceriaan. Sebanyak 12 Xiao Pu Sa bersama delapan orang tua mengikuti Kelas Budi Pekerti selama tiga jam. Melalui berbagai aktivitas interaktif, anak-anak diajak mengenal nilai-nilai kebajikan sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Yayasan Buddha Tzu Chi, pendidikan karakter merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi yang berwelas asih. Sejak memasuki ruang kelas, para Xiao Pu Sa diperkenalkan pada sejarah singkat Tzu Chi sekaligus makna menjadi seorang Xiao Pu Sa, yaitu anak-anak yang berusaha menumbuhkan cinta kasih, rasa syukur, hormat kepada orang tua, dan semangat berbuat baik.
Suasana semakin hangat ketika relawan mengajak anak-anak bermain bersama orang tua. Gelak tawa memenuhi ruangan saat mereka bekerja sama menyelesaikan permainan yang telah disiapkan. Melalui kegiatan sederhana ini, anak-anak belajar bahwa kebersamaan, komunikasi, dan saling mendukung merupakan bagian penting dalam membangun karakter.
Xiao Pu Sa dengan penuh antusias menjawab pertanyaan dari relawan tentang budaya humanis dengan roleplay (bermain peran).Pada pertemuan ini, anak diajarkan agar berani untuk mengungkapkan pendapatnya dan tampil di muka umum.
Relawan Tzu Chi dalam Kelas Budi Pekerti ini mendampingi setiap Xiaopusa dalam pembelajaran Budi Pekerti yang dikemas dengan metode yang menyenangkan.
Sebagai pendamping selama mengikuti kelas, setiap Xiao Pu Sa menerima buku pembelajaran khusus. Di dalamnya terdapat ruang untuk menempelkan stiker setiap kali mereka melakukan perbuatan baik. Buku tersebut diharapkan menjadi pengingat agar nilai-nilai yang dipelajari tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diterapkan di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui lagu isyarat tangan "Xiao Xiao De Shu". Relawan Kevin memperagakan gerakan, sementara Younatan menjelaskan makna di balik setiap isyarat tangan. Melalui metode belajar yang menyenangkan, anak-anak memahami nilai cinta kasih, rasa hormat, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Younatan selaku PIC kegiatan menjelaskan bahwa materi kali ini berfokus pada pembentukan karakter melalui nilai bakti kepada orang tua dan tanggung jawab.
"Kami menonjolkan nilai berbakti kepada orang tua dan tanggung jawab agar anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga mereka mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Nilai-nilai tersebut kemudian dipraktikkan melalui sesi bermain peran (role play). Anak-anak memerankan berbagai situasi sederhana, seperti menghormati orang tua, menghargai teman, dan peduli kepada sesama. Antusiasme mereka menunjukkan bahwa belajar mengenai kebajikan dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
Pelukan hangat dari orang tua menjadi hadiah terindah bagi anak yang telah berjanji yang telah ditulis dalam buku masing-masing anak.
Salah satu Xiao pu sa dengan penuh semangat menjawab pertanyaan dari relawan pendamping tentang budaya humanis dengan role play (bermain peran).
Kegiatan berlanjut dengan menghias buku pembelajaran menggunakan pensil warna dan berbagai stiker. Namun, bagian yang paling berkesan adalah ketika setiap anak diminta menuliskan sebuah janji kepada orang tua mereka. Dengan tulisan sederhana, mereka berkomitmen untuk menjadi anak yang lebih rajin membantu, lebih hormat kepada ayah dan ibu, lebih disiplin, dan lebih bertanggung jawab.
Suasana berubah menjadi haru ketika buku-buku tersebut diperlihatkan kepada para orang tua. Senyum bahagia tampak menghiasi wajah mereka saat membaca janji yang ditulis putra-putri tercinta. Momen sederhana ini menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter akan semakin bermakna apabila dibangun melalui keteladanan di rumah.
Julia, salah seorang orang tua, mengaku senang dengan konsep pembelajaran yang melibatkan keluarga secara langsung.
"Menurut saya, kelas ini sangat baik karena pendidikan budi pekerti memang penting. Orang tua juga bisa ikut beraktivitas bersama anak sehingga hubungan kami menjadi lebih dekat," ungkap Julia.
Belajar isyarat tangan bersama, relawan Tzu Chi Surabaya kompak dalam memberikan contoh dan makna gerakan dari isyarat tangan “Xiao Xiao De Shu”.
Hal senada disampaikan Linda yang mendampingi ketiga anaknya mengikuti kelas.
"Anak-anak belajar mencintai lingkungan, menyayangi keluarga, dan menjadi lebih mandiri. Harapan saya, semua nilai yang dipelajari dapat menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan mereka," harap Linda.
Harapan para orang tua tersebut sejalan dengan tujuan Kelas Budi Pekerti Tzu Chi, yakni menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter anak agar terbiasa menghidupi nilai-nilai kebajikan.
Menjelang siang, seluruh Xiao Pu Sa, orang tua, dan relawan mengabadikan kebersamaan melalui foto bersama sebelum menikmati hidangan sehat yang telah disiapkan. Suasana hangat yang terjalin sepanjang kegiatan semakin mempererat hubungan antarkeluarga dalam semangat cinta kasih.
Melalui Kelas Budi Pekerti, Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya berharap setiap Xiao Pu Sa kelak tumbuh menjadi pribadi yang mencintai keluarga, menghormati orang tua, peduli terhadap lingkungan, gemar menolong sesama, dan mampu membawa manfaat bagi masyarakat.
Sejalan dengan kata perenungan Master Cheng Yen: "Pendidikan sejati bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi membimbing hati agar selalu dipenuhi cinta kasih, rasa syukur, dan kebajikan."
Editor: Anand Yahya